
Delia,
Duduk diantara dua lelaki yang sebelumnya telah terlibat perseteruan, membuatku tak berkutik. Aku melirik mas Agra yang mengetatkan rahang, menatap dokter Leo dengan mata berkilat menahan kesal. Ku alihkan pandanganku di bawah meja yang nampak kedua tangan suamiku sedang mengepal hingga kuku jarinya memutih. Dokter Leo benar benar tak terselamatkan lagi sepertinya. Bukannya meredam emosi lelaki yang katanya adalah sahabatnya sejak kecil, malahan memprovokasi mas Agra dengan memanggilku cantik, ketika aku dan suamiku memasuki area kafe untuk memenuhi undangan makan siangnya padaku. Dia pikir aku tak keberatan akan caranya menyapaku, bukannya besar kepala justru jengah sendiri aku menghadapinya ketika tak sengaja berpapasan dengannya. Hemm aku memutuskan untuk tidak membalas sapaannya padaku, biarlah… lebih baik aku menghindarinya mulai dari sekarang. Demi keberlangsungan hidupku di sisi suamiku yang emosinya tak stabil. Huh yang hamil siapa? Yang sensitif siapa? Heran juga aku dibuatnya.
Ekspresi mas Agra yang sebelum sampai di tempat pun sudah nampak dingin, kini berubah semakin tak bersahabat. Menatap nyalang dokter Leo yang memperhatikanku dengan ekspresi bertanya tanya. Mulut lelaki itu sudah akan melontarkan kata, namun seketika di bungkam oleh tangan mas Agra yang terangkat serupa juri menghentikan kontestan tak memiliki kemampuan tetapi tetap memaksakan diri mengikuti ajang pencarian bakat bergengsi. Karakter dokter Leo yang terbilang friendly atau banyak bicara itu membuatnya tak tahan untuk menanyakan tentang maksud kedatangan mas Agra bersamaku. Tentu saja karena mas Agra memang suamiku. Bukankah aku tak perlu menjelaskan pada siapapun mengenai statusku? Mas Agra pernah bicara padaku akan segera mempublikasikan hubungan kami, tapi kan itu belum terjadi! Maka tidak mungkin juga aku dengan lancangnya merusak rencana yang bisa saja saat ini telah mas Agra buat.
Biarlah mengalir apa adanya antara aku dan suamiku. Aku yakin suatu saat nanti semua orang akan tahu dengan sendirinya hubungan kami.
"Kenapa kamu bisa bersamanya Gra?" Dokter Leo akhirnya melontarkan pertanyaan setelah beberapa menit berlalu mas Agra hanya diam sambil tersenyum mengejek kearahnya. Tanpa dipersilahkan oleh dokter Leo yang datang terlebih dulu aku dan mas Agra duduk dihadapan lelaki itu. Sebelah tangannya menarik tanganku yang berkeringat cemas di bawah meja, menggenggam erat lalu membawanya ke depan bibir. Menghadiahi sebuah kecupan kecil.
Dokter Leo melebarkan mata, mengetahui reaksi mas Agra yang sedari tadi hanya diam tidak banyak berbicara sembari duduk manis , namun sekalinya bergerak mampu membungkam mulut sahabatnya yang sudah siap melancarkan kalimat susulan lagi padanya.
"Kenapa aku bisa bersamanya? Itu jelas bukan urusanmu!!" Suara bariton mas Agra membuat aku pun menarik narik lengannya supaya menurunkan nada bicaranya yang meninggi hingga membuat pengunjung kafe lainnya memperhatikan kami bertiga.
"Mas…" Bukannya mereda, malahan ia menatapku tajam.
Aku meraih tangannya yang berada di dekatku. Menggenggamnya erat. Meski emosi masih menguasai, setidaknya lebih mereda. Terlihat dari tangannya yang semula menegang, kini berangsur mengendur dalam dekapan tanganku. Tidak sepadan memang, tangannya yang kuat ku genggam dengan tanganku yang terlihat jauh lebih kecil darinya.
Dari tangan yang saling bertaut di atas meja, dapat ku lihat bahwa dokter Leo terkejut bukan kepalang mendapati aku dan mas Agra memakai cincin yang sama.
__ADS_1
"Kalian sudah menikah?!!" Sambar nya cepat.
Aku yang memegang janji pada mas Agra untuk tidak mempublikasikan status ku sebagai istrinya pun tak mampu dan tak ingin juga menjawab pertanyaan tak penting dokter Leo. Semua keputusan ku serahkan pada suamiku, biarlah ia yang menjelaskannya sendiri.
"Aku rasa kau cukup pintar bukan dalam menilai? Tetapi mengapa saat ini kau berubah bebal? Percuma menyandang gelar dokter jika membaca situasi dan kondisi yang sudah jelas kebenarannya pun kau tak mampu. Aku jadi meragu mengenai kredibilitas mu sekarang ini." Ucap mas Agra, tersenyum mengejek ke arah ku. Tetapi aku tahu bahwa hal itu ditujukan pada dokter Leo semata. "Apa perlu Alex mengurus surat kepindahan mu ke Afrika? Agar kau dapat menggunakan keahlian mu itu di pedalaman sana. Dan supaya kau tak perlu berlelah-lelah mengurusi ISTRIKU yang cantik ini." Ucapnya sambil menyentuh dagu terbelah milikku. Menggoda.
"Kau tenang saja, kau juga tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Aku yang akan membiayai perjalananmu ke sana dan memback up biaya hidupmu nanti ketika kau setuju untuk menjadi dokter relawan. Bahkan aku mendengar bahwa ternyata di Afrika saat ini tengah kekurangan tenaga medis. Aku serius dan aku tidak main main." Mas Agra menggeser kursi yang ku duduki supaya lebih merapat di dekatnya. Menariknya hanya dengan satu sentakan. "Mas…" Aku memekik tertahan sebab terkejut. Lengan kokohnya merangkul pundak ku yang dekat jangkauannya. Dan seketika aroma mint menyeruak memenuhi indera penciumanku. Aroma khas mas Agra yang belakangan ini sering ku rindukan. Rasa panas perlahan kurasakan di wajahku, sepertinya rona merah telah jelas menghiasi pipiku.
"Tidak! Jangan lakukan itu. Lagipula aku mendekati Delia karena aku tidak tahu kalau kalian sudah resmi menikah. Maafkan aku, ini memang salahku. Bahkan saat aku menelpon ataupun mengirim pesan padanya, Delia tak pernah membalas. Mungkin aku saja yang terlalu lancang. Jadi tolong jangan pindahkan aku ke Afrika." Dokter Leo mencoba meyakinkan bahwa yang terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. "Aku berjanji tidak akan mengganggu kakak Lagi!" Suaranya lantang sambil mengangkat tangan, menunjukan kedua jari serupa simbol V.
"Dia bukan kakakmu." Mas Agra mendelik. Tidak suka dokter Leo memanggilku dengan sebutan 'kakak'.
"Ya kan Delia istrimu. Usiamu juga tentu lebih tua dari ku Gra. Jadi bukankah wajar jika aku memanggil kakak?"
Mas Agra menatap dokter Leo tajam. Menghela tubuhku dari rangkulannya untuk bersandar di kursi ku sendiri. "Huh… benar sekali katamu!" Suara mas Agra meninggi.
"Bahkan luka di sekujur tubuhmu baru saja sembuh. Sayang sekali tidak ada lagi alarm peringatan untuk selalu mengingatkanmu bahwa meski usiaku lebih darimu tetapi masih mampu kalau hanya sekedar meremukkan tulang-tulang mu Leo." Nadanya berubah menggeram. Jelas sekali suamiku tidak terima atas kalimat yang di cernanya sebagi sebuah kalimat penghinaan. Meski dokter Leo sama sekali tak memiliki maksud tersembunyi.
"Bukan begitu… maksudku…"
__ADS_1
"Berhentilah bicara. Telingaku sakit mendengar suaramu."
"Baiklah, oke oke. Aku diam" Dokter Leo mengangkat kedua tangan menyerah memberi penjelasan apapun pada mas Agra.
"Sudah sayang… minum dulu yah?" Ucapku untuk menengahi perdebatan mereka berdua. Mas Agra mengangguk mengiyakan. Tangannya terangkat mengusap lembut pucuk kepalaku. Hal kecil yang selalu membuat hatiku menghangat. Tak ubahnya orang tua yang selalu memberi kenyamanan pada anak-anak mereka. Aku pun juga mulai merasakan nyaman dalam hatiku ketika mas Agra berada di dekatku.
"Setelah ini, kita langsung ke rumah sakit. hari ini adalah jadwal mengecek kandungan mu sayang."
"Hah? Iya mas. Maaf aku terlupa akan jadwal kontrol ku." Mataku membulat sempurna, lalu seketika meredup, menetralkan padangan ku, mencoba menguasai rasa tak percaya pada suamiku. Ku sembunyikan rasa terkejutku, tak ingin ia beranggapan bahwa aku tak yakin padanya. Sejujurnya memang benar bahwa aku sungguh tidak percaya jika mas Agra mengetahui jadwal check up kandunganku ditengah kesibukannya yang di akhir pekan pun masih tetap pergi bekerja.Tetapi aku tidak ingin rasa antusiasnya menyambut calon anak kami hilang begitu saja. Bukankah hal itu akan lebih menyakitkan bila benar terjadi. Jadi aku mencoba
menikmati kebahagian sekecil apapun yang mas Agra berikan. Termasuk perlakuan manisnya yang belakangan sering tulus kurasakan.
Keterkejutan dokter Leo semakin terpampang nyata, ketika mengetahui bahwa aku bukan hanya sekedar telah menikah dengan sahabatnya, tetapi aku juga telah mengandung calon anaknya. Aku tidak peduli dengan apapun reaksi dokter Leo. Salah sendiri tidak bertanya dulu, apakah aku sudah memiliki pasangan atau belum? Sekali lagi ku tegaskan dalam hatiku, bahwa aku tidak berkewajiban memberi penjelasan apapun pada dokter Leo mengenai kehidupan pribadiku. Titik.
Bersambung…
...****************...
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
__ADS_1