Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Celaka!


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Wajah Delia terlihat lebih segar dan berseri. Mama Rani menyarankan Agra untuk membawa Delia konsultasi pada dokter Stella lagi karena menantunya tak berhenti muntah di pagi dan malam hari. Sehingga mempengaruhi nafsu makan yang berkurang.


Dokter Stella meresepkan obat khusus yang di ekspor langsung dari negeri Paman Sam. Terbukti obat itu bekerja dengan sangat baik di tubuh ibu hamil itu. Sekarang Delia dapat beraktivitas seperti biasa lagi.


Kabar mengejutkan juga ia dapat dari suaminya yang telah mengumumkan kabar pernikahannya demi meredam gosip di luaran sana. Sebab kini Dirinya tengah mengandung. Delia sendiri juga sangat bersyukur saat ini begitu banyak orang-orang yang peduli dan sayang padanya.


"Ma Lia mau ke kantor mas Agra nanti siang." Delia berbicara pada mama Rani yang tengah menyiram tanaman. "Kenapa ke kantor? Bahaya sayang. Lebih baik kamu temani mama di rumah." Delia mengenakan sarung tangan yang teronggok di lemari perkakas berkebun. Mengambil bagian menyingkirkan daun daun kering.


"Maaf ma… mas Agra memintaku datang ke kantor. Mau makan siang bersama katanya." Mama mengangguk mengerti. Sudut bibirnya terangkat. "Yasudah. Tapi jangan lupa minta beberapa pengawal untuk ikut ya. Mama khawatir Lia."


Jam makan siang tiba. Delia menenteng tempat makan yang berisi menu yang pak Li siapkan. Seorang pengawal mempersilahkan ia untuk segera masuk dalam salah satu mobil mewah anti peluru Agra. Agra sendiri sebelumnya telah memberi perintah tegas pada seluruh pengawal yang mendapat tugas menjaga dan mengawal istrinya kemanapun pergi untuk selalu menggunakan salah satu mobil miliknya yang di lengkapi dengan fitur anti peluru sehingga dengan begitu dapat meminimalisir segala bentuk tindak kejahatan yang mungkin saja mengancam jiwa sang istri. "Silahkan nyonya muda." Salah seorang pengawal membukakan pintu mobil, menunggu Delia untuk segera masuk.


Saat semua sudah duduk di dalam mobil Delia membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Tidak ada yang banyak berubah dari bentuk badan dan perutnya. Usia kandungan yang baru menginjak satu bulan lebih membuat suaminya lebih protektif pada perempuan cantik itu. Seperti pesan dokter Stella bahwa trimester pertama merupakan kondisi yang masih rentan, sehingga Agra mengambil peran untuk lebih ekstra menjaga istrinya. "Pak tolong nanti menunggu di lobby saja. Saya ke atas sendiri." Delia meminta pengawal untuk tak mengikutinya karena merasa bahwa tak akan terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. "Baik nyonya muda."


Sampai di lobby Wijaya group Delia menyapa dua resepsionis yang mengangguk sopan padanya. Delia sendiri sudah hapal dan akrab dengan hampir semua karyawan. Tentu saja, karena sebelumnya memang ia bekerja di perusahaan itu. "Mbak Delia ada yang bisa di bantu?" Perempuan muda berkacamata itu bertanya ramah. Mereka berdua memang belum mengetahui bahwa Delia adalah istri dari presiden direktur mereka. Tetapi mereka tentu tahu bahwa Delia sudah tidak bekerja sebagai sekertaris lagi, sebab sekertaris baru telah aktif bekerja mulai tiga minggu sebelum hari ini. "Saya mau ke ruangan presdir Agra. Apakah beliau ada di tempat?" Desas desus bahwa Delia menjadi simpanan Agra telah lama beredar liar di perusahaan. Mulai dari staff biasa hingga staff khusus Agra pun tak luput membicarakan berita yang belum tentu kebenarannya itu. Mereka hanya melihat Agra pernah menggandeng tangan Delia, dan itu pun hanya sekali. Tetapi mereka dengan pikiran negatif mereka mengembangkan berita bohong yang dengan pandai nya mereka karang seenak jidat mereka sehingga menjadi sebuah opini yang dapat merugikan orang yang bersangkutan. Begitulah sebagian masyarakat di negara kita, selalu saja menelan mentah mentah informasi yang di dapat atau bahkan sekali di dengar tanpa memfilter atau menyaring lagi hingga berita itu patut di perhitungkan keabsahannya. Sungguh kalau Agra tahu bahwa ia mempekerjakan karyawan hanya untuk menggunjingkan kehidupan pribadinya, lelaki itu tak akan pernah segan segan untuk mendepak mereka keluar. "Sudah ada janji!?" Salah seorang resepsionis bertubuh gempal bertanya sinis. Matanya memicing memperhatikan Delia dari atas hingga bawah, karena posisi berdiri Delia dekat dengan pintu masuk ke dalam kubikel resepsionis itu, sehingga perempuan gempal itu dapat melihat dengan jelas penampilan Delia. Semakin melengos. Tubuh ramping kulit bersinar dengan dress panjang bercorak bunga berwarna tosca semata kaki juga rambut tergerai. Membuat Delia seperti peri hutan yang nyasar ke kota.


"Sudah mbak…."Jawabnya lembut sambil menahan senyum pada perempuan gempal yang umurnya terlihat lebih jauh tua darinya.


"Mbak Delia tunggu sebentar. Saya sambungkan ke atas dulu. Soalnya itu di sofa juga lagi nunggu tuan Agra." Resepsionis muda berkacamata menjelaskan ramah sambil melirik seorang wanita berpakaian seksi sedang duduk manis di sofa seberang kubikel resepsionis.


Delia memutar tubuhnya ke samping. Tak sengaja ia beradu pandang pada wanita itu yang dengan sombongnya mengangkat dagu menatap tajam ke arah Delia. Delia tersenyum, mencoba beramah tamah pada wanita yang ia ingat pernah di temui nya di mansion sedang mengobrol dengan mama. Tidak membalas niat baik Delia, perempuan itu malah semakin bersikap sinis.


Tidak mau ambil pusing pada hal yang tidak begitu penting, Delia memutuskan untuk beralih pandang ke meja resepsionis. Ia melihat resepsionis berkacamata itu telah selesai melakukan panggilan di telepon. "Mbak…" Perempuan muda itu memanggil Delia takut takut.


"Iyah… bagaimana? Apa presdir Agra ada?" Jujur saja kehamilan pertamanya kali ini membuatnya semakin cepat merasa lelah. Sehingga kakinya sering terasa pegal jika harus berdiri agak lama. Rasanya ingin cepat cepat duduk dan makan siang dengan suaminya segera.

__ADS_1


"Itu…mbak Delia di minta untuk duduk di sofa dan jangan terlalu lama berdiri. Presdir Agra akan segera kemari untuk menjemput. Silahkan mbak." Ada nada khawatir yang terselip dari ucapan resepsionis berkacamata itu, mengetahui bahwa Delia memang benar memiliki hubungan khusus dengan atasannya yang terkenal bengis itu. Ia berdiri untuk sigap mengantar Delia ke sofa. "Mari mbak saya antar. Mungkin bisa saya bawakan paper bag nya?" Tangannya sudah terulur. Menawarkan bantuan langsung untuk membawakan tentengan Delia.


"Apaan sih kamu. Biarin aja dia jalan dan bawa barangnya sendiri. Memangnya siapa dia pakai di bawa bawain segala. Bos bukan atasan juga bukan!" Perempuan gempal itu berucap luar biasa sinis nya. Bahkan saat Delia belum benar benar pergi.


"Tidak usah… biar saya bawa sendiri. Kamu disini saja nanti nggak tahu lagi kalau ada tamu datang." Perempuan cantik itu menolak halus tawaran resepsionis berkacamata. Mengabaikan sindiran pedas dari perempuan gempal. Kemudian ia berjalan pelan menuju sofa kecil di samping sofa yang telah di tempati wanita seksi yang wajahnya sudah memberengut menahan kesal sedari tadi.


"Baik mbak. Silahkan." Senyum kelegaan terpancar di wajah resepsionis berkacamata itu. Benar benar sebuah keberuntungan mendapati perempuan spesial sang atasan memiliki sifat yang ramah juga murah senyum.


Beberapa menit menunggu terdengar pintu lift presdir terbuka. Agra beserta asisten Alex keluar lift. Melangkah lebar tak sabar menemui istri mungilnya.


Pandangan Agra tertuju pada Delia yang tengah memeluk bantal sembari merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Matanya terpejam rapat. Ia tertidur karena rasa lelah tak sengaja menguasai tubuhnya.


Merasa bahwa lelaki yang dia tunggu telah datang Natasya berbinar bahagia. Ia akan melancarkan aksi kedua setelah gagal merayu dan berujung di usir kala itu. Tidak sia sia ia menunggu lama. Agra kini tepat di depan mata. Bahkan ia memberanikan diri berdebat dengan resepsionis yang beda shift dan tidak mengetahui kejadian waktu itu. Sehingga meski sempat beradu mulut, ia tetap diizinkan menunggu walau hanya sebatas duduk di sofa tanpa kepastian rapat akan berakhir kapan.


Kini terbayar sudah. Masih tetap tampan dan semakin mempesona. "Agra…" Ekspresinya berubah lembut berbanding terbalik saat ia merasa bosan menunggu tadi. Memberengut maksimal dengan wajah yang ditekuk dan bibir mengerucut. Seekor ular tetaplah ular. Tidak akan pernah berubah menjadi kelinci yang manis.


"Memangnya apa salahku Agra? Aku hanya ingin menemui mu. Aku mau kita seperti dulu lagi Agra." Ekspresi Agra berubah dingin. "Aku bahkan tidak berharap kau dan keluargamu datang di kehidupanku lagi." Ucapnya dengan nada sinis luar biasa.


"Apa maksudmu Agra? Aku kemari karena aku ingin memperbaiki hubungan kita yang telah lama renggang. Kenapa seolah olah kau menutup akses untukku datang ke mansion maupun ke perusahaan mu. Apa kau lupa? Siapa yang selalu merawat mu saat kau sedang sakit ketika kita menempuh pendidikan di London? Aku pikir seorang Agra harusnya tahu bagaimana caranya membalas kebaikan seseorang. Jangan jadi manusia yang congkak Agra."


Tatapan Agra menajam. "Jangan berbicara seolah olah kau adalah orang yang paling tersakiti. Kalau mau aku membuka semua masa lalu buruk mu di depan semua orang saat ini juga, tidak masalah. Aku akan dengan senang hati mengabulkannya khusus untuk mu." Lelaki itu berjalan mendekati sofa dimana istrinya tertidur pulas. Ia melepaskan jas dan lalu menyelimuti Delia yang tak terusik dengan perdebatan mereka. Sekilas ia melirik Natasya yang penasaran dengan apa yang tengah di lakukan nya. Kemudian Agra kembali memandangi wajah teduh sang istri. Mengusap sayang pipi Delia. Mengecup keningnya lama.


"Apa… apa maksudmu. Aku tidak mengerti? Dan lagi kenapa kau menyelimuti perempuan kampungan itu? Kau sungguh sangat aneh sekali Agra."


"Jaga mulutmu jal*ng! Kau dan dia sungguh sangat tidak sebanding." Wanita seksoy itu 😂 membelalak tak percaya. Sungguh tega sekali Agra berkata kasar padanya hanya demi perempuan kampung yang tak tahu asal usulnya itu. "Kau jahat Agra. Hanya demi perempuan kampung itu kau tega berkata kasar pada sahabatmu ini!" Suaranya meninggi. Menggema menarik perhatian sebagian karyawan yang lalu lalang juga tamu yang baru datang.

__ADS_1


Mendengar suara berisik perlahan tidurnya terusik. Matanya mulai terbuka menyesuaikan dengan cahaya terang dari lampu yang menyala. Delia menggeliat , menangkap ada jas dengan aroma parfum yang sangat di kenali nya membuat matanya memicing. Begitu sadar siapa yang telah menyelimuti tubuhnya, Delia segera mencari keberadaan sang suami.


"Diam kau! Dengarkan dan ingat baik baik. Simpan dalam otak bod*h mu itu! Dia… perempuan yang kau bilang kampungan itu… dia adalah istri sah ku Delia Mecca Anindira. Dan aku akan segera menggelar pesta resepsi untuk mengumumkan status kami berdua." Bagai petir di siang bolong. Natasya mendengar dan melihat sebuah fakta mengejutkan, bahwa Agra. Lelaki yang ia harap menjadi suami idamannya kelak telah menikah dengan seorang perempuan yang ia anggap biasa biasa saja penampilannya itu. Ini tidak adil… sungguh ini tidak adil. Natasya tidak terima dengan penghinaan yang Agra berikan. Bagai melempar kotoran kerbau ke wajahnya. Natasya akan membalas segala perbuatan yang menghinakan harkat dan martabatnya sebagai seorang model papan atas.


Natasya menggelap. Menerjang asisten Alex tepat berada di samping Delia yang berdiri mencerna setiap kalimat pertengkaran antara suaminya dan wanita seksi yang duduk di sofa bersamanya tadi. Perempuan itu berteriak menggila, mendorong Delia yang tanpa pertahanan dengan sekuat tenaga hingga terpelanting membentur ujung meja kaca di dekat pajangan. "Mati saja kau perempuan sok polos yang merebut calon suamiku." Natasya semakin menjadi jadi saat melihat korbannya telah terkapar. "Harusnya aku yang jadi istri Agra… bukan kau. Perempuan murahan." Tunjuk nya yang dikuasai oleh amarah pada tubuh limbung Delia.


"Mass…" Teriakan tertahan Delia disusul kesadaran yang mulai meredup.


"Brengs*k kau jal*ng!! Alex tangkap dia!!! Bawa dia ke markas!!" Dengan gerakan cepat Agra menyelipkan tangannya diantara lipatan kaki Delia. Segera mengangkatnya. Berlari menuju mobil yang telah siap sedia di samping pintu utama lobby beserta beberapa pengawal yang terlihat panik sebab merasa kecolongan. Tidak peduli lagi pada Alex yang telah berhasil meringkus Wanita kriminal berpakaian seksi itu.


"Sayang. Aku mohon bertahanlah. Kamu harus kuat. Kamu istriku…Jangan pernah berani tinggalkan aku." Lelaki dengan penampilan kacau itu berusaha mencoba menyadarkan istrinya. Sembari menghubungi dokter Stella agar segera bersiap-siap menangani Delia yang terluka karena telah terjatuh.


Rentetan instruksi telah dokter Stella sampaikan melalui panggilan secara langsung. Agra diminta untuk memeriksa kondisi bawah sang istri. Takut kalau sampai mengalami perdarahan hebat.


Dan setelah selesai memeriksa, beruntung ia tak menemukan luka semacam perdarahan yang disebutkan dokter kandungan Delia tadi.


Begitu menyadari kesadaran Delia telah menghilang sepenuhnya. Agra kehilangan akal. Ia menendang kursi pengemudi. "Sial!! bisa cepat tidak!!" Umpatnya menahan kesal sebab jalanan yang sedikit ramai.


Dan sungguh jika saja hari ini ia tak meminta istrinya datang ke perusahaan untuk makan siang bersama. Hal buruk ini tak akan pernah terjadi. Apapun yang terjadi nanti! Agra tak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon bayi mereka. Lebih tepatnya ia tak akan pernah memaafkan wanita gila yang dengan tega mencelakai Delia yang polos dan tak tahu masalah mereka sebenarnya di masa lampau.


Bersambung…


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.

__ADS_1


I LOVE YOU ALL…❤️


__ADS_2