
Langkah lebarnya terhenti di ambang pintu kamar bernuansa putih itu. Membuka setengah pintu, khawatir jika Delia yang tengah meringkuk di bawah selimut terlihat oleh anak buahnya. Dengan hanya mengenakan celana, Agra mengeluarkan rentetan perintah pada dua pengawal yang tengah berjaga di depan pintu sejak terakhir kali ia dan Delia memasuki kamar. "Hubungi pak Li segera. Minta agar membawakan sup hangat untuk istriku." Salah satu pengawal segera pergi menuju ujung lorong, meraih Handy Talky yang tersemat di celana seragam bagian pinggang, pengawal itu segera menghubungi pak Li menggunakan alat untuk berkomunikasi satu sama lain antar pekerja di mansion. Tentu saja, bangunan luas serta jarak ruangan satu ke ruangan lain yang jauh sangat memerlukan alat canggih penunjang lancarnya aktifitas sehari-hari. Bayangkan saja jika semua pekerja tidak menggunakan Handy Talky sebagai alat komunikasi…? Sangatlah tidak mungkin apabila mereka harus saling berlarian dengan jarak yang sangat jauh hanya demi membawa sebuah pesan atau perintah singkat dari atasan.
Agra membalikkan tubuhnya, menarik handle pintu di sampingnya, menutupnya kembali secara perlahan. Sejak aktivitas penting bersama istrinya usai, sejak itu pula ia mengembalikan mode malam kamar ke nuansa sebelumnya. Putih kombinasi silver. Sementara Delia sendiri tidak memperdulikan segala apa yang terjadi sebab tubuhnya kini terasa remuk redam.
Sama sekali Agra tak berlaku kasar pada dirinya, justru lelaki itu memperlakukannya dengan begitu lembut saat sesi percintaan mereka sebelumnya.Tetapi entah mengapa tubuh Delia serasa begitu lelahnya? Mungkinkah saja efek dirinya kini tengah berbadan dua sebagai penyebabnya?
Rambut Delia menjuntai kebawah karena posisinya yang terlalu di pinggir ranjang.
Agra melangkah mendekati Delia. Menyentuh bahu polosnya yang terpampang nyata. Senyumnya mengembang mengamati wajah cantik Delia saat tidur.
Reflek perempuan itu berbalik, hingga selimut yang membungkus tubuh pol*snya tersingkap. Menampilkan dua bukit yang menyembul sempurna. Menantang sang majikan mendaki di puncaknya. "Kamu menggodaku sayang! Lihatlah dia telah bangkit kembali!" Agra berbicara sendiri sebab mata Delia masih senantiasa menutup rapat. Mengitari ranjang menuju sisi sebelah Delia. Dan tanpa tedeng aling-aling ia segera menelusup di dalam selimut, menarik pelan Delia supaya menyatu dengan dada bidangnya yang telanj*ng. "Aku sangat menyukai wangi tubuhmu…" Agra menggeram kan kalimat sensual di telinga Delia. Menyusuri sesuatu yang mengayun-ayun melekat di dada bidangnya akibat pergerakan reflek Delia yang tak di sengaja.
Perempuan itu di dalam tidurnya mendesah samar. Memancing Agra untuk semakin merengkuhnya. Menghujani lehernya dengan tanda yang di klaim oleh lelaki itu sebagai mahakarya paling sempurna di muka bumi, hingga seringkali Agra membuatnya dengan kuat agar warna yang muncul sesuai favoritnya. Merah keunguan. "Ah…" Delia menggeliat manja manakala tersengat dibawah sana.
"Mas… kamu?" Tidak sempat perempuan itu melayangkan protes pada Agra yang tengah mengungkung tubuhnya. "Kamu yang menggodaku!" Lelaki itu tersenyum menyeringai. Tidak memperdulikan wajah istrinya yang menahan kesal.
Lambat laun Delia mengimbangi. Diam dan tidak banyak bicara. Sementara di dalam hatinya, ia menggerutu. Apa suami mesumnya ini lupa jikalau dokter Stella menyarankan untuk mengurangi durasi 'itu'?
*
*
*
Di luar kamar. Sepuluh menit lalu pak Li telah siap dengan nampan yang berisi pesanan tuan muda Agra yang disampaikan melalui sambungan inter phone. Dalam ketukan pertama tak ada jawaban, segera lelaki paruh baya itu selangkah lebih mundur. Menunggu urusan penting tuan dan nyonya muda selesai.
Pintu dengan ukiran unik itu perlahan terbuka. Menampilkan sosok Agra yang segar sambil mengeringkan rambut dengan handuk. "Masuk pak" Ia berbalik memasuki kamar, tanpa menutup pintu.
"Baik tuan" Pak Li segera membawa nampan yang berisi sup hangat diatasnya ke atas nakas. "Letakkan di meja saja pak Li. Istriku sedang mandi." Agra berbicara meski pak Li telah lebih dulu mengambil inisiatif meletakan mangkuk sup di tempatnya.
Suara gemericik dari dalam kamar mandi terdengar hingga ke telinga keduanya. "Maaf tuan penata busana nyonya muda sedang menyiapkan pakaian dan belum datang. Mohon untuk nyonya menunggu beberapa menit." Setelah menyampaikan informasi, pak Li tetap berdiri di belakang Agra yang diam mematung di dekat jendela, sambil menatap danau kecil di tengah taman tepat di belakang kamar masa kecilnya. "Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat ini." Nada bicaranya berubah sedih. Menerawang jauh, mencoba mengingat-ingat kenangan masa kecil bersama sang kakek.
__ADS_1
"Saya selalu menjadwalkan bagian kebersihan untuk rutin merapikan kamar ini tuan." Agra mengangguk sekilas. Berbalik menatap pak Li yang setengah menunduk. "Selalu lakukan itu pak Li. Mulai sekarang aku dan istriku akan sering kemari."
"Baik tuan." Agra mengibaskan tangannya mengusir sisa kenangan manis di pelupuk mata saat sedang bercanda bersama kakek di danau. "Pergilah pak Li. Sebentar lagi kami akan ke rumah utama. Sampaikan pada mama kalau aku dan Delia datang." Agra berbicara namun tatapannya tak lepas dari pemandangan danau nan menyejukkan mata. Danau buatan yang dapat di lihat dari pintu kaca kamar itu yang terhubung langsung ke sana.
Tepat saat pak Li menutup pintu. Delia keluar hanya mengenakan handuk kecil yang melilit tubuh indahnya. Rambut hitam sebahunya tergerai indah dalam kondisi masih basah. Sementara anak rambut yang menutupi dahinya menambah kesan manis padanya.
Ia mematung saat menyadari tatapan mata Agra seperti ingin menelannya bulat-bulat. Sementara kedua tangan perempuan itu memeluk erat handuk kecil yang membungkus tubuhnya agar tak terjatuh. Tidak tahu saja jika ada serigala yang siap menerkamnya kalau sampai dirinya salah bertingkah. Detik itu juga ia menyesali mengapa tak ada jubah mandi di toilet. " Mas nggak ada baju di kamar ini…" Agra mencekal tangan istrinya saat perempuan itu sudah akan berbalik menuju kamar mandi, mengambil baju kotornya untuk di pakai lagi sebab tak nyaman hanya menggunakan selembar kain yang tak mampu menutupi kedua area favorit suaminya. "Pakailah ini dulu." Agra menyambar kemeja putih miliknya yang berserak di sofa dekat ia berdiri. Memberikan pada istrinya yang merasa kikuk dengan penampilan terlampau seksi.
"Tapi nanti kamu pakai apa sayang?" Delia nampak berpikir saat kemeja milik Agra kini berada dalam genggamannya. "Artinya… apakah kamu ingin menggodaku lagi dengan handuk yang tak mampu menutupi ini dariku? Kalau begitu, dengan senang hati aku akan memanjakan mu sayang." Agra memeluk dari belakang, merem*s pelan favoritnya. Menatap istrinya penuh damba.
"Tidak!! Baiklah aku akan memakainya." Buru-buru perempuan itu setengah berlari membawa kemeja dalam genggamannya menuju kamar mandi.
"Lia…! Jangan lama. Sup untukmu hampir dingin!" Agra tergelak sebab telah berhasil mengerjai istrinya. Mengangkat bahunya acuh sebagai sikap lumrah Delia yang menolaknya secara halus dengan lari terbirit-birit menghindar. Lagipula mana tega ia memaksakan diri pada istrinya yang tengah mengandung. Meski mati-matian lelaki itu menahan hasrat yang selalu membara setiap kali berdekatan dengan Delia, semua itu tentunya sepadan demi mencegah hal yang tak di inginkan terjadi. Bisa-bisa Delia celaka jika harus meladeninya setiap waktu. Tidak! Berhenti. Cukup sudah segala kegilaan yang ia lakukan. Malam ini juga ia akan segera membawa istrinya pulang ke apartemen setelah menemui mama dan papa. Tidak perduli jika mama mengomelinya nanti.
Membiarkan istrinya beristirahat tenang di apartemen mungkin adalah jalan terbaik. Sementara ia harus berkutat dengan pekerjaan yang telah menanti di ruang kerja.
Esok ia akan membereskan sedikit masalah yang tersisa di perusahaan atas ulah tak bertanggungjawab Barend. Meretas sistem perusahaan yang menyebabkan kinerja internet sebagai sarana penunjang paling penting melemah.
*
*
*
Rindu sekali pada bu Maya… statusnya sebagai karyawan dulu membuatnya sedikit menjaga jarak… malu untuk ikut campur pada kehidupan pribadi atasan sekaligus ibu angkatnya itu. Ternyata selain toko bunga bu Maya memiliki bisnis butik yang tak ia ketahui. Besok ia akan izin pada mas Agra setelah fitting untuk tinggal dan melepas rindu dengan bu Maya di butiknya.
"Ya sayang… kamu makan yang banyak ya supaya sehat dan kuat… dua minggu lagi mama papa dan suamimu sepakat untuk menggelar resepsi besar." Prediksinya memang tepat tentang Agra yang tengah merencanakan sesuatu hal yang penting. Sedikit tertegun, Delia mendekati mama yang tengah meracik minuman turun temurun keluarga Wijaya. "Itu apa ma?" Matanya sibuk mengamati tangan mama yang piawai meracik minuman tradisional. "Minuman ini bagus untuk kecerdasan bayi Lia. Cukup sekali meminumnya, maka kita akan merasakan manfaat yang terkandung dalam minuman ini saat cucu-cucu mama telah lahir ke dunia…" Mama mengangkat gelas yang telah berisi cairan berwarna kecoklatan. Menyodorkan pada Delia yang terlihat ragu untuk meminumnya. "Minumlah Lia, dulu mama juga minum ini waktu mengandung Agra." Mama menghela Delia sambil membawa gelas di tangan menuju meja makan. "Emh… tapi ma mas Agra nanti mengomel kalau tahu aku minum yang bukan menu ahli gizi dari mama ." Mama menghela nafas. "Minuman ini… adalah resep racikan dari nenek buyut , Lia. Ahli gizi juga sudah melakukan reset di laboratorium mengenai keamanannya, dan tentunya minuman ini sangat aman sayang. Kalau kamu belum mau meminumnya, mama taruh dalam kulkas ya." Ekspresi mama berubah muram.
"Jangan ma… Lia mau. Tapi… tapi ini tidak pahit kan ma?"
Senyum mama mengembang sempurna. "Tentu tidak sayang… rasa dari minuman ini adalah perpaduan antara manis dan asam. Kamu coba dulu pasti kamu nanti akan menyukainya." Delia menelan ludah kasar, ragu-ragu ia mengambil gelas berisi minuman dengan aroma rempah-rempah di hadapannya. Sebagai bentuk hormat pada ibu mertuanya yang sudah susah payah membuatkan minuman sehat akhirnya ia memutuskan untuk menenggak sambil menahan nafas hingga minuman itu tandas.
__ADS_1
Mata lentik Delia mengerjap pelan. Bola mata hitamnya berbinar. "Ma…!!! Ini enak sekali. Lia mau lagi boleh ya?" Di luar dugaan perempuan itu berjingkrak kegirangan setelah menghabiskan ramuan turun temurun keluarga Wijaya.
Sedikit menyesal telah meragukan minuman berkhasiat racikan mama, Delia menghambur memeluk mama. "Ma maafin Lia…" Mama mengusap sayang punggung menantunya. "It's okey… dulu mama juga begitu sewaktu pertama kali di paksa minum oleh nenek buyut." Mama terkekeh-kekeh merasakan pelukan Delia yang semakin mengencang. "Kamu ini kenapa?" Mama tersenyum melihat Delia masih memasang wajah sungkan. "Reaksi mama dulu lebih parah dari kamu. Sembunyi di suatu tempat hingga satu mansion kelabakan mencari mama." Delia tergelak saat mama bercerita sambil memasang mimik lucu.
"Eeeh… ada apa ini kog peluk-pelukan segala?" Agra melangkah keluar dari ruang kerja mendekati dua wanita kesayangannya. "Mas tadi aku habis minum ramuan sehat buatan mama. Rasanya segerrr banget." Delia menjelaskan sambil mengapit lengan kokoh suaminya.
"Ma…?" Agra mengerutkan keningnya dalam.
"Kemarin kan mama sudah bilang padamu kalau mama mau meracik ramuan turun temurun keluarga kita untuk Delia. Apa kamu lupa? " Agra melepaskan pelukan tangan Delia pada lengannya. Menarik perempuan itu ke hadapannya. Mengamati dari atas sampai bawah. "Apa yang kamu rasakan setelah meminumnya?" Agra menatap tajam istrinya. Dari nada bicaranya ia terdengar sangat khawatir. "Enak seger banget mas. Aku mau minum lagi tapi kata mama cuma buat satu gelas." Agra memicing. Menghela Delia untuk duduk di kursi makan. "Benarkah seperti itu? Tidak bohong kan?" Agra mencoba membaca gestur istrinya. Mungkinkah Delia membohonginya karena masih ada mama di dekatnya, sehingga ia tidak berani berbicara jujur, lalu menyembunyikan sesuatu yang akan ia sesali jika dirinya melewatkan suatu hal yang bisa saja mengancam keselamatan istri dan bayi-bayinya.
"Issshh… kamu ini menuduh mama meracuni mantu dan calon cucu-cucu mama kan?!" Mama dengan geram menarik telinga Agra hingga memerah.
"Aaahhk aduh… sakit…sakit ma. Ampun, bukan seperti itu maksud Agra ma." Agra mencoba melepaskan tarikan tangan mama pada telinganya, namun mama semakin kencang menariknya hingga telinga Agra semakin bertambah merah. "Maa… sakit!!!" Teriakan kesakitan Agra membuat tubuh Delia terguncang, terpingkal-pingkal menahan tawa yang akhirnya meledak juga. "Kamu sih mas… mama sudah susah payah membuatkan ramuan itu kamu malah menuduh mama yang tidak-tidak. Bahkan kalau aku jadi mama, mungkin telinga mas Agra sudah putus." Agra melotot gemas pada istrinya. Bukannya menolong dari amukan mama Rani, malahan Delia puas melihatnya sengsara. "Awas ya kamu!!" Ancam Agra yang disambut Delia dengan senyum mengejek.
"Siapa takut!!" Tanpa perempuan itu sadari rencana pembalasan suaminya telah tersusun rapi di otak lelaki itu.
"Ma udah ma… sakit beneran ini! Lihat tuh sudah pukul berapa? Kita harus segera pulang ke apartemen. Agra banyak kerjaan ma Delia juga harus segera istirahat… please lepasin ma." Agra mencoba berkilah dengan merengek seperti bayi. "Mama lepasin kamu kali ini. Tidak untuk lain hari. Ingat itu!!!" Bentakan mama membuat Agra sedikit menciut. "Iya-iya mamaku sayang… jangan marah ma… kalau mama nggak marah, janji deh lusa sehabis fitting baju kita menginap di sini." Agra mengedip, menggoda mama Rani.
"Kamu ini… bukannya mama tidak suka Delia menginap di mansion. Tetapi jangan hanya demi merayu mama kamu abai pada kondisi istrimu. Apa kamu lupa Delia sedang hamil, lihat perutnya sudah mulai terlihat. Itu artinya kamu harus lebih ekstra menjaganya. Untuk saat ini mama tidak apa-apa kalau Delia merasa nyaman di apartemen, mungkin saja itu bawaan bayi. Jadi demi keamanan lebih baik kamu kurangi membawa istrimu dalam perjalanan jarak jauh. Mama memang sangat berharap Delia dapat tinggal di mansion menemani mama selalu. Tapi mama lebih mengkhawatirkan keselamatan mantu dan cucu-cucu mama." Mendengar bentuk perhatian mama Rani Delia berkaca-kaca. Meremas kedua tangannya, menahan agar air mata tak terjatuh di pipi. Namun gagal. Air bening itu telah luruh membasahi wajah cantiknya.
"Lia…" Seru mama, menggenggam tangan Delia di atas meja makan. "Kenapa menangis sayang?"Agra mengusap lembut rambut istrinya.
"Terima kasih ma sudah menyayangi Delia dengan tulus."
Merasa di cintai adalah impian bagi setiap perempuan. Delia menghampiri mama yang duduk di kursi depannya. Merangkul sayang perempuan setengah baya itu.
Agra hanya mampu menggeleng menyaksikan keduanya yang larut dalam suasana haru tanpa memperdulikan dirinya yang juga berada di tempat itu.
Bersambung…
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
see you on the next episode...❤️