
Happy Reading,
Agra berjalan tenang memasuki kamar. Menatap sang istri sedang berdiri menikmati pemandangan malam di balkon, berdiri membelakangi sehingga Delia tidak menyadari kehadiran sang suami yang memperhatikan dan menatap penuh damba padanya . Ia perlahan mendekati Delia, memeluknya mesra. Menciumi ceruk leher sang istri. " Mas…" Rasa hangat melingkupi tubuh Delia saat lengan kokoh Agra semakin mengeratkan pelukan. Rambut dan gaun malamnya berkibar seirama. Detak jantung berpacu, merasai sentuhan memabukkan dari tangan ahli suaminya. " Sudah makan…?" Agra bertanya tak fokus. Tangannya sibuk meraba penuh antusias. " Sud… ahh…" Desahnya tertahan kala Agra menyingkap gaun bagian bawah dan menggelitik asyik penuh kepastian.
"Mas berhenti… itu di bawah ada pengawal." Delia meregangkan pelukan Agra, melirik sekilas beberapa penjaga yang hilir mudik menunaikan kewajiban tanpa memerdulikan pemandangan indah di atas balkon kamar tuan muda mereka. Lebih tepatnya berusaha acuh meski sebenarnya sudut mata mencuri pandang. Ia memutar tubuh menghadap sang suami. " Aku malu sayang…" Delia berbisik lirih tepat di samping telinga Agra. "Berarti…" Ucapnya tertahan. "Kalau di ranjang sana… kamu tidak akan keberatan?" Tanpa persetujuan ia mengangkat tubuh Delia. Diiringi decapan saling mendamba di sela langkahnya menuju peraduan. Tangan halusnya menyalurkan gelenyar rasa tak tertahan yang menggelitik jiwa. Agra dengan hati hati membaringkan tubuh sang istri di singgasana milik berdua, melepas satu tali gaun malam sang istri dengan sekali tarik.
Bahu seputih susu yang terpampang nyata tak mungkin ia sia siakan. Fokusnya terpecah saat menyaksikan cctv yang menampilkan Delia mengenakan dress rumahan satu tali bermotif bunga ketika sedang memasak. My **** wife. Besok ia akan membuang semua baju yang menampilkan leher jenjang Delia, menyuruh Alex membeli baju yang lebih tertutup. Ia tak mau wanitanya menjadi sumber fantasi pria lain. Tentu saja. Walau hanya dalam angan semata, ia tak akan membiarkan wanitanya dilecehkan. Tidak sama sekali. Kini saatnya ia tak akan melewatkan makanan pembuka yang di nanti penuh damba sedari tadi.
Dahinya mulai berembun kala semangatnya semakin terpompa. Des*han manja yang keluar dari bibir sang istri membuatnya semakin menggila. " Mas… aku nggak ta…" Kalimatnya terputus saat Agra membawanya terbang menuju nirwana. Menuntaskan rasa menggelitik di bagian inti hingga tubuh penuh peluhnya melengking di bawah kungkungan Agra. "Sure baby… ladies first…" Agra menggeram penuh. Meraih buah yang membusung, membawanya dalam dekapan kedua tangan. Pas, penuh juga membuatnya semakin berpacu mencari rasa yang mengungkungnya. Padahal siang tidak melepaskan sang istri. Pun malam ia semakin menggila berada di dekat perempuan yang tengah mengandung calon penerus keluarga Wijaya.
"Istirahatlah. Aku akan menemui pak Li sebentar…" Pamitnya… kemudian berlalu setelah merapatkan selimut sampai ke leher istrinya, melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
"Besok tidak perlu datang ke mansion sampai anda mengerti kesalahan fatal yang tidak bisa lagi ku tolerir. Jangan kembali sebelum amarahku reda." Agra menatap tajam pak Li yang menunduk dalam tidak membantah kemarahan Agra.
Orang tua itu sudah tahu kesalahannya. Ia membiarkan salah seorang pelayan dengan lancang dan sengaja menyimpan makanan instan di lemari pendingin khusus untuk atasan. Sehingga nyonya mudanya memasak dan memakannya secara diam diam. Tetapi secara tidak sengaja pak Li menemukan sampah bekas pembungkus mie instan yang di buang Delia di tempat sampah paling bawah dan sengaja menumpuknya dengan sampah lain agar pak Li tak menemukan bungkus mie instan tersebut. Anda belum mahir untuk mengelabuhi musuh nyonya muda. Pak Li segera mengecek rekaman cctv begitu ia menemukan sesuatu yang disembunyikan oleh nyonya mudanya. Ia juga mengaitkan dengan gelagat mencurigakan nyonya muda sewaktu bertemu di depan pintu lift.
__ADS_1
Setiap hari akan ada petugas khusus datang pagi dan sore untuk mengambil sampah di mansion sebelum benar benar penuh. Beberapa tempat sampah yang tersedia di dapur utama akan diambil meski baru setengahnya terisi. Itu adalah peraturan yang di buat pak Li sejak pertama ia diangkat menjadi kepala pelayan di mansion atas perintah nyonya dan tuan besar. Alasan umum nya adalah ia tak ingin sampah yang memenuhi tempatnya menjadi sarang lalat dan serangga lainnya untuk berkembangbiak. Itu sangat menjijikan. Dengan alasan itu juga ia menemukan sesuatu yang mengganjal di hati kala mengetahui Delia membohonginya. Sehingga ia sudah bersiap siap atas konsekuensi yang akan di dapat. Amarah tuan Agra.
"Sayang…" Agra mengangkat kepala mencari sumber suara. Dari celah pintu ruang kerja yang terbuka sedikit Delia menyembulkan kepala. Perempuan itu mengedarkan pandangan mencari keberadaan Agra. Setelahnya membuka pintu semakin lebar dan masuk ke ruang kerja yang luas itu. Ruangan itu terdapat satu rak besar di belakang meja kerja Agra dan papa nya, di sana juga terdapat buku buku tebal yang menggiurkan bagi para pembaca ulung.
"Mas… masih lama yah…?" Delia dengan tampilan segar berdiri dihadapan meja kerja Agra yang terdapat banyak tumpukan berkas penting perusahaan. Ia mengenakan dress selutut berwarna biru muda, rambutnya ia ikat asal hingga menampilkan leher seputih susu miliknya. "Aku mau nemenin… boleh?" Agra tidak menjawab. Ia berdiri mendekati Delia. Meraih tangan sang istri membawanya kembali duduk di kursi kebesarannya. Memangku dan memeluknya mesra. "Kamu sengaja menggodaku lagi…?" Aroma vanilla yang menguar dari tubuh Delia membuat hasratnya membara tak kenal waktu. Sehingga ia tak tahan untuk segera menghadiahi leher putih nan menggairahkan itu dengan stempel kepemilikan . " Kenapa mandi? Aku kan sudah bilang istirahat saja." Mulutnya berbicara sambil terus menjahili sang istri. Menciumi wajah juga rambut berkali kali sampai sampai Delia kegelian.
"Gerah mas…" Delia menjawab dengan kedua tangan yang memegang kepala Agra. Menahan supaya tidak terus menerus menjahilinya. " Mas aku mau salad buatan pak Li… aku ke dapur bentar yah. Nanti kesini lagi… makan sambil nemenin mas Agra kerja." Delia sudah akan melangkah meninggalkan Agra yang memangku nya sambil jari jarinya yang kokoh mengetik dengan lincah pada keyboard di atas meja.
" Mau kemana kamu." Lengan kokohnya menahan Delia untuk tidak berdiri dan tetap berada di pangkuan. "Pak Li sedang ku hukum… untuk sementara waktu. Sampai aku mengizinkannya kembali bekerja. Sampai saat itu pak Li baru akan kembali ke mansion." Agra menjawab tenang tanpa ekspresi bersalah.
"Hah???"
"Kamu harusnya tahu sayang… kenapa pak Li sampai harus ku hukum." Delia mengernyit bingung mencerna pernyataan Agra.
" Hah?? Memangnya apa hubungannya denganku? Aku kan baru tahu kalau pak Li terkena hukuman darimu."
"Yakin mau tahu apa salahmu…?!" Agra menampilkan sebuah video di layar laptop, berdurasi sekitar dua puluh menit. Video itu adalah rekaman cctv saat Delia memasak mie instan dan menikmatinya dengan sungguh sungguh setelah matang.
__ADS_1
"Mau mengelak…?" Dahinya berkerut dalam.
"Mas maafin aku… please jangan hukum pak Li. Beliau tidak salah apa apa. Hukum aku saja. Please…" Ia merengek manja. Mengalungkan kedua tangan pada leher kokoh Agra. Rayuan maksimal ia lancarkan.
" Sudah tahu kesalahanmu hem…?" Sambil sesekali tangannya meremas buah padat yang membusung dan menempel hangat di dada bidangnya.
"Ehmm… iya tahu mas" Ia menggigit bibirnya. Merasai gelenyar menggelitik yang muncul akibat tangan jahil sang suami.
"Maaf… mas… tapi aku kan maunya makan sama mie. Cuma sekali kog suerrr." Ia berusaha meyakinkan Agra. Mengangkat tangan dan membentuk jari seperti huruf V.
"Kamu tahu kan. Kalau makanan itu bahaya buat kamu dan calon anak kita?" Tangan kokohnya meraba perut rata istrinya yang sedikit kencang. "Jangan di ulangi yah…" Mana tega Agra menghukum Istri imutnya yang manja itu. "Seharusnya kamu menebus kesalahanmu ini sayang…" Agra mendekatkan wajah ke telinga Delia. Mengecup kelemahan sang istri yang mulai terdengar leng*han kecil dari mulutnya yang terbuka. Tidak menyiakan kesempatan yang datang. Agra mengabsen seluruhnya. Menyes*p rakus dan ******* penuh bibir yang menggoda.
Otaknya telah dikuasai hasrat yang tak pernah surut setiap bersama sang istri. Lelaki tampan bertubuh tegap itu membopong tubuh sang istri. Membawanya menuju peraduan berdua. Melewati ruangan luas yang masih sepi, sebab mama dan papa belum pulang. Para pelayan akan kembali ke pavilliun jika malam mulai menjelang.
Ia berjalan tanpa melepaskan pertautan dengan sang istri. Menaiki lift menuju singgasana. Begitu sampai. Agra membaringkan perlahan tubuh Delia di ranjang mereka. Melepas dan membuang asal kemeja yang ia kenakan. Mengungkung sang istri. "Sebagai bentuk permintaan maaf mu. Aku mau kamu memanjakan ku sayang…" Dengan segera ia beralih berbaring di samping Delia. menarik sang istri supaya mendudukinya.
Selanjutnya malam yang panjang terjadi lagi…
__ADS_1
...****************...
I Love You All…