
Natasya,
Sebagaimana seseorang memohon ampun, berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu. Percayalah… semua itu harus kita pastikan kebenaran dibalik perubahan sifat yang tiba-tiba.
Watak,
seseorang berubah menjadi lebih baik dari sifat buruknya itu ada dua kemungkinan yang menjadi alasan dibaliknya.
Pertama… ia berubah sebab ada sesuatu hal yang memaksanya untuk berubah menjadi lebih baik. Dalam kasus ini tidak menuntut kemungkinan bahwa suatu saat orang tersebut akan kembali pada sifat aslinya.
Kedua… berubah sebab kemauan sendiri, dan sadar bahwa apa yang di perbuat selama ini banyak merugikan orang lain. Sementara dalam kasus ini, kecil kemungkinan untuk seorang itu kembali pada masa lalu kelamnya. Tentunya teramat jarang terjadi.
Tin tin tin tin…
Natasya memukul kemudi mobil akibat antrian yang begitu panjang di tempat pengisian bahan bakar. Sesekali ia mengumpat kasar di dalam kendaraannya. Menyalakan sebatang rokok, mencoba meredakan kepala berdenyut yang semakin bergelayut manja. Semalam ia mampu menghabiskan beberapa gelas Tequila Ley, salah satu jenis minuman beralkohol kadar tinggi dari jamuan salah satu teman lelakinya, menyisakan hangover di pagi hingga menjelang siang. Sepak terjangnya di dunia modeling adalah salah satu penyebab bebasnya pergaulan Natasya. Klab malam menjadi tempat yang paling sering ia kunjungi kala penat datang menerpa. Musik yang memekakkan telinga, para lelaki hidung belang dan segala hiruk pikuk dunia malam. Semua itu tak menjadikannya risih, bahkan justru Natasya sangat menikmati perannya sebagai bagian dari tempat maksiat itu.
Tanpa ia sadari, semua gerak geriknya tak luput dari pantauan anak buah Agra. Lelaki itu tak akan pernah melepaskan begitu saja Natasya yang dengan tega mencelakai istrinya. Menempatkan anak buahnya di manapun perempuan tersebut berpijak. Agra sendiri mengambil keputusan untuk melepaskan Natasya dari segala bentuk amarahnya atas dasar pertemanan di masa lalu, dan lelaki itu sendiri telah memprediksi bagaimana wanita itu akan salah mengartikan segala bentuk kelonggaran yang ia berikan. Cukup sekali ini Agra berbaik hati mengampuni kesalahan fatal Natasya. Tidak untuk berikutnya.
"Sial! Brengsek! Kepalaku rasanya mau pecah!!" Sudah lama menunggu tetapi antrian panjang tak sedikitpun bergerak. Natasya memutuskan keluar dari barisan paling belakang. Memarkirkan mobil merah menyalanya di dekat minimarket area tersebut.
Mendorong kasar pintu mobil. Turun dan keluar, menutup pintu dengan membantingnya. Natasya bersungut-sungut, Entah apa yang membuat bagian belakang kepalanya semakin terasa berat saat ini? Membuang sisa rokok yang ia hisap lalu menginjak-injak hingga benda itu hancur tak berbentuk.
Ia sendiri bukanlah penikmat baru minuman beralkohol. Tetapi kenapa efek yang ditimbulkan menjadi semenyakitkan ini pada dirinya? Mungkinkah kemampuannya berkurang seiring usia yang tak lagi muda? Entahlah wanita itu sendiri juga tak memperdulikannya. Natasya hanya akan peduli pada hal-hal yang membuat ia bahagia. Salah satunya adalah minuman beralkohol itu sendiri.
Sedikit sempoyongan ia berjalan menuju minimarket. Sesaat sebelum kakinya menaiki lantai teras minimarket berbahan granit, Natasya menghentikan langkahnya. Sekilas ia melihat sosok yang di kenali. Dan begitu ia menyipitkan mata menajamkan pandangannya, seketika itu juga kepalanya serasa terbakar. Segala bentuk amarah yang susah payah ia tahan sedari tadi kini tak terbendung sudah. "Brengsek. Perempuan jal*ng itu adalah penyebab Agra berlaku kasar padaku!! Apa bagusnya sih pelac*r miskin yang secara murahan melemparkan tubuhnya dengan sukarela?" Natasya menghentakkan kaki tak suka. "Lihat saja nanti Agra! Kalau aku tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku, aku pastikan jal*ng mu itu akan mati mengenaskan di tanganku!!" Kedua tangannya mengepal kuat. Segala janji untuk tak mengganggu atau menyentuh Delia dan menampakkan diri dihadapan Agra ternyata hanyalah sekedar untaian kata tiada arti.
"Kau sendiri yang telah memberikan aku kesempatan itu! Jadi jangan salahkan aku nanti jika terjadi hal buruk pada perempuan miskin yang katamu adalah istrimu itu AGRA!!!" Natasya meludah kasar kemudian melenggang setelah mengucapkan segala bentuk sumpah serapah pada Agra dan Delia.
*
*
Ada pergerakan mencurigakan di area minimarket. Ganti.
Seseorang terlihat sedang mengawasi tuan dan nyonya muda. Ganti.
Sudah dipastikan bahwa orang itu adalah Natasya. Ganti.
Untuk semuanya agar bersiap dan waspada. Ganti.
Potongan percakapan pengawal melalui HT menyita fokus pada istrinya. "Apa yang terjadi?" Sambil menggenggam sebelah tangan istrinya Agra mencecar anak buahnya.
__ADS_1
"Ada Natasya di area minimarket tuan." Delia yang mencuri dengar seketika melebarkan mata saat mengetahui sumber ketegangan yang terjadi. "Natasya di sini?" Lirihnya takut-takut di telinga Agra.
Lelaki itu mengeratkan genggamannya pada tangan Delia begitu menyadari nada gusar dari suara istri mungilnya. " Kamu takut?" Delia mengangguk pelan, mendongak menatap mata Agra yang menajam. "Mau pulang…" Ucapnya dengan nada sedikit bergetar. " Apa yang kamu takutkan? Ada aku di sini." Agra menghela Delia untuk segera masuk ke dalam mobil demi menghindari sesuatu yang tak diinginkan.
"Kemari lah…" ucapnya lembut setelah duduk di kursi mobil, membawa Delia dalam pelukan hangatnya. "Kamu aman bersamaku. Akan ku pastikan itu." Agra memeluk lalu menepuk-nepuk punggung Delia yang terasa menegang. Trauma atas perlakuan Natasya padanya waktu itu masih membekas di ingatan. " Mas bagaimana kalau dia mengejar dan mendorongku lagi?" Setelah menyampaikan kekhawatirannya Delia terdiam, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Agra.
Sedetik kemudian aroma mint memenuhi indera penciumannya. Meluruhkan segala ketegangan yang menembus hingga ke nadi. "Itu tidak akan pernah terjadi Delia. Apa kamu meragukan ku? Kamu adalah istriku, aku tak akan pernah membiarkan seorangpun merendahkan bahkan menyakiti istriku. Dan kalaupun sampai ada orang yang dengan berani menyentuhkan tangannya pada tubuh istriku setitik pun. Maka aku akan menghabisi orang itu dengan tanganku sendiri sampai tak ada harapan apapun yang tersisa, walau harus bersujud dan mencium kedua kaki ku." Agra menarik kepala Delia dari pelukannya. Menghadapkan perempuan itu padanya. "Apa sekarang kamu sudah mengerti?" Pandangan Agra berubah tajam. Mengamati pahatan indah ciptaan Tuhan dalam bentuk wajah cantik Delia. Hingga terhenti pada bibir ranum istrinya. "Mas… kenapa memandangku seperti itu? Aku malu." Nadanya berubah jengkel, memalingkan wajahnya sebab rona merah di pipi mulai muncul.
Agra yang gemas melihat tingkah lucu Delia pun tak tahan untuk segera menghadiahkan kecupan kecil di bibir ranum istrinya. " Mas…" Jerit tertahan Delia di sambut gelak tawa Agra. Sampai-sampai dua anak buahnya yang duduk di kursi depan menoleh penasaran. Hal apa yang membuat tuan muda yang selama ini terlihat dingin itu tertawa lepas tanpa beban? Dua anak buah Agra mengerutkan kening dalam, banyak pertanyaan secara terus menerus bermunculan di benak keduanya.
"Fokuslah mengemudi jika kalian tak ingin kita semua berakhir dalam sebuah kecelakaan tragis." Keheningan kembali tercipta setelah Agra mendesis kan kalimat dengan nada luar biasa sinis.
Delia semakin meringkuk dalam pelukan Agra setelah mobil semakin jauh melaju meninggalkan pusat kota dan memasuki jalur menuju mansion. Menikmati suasana perjalanan, keduanya saling memeluk mesra.
Sebelah tangan Agra meraih handle sekat, lalu menariknya hingga tertutup sempurna. Kedua anak buah di kursi depan pun kini tak terlihat lagi. Lelaki itu sedari tadi meneguk ludah kasar, mati-matian menahan hasrat yang menggebu ketika melihat bahu seputih susu milik wanitanya. Mendorong pelan Delia hingga berada di posisi berbaring, menelusuri tulang rahang istrinya sambil menyingkap bagian bawah gaun panjang Delia. "Mas mau apa? Masih di mobil sayang!!" Perempuan itu memekik tertahan kala Agra menindihnya. Meski lelaki itu menggunakan kedua lengan sebagai penyangga supaya tak membahayakan bayi-bayi mungilnya pun insting Delia sebagai seorang ibu muncul secara tiba-tiba. Memeluk perut dengan kedua telapak tangan sebagai bentuk perlindungan untuk buah cinta yang telah mencoba bertumbuh di dalam sana. " Mas… ini benar-benar tidak lucu sayang… kamu bisa menyakiti mereka nanti." Suara lembutnya justru semakin membakar tubuh Agra yang kian memanas. Kepala berdenyut pun mulai menyambangi lelaki itu.
Pukulan serta dorongan istrinya tak ia hiraukan. Sibuk mencumbui leher jenjang Delia. Mendaki bukit yang menjulang dan menantang.
Dalam posisi yang tidak menguntungkan, Delia mengeluarkan suara lembutnya. Agra yang merasa telah berhasil memancing Delia ke dalam permainannya pun menyeringai puas.
Tidak diragukan lagi… pemain profesional sekelas dirinya tentulah ahli dalam menaklukkan lawan.
Begitu Agra merasakan mobil berhenti, seketika itu ia menarik pelan Delia untuk duduk. Membuka pintu, lalu keluar dan mengitari mobil menuju ke sisi tempat duduk istrinya. "Mass…"
Dalam gendongan suaminya ia bersandar dan menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu sebab menjadi tontonan gratis para pengawal yang berjaga di setiap sudut mansion serta pelayan yang lalu lalang melaksanakan tugas masing-masing.
Meskipun apa yang dirasakan Delia adalah murni ketakutan yang tak beralasan, sebab tak ada satu orang pun pengawal maupun pelayan yang berani menatap bahkan melirik adegan mesra kedua majikannya.
Segala perlakuan Agra yang secara impulsif pun benar-benar membuat perempuan itu menggeleng tak habis pikir. "Diam dan nikmatilah, segala apa yang kulakukan ini adalah bukti bahwa aku sangat menggilai mu Delia…" Dengan langkah lebar Agra berjalan menuju lorong samping pintu utama mansion. Lorong panjang berpenjagaan ketat itu terlihat temaram. Bias cahaya dari pantulan lampu hias berwarna kemerahan di setiap sisi tembok tinggi nan panjang menambah kesan yang mencekam. Konsep bangunan megah yang di desain papa Hadi dan mendiang kakek Agra sendiri begitu terlihat sempurna ketika di wujudkan dalam sebuah mahakarya yang nyata. Delia sendiri baru kali pertama melewati lorong mencekam ini semenjak ia tinggal di mansion. "Mas kenapa lewat sini…?" Agra semakin menyeringai. Kedua mata lelaki itu meredup penuh arti pada istrinya, dan begitu langkahnya terhenti di ujung lorong temaram itu, sekilas ia mengecup dalam bibir ranum Delia yang setengah terbuka. "Tak akan pernah ku biarkan seorangpun menyentuhkan tangannya pada tubuhmu yang menjadi favoritku ini…" Setengah menuntut Agra menurunkan Delia. Menyatukan ujung hidung keduanya, mendorong pelan tubuh istrinya hingga menyentuh tembok bergaya modern yang kontras dengan tembok klasik lorong yang ia lalui sebelumnya. Dengan nafas yang saling memburu keduanya saling memag*t.
"Kita ke kamar…" Membara dalam jiwa. Delia mengangguk patuh, dirinya pun telah hanyut dalam suasana panas menyenangkan yang tercipta setiap kali Agra memujanya. Menggendong lalu melangkah memasuki sebuah kamar mewah yang sangat luas nan menyejukkan mata.
Lorong panjang bercahaya temaram itu ternyata adalah jalan rahasia menuju kamar masa kecil Agra yang tak seorang pun berani menjejakkan kakinya selain orang kepercayaan Agra.
Kamar yang di dominasi dengan warna putih dan silver itu memberikan kesan menarik bagi siapapun yang pertama kali melihatnya. Tanpa terkecuali Delia. Mata lentiknya berbinar cantik kala Agra membawanya menuju ranjang berukuran king size, membaringkan Delia pelan sambil mengedipkan sebelah mata. Lelaki itu bangkit dan pergi menutup pintu setelah memastikan istrinya dalam posisi nyaman. Menekan tombol di samping handle pintu.
Krassss…
Seketika cahaya terang yang sebelumnya Delia nikmati pun, kini berganti dengan kondisi kamar yang gelap namun tidak sepenuhnya sebab bagian atap yang menjelma menjadi langit berbintang…
"Waaahhh… indah sekali mas!" Delia membulat. Decakan kagum tak elak keluar dari bibir ranumnya. "Aku baru tahu di mansion ada tempat seindah ini…" Buru-buru Delia bangkit dari ranjang. Menghambur ke pelukan Agra yang berdiri di tengah cahaya bulan bermandikan bintang sambil menatap dalam dirinya. Lelaki itu tersenyum miring. "Ada banyak hal yang belum kamu ketahui di bangunan megah bak kastil milik keluarga Wijaya ini sayang…" Meski siang telah terik. Tapi saat berada dalam kamar itu, siapapun dapat mengaturnya menjadi berada dalam suasana malam secara otomatis. Begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Berhentilah mengagumi sebagian kecil keunikan dalam bangunan yang di desain secara khusus demi menyenangkan suamimu ini di masa kecilku." Agra mengangkat dagu istrinya hingga mendongak.
Perempuan itu memandangi pahatan sempurna di hadapannya.
Alangkah baiknya Tuhan yang telah menciptakan lelaki tampan yang kini menjadi suaminya.
"Kamu harus tahu… ada urusan yang lebih penting yang harus segera kita selesaikan saat ini juga." Deru nafas Agra semakin memburu di telinga istrinya. Lelaki itu menarik tangan Delia. Membawanya untuk menyentuh sesuatu yang telah menegang bagai teraliri listrik bertegangan tinggi.
Seketika Delia membulat tak percaya. Bagaimana mungkin secara terang-terangan Agra menggodanya tiada henti.
"Masss… " Menarik kembali tangannya yang telah dipaksa menyentuh benda paling mengerikan di seluruh dunia itu.
"Bukankah kamu selalu merindukannya, sayang?" Agra bertambah semakin puas saat wajah merah istrinya kian kentara.
Didalam kamar rahasia itu keduanya saling memberi. Saling memberikan kebahagiaan, menuntaskan urusan yang sangat penting.
*
*
Satu hal yang membuat Delia yakin bahwa Agra merupakan sosok lelaki baik adalah, tidak pernah sekalipun Agra memperlakukannya kasar sejak awal intim berdua di malam pertamanya. Sangat berbanding terbalik dengan berita di luaran sana yang mengecap Agra sebagai lelaki jahat tak punya hati.
Kebersamaannya dengan Agra yang belum lama ini, sudah cukup mematahkan stigma masyarakat tentang suaminya bagi dirinya sendiri. Suaminya adalah orang baik. Titik.
Bersambung…
...****************...
Part terpanjang setelah sekian purnama…
Maafkan jika menurut kalian ga nyambung ya gesss…
Akhir pekan waktunya kumpul bareng keluarga…jadi baru bisa up hari ini.
Doakan juga supaya aku bisa menyelesaikan cerita receh ini dengan baik.
Bye…bye and see you on the next episode...🥰
Jangan lupa juga
KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
__ADS_1
LOVE YOU SEKEBON pokoknya mah....