Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Mengejar Cinta


__ADS_3

Leo,


Sialan Agra… aku benar benar tidak paham sama sekali akan situasi yang ku hadapi saat ini. Bahkan perempuan yang selama ini ku incar untuk ku dekati dan akan ku jadikan pasangan itu, anehnya memanggil Agra dengan sebutan mas? Tunggu tunggu? Mas? Sedekat apa hubungan Delia dengan sahabatku sampai ia memanggilnya mas? Bukankah sebutan itu terkhusus untuk orang terdekat saja seingat ku?


Rasanya remuk redam tubuhku. Pukulan yang Agra layangkan padaku nyata adanya. Anak itu kerasukan setan mana sampai sampai membuatku babak belur dan menjadikan ku sebagai samsak tinjunya. Ku akui aku kalah telak darinya. Itu tentu aku sadar. Dia adalah laki-laki multitalenta sejak kecil. Aku sendiri adalah saksinya, Agra sering menjuarai berbagai kompetisi bela diri dengan jenis berbeda yang salah satu di antaranya juara pertama Taekwondo tingkat dunia. Sungguh sangat tak sebanding denganku dilihat dari segi manapun. Kami memiliki kontur wajah yang berbeda. Namun aku sendiri sebagai seorang pria sangat mengakui jika Agra memang mempunyai kharisma dan aura berbeda dari laki-laki pada umumnya yang mampu meluluhkan kaum hawa hanya dengan tatapan matanya yang tajam itu. Bukan aku bersifat inferior. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Saat ia memukuliku secara membabi buta tadi memang ku putuskan untuk tak membalasnya, karena aku sadar dan tahu hal itu akan semakin membuatnya menggila dan mungkin saja ia bisa membunuhku. Aku sangat mengenalnya.


"Ah sudahlah… aku akan ke mansion mama Rani besok untuk mengklarifikasi kesalahpahaman kami." Ku putuskan untuk pergi ke klinik kampus dengan langkah tertatih.


Begitu aku sampai di lorong menuju klinik, kulihat ada seorang mahasiswi yang tengah memperhatikanku dengan ekspresi takut takut. "Hei… kamu." Aku memanggilnya lirih namun ku yakin suara serak ku masih dapat di dengarnya karena jarak yang tak begitu jauh. Ku panggil ia agar membantuku untuk memapah tubuhku yang telah babak belur hingga membuat beberapa warga kampus yang bersimpangan denganku mengernyit bingung, namun tak berani bertanya.


Perempuan yang perawakannya mirip Delia itu mendekatiku dengan ekspresi cemas luar biasa. Ku lihat juga tangannya sedikit gemetar saat refleks terulur membantuku yang terseok seok menggapai tiang di lorong menuju klinik. "Mari saya bantu pak." Ya seingat ku… ia mengetahui aku sebagai dosen pembimbing di fakultas kedokteran saat ia sedang menemui salah satu teman perempuannya di dalam kelas dimana aku sedang mengajar. "Tolong antar saya ke klinik…" Pintaku padanya yang dengan sigap menjadikan pundaknya sebagai tumpuan untuk tubuhku yang terasa lemas.


Dan begitu sampai didepan klinik ada satu perawat laki-laki yang mengenalku karena selain bekerja di klinik kampus ini, ia juga bekerja di rumah sakit keluarga Agra. "Dokter Leo! Apa yang terjadi dok…" Perawat itu terkejut mendapati seluruh tubuhku dipenuhi luka lebam yang mulai menampakkan warna keunguan khas memar, terutama wajahku. Ah sial Agra… hilang sudah pesonaku sebagai dokter idaman kaum hawa. "Tidak usah banyak tanya! Lebih baik segeralah mengobati lukaku ini!" Aku menjawabnya dengan sinis, karena perawat itu tak hentinya menunjukkan ekspresi terkejut yang membuatnya semakin menyebalkan di mataku .


Dengan tangkas ia membawaku ke dalam. Aku melirik sekilas ke samping, perempuan itu pun ternyata masih setia berdiri menemaniku saat aku mulai di tangani oleh dokter jaga. "Kenapa masih di situ? " Alisku berkerut dalam mengamati wajahnya yang cemas. "Eh. Itu… anu pak… saya mau pergi tapi bapak tidak apa-apa kan saya tinggal?" Lucu juga perempuan itu. "Memangnya saya bayi? Kamu boleh pergi. Terimakasih atas bantuan mu. Lain kali akan ku traktir sebagai rasa terima kasihku padamu karena sudah mau membantu memapah ku tadi." Mendengar aku mengusirnya membuat ekspresi wajahnya berubah masam. Kemudian perempuan itu melengos meninggalkanku tanpa berpamitan. "Eh tunggu…" Panggilku pelan sambil mendesis menahan rasa perih di sudut bibirku yang robek.


Ia menoleh dan menatapku sinis saat berhenti di tengah pintu klinik yang jaraknya tak jauh dari ranjang pasien. "Ada apa lagi?" Jawabnya dengan malas dan nada ketus.


"Namamu siapa?" Aku bertanya sambil menatapnya serius.


"Apa perlu anda tahu nama saya?" Sambungnya sinis. Dan karena posisiku saat ini tengah duduk, aku dapat melihat dengan jelas raut wajahnya yang menahan kesal atas sikap ku ini.


"Yaa… tentu saja. Aku kan sudah bilang akan mentraktir mu nanti sebagai balas budi padamu karena sudah menolongku." Sahutku pelan.


"Tidak perlu. Anggap saja anda tidak punya hutang apapun pada saya. Permisi, saya ada kelas hari ini." Dari nada bicaranya sepertinya ia benar benar kesal padaku karena sempat ku usir tadi.


"Baiklah terserah kamu saja." Gumam ku tak jelas pada diriku sendiri karena perempuan itu pun sudah melenggang pergi meninggalkan klinik.

__ADS_1


*


*


Di gedung apartemen Wijaya paling atas, Delia tengah duduk di kursi rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Dari pantulan kaca ia melihat Agra berjalan melangkah mendekatinya. Meraih pundaknya dan merem*s pelan. "Kamu cantik." Agra merapatkan tubuhnya di belakang punggung Delia, mengusap lembut rambut terurai istrinya. "Setiap pagi pak Li akan datang ke apartemen kita untuk menyiapkan segala keperluan mu…" Delia berdiri dan memutar tubuhnya menghadap Agra "Iya sayang, aku tahu." Delia menjawab lembut " Kamu masih marah padaku?" Tanyanya pelan karena melihat Agra diam tak bergeming memperhatikan wajahnya.


"Untuk apa aku marah padamu hem?" Tangan kokoh Agra menarik pinggang ramping Delia hingga perempuan itu menubruk pelan dada bidangnya.


Dalam hening… keduanya saling menatap dalam. "Otak ku terus berpikir bagaimana caranya membencimu, karena telah mencederai rasa percayaku padamu atas perlindunganmu pada dirimu sendiri. Tapi nihil. Aku menyerah, dan aku sungguh tak mampu untuk membencimu di titik paling tinggi kemarahan ku." Sebelah tangannya tengah menyusuri tulang rahang Delia, sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menyangga pinggang istrinya agar semakin rapat pada tubuhnya. "Jadi aku meminta padamu untuk berjanji selalu menjaga dirimu saat tak ada aku di sampingmu! Apa kamu mengerti Delia?" Perempuan itu mengangguk pasti untuk meyakinkan suaminya bahwa ia akan berusaha untuk tak terluka dan membawa dirinya dalam lingkaran bahaya.


Suara perut Delia bersamaan dengan ketukan pintu membuyarkan fokus Agra untuk menikmati wajah cantik istrinya. "Mau makan apa, hem?" Agra terkekeh saat mendengar suara keroncongan dari perut istrinya yang lapar, menggoyang goyang pipi lembut Delia sambil menciumi gemas. "Nggak mau pesan. Bosan… emm aku mau masak sendiri boleh ya sayang?" Semenjak Delia menjadi istri Agra belum sekalipun ia berkesempatan memasak menu kampung favoritnya karena memang kesempatan itu tak pernah ada, sebab segala sesuatu telah di siapkan oleh para pelayan di mansion. Para pelayan di sana bukan hanya ada satu atau dua. Pelayan di sana mungkin bisa saja kalau di total keseluruhan berjumlah puluhan. Tidak heran, karena memang setiap sudut bangunan mansion membutuhkan perawatan yang ekstra. Tentulah mama Rani juga tidak sembarangan merekrut para pelayan yang akan di tempatkan di bagian yang memang merupakan keahlian calon pelamar.


"Biar ku buka pintu dulu… sepertinya pak Li sudah sampai." Agra menghela Delia untuk duduk di ranjang.


Setelah membuka pintu, terlihat pak Li di dampingi dua pengawal yang berdiri dikedua sisinya sambil membawa 2 kantong besar kebutuhan bulanan dari mama Rani. "Selamat siang tuan." Pak Li membungkuk menyapa tuan mudanya.


"Saya akan menyiapkan makan siang untuk anda dan nyonya muda tuan." Ucapnya sambil melangkah masuk lalu berjalan menuju dapur, sebab Agra sudah duduk di sofa sambil membaca majalah bisnis , rutinitas pagi hari yang tak pernah terlewat olehnya. Sehingga pak Li pun juga bergegas menyiapkan hidangan sesuai saran dari ahli gizi untuk nyonya mudanya yang tengah mengandung calon pewaris keluarga Wijaya.


" Tidak perlu memasak pak Li. Istriku bilang ingin masak sendiri untuk makan siang kami." Pak Li segera mengangguk hormat begitu mendengar dengan jelas perintah Agra. "Baik tuan." Karena lemari pendingin yang kebetulan telah kosong, pak Li segera menata semua kebutuhan bulanan ke dalamnya. "Izin tuan. Hari ini saya akan kembali ke mansion malam hari. Kalau mungkin ada yang tuan perlukan lagi bisa segera memberitahu saya." Fokusnya pada majalah teralihkan oleh suara pak Li. Agra hanya mengedipkan mata tanpa mengangguk sebagai jawaban.


"Sayang…" Delia keluar dari kamar mengenakan dress bunga-bunga besar berwarna pink fanta. Warna kulitnya yang putih bersinar sangat terlihat kontras dengan busana yang ia kenakan. "Kemari lah." Agra menutup kembali majalah yang ia baca. Meletakkannya di atas meja. Tangannya terulur, menarik Delia untuk duduk di pangkuannya. "Kenapa tidak pakai alas kaki? " Agra bertanya sambil sibuk meraba dua bukit kesayangannya. Pegang sini pegang sana, memeluk erat tubuh istrinya yang semakin sintal. "Sayang. Udah."


"Iya tertinggal di mansion. Mau pakai punya kamu, kan kebesaran mas." Delia sudah akan bangkit dan berdiri dari pangkuan Agra namun tak bisa, sebab pelukan suaminya terlalu erat. Terkekeh kekeh kegelian. "Okey biar Alex yang membelikannya untukmu nanti. Sementara pakai punyaku dulu kan tidak apa-apa." Delia mengangguk pelan, mengerti tak banyak protes.


"Sayang aku mau masak. Pengen nasi goreng." Usap usap perut nya sendiri.

__ADS_1


"Ayo aku temani." Setengah mengangkat tubuh istrinya hingga Delia berdiri tegak. Menghela dan mendorong pelan perempuan itu sambil ia mengekor di belakang istrinya.


Dengan gerakan cepat Delia berbalik mendadak menghadap Agra. "Sayang…tapi kan aku suka grogi kalau masak dilihatin." Delia merengek manja, mendorong dorong tubuh Agra supaya berbalik dan tak jadi mengikutinya ke dapur. "Jangan ikut yah… mas Agra tunggu di sini saja. Nanti kalau sudah selesai kita makan sama-sama. ya ya" Sambil senyum senyum dan kedip kedip menggoda ia mendongak menatap suaminya yang bersedekap menggeleng geleng kan kepala menahan jengkel akan tingkah istrinya. "Mau menggodaku rupanya…" Kedua sudut bibir Agra terangkat. Tergelak sendiri karena istri polosnya ternyata sudah pandai menggoda.


"Bagaimana kamu masih saja merasa malu, sementara aku telah mengetahui luar dan dalam dirimu, Delia." Agra berbisik setengah mendes*h di telinga Delia yang saat ini sudah ada dalam dekapannya.


Rona di pipi Delia muncul seketika. Betapa malunya ia saat ini. Suaminya itu selalu saja membuatnya tak berkutik. Lalu tanpa banyak protes lagi ia berjalan menuju dapur dengan Agra di belakangnya. Rasa rasanya laparnya telah hilang pergi entah kemana, bersamaan dengan godaan Agra yang membuatnya sungguh sangat merasa malu.


*


*


Dua anak manusia itu sedang tertawa ria di dapur sambil sesekali saling menjahili satu sama lain.


Sementara pak Li hanya mampu tersenyum tertahan, menunduk sambil menata kembali gelas gelas di mini bar yang bersebelahan langsung dengan dapur.


Peristiwa langka ini akan pak Li rekam dalam memori otaknya. Tak akan pernah ia bagikan kisah tuan mudanya ini pada siapapun.


Tuan muda yang arogan itu ternyata tanpa di ketahui orang orang, dapat bertingkah sebucin itu pada istrinya.


Bersambung…


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.


Nungguin kopi dari kalian ya cinta❤️

__ADS_1


Biar otaknya nggak ngelag dan lancar nulisnya...


hehe…


__ADS_2