
Agra beserta kedua orangtuanya sedang melakukan rapat tertutup di ruang kerja. Dua hari setelah mengurung istrinya di apartemen. Akhirnya hari ini, dengan berat hati Agra mengizinkan Delia untuk berangkat ke kampus.
Berkali kali perempuan itu bergelayut manja, merayu suaminya untuk mendapatkan izin mengikuti perkuliahan yang sudah setengah jalan ia tempuh.
"Ma… aku ingin secepatnya menggelar resepsi untuk mengumumkan pernikahanku dengan Delia." Agra duduk di sofa bersama mama Rani, menatap papa Hadi yang memasang wajah tenang.
Sejak awal perjodohan pun mama Rani telah menawarkan untuk sekalian mengadakan resepsi. Tapi Agra menolaknya dengan keras lantaran tak ingin orang terdekatnya menjadi sasaran empuk para pelaku bisnis yang menjadi pesaing secara terang terangan setelah tender besar dimenangkan Wijaya Group waktu itu.
"Benar kan mama? Di awal pernikahan kalian sudah mama sarankan untuk segera mengadakan resepsi. Sekarang kamu serba salah kan jadinya?" Mama melihat Agra yang tampak merebahkan punggung lebarnya pada sandaran sofa. Seulas senyum lembut terpancar di wajah senja mama. Tangannya terulur mengusap lengan putra semata wayangnya. "Mau resepsi kapan? Mama siap membantu jika dibutuhkan." Heran, apa sebenarnya yang membebani Agra hingga gurat tegang di wajahnya terpampang nyata. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Bukankah mama perhatikan kalian berdua telah saling menerima satu sama lain? Kenapa harus bingung kalau sudah seperti itu?" Agra melirik mama sekilas, lalu kembali membenarkan posisi tubuhnya agar lebih nyaman. "Ma… " Agra menggantung kalimatnya. Membuat mama tak sabar mendengar kelanjutan cerita sang putra semata wayang. "Tidak ada hal lain saat ini yang membuat Agra khawatir, kecuali satu." Helaan nafas panjang terdengar berat menyiksa. "Nama baik Lia ma… nama baiknya yang ku khawatirkan lebih dari apapun saat ini, istriku saat ini telah mengandung. Aku memang mampu melakukan apapun termasuk membungkam seluruh awak media untuk tak memberitakan hal buruk tentangnya . Tetapi aku tidak yakin mampu menghentikan ocehan sebagian masyarakat umum lainnya." Papa hanya diam terduduk di atas kursi kebesarannya. Mencerna setiap kata yang keluar dari putranya.
Mama menghela nafas pelan" Ya mama juga memikirkan hal itu. Kamu ini begini saja masih bingung." Mama Rani terkekeh kecil menanggapi. "Biarkan mama yang mengaturnya nanti. Oke?" Sambungnya lagi.
"Ma… Agra serius." Suaranya sedikit meninggi. Respon mamanya yang menganggap masalahnya enteng membuat Agra meragu tentang bagaimana caranya mama membereskan permasalahan yang menurutnya lumayan pelik itu.
"Kamu tidak percaya pada mama Agra?" Ekspresi mama berubah sedih dan murung. Helaan nafas panjang mama kembali terdengar di telinga Agra. Lelaki itu menunduk seketika saat menyadari perubahan suasana hati ibunya. "Maaf ma, bukan begitu maksud Agra. Agra takut kalau sampai opini publik membuat hubunganku dengan Delia renggang." Agra berucap lambat lambat sambil mendekati mama yang sudah akan bangkit meninggalkan Agra yang menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan mama Rani.
"Baiklah. Aku serahkan semuanya pada mama." Putusnya kemudian. "Tapi mama harus berjanji untuk tidak terlalu lelah. Mama cukup memberikan instruksi pada Alex jika menyangkut hal-hal yang berat." Sambungnya lagi. " Agra tidak mau karena memikirkan masalah rumah tangga kami kondisi mama jadi menurun." Nada lembutnya berubah tegas tak terbantahkan. Membuat mama melengos kesal, sebab mengingat bahwa sikap dan kelakuan Agra sama persis dengan suaminya bila sedang berbicara serius.
Papa hanya menggelengkan kepala melihat istri dan putranya saling berkonfrontasi, lalu bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati mama, menggamit pinggang istrinya. "Eh papa mau bawa mama kemana?" Agra terkejut saat tanpa sadar papa Hadi begitu saja menarik mama yang sedang serius membahas masalah resepsi dengannya.
"Yaa ke kamar. Papa pusing mendengar perdebatan kalian. Besok saja di lanjutkan. Lagipula hari ini bukannya kamu harus rapat bersama dewan direksi." Tanpa memedulikan respon dan ekspresi Agra. Papa melenggang sambil merangkul mama, meninggalkan ruangan luas ber AC itu. Sementara Agra hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
*
*
"Mas Agra…" Satu pesan terkirim ke nomor suaminya. Rencana makan siang sebagai balas budi atas jasa dokter Leo menjadi beban tersendiri bagi Delia. Tidak mungkin ia menerima begitu saja sementara banyak pengawal di sekitarnya. Lagipula Delia juga tak ingin membuat Agra semakin salah paham padanya, dan memicu pertengkaran keduanya.
Pesan yang belum terbalas membuat hatinya semakin tak tenang. Bagaimana kalau sampai Agra menghukumnya nanti? Mengetuk buku tebal di meja dengan jari jari mungilnya. Sesekali menggigit jari sambil lirik sana lirik sini.
Hening… tak ada seorang pun di kelas. Temannya yang lain sebagian telah lebih dulu pulang. Sebagian lagi memutuskan ke kantin, mengisi perut yang sudah meminta jatah. Sementara Keisha tidak masuk hari ini sebab harus mengantar sang kakak ke dokter kandungan.
__ADS_1
Ada panggilan masuk setelah beberapa kali ia mengecek pesan dari Agra yang tak kunjung di balas. Sambil mengemasi buku materi di meja Delia mengangkat panggilan tanpa memperhatikan nama dari penelpon.
"Ya halo?" Berjalan menyusuri lorong menuju parkiran. "Tadi kamu mengirim pesan. Ada apa sayang?" Suara bariton dari seberang terdengar jelas di telinga Delia.
"Eh…" Tak sempat Delia menjawab. Buru buru ia melihat layar ponsel, memandangi nama kontak yang melakukan panggilan dengannya. "Mas Agra. Maaf tadi aku mengirim pesan karena ingin meminta izin padamu untuk makan siang dengan teman, apa boleh?" Begitu mengetahui bahwa itu panggilan dari My Husband, Delia segera mengutarakan maksud dan tujuannya pada Agra.
"Dengan siapa? Perempuan atau laki-laki? Kalau laki-laki tidak boleh! Kalau mau harus denganku! Tunggu di sana aku jemput!." Putusnya cepat tanpa memberi kesempatan untuk istrinya menjawab.
Sambil memandangi layar ponsel yang menampilkan foto suaminya tengah memeluk dirinya dari belakang, Delia menghela nafas pelan. "Benarkan dugaan ku. Belum lagi nanti kalau ia tahu siapa yang mengundang ku makan siang." Dengan pikiran berkecamuk perempuan itu tetap melangkahkan kaki jenjangnya menuju area parkir. Menunggu Agra datang, di taman samping lapangan olahraga. Empat pengawal pribadinya pun turut serta berjaga di sekitar tempatnya duduk.
Tidak sampai sepuluh menit. Derap langkah kaki beberapa orang terdengar semakin mendekat menuju tempatnya menunggu Agra. Penasaran, Delia menoleh ke samping. Dan ketika manik mata cantiknya bertemu pandang dengan mata elang sang suami, detik itu juga ia menghambur ke pelukan Agra. Beberapa pasang mata yang penasaran melihat banyak pria memakai seragam hitam khas bodyguard pun semakin maju untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Sebagian terlihat syok menyaksikan langsung bahwa ternyata teman kampusnya adalah kekasih orang paling terkenal di negeri ini. Sebagian lagi sibuk mencemooh dan saling berbisik.
Sama sekali tak terpengaruh oleh keriuhan warga kampus yang menggunjingnya secara terang-terangan , Agra malahan mempererat pelukannya pada Delia.
"Mas kog cepat datangnya. Pasti kamu ngebut kan bawa mobilnya?" Delia mendorong pelan dada bidang Agra, menelisik ekspresi nyata Agra. "Siapa bilang? Kamu terlalu banyak berpikir. Mau makan siang dimana? Dengan siapa?" Tanyanya penuh selidik.
"Mas aku kan tadi sebenarnya sudah mengirim pesan jelas ke ponselmu. Kenapa tak di baca sih?" Raut wajahnya seketika berubah masam.
"Benarkah? Baiklah, kita duduk dulu, biar kubuka pesan mu." Menghela tubuh istrinya pelan. Membawanya duduk di bangku taman yang sebelumnya telah di duduki Delia.
Membuka pesan My Wife dengan segera. Membacanya dengan ekspresi tak tertebak. Sungguh membuat Delia semakin tak enak hati saja.
"Hutang budi apa kamu dengan Leo. Hingga harus membalasnya dengan cara makan siang begini?" Pertanyaan Agra begitu menohok hati dan jiwa Delia. Tak seharusnya ia sembarangan menerima tawaran lelaki lain tanpa izin suaminya. Bukankah ia tahu seperti apa karakter dan pembawaan Agra selama ini? Tak sepantasnya ia menutup mata mengenai hal itu bukan?
Semua sudah terlanjur. Apapun keputusan Agra setelah ini, akan dengan patuh ia terima. Bahkan jika harus membatalkan acara makan siangnya dengan Leo sebagai balas budi pun tak masalah.
Tidak masalah juga jika ia harus di cap sebagai perempuan yang suka ingkar janji. "Dimana makan siangnya?" Asyik dengan asumsinya sendiri. Delia sampai kehilangan fokus. Tak menjawab pertanyaan Agra. Perempuan itu malahan asyik melamun. "Dimana makan siangnya Delia?" Suara Agra meninggi. Membuat Delia terhenyak seketika. "Eh… itu mas… di cafe depan Perusahaan kamu sayang." Menjawab dengan nada sedikit gelagapan. "Kita berangkat sekarang." Ekspresi tegang Agra tak lagi mampu di tutupi. Jelas terlihat dari sudut mata Delia yang hanya berani mencuri pandang.
Sedikit menyentak tangan istrinya. Menariknya pelan untuk sejajar dengan langkahnya. "Bawa mobil istriku pulang." Perintahnya pada pengawal pribadi Delia yang tampak siap sedia menunggu perintah Big Bos.
__ADS_1
"Baik tuan." Pengawal menjawab sambil setengah berlari mengikuti langkah kedua atasan yang juga terburu-buru.
"Mas pelan jalannya." Delia meringis menahan rasa mencengkeram di bagian perut bawahnya yang mulai muncul semenjak ia duduk di bangku taman tadi. Rasa cemas berlebih adalah pemicunya.
Mendengar keluhan Delia, tanpa merubah ekspresi tegang di wajahnya, Agra refleks memelankan langkah lebar dan cepatnya. Namun begitu melihat cara berjalan istrinya yang berubah sangat lambat ia baru menyadari sesuatu. Menyadari bahwa istrinya kini tak sendiri. Ada jabang bayi yang bersemayam dalam rahim Delia.
Mengangkat tubuh Delia tanpa persetujuan. Menggendongnya sambil kembali menambah kecepatan dalam melangkah agar segera tiba di area parkir mobilnya yang cukup jauh, berbeda tempat dengan area parkir mobil istrinya di sebelah taman kampus.
Sementara Delia yang tak siap dengan gerakan reflek Agra, memekik histeris merasai tubuhnya tiba-tiba melayang dan berakhir dalam gendongan suaminya. "Mas jangan begini. Aku malu." Segera Delia mengalungkan kedua tangan di leher kokoh Agra. Menyembunyikan wajah di dada Agra sebab menyadari tengah berada di tempat umum, yang tentulah banyak pasang mata melihat Agra menggendongnya.
Mungkin saja besok, lusa, atau bahkan hari ini Delia sadar akan menjadi berita utama di redaksi kampus. Apalagi ia terhitung sebagai mahasiswa baru yang notabene tak pernah sekalipun mengusik kakak tingkat di kelasnya. Tapi meski begitu, ia tentu menyadari satu hal lagi bahwa siapa sih yang tak mengenal keluarga suaminya? Tak ada yang tak mengenalnya? Dengan begini ia harus menyiapkan mental nantinya untuk menghadapi para senior yang hampir setiap kelas di akhir pekan selalu membicarakan tentang suaminya. Delia menjerit dalam hati membayangkan reaksi geram penggemar berat Agra begitu mengetahui bahwa dirinya yang selama ini menjadi paling diam di kelas ternyata memiliki sebuah hubungan yang tak di ketahui orang-orang. Matilah aku. Bisik nya pelan.
Di dalam mobil pun Delia hanya diam tak bergeming dalam dekapan Agra. Membayangkan bagaimana besok menghadapi penggemar berat Agra di kampus. Ah sudahlah lebih baik bolos sehari, daripada menghadapi bullyan kakak tingkat yang menyeramkan itu.
"Lain kali tidak perlu membuat janji pada siapapun, selain aku. Oke?" Agra menarik dagu istrinya. Menangkup wajah polos Delia supaya menghadapnya. Mengecup sekilas bibir ranum Delia. Membenarkan posisi duduk Delia agar lebih nyaman.
Sebelah tangan Agra menelusuri tulang rahang Delia. Menghadiahi kecupan kecil di leher putih milik istrinya. Sempurna… Stempel kepemilikan telah tercetak jelas di sana.
Akan ia bungkam mulut Leo agar tak mampu berkata lagi mengenai hubungannya dengan Delia. Agra sendiri tidak mau terlalu banyak berbicara hingga dapat merusak citranya sebagai seorang pemimpin.
Mengusap pelan tanda di leher putih istrinya. "Warna yang bagus. Lain kali akan ku buat lebih ungu daripada ini." Tersenyum miring, bangga akan mahakaryanya yang luar biasa.
Delia yang tak siap menerima serangan, hanya diam mematung menahan malu pada sopir dan pengawal di kursi depan, yang meski terhalang oleh sekat pun rasanya tetap saja mereka masih berada dalam satu mobil, sehingga kemungkinan untuk mereka mendengar desa**n kecil yang lolos dari bibirnya tadi terdengar oleh mereka. Hah? Mau di taruh di mana nanti mukanya? Bahkan kedua pengawal Agra itu adalah orang kepercayaan Agra yang mungkin akan sering bertatap muka dengan dirinya kedepannya nanti.
Bersambung…
...****************...
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
Masih setia nungguin kopi dari kalian❤️
__ADS_1
i love you all.