Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Tak Bisa Jauh Darimu!


__ADS_3

Agra mengemudi dengan kecepatan tinggi, begitu mendapat kabar bahwa ia harus memimpin rapat di organisasi gelap miliknya.


Setengah berlari, lelaki itu memasuki lift khusus, menuju apartemennya. Dengan perasaan rindu yang menggebu juga hati yang mulai waspada pada segala situasi yang kapan saja dapat mengancam keselamatan istrinya, Agra segera mendorong pintu apartemen kasar setelah menekan sandi rahasia, dengan langkah tergesa ia meraih tubuh mungil istrinya yang tengah berdiri di dekat ranjang untuk bersiap merebahkan tubuh lelahnya di peraduan hingga lelaki itu menyebabkan keduanya jatuh terbaring di ranjang mewah berwarna putih itu, Agra berada di atas tubuh Delia dengan kedua lengan sebagai penyangga agar tak membahayakan makhluk kecil di dalam sana.


"Mas… Ada apa?" Delia mengernyit bingung menatap wajah Agra yang tak berjarak dari wajahnya . "Sudah makan? Tadi pak Li menyiapkan makanan kesukaanmu sayang." Lelaki itu semakin mendekat mengikis jarak yang tersisa, menempelkan ujung hidungnya dengan milik Delia. "Aku hanya menginginkanmu saat ini!" Ada nada tak rela dari suaranya. Sebelum keberangkatannya malam nanti menuju London, Dalam hati Agra ingin melepas segala sesak yang memenuhi dadanya. Sesak, tak tega meninggalkan Delia sendiri dalam kondisi bahaya seperti saat ini. Informasi yang lelaki itu peroleh dari anak buah Barend, cukup membuatnya merasa was-was.


Kehamilan istrinya yang beresiko menyebabkan ia membatalkan niat untuk membawa Delia ikut serta dalam perjalanan panjang ke London. "Maaf…" Agra memandangi wajah berseri Delia dari jarak yang terlampau dekat. Bibir ranumnya terlihat begitu sangat menggoda. Sambil mengusap dan menyentuh dua area favoritnya, Agra mengecup bibir itu sekilas. "Aku akan selalu merindukanmu, istriku!" Dengan penuh kelembutan Agra mengucapkan kalimat yang sukses membuat kening istrinya berkerut. "Kamu bercanda sayang…" Delia tergelak mendengar pengakuan suaminya, sambil tangannya berusaha menjauhkan tangan jahil Agra yang sibuk meraba sana sini. " Setiap hari kita bertemu, akan sangat aneh kan kalau mas Agra selalu rindu denganku?" Senyum Delia tertahan saat melihat ekspresi tak suka Agra. "Nanti malam aku harus berangkat ke London Lia." Delia mengusap lembut rahang tegas Agra. Dalam posisi yang sama perempuan itu menatap penuh pengertian pada suaminya. "Iya sayang. Aku akan selalu menunggumu." Delia sama sekali tak menahan Agra agar tetap tinggal menemaninya, sehingga membuat Agra menaikkan sebelah alis tebal miliknya. "Kamu senang hem? Wanita di luaran sana akan sangat keberatan jika pasangan mereka melakukan perjalanan bisnis, lalu mereka akan sibuk menahan supaya sang pasangan membawanya untuk ikut serta. Tapi kamu? Bukannya merengek memintaku untuk tetap tinggal, malahan tersenyum senang mendengar berita ini? Kenapa begitu? Apa kamu bahagia kalau aku tak ada di sampingmu?" Delia memicingkan mata. Menarik kepala Agra. Memejamkan mata, menghadiahi kecupan di dahi lelaki yang kian hari, kian menampakkan kematangan diri itu. "Aku percaya suamiku adalah pria yang setia… Dan bukankah dokter Stella menyarankan untuk aku tidak melakukan perjalanan jarak jauh. Lalu… meskipun terpaksa harus ikut tidak bisa juga terlalu mendadak seperti ini, sayang. Kamu kan berangkat malam ini. Sementara pemeriksaan menyeluruh padaku sebagai syarat utama ibu hamil masuk pesawat akan cukup memakan waktu." Bola mata hitamnya mengedip pelan, kedua tangan mungil nan halus milik Delia menangkup gemas pipi Agra yang setia berada di atasnya. " Bahkan jika menggunakan jet pribadi?" Tanya Agra serius.


Delia yang pernah menjadi asisten pribadi Agra pun sedikit banyak mengetahui aset pribadi keluarga Wijaya yang jarang di beritakan media. " Kamu harus tahu mas. Bahwa aku pun juga selalu ingin berada di dekatmu. Jadi kalau mas Agra ingin membawaku turut serta dalam perjalanan panjang ke London, aku sangat bersedia. Tapi kalau nanti dokter Stella mencegah bagaimana?" Bibir Agra melengkung, tersenyum penuh arti. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya sebuah ide agar ia tak harus mencemaskan kondisi Delia nantinya jika istrinya ikut serta. "Kamu tidak usah terlalu memikirkan banyak hal Lia. Cukup membawa dirimu dengan baik dan selalu berada di dekatku, itu sudah sangat membantu. Aku akan membawa dokter Stella ikut dalam perjalanan ke London untuk berjaga-jaga. Hatiku sama sekali tak tenang, jika harus meninggalkanmu seorang diri, jauh dari pengawasanku." Agra menggulingkan tubuhnya ke samping Delia, menatap langit-langit kamar sambil sebelah tangannya menggenggam erat tangan Delia, membawanya dalam dekapan erat di dada.


Sebelah tangannya yang bebas merogoh ponsel dalam saku celana. Dan meski hanya menggunakan satu tangan, lelaki itu mampu mengetikkan sebuah pesan dengan lihainya yang akan ia kirim entah kepada siapa? Lalu begitu selesai Agra melemparkan benda pipih itu ke unjung ranjang dekat selimut yang teronggok tak terpakai.

__ADS_1


Ia menarik tubuh Delia pelan hingga terbaring. Memeluk dan menciumi seluruh wajah istrinya. "Mas Geli…" Delia menatap tajam Agra namun di selingi gelak tertahan dari mulutnya sebab tak mampu menahan rasa menusuk-nusuk oleh bulu jambang Agra yang mulai tumbuh halus. "Kemari lah!" Agra merentangkan kedua tangan agar Delia bergegas masuk dalam pelukannya. "Mas, berangkat jam berapa? Belum packing juga!" Meski pelan Agra dapat mendengar nada gelisah dari suara istrinya. "Tidurlah, tidak perlu memikirkan apapun. Alex akan mengurus semuanya untuk kita." Setelah mengucapkan kalimat menenangkan untuk Delia, Agra segera memejamkan mata sambil memeluk erat istrinya tanpa memperdulikan tatapan protes Delia.


Jam digital masih menunjukkan di angka 19.00 Masih ada waktu untuk beristirahat supaya tubuh lebih segar ketika dalam perjalanan nantinya.


Sebelah tangan Agra yang bebas, meraih remote. Mematikan lampu utama hingga menyisakan lampu tidur di kedua sisi ranjang. Menciptakan kualitas tidur yang baik untuk ibu hamil dalam pelukan juga untuk dirinya sendiri.


Tidak butuh waktu lama untuk keduanya tenggelam dalam tidur yang lelap.


*


*

__ADS_1


"Istirahatlah. Saat ini aku tidak membutuhkan bantuan mu sampai pesawat tiba di tempat tujuan." Seru Agra pada Alex yang masih setia berjaga menunggu perintah selanjutnya dari sang atasan. Meski lelaki itu sendiri pun mengetahui bahwa Agra tak se kaku itu pada nya, namun ia tetap mengedepankan profesionalitas dalam hal pekerjaan.


"Baik tuan."Ucapnya sebelum benar-benar tenggelam dalam tidur sembari menunggu perjalanan yang panjang.


"Apa kamu lapar?" Jari Agra sibuk memainkan rambut Delia, menggulungnya hingga kepala perempuan itu semakin menempel pada tubuh kokohnya. "Mas aku ngantuk. Mau tidur disini boleh?" Delia mendongak menatap Agra yang sibuk memainkan rambutnya. Jari lentiknya menusuk-nusuk dada bidang Agra yang terasa keras dan liat. Padahal beberapa saat yang lalu perempuan itu baru saja bangun dari tidur lelapnya dalam pelukan sang suami di kamar mewah bak singgasana istana negeri dongeng sebelum berangkat menuju bandara. Tetapi begitu ia merasakan lagi hangat tubuh Agra yang meliputi dirinya dalam keheningan, rasa kantuk pun kembali menguasai hingga perlahan tapi pasti kelopak serta bulu mata lentiknya mengedip lalu terpejam rapat dalam buaian dan belaian tangan kokoh milik Agra. Hormon kehamilan membuat tubuhnya lebih cepat merasakan lelah. Delia yang dulu selalu bangun awal kalau sedang tak memiliki jadwal padat pun kini telah berbeda. Dirinya akan selalu merasa ingin tidur jika sedikit saja merasakan lelah. Untuk itu Agra sama sekali tak memberinya izin mengerjakan aktivitas yang menguras tenaga kecuali pergi kuliah, namun dengan catatan tak ada kegiatan kampus yang memberatkannya.


"Memangnya dari tadi apa yang sedang kamu lakukan?" Sebelah alis tebal Agra terangkat, tersenyum mengejek Delia tanpa menatapnya, sehingga dirinya tidak mengetahui jika sang istri telah tertidur dengan nyenyak nya.


"Gadis nakal." Lirihnya di selingi senyum sekilas setelah tahu kalau Delia tidak mendengar apa yang ia ucapkan karena sudah tertidur dengan nafas yang mulai teratur. Agra memindahkan Delia ke bangku sampingnya,merebahkan dan menyelimuti istrinya agar tak kedinginan. Tangannya terulur, mengusap pelan kepala Delia yang lunglai. Menyingkirkan anak rambut yang juga menutupi dahi istrinya sebelum dirinya ikut merebahkan tubuh agar siap memimpin rapat esok pagi, waktu London.


......................

__ADS_1


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.


__ADS_2