Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
London...


__ADS_3

Kota global terkemuka yang unggul dalam berbagai bidang itu, adalah saksi bisu perjalanan kelam Agra.


Lelaki yang pandai menutupi kisah hidupnya itu kini menapakkan kakinya kembali ke London setelah bertahun lamanya ia fokus mengembangkan bisnis keluarga di Jepang.


Ada satu alasan selain menghadiri rapat penting dengan anak buahnya yang tersebar di berbagai sudut kota dengan banyak nilai lebih di mata wisatawan asing maupun lokal itu. Dalam hatinya Agra memiliki niat untuk melakukan honeymoon yang tertunda sekaligus baby moon sebelum pesta pernikahan besar di gelar.


Lelaki itu menyesali keputusannya untuk menyembunyikan status Delia sebagai istrinya. Berusaha menebusnya dengan memberi sedikit kejutan kecil pada Delia.


Rencana pertamanya ia akan membawa Delia mengunjungi komplek situs bersejarah seperti istana westminster. Namun mengingat kondisi Delia yang tengah berbadan dua, ia sendiri telah menyediakan kursi roda untuk Delia yang dibawakan secara khusus oleh dokter Stella sewaktu perjalanan menuju bandara sebelumnya. "Tuan kursi nyonya sudah siap. Silahkan" Alex telah turun lebih dulu dari limosin mewah itu. Berdiri tepat di depan pintu belakang bersama Agra yang juga berdiri di sampingnya bersiap membukakan pintu untuk Delia. "Mas kursi roda untuk siapa? Tidak ada yang sakit kan?" Bola mata hitamnya mengerjap polos, melirik kanan dan kirinya, lalu perempuan itu mencoba untuk kembali masuk ke mobil mewah milik suaminya itu, memastikan kembali siapakah kiranya yang tengah dalam kondisi tidak baik karena dokter Stella juga dua pengawal terlatih Agra pun ikut serta dalam mobil itu guna mengantisipasi situasi tak terduga, sehingga asisten Alex bersiap dengan kursi roda dalam genggamannya, begitu pikir Delia. "Lia ini untukmu sayang. Ayo duduk, aku yang akan mendorongnya." Agra melipat kedua tangannya, menatap istrinya dengan tersenyum lembut. "Mas aku baik-baik saja!" Suaranya sedikit meninggi, mendorong pelan kursi roda di tangan Alex sampai lelaki itu sedikit terdorong dan menarik tangan Agra untuk segera pergi ke tempat tujuan. "Aku tidak ingin kamu sampai kelelahan Lia. Menurut lah, oke!" Delia menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda penolakan. "Tapi aku masih kuat jalan sayang." Tanpa menghiraukan Delia dengan ekspresi penolakan yang nyata, Agra mengangkat tubuh istrinya. Memposisikan Delia di atas kursi roda yang masih setia di tangan asisten Alex. "Masss!!" Delia memekik protes atas perlakuan suaminya yang ia rasa terlalu berlebihan. "Mas ibu hamil bukan berarti orang sakit. Ini terlalu aneh sayang, bahkan aku masih bisa berjalan jauh tanpa perlu bantuan kursi roda seperti ini." Bibirnya semakin mengerucut saat mendengar Agra malah bersiul santai sembari mendorongnya tanpa memperdulikan kalimat protes darinya.


"Dokter Stella tolong bilang pada suamiku kalau ini tidak benar dan terlalu berlebihan sekali." Delia mencoba mencari pembelaan dari dokter Stella yang turut dalam perjalanannya menuju istana westminster.


"Maaf nona, tapi apa yang di lakukan tuan Agra benar adanya. Kehamilan anda termasuk beresiko. Oleh sebab itu akan lebih baik di trimester pertama ini untuk mengurangi segala bentuk aktivitas yang menguras tenaga anda nona." Dokter Stella menunduk hormat setelah memberi penjelasan pada Delia yang sekarang merasa sedikit kecewa sebab dukungan yang ia harap keluar dari dokter kandungannya itu malah justru tak ia dapatkan sama sekali. Tetapi setelah itu Delia akhirnya menyadari bahwa mungkin semua itu semata-mata adalah bentuk kepedulian Agra padanya juga pada bayi-bayi di dalam sana. " Sekarang kamu mengerti kan? Apa yang kulakukan ini semua demi kebaikanmu sayang." Delia yang semula dalam hati sempat menentang perlakuan suaminya, kini tampak menunjukkan sikap menerima. Ia tidak mungkin berpikiran egois sebab semuanya bukan hanya menyangkut tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang keselamatan makhluk kecil yang mencoba berjuang di dalam rahimnya.

__ADS_1


Agra meraih dagu Delia saat langkah semua orang kepercayaan juga lelaki itu terhenti di salah satu hamparan ribuan burung merpati yang hinggap di sekitaran pinggiran sungai Themes yang bersebelahan dengan salah satu situs bersejarah kota London itu. Posisi tubuhnya yang tinggi membuat Delia mendongak menatapnya. "Mas ayo kita lihat burung merpati di sana." Tunjuk nya pada merpati putih yang terlihat berbeda dari merpati lainnya. Senyum ceria Delia menular pada Agra. Lelaki itu mengusap lembut pipi istrinya menggunakan punggung tangannya yang terbalut glove tebal. "Kamu suka?"Tanya Agra lirih.


"Yah. Terima kasih mas. Aku sangat menyukai suasana kota ini. Terasa seperti udaranya masih alami." Delia mengenakan mantel serta topi rajut berwarna senada. Meski bukan musim dingin ekstrim tetapi bagi mereka yang terbiasa tinggal di daerah tropis,cuaca London cukup mampu membuat tubuh menggigil.


Agra mensejajarkan tubuh tingginya dengan kursi roda yang di duduki istrinya, merapatkan kancing mantel Delia yang sedikit terbuka. "Apa kamu kedinginan?" Nada bicaranya terdengar khawatir, lalu Agra melepaskan sarung tangan yang ia kenakan, menggosoknya cepat hingga menciptakan suhu tubuh berpusat pada telapak tangan, menempelkannya pada kedua pipi Delia yang terlihat memucat karena kedinginan. "Ehmm… Hangat." Matanya terpejam saat merasa kehangatan mulai menjalar. "Di sana ada situs kuno yang menakjubkan. Aku akan membawamu berkeliling di dalamnya jika kamu mau Lia." Agra menunjuk sebuah bangunan kuno khas kota London yang terlihat megah di seberang sungai Themes. Dari posisinya berdiri, ia dapat menikmati pemandangan indah lampu yang menyala di setiap sisinya.



"Tentu saja aku mau. Ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke London mas. Bahkan jika kamu mengizinkanku, aku ingin berkeliling ke seluruh sudut kota indah ini tanpa kecuali." Delia berbicara dengan nada luar biasa ringan dan santai. Tidak tahu bahwa Agra tengah memasang wajah tak suka.


Delia hanya bisa memutar bola matanya malas, enggan menanggapi serius kalimat sinis suaminya. Dirinya sendiri terkadang merasa sikap Agra lumrah adanya sebab ini adalah kehamilan pertama juga beresiko baginya. Tetapi terkadang rasa jengah pun muncul secara tiba-tiba kala sikap posesif Agra semakin menjadi-jadi.


"Mas aku capek. Mau pulang saja." Rasa lelah yang datang secara tiba-tiba membuat Delia kehilangan rasa antusias yang beberapa saat lalu datang menggebu.

__ADS_1


"Masih ada waktu tiga puluh menit lagi. Apa kamu yakin ingin menghabiskan waktumu di dalam villa. Begitu tiba di villa, aku akan langsung pergi untuk mengurus pekerjaan dalam waktu yang tak bisa ku pastikan. Apa kamu serius ingin pulang, hemm?" Delia menggeleng pelan. Perempuan itu baru menyadari bahwa kursi roda yang ia tumpangi itu saat ini terasa amat sangat berguna bagi tubuh lemahnya. "Terima kasih mas kamu sudah membawakan ku kursi roda. Aku baru saja merasakan manfaatnya." Ucapnya lirih sambil menyandarkan kepala lunglainya ke tangan Agra yang tengah memegang kemudi kursi roda. "Okey kita kembali ke villa dan memesan makanan untukmu juga untuk bayi-bayi kita. Apa kamu setuju?"


Dengan binar bahagia, Delia mengangguk pasti, rasa lapar tiba-tiba datang begitu Agra mengucapkan kata makanan. "Iya mas tapi…" Perempuan itu tidak meneruskan kalimatnya. Matanya sibuk memandangi raut tampan di hadapannya. "Tapi apa hem?" Kedua tangan Agra meraih bahu Delia, menunggu kelanjutan kalimat yang terputus dari istrinya.


"Aku mau makan salad buah yang seperti buatan pak Li sayang. Karena pak Li tidak ikut, aku ingin membuatnya sendiri. Boleh ya?" Delia berbicara dengan mimik wajah luar biasa polos. Lesung pipinya muncul di kedua sisi sebab di akhir kalimat senyumnya mengembang sempurna. "Apa kamu yakin? Di villa banyak pelayan, mengapa harus merepotkan dirimu yang telah kepayahan dengan perut yang semakin besar Lia?" Delia mendesah samar. Kedua tangannya ia letakkan di bahu tegap Agra. Dalam diam mereka menikmati suara aliran sungai Themes. "Mau pulang sekarang?" Sekali lagi Agra meyakinkan istrinya untuk menghabiskan waktu yang tersisa, tetapi perempuan itu tetap pada pendirian untuk segera kembali ke villa sebab tubuhnya tiba-tiba merasa lelah. "Sekarang mas." Jawabnya lirih sambil memejamkan mata dan bersandar pada tangan Agra yang memegang handle kursi roda. "Oke kita pulang."


*


*


Ada dua kasus pembunuhan yang tengah mencuat di kota London saat ini, sehingga membuat struktur keanggotaan geng mafia yang ia pimpin bergejolak.


Dalam hal ini Agra yang mempercayakan organisasi gelap miliknya di handle oleh orang kepercayaannya kini sedikit merasa waspada. Waspada pada situasi yang mungkin saja terjadi. Mulai dari anggota yang berkhianat namun sudah tertangkap, juga salah satu bawahannya yang membocorkan segala aktivitas organisasi miliknya pada musuh bebuyutan tetapi telah melarikan diri. Agra sendiri sebelum berangkat telah memerintahkan pada orang kepercayaannya untuk segera melakukan pengejaran, supaya secepatnya diketahui motif apa yang melatarbelakangi sehingga ia dapat mengambil langkah selanjutnya agar segala masalah dapat teratasi tanpa menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

__ADS_1


Selain pabrik senjata ilegal, organisasi gelap miliknya juga menangani kasus-kasus pembunuhan yang sulit dipecahkan. Gejolak yang timbul saat ini di picu oleh salah satu anggota keluarga korban pembunuhan yang meminta untuk menangani kasus tewasnya salah satu keluarga. Tetapi ternyata tidak lain orang itu adalah pembunuhnya sendiri, dengan dalih melaporkan kasus pembunuhan untuk mengelabuhi orang-orang supaya tak menaruh curiga padanya, lelaki itu sukses mengecoh tangan kanan Agra saat sedang menangani kasus itu. "Kasus kali ini tidak bisa kita remehkan begitu saja." Matanya menerawang jauh. Dalam otaknya Agra berpikir, bahwa telah salah ia membawa serta istrinya ke London. Dan entah bagaimana rasa cemas tiba-tiba muncul begitu saja, ia merasa perjalanan ke London kali ini tidak akan sesederhana dan sebahagia yang sebelumnya ia bayangkan. "Apa sudah ada perkembangan mengenai latarbelakang orang itu?" Sambil memeriksa laporan baru dari anak buah yang bertugas memata-matai orang yang di curigai sebagai pengirim racun langka, Agra juga tidak lupa mengutus pengawal terlatih nya memperketat keamanan villa. Ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan dalam mengambil keputusan kali ini, jangan sampai salah langkah sehingga membahayakan istrinya.


"Tuan semua sudah siap. Sebentar lagi anda dapat mengintrogasi langsung tawanan di penjara bawah tanah. Saya pikir mungkin ini ada kaitannya dengan kasus kematian John." Agra hanya mengangguk sekilas sebelum bangkit dan meninggalkan ruang rapat markas gelap miliknya.


__ADS_2