
Pagi-pagi sekali Delia merengek meminta untuk segera pulang ke apartemen, tapi mama bersikeras agar keduanya sarapan di mansion setelah kepulangannya dari rumah sakit. Hamil membuat Delia sebentar tenang sebentar menangis tanpa sebab. Membuat Agra juga mama kebingungan untuk menenangkan.
Kepindahannya ke apartemen membuat mama merasa sedih. Beberapa kali mama mencoba membujuk dan meyakinkan Delia untuk tetap tinggal di mansion, namun tetap saja di jawab dengan gelengan oleh menantunya.
" Maafin Lia mama… bukan maksud membuat mama bersedih, tetapi saat ini Lia merasa harus belajar mandiri. Dengan tinggal di apartemen bukan berarti Lia lupa dengan mama. Lia dan mas Agra akan sering ke mansion untuk menginap dan menemani mama juga papa. Tetapi untuk saat ini Lia hanya ingin lebih mandiri dan menikmati masa kehamilan Lia di apartemen mas Agra. Sebenarnya Lia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa Lia merasa ingin sekali tinggal di sana… jadi Lia mohon mama mengizinkan kami untuk sementara tinggal di apartemen. Tanpa izin mama Lia tidak tenang ma." Tangan mungilnya menggenggam erat tangan mama.
"Kamu ini bandel sekali Lia… mama tuh maunya kamu diam di mansion jangan jauh jauh dari mama. Menemani mama di sisa umur mama ini. Mama juga ingin memperhatikan kamu di kehamilan mu ini. Mama nggak mau kehilangan momen dengan menantu dan calon cucu mama.Tapi… kalau misalkan kepindahan mu berdampak baik pada kandungan mu mama tidak mempermasalahkannya. Ingat ya… nggak boleh kecapaian dan jangan makan sembarangan. Kalau perlu pak Li biar ke apartemen kalian saja, biar mama tenang."
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil mewah Agra, setelah memeluk mama dan papa lama mereka segera berangkat menuju kampus.
"Aku bisa mas." Dengan sungguh-sungguh meyakinkan suaminya, Delia akhirnya dapat berangkat ke kampus dengan hati yang tenang.
Sedih sekali rasanya meninggalkan mansion di hiasi senyum sedih mama. Beberapa kali Delia menoleh ke belakang, menatap mama yang melambai ke arah mobil yang ia dan suaminya tumpangi. Dari mansion Delia langsung bertolak ke kampus sehingga rencananya pulang dari kampus baru akan ke apartemen. "Jangan makan sembarangan! Makan yang disiapkan pak Li… okay?" Delia terkekeh. Mengangguk patuh di hadapan suaminya. "Mas Agra. Jangan lupa makan dan juga hati-hati selalu yah." Agra yang terlalu gemas pada istrinya tak tahan untuk menyentil hidung istrinya pelan. "Baik nyonya Agra Wijaya." Balas Agra sambil mengecup kening Delia lama. "Jangan nakal… kamu tentu tahu kan aku mempunyai mata-mata yang ku tugaskan untuk mengawasi mu. Jadi jangan macam-macam ya." Delia sudah akan beringsut membuka pintu mobil. Tetapi Agra telah lebih dulu menarik Delia. Membawanya bersandar lagi pada dada bidang nan menghangatkan milik Agra. " Nanti kalau nggak ada kelas aku jemput ya. Kita makan siang bersama." Dalam pelukan Agra Delia mengangguk, sehingga tanpa melihat langsung Agra dapat merasakan jawaban Delia. Kemudian sebelum benar benar melepaskan istrinya Agra mengecup bibir ranum istrinya sekilas.
Dari tampilan segar Delia, membuat Agra sedikit tenang. Keputusannya untuk mengizinkan Delia ke kampus mungkin adalah yang terbaik. Ia memperhatikan beberapa hari di rumah sakit, istrinya itu terlihat kesepian karena kedapatan beberapa kali melamun. Meski Agra sendiri sering menemani, tetapi tetap saja mungkin Delia merasa jenuh.
Begitu sampai di halaman kampus tak sengaja Delia berpapasan dengan dokter Leo. Lelaki itu tersenyum ramah, melambai pada Delia yang berjalan melintasi beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket. Sorak sorai penonton memenuhi lapangan olahraga yang bersebelahan dengan halaman. Ketika Delia akan berbelok ke lorong menuju kelasnya dokter Leo memanggilnya . "Hai cantik…" Keningnya berkerut dalam. " dokter Leo kenapa ada di sini? " Laki-laki itu kembali tersenyum. "Aku saat ini tengah didapuk menjadi dosen pembimbing di fakultas kedokteran. Mungkin kedepannya kita akan sering bertemu. Jadi jangan bosan ya melihat wajahku ini." Delia terkekeh mendengar kelakar dokter Leo hingga kedua lesung pipinya tercetak sempurna.
Jantung laki laki itu mendadak berdetak kencang.
__ADS_1
"Delia cantik sekali." Begitu yang hatinya sampaikan.
"Halo…halo dokter Leo…" Tangan perempuan itu melambai-lambai menyadarkan Leo yang melamun.
"Eh. Maaf…maaf. Habis kamu cantik banget sih aku jadi ngelamun deh." Ucap dokter Leo yang di bumbui nada bercanda untuk mengelabui perasaan anehnya.
"Ish… apaan sih dokter. Kalau begitu saya permisi ke kelas dulu ya, sudah di tunggu teman soalnya." Balas Delia dengan senyum canggungnya.
"Eh. Tunggu Delia. " Dokter Leo kembali menahan Delia. "Nanti siang makan siang bareng yuk."
Dengan cepat Delia menggeleng menolak ajakan dokter Leo. "Maaf dok. Saya sudah ada janji nanti siang." Balasnya sopan.
"Baiklah… mungkin lain waktu kamu mau menerima tawaranku ini." Sementara di gedung fakultas kedokteran yang bersebelahan dengan fakultas Delia terlihat dua pengawal sedang menghubungi bos mereka. Melaporkan bahwa ada orang yang mencoba mendekati nyonya muda mereka.
"Kurang ajar…!!" Agra mengumpat kasar pada anak buahnya di sambungan telepon.
"Berani-beraninya Leo mendekati istriku. Lihat saja nanti kalau sampai dia berani menyentuh istriku seujung kuku pun. Akan ku patahkan kedua tangannya yang lancang itu!!!" Segala umpatan ia lontarkan. Menendang kursi hingga terbalik. Mengobrak-abrik berkas yang berserak di meja. Benar-benar mirip kapal pecah ruangan yang biasanya tertata rapi itu.
Dengan langkah terburu-buru ia mengambil kunci mobil di dalam laci, kemudian bergegas meninggalkan ruang kerja dalam kondisi berantakan. Kalau sudah begitu, pasti akan berakhir dengan semakin bertambahnya pekerjaan asisten Alex.
__ADS_1
"Persetan dengan semuanya. Aku akan mengadakan pesta pernikahan untuk mengumumkan statusku secara resmi, secepatnya setelah ini. Biar semua orang tahu, Delia adalah milikku!" Agra terus saja mengumpat selama dalam perjalanan menuju kampus. "Sial… sial! Kenapa hari ini semua orang tidak berpihak padaku." Beberapa kali pria gagah itu menggeram menahan marah kala beberapa kendaraan menghalangi perjalanannya, sehingga menghambatnya untuk segera sampai ke tempat kuliah Delia. "Akan ku patahkan tangannya yang menjijikkan itu kalau sampai berani menyentuh Delia ku. Umpatnya lagi sambil memukul keras bagian kemudi. "Jangan kecewakan aku Lia." Imbuhnya lirih.
Mobilnya berhenti tepat di halaman luas yang bersebelahan dengan lapangan olahraga. Delia menoleh karena dikejutkan oleh suara ban mobil yang berdecit. Begitu matanya menemukan pemandangan suaminya yang berdiri dengan tatapan tajam ia hendak berjalan melangkah menghampiri Agra yang juga berjalan mendekatinya.
"Apa apaan ini?!!!" Suaranya lantang hingga menarik beberapa mahasiswa yang juga lalu lalang di sekitar halaman.
"Hei cantik tunggu…" dokter Leo sendiri yang belum paham dengan kondisi yang sesungguhnya secara impulsif mengejar Delia. Ia sendiri mengenal Agra bukan baru-baru ini saja. Tentu dokter Leo sangat hapal sepak terjang sahabatnya itu tentang wanita, sehingga dengan gerak cepat ia menarik pergelangan tangan Delia. "Apa kamu mengenalnya?" Ia bertanya seperti itu karena Agra saat ini terlihat memasang wajah tidak ramah. "Iya…" Delia menjawab sekenanya, karena merasa tidak perlu menjelaskan terlalu banyak pada orang yang baru dikenal. "Jangan mendekatinya. Dia Lelaki berbahaya." Nada bicaranya yang setengah keras tentu mampu terdengar ke telinga Agra. Sehingga lelaki itu bertambah menggeram menahan amarah yang membuncah. Melihat laporan anak buah yang menunjukkan foto sang istri sedang bersama seorang lelaki yang di kenalnya saja sudah membuat hatinya mendidih. Ini lagi ditambah melihatnya secara langsung. Gemuruh di dadanya semakin terdengar hingga hasratnya untuk melampiaskan kekesalan semakin memuncak. Dan…
Brukkkk…!!!!
Satu hantaman telak mengenai wajah dokter Leo. Melihat lawannya terhuyung hingga hampir jatuh membuat Agra semakin membabi buta. Ia menendang dengan keras perut Leo.
"Agra kau gilaaa…!!!!" Leo mengumpat pada Agra yang berdiri dengan gagahnya tak tumbang sama sekali meski beberapa kali sempat ada perlawanan dari Leo.
"Aku yang gila?" Tawanya yang mengerikan menggelegar memenuhi indera pendengaran orang-orang yang lalu lalang di sekitar keributan yang mereka ciptakan. "Bedeb*h sialan… mati lah kau!!!" Agra sudah akan menerjang lagi pada tubuh Leo yang limbung.
"Maassss… jangan…" Sampai teriakan histeris istrinya menghentikan niatnya untuk menghabisi Leo detik itu juga. "Mas jangan… ayo kita pulang." Delia menarik narik lengan kokoh Agra yang akan melayangkan pukulan pada dokter Leo yang sudah terkapar tak berdaya. "Urusan kita belum selesai brengsek!!" Umpatnya sinis, lalu kemudian melenggang pergi tanpa peduli pada kondisi Leo yang terluka parah.
Bersambung…
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku