Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Ngidam lagi?


__ADS_3

Tubuhnya selesai di bersihkan. Dress yang ia kenakan telah berganti dengan seragam rumah sakit pada umumnya. Sesuai gender, perawat memilihkannya seragam berwarna merah muda dengan motif bergaris khas pasien. Setelah sadar, Agra pamit dan mencium keningnya lama karena harus pergi mengurus sesuatu. Namun sebelum benar benar meninggalkan Delia lelaki itu mengutus salah seorang pengawal menjemput mama Rani untuk menemani istrinya agar tak merasa kesepian. Tidak lupa Agra juga memastikan bahwa Delia dalam kondisi baik pada dokter Stella hingga ia dapat pergi tanpa membawa beban dalam hati sebab merasa tak tenang. Dokter Stella sendiri juga menyampaikan bahwa Delia hanya mengalami syok dan tidak ada hal yang serius yang perlu di khawatirkan. Namun, begitu dokter wanita setengah baya itu menjelaskan bahwa mungkin sekitar satu bulan yang akan datang baru bisa mendengar dengan jelas detak jantung bayi bayi mereka yang baru seukuran biji itu dengan jelas, senyum Agra langsung mengembang sempurna hingga nyaris terkekeh, hatinya pun menghangat menyadari sebentar lagi ia akan menyandang gelar sebagai seorang ayah.


"Aku pergi dulu … makan yang banyak. Istirahat dan jangan kemana-mana." Pesannya pada sang istri yang dijawab dengan sebuah anggukan tipis. Setelah itu begitu mama tiba. Memeluk dan mencium pipi mama sekilas serta menitipkan Delia sebelum benar benar bergegas meninggalkan ruangan.


" Mama suapin yah…?" Delia menggeleng menolak tawaran mama. "Delia makan sendiri ma. Mama disini temani Delia." Perempuan itu menepuk pelan ranjang di sampingnya dengan sebelah tangannya yang bebas dari jarum infus agar mama Rani duduk dan bersandar santai di sebelahnya. "Mama sudah makan?"


"Sudah kamu jangan banyak berpikir lagi. Saat ini hanya perlu fokus pada kesehatanmu juga calon cucu mama. Selain itu tak perlu kamu repot repot memikirkannya." Mata Delia menyipit senyumnya terukir manis. Lalu tangannya terulur menyentuh kemudian mengusap lembut lengan mama. "Maafin Delia ya ma… sebelum berangkat ke kantor mama sempat melarang untuk pergi, tetapi dengan kekeh Lia malahan tak menghiraukan rasa khawatir mama karena ingin segera bertemu mas Agra hingga berujung celaka seperti saat ini. Lia janji mulai saat ini. Akan selalu mendengar baik-baik nasihat mama."


Dua perempuan berbeda generasi itu saling bercengkerama akrab di kamar vvip (very very important person) yang luar biasa mewah dan megah bak hotel berbintang begitu Delia menghabiskan makanannya dan di bersihkan oleh perawat perempuan yang datang setelahnya. Sama sekali tidak mirip dengan kamar pasien jika di lihat pada area santai di seberang ranjang lebar Delia. Sehingga siapapun pasien yang menghuni, pasti akan betah dan kerasan juga pastinya akan lekas pulih jika ruangannya saja memiliki nuansa menyenangkan sehingga dapat memberi sugesti positif pada setiap pasien yang di rawat di tempat itu, ditambah indahnya pemandangan kota yang dapat dilihat dari kaca jendela di lantai tertinggi rumah sakit saat malam tiba yang tepatnya adalah tempat di mana kamar itu berada.


Saat ini malam telah benar benar menampakkan dirinya tanpa bisa dicegah lagi. Mama sebenarnya tak tega meninggalkan Delia sendiri di kamar luas itu. Tetapi papa Hadi yang tidak pernah sekalipun tidur tanpa mama berada di sampingnya membuat mama harus segera pulang dengan terpaksa. "Maaf ya sayang… papamu itu tidak biasa tidur tanpa mama." Penjelasan terakhir mama yang di jawab dengan senyum jahil Delia membuat mama tersipu malu. Hingga perempuan setengah baya itu benar benar pergi meninggalkan ruangan.


...****************...

__ADS_1


Empat pengawal berwajah sangar yang berjaga di depan pintu kamar pasien Delia menunduk kala mendapati Bos besar mereka tiba.


"Siapa yang mengantar mama pulang tadi?" Agra memegang handle pintu dan menghentikan langkahnya. Menanyai para bodyguard terlatih mengenai siapa yang bertugas mengantar mama Rani. "Tadi saya menghubungi pengawal di mansion untuk datang kemari tuan. Sehingga kami tetap berjaga di sini." Agra mengangguk tipis dan bergegas masuk ke dalam kamar istrinya di rawat setelah mendapat penjelasan dari mereka.


Agra membaringkan tubuh lelahnya di sebelah Delia yang tertidur pulas dengan nafas berhembus teratur, kemudian memastikan tidak menyentuh tangan istrinya yang terpasang jarum infus. Menelusup kan tangan kokohnya pada perut rata Delia. Mengusap lembut di sana, meninggalkan rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuh perempuan itu hingga menarik kesadaran Delia dari tidur lelapnya. " Mas… jam berapa ini?" Delia bertanya begitu menyadari suaminya berbaring miring melingkupi tubuhnya. Dari cahaya redup di ruangan itu dapat Delia lihat wajah lelah Agra. Suaminya yang selalu dalam kondisi prima, mengapa saat ini terlihat begitu kelelahan? Otak kecilnya bertanya tanpa berani melontarkan kata secara langsung. Bibirnya terlalu kelu untuk berucap. Dan sungguh saat ini pun meski mereka telah saling mengaku satu sama lain tentang perasaan masing masing, tidak cukup bagi Delia untuk terlalu ikut campur lebih dalam tentang kesibukan dan pekerjaan suaminya yang hanya ia ketahui sekian persen itu. Ia sebagai perempuan kalangan biasa tentu paham betul mengenai statusnya. Mengenai siapa dirinya dan siapa keluarga suaminya. Sampai saat ini pun ia masih berusaha untuk memantaskan diri agar tak memalukan saat bersanding dengan Agra. Ah… kuliahnya. Ya… Delia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersungguh sungguh belajar. Pendidikan yang ia tempuh saat ini. Adalah impiannya yang telah lama terkubur. Menjadi perempuan sederhana yang berkelas. Tidak buruk bukan? Karena sesungguhnya di dalam kesederhanaan pun jika kita mampu menggenggamnya dalam pembawaan yang pas, pasti akan menjadi satu hal yang luar biasa bernilai tinggi dimata mereka yang menganggap remeh kita sebelumnya.


"Ya… aku baru datang… wangi mu enak sekali." Lelaki itu menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Delia . Dan lalu mengecup hingga meninggalkan jejak di leher seputih susu itu. "Ish… mas mau mengejekku ya? Aku belum mandi!" Wajahnya memberengut maksimal yang justru tampak semakin berbeda di mata Agra. "Kamu cantik." Seiring pujian yang keluar dari bibir tebal Agra dengan gerakan cepat ia menarik tengkuk Delia yang bersandar di bahu kokohnya sebelum menyadari pipi istrinya merona indah sebab rayuan yang lelaki itu layangkan. Mengecup dan ******* penuh antusias. Decap*n penuh semangat keduanya terdengar di seisi ruangan. Hingga hal yang mengasyikan itu berakhir saat Delia memukul-mukul dada bidang Agra karena benar benar kehabisan pasokan oksigen dalam rongga dadanya sebab Agra tidak memberinya jeda walau hanya sedetik. Bagi Agra, bibir ranum Delia terlalu manis jika hanya untuk di pandang saja tanpa di nikmati. Sebagai seorang suami juga sebagai lelaki normal bukankah itu adalah hal yang wajar?


Bibirnya bengkak seketika. Dan dengan gerakan selembut sutera jemari Agra mengusap bibir merekah yang selesai ia habisi itu. "Manis… aku mau lagi." Tidak menunggu jawaban. Dan tanpa persetujuan, lelaki itu kembali membenamkan diri di area favoritnya. Sebelah tangannya ia gunakan sebagai bantal Delia. Sebelah tangan yang bebas sibuk menggapai kedua area sensitif yang mengayun ayun. "Mas…" Des*hnya tertahan saat Agra melepaskan pertautan mereka. " Yes baby…" Agra sendiri sibuk meredam rasa panas juga dingin secara bersamaan yang kian menjalar ke seluruh tubuhnya. "Bantu aku…" Lelaki itu memposisikan diri berlutut di atas ranjang pasien yang luas itu. Meminta Delia untuk duduk di hadapannya. "Maaf aku tak tega menyakitimu. Jadi ku mohon bantu aku menyelesaikan ini." Delia mengangguk mengerti. Tentu. Perempuan itu jelas telah belajar banyak hal pada ahlinya secara langsung. Agra, sebagai pemain ulung tentu menyadari satu hal yang berbeda yang dirasakannya dulu ketika bermain dengan teman perempuannya di masa lalu. Pengalaman baru yang Agra rasakan bersama Delia saat ini adalah hal yang tak akan pernah ia lupakan selamanya. Lelaki itu rela meski ia harus dengan sabar mengajari Delia tentang semua hal baru dalam hidup istrinya itu. Semua sudah terbayar lunas . Terbayar oleh betapa manisnya Delia saat malam pertama mereka. Perempuan itu dengan sukarela menyerahkan dirinya pada Agra saat itu dengan dalih memang sudah seharusnya dan merupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Delia tersenyum canggung. lumayan menguras tenaga saat membantu Agra menyelesaikan urusannya tadi sebab ia juga harus menjaga selang infusnya agar tak lepas dari tangan. Seragam rumah sakit telah di gantikan Agra dengan piyama navy berbentuk dress selutut yang di bawakan mama karena tentu saja pakaian pasien sudah tidak layak untuk dikenakan akibat ulah suaminya sendiri.


Rambut panjangnya terurai cantik. Mata jernihnya mengerjap menatap Agra yang keluar dari kamar mandi. Lelaki itu terlihat segar dengan rambut yang basah. Ia hanya mengenakan handuk kecil yang melilit di pinggang dan berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Delia tersipu malu saat tak sengaja ia melihat pahatan sempurna di tubuh Agra. " Mau menyentuhnya?" Matanya mengedip tak tahan menggoda istrinya. Perempuan itu sungguh sangat merasa canggung. Dan bahkan meski mereka telah sering intim berdua, tetap saja selalu membuatnya salah tingkah kala Agra sengaja berganti pakaian di hadapannya langsung.

__ADS_1


" Sayang. Temani aku makan." Lelaki itu kini tengah rapi dengan pakaian santainya, kaos putih serta celana piyama navy senada dengan dress piyama Delia melekat pas di tubuh atletisnya, membuat Agra semakin terlihat tampan . Dan begitu pesanan di antar oleh perawat menggunakan troli, dengan segera Agra memindahkan satu menu ringan di atas meja kecil untuk alas makan saat di atas ranjang. Sesuai dengan fasilitas kamar kelas vvip istrinya, Agra dapat memesan berbagai macam menu makanan yang lezat dan bergizi. Ia makan dengan tenang dan teratur seperti kebiasaannya setiap kali menikmati hidangan setiap hari di mansion. "Mas aku mau." Delia berbinar memandangi makanan di depan Agra yang tinggal setengahnya saja. " Pesan yang baru ya. Ini tinggal sedikit." Delia menggeleng yakin. Di mata perempuan hamil itu saat ini makanan suaminya jauh lebih menggugah selera ketimbang sajian lezat berbentuk apapun. Ia menolak tawaran Agra dengan tegas untuk memesan makanan baru. "Nggak mau… mau yang ini." Delia melirik makanan Agra yang hampir tandas di piringnya. "Tapi ini tinggal sedikit sayang." Pandangan Delia mulai nanar oleh genangan air mata yang mulai muncul. " Tapi aku maunya yang ini." Isak kecil darinya mulai terdengar. Agra yang tak mengira reaksi istrinya akan sebesar ini seketika menoleh. Menyadari lelehan air mata sudah membasahi pipi mulus sang istri dengan gerakan cepat menghadapkan wajah sedih Delia padanya. "Kenapa menangis? Mau makan ini?" Perempuan itu mengangguk cepat mengiyakan. "Mau itu juga." Tunjuk nya pada dua hidangan penutup yang masih berada di atas troli kecil di sisi kiri Agra. "Ya sayang." Lalu Agra menarik troli itu agar lebih dekat dengannya, kemudian ia meraih salah satu hidangan penutup, membawanya ke hadapan Delia yang disambut dengan gelengan sang istri. "Ada apa?" Keningnya berkerut dalam. Mengapa Delia menggeleng sementara tadi perempuan itu memang menginginkan hidangan penutup yang kemungkinan besar bercita rasa manis itu dengan menunjuknya secara langsung. "Mas Agra harus memakannya lebih dulu, baru nanti sisanya buat Lia semua ya mas." Delia menjelaskan pada Agra yang semakin mengernyit bingung. "Kenapa seperti itu. Kalau kamu mau aku bisa memesankan lagi hidangan seperti ini satu troli penuh khusus untukmu saja. Kamu juga tidak perlu lagi sibuk membagi makanan yang hanya tersaji dalam porsi sedikit ini denganku. Apapun yang kamu mau asalkan tidak membahayakan mu juga bayi kita, aku pasti akan menurutimu. " Semakin bingung Agra dibuat oleh tingkah aneh istrinya. Tetapi ketika melihat Delia hanya diam tak bergeming dan memalingkan wajah, tanpa bertanya lagi Agra menghadapkan wajah sang istri untuk menatap matanya. Lelaki itu menarik dagu terbelah Delia. "Hey… baiklah baiklah. Lihatlah aku makan semua ini. Dan sisanya kamu yang habiskan. Okey?" Dengan cepat Agra memutuskan untuk tak memperpanjang masalah lagi. Sehingga senyum Delia terukir kembali, perempuan itu tanpa banyak bicara segera meraih sisa makanan Agra. Menghabiskannya hingga tandas tak bersisa.


Besok Agra berjanji akan segera menanyakan tingkah istrinya yang aneh sekaligus menggemaskan ini pada dokter Stella. Kita lihat, apa yang sebenarnya terjadi besok? putusnya langsung.


Tanpa ia sadari bahwa apa yang terjadi pada istrinya merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Perubahan hormonal pada ibu hamil adalah umum terjadi. Bahkan mungkin akan lebih parah dari apa yang di alami oleh Delia.


Bersambung…


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku


I LOVE YOU ALL❤️

__ADS_1


__ADS_2