Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Barend


__ADS_3

Suara tepuk tangan di iringi tawa mengejek terdengar bersamaan munculnya sesosok pria dari area gelap bangunan tempat Agra memberondong kawanan musuh menggunakan senjata yang tersimpan di balik jas.


"Selamat datang di rumahku Agra. Sesosok laki-laki dengan postur tubuh mirip Agra tertawa sambil memasukkan sebelah tangannya dalam saku celana. "Sambutan yang meriah bukan? heh!" Sinis nya.


"Apa perlu aku meremukkan tulang-tulang wanita mu itu agar kau tahu bahwa aku tak selemah Barend yang dulu?" Ucapnya dengan nada meremehkan.


"Coba saja lakukan!! Kalau kau ingin hidupmu hancur!" Tantang Agra setengah mengeram. Emosinya benar-benar di ambang batas kali ini.


Demi mengulur waktu agar seluruh anak buahnya bersiap melakukan penyerangan besar-besaran, ia pasang badan menjadi umpan untuk musuhnya menampakkan diri. Rela, berbasa-basi dengan laki-laki yang pernah menggoda Delia di depan matanya secara terang-terangan waktu itu. Selain itu juga karena ia tahu tujuan utama laki-laki di hadapannya ini adalah memang untuk membalaskan dendam masa lalu padanya.


"Jadi… aku sudah di hadapanmu, lalu apa mau mu sekarang?" Tantangnya lagi.


"Jangan jadikan orang lain sebagai alat pelampiasan dendam mu padaku yang selama ini belumlah kau tuntaskan! Kau!" Tunjuk Agra menuding wajah merah padam Barend tepat di hadapannya. "Menunggu apalagi untuk mencapai targetmu?! Hah?!" Tiba-tiba saja terlintas bayangan Delia meringis menahan sakit saat pertama kali ia temukan dalam keadaan terikat sebelumnya. Meski kini istrinya telah dalam kuasa dan perlindungannya, tetap saja rasa bersalah menghantui karena teledor menjaganya. Andai waktu dapat diputar, tentu Agra tidak akan membiarkan Delia ikut serta dalam perjalanan bisnis yang penuh dengan resiko ini.


"Apa kau tidak sadar? Bahkan detik ini pun sebenarnya kau telah kalah telak denganku!" Sebelah alisnya terangkat dan tersenyum menyeringai.


"Apa maksudmu?!" Dua anak buah Barend merangsek mendekati Agra karena mendengar suara tuannya meninggi.


"Apa perlu ku perjelas lagi?" Tanyanya di iringi senyum meledek. "Sudahi omong kosong ini! Aku dengan sengaja melepaskan wanitamu dan membiarkanmu tetap hidup pastinya kau tahu bahwa tidak ada yang gratis dan mudah dalam kamus hidup seorang Barend!!" Salah satu anak buah Barend bergerak maju mendekat, menyerahkan map. Kening Agra berkerut dalam, namun secepatnya ia tepis demi menghindari mantan temannya itu menyadari bahwa dirinya sedang dilanda sedikit cemas.

__ADS_1


" Aku ingin pabrik senjata milikmu sebagai gantinya, karena aku telah dengan mudah melepaskan istrimu. Tentunya kau tahu, saat ini aku akan dengan mudahnya menemukan kembali wanita mu dan membawanya dalam kuasaku jika kau tidak segera menandatangani surat akuisisi ini!" Tunjuk nya pada sebuah map dalam genggamannya.


"Kau terlalu serakah Barend!!" Dengan gerakan cepat dan tak terbaca, Agra menekan tombol remote di balik tuxedo hitamnya dimana itu adalah alarm peringatan sebagai tanda agar anak buahnya segera melakukan penyerangan.


Beberapa anak buah Barend tidak sadar semua sisi gedung telah terkepung. Suara tembakan mulai terdengar saling bersautan memekakkan telinga.


****************


Sementara di sebuah bangunan megah yang terdapat lampu hias disetiap sisi bangunannya terlihat tenang dan damai.


Seorang perempuan cantik sedang menatap kaca yang dihiasi uap embun membuatnya samar menikmati cahaya malam kota London.


Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan tentu saja ada. Lebih-lebih belum lama ia mengenal sosok sang suami lewat perjodohan tak terduga. Kehidupan Agra baginya adalah satu hal yang sulit untuk ia selami, meski Agra seolah tak pernah menyembunyikan rahasia apapun, tetap saja tak semudah itu ia menutup mata dan hati menyikapi segala situasi yang terjadi. Dan bahwa suaminya masih enggan terlalu terbuka membicarakan dunia kerja dengannyalah yang membuat Delia semakin merasa menahan diri untuk menanyakan permasalahan apa yang sebenarnya terjadi sehingga terjadilah hal buruk menimpanya.


Tetapi meski begitu Delia percaya bahwa sang suami tak mungkin sengaja mencelakainya dengan membawa dirinya turut serta dalam perjalanan bisnis penuh resiko ini.


Ia tersadar dari kegamangan hati ketika ada sesuatu mendekati kakinya. "Hei kucing kecil…" Dengan susah payah terhalang perut yang semakin besar tangannya mencoba meraih makhluk lucu nan menggemaskan itu. Namun, sesaat sebelum ia menyentuh kucing itu ada seseorang datang dan memberikan padanya.


Delia tertegun sejenak, memandangi seseorang yang selalu ia rindui harum tubuhnya semenjak kehamilan pertamanya. "Mas…" Tak mampu berucap banyak. Kakinya tanpa sadar berjalan mendekati Agra, kedua tangannya terulur menangkup wajah laki-laki dihadapannya yang lusuh dan sedikit ada luka lebam serta bekas darah di pelipisnya. "Mas…" Lagi... hanya kata itu yang terucap dari bibir ranumnya, seolah ikut merasakan kehadiran sosok ayahnya, calon bayi mereka bergerak lincah dalam perut ibunya sampai perempuan itu merasakan tegang dan kram hingga membuatnya tak sadar mengaduh. "Ah.." Sontak Agra diserang rasa khawatir tiba-tiba, pasalnya kehamilan Delia termasuk kehamilan beresiko menurut dokter Stella hingga ia harus selalu siap sedia apabila tanda-tanda kelahiran muncul. "Kita ke rumah sakit sekarang." Delia menarik lengan kokoh Agra saat pria itu sudah akan bersiap meraih pinggangnya. "Mas aku tidak apa-apa. Ini hanya kram sedikit saja, mungkin mereka merasakan kalau ayahnya datang jadilah mereka bergerak sangat lincah sekali." Agra memicing, merasa tak yakin atas keterangan Delia. "Benarkah begitu?" Dengan gerakan selembut mungkin ia meraih tubuh istrinya. Membalikkan posisi Delia hingga ia bisa melingkupi perut istrinya yang semakin membesar. "Ia mas beneran." Delia menoleh menatap mata Agra. " Coba usap mas, biar kamu tahu seberapa lincah dan sehatnya mereka." Pelan, Delia menarik tangan kanan Agra, membimbing Agra mengusap lembut perut bagian kanannya untuk merasakan gerakan gesit calon bayi-bayi mereka." Satu usapan. Dan mereka benar-benar bergerak hingga baby bump Delia yang sengaja dibuka Agra agar lebih jelas terlihat menonjol berbentuk kaki kecil. Agra yang semula tak percaya akan ucapan Delia pun terlihat terkejut luar biasa . Binar di wajahnya begitu kentara. Senyum sumringahnya menular pada Delia. "Sekarang kamu tahu kan mas kalau mereka benar-benar bisa merasakan kehadiranmu."

__ADS_1


"Ya sayang. Maaf sudah meragukanmu." Setelah rasa tak percaya menguasai dirinya, Agra segera merubah posisinya, berlutut dihadapan istrinya. "Mas! Kamu mau apa??" Delia terkejut mendapati Agra bersujud di hadapannya tiba-tiba. Tetapi sedetik kemudian ia tersenyum saat memperhatikan Agra melekatkan telinga di perut buncitnya. "Haha.. Sayang apa yang kamu lakukan? Geli mas!" Delia tertawa kegelian saat Agra menggesekkan hidung mancungnya di perut Delia. "Sayang jangan buat ibu kalian menderita ya. Kalau kalian bisa mendengar ayah, beri ayah satu tendangan." Tanpa menghiraukan protes Delia, Agra terus saja banyak berbicara pada calon bayi-bayi mereka di hadapan perut buncit istrinya. "Lihatlah sayang mereka benar-benar bergerak sangat lincah." Agra terlihat sangat bahagia dan sejenak melupakan kejadian berbahaya yang mungkin tak akan pernah ia ceritakan pada sang istri agar tak membebani pikirannya dan supaya mejaga mood Delia tetap stabil.


Sedikit memaksa dan menyentak tangan Agra, Delia menarik suaminya. Ia bergeming, namun tangannya bergerak menyentuh pelipis Agra yang terluka, tak ada sepatah katapun terucap dari keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jangan kau bebani dirimu dengan pikiran buruk tentangku sayang. Dan jika aku belum bisa menceritakan apapun mengenai banyaknya kejadian buruk yang menimpa kita, aku minta maaf padamu, ketahuilah bahwa hal itu semata-mata ku lakukan agar kamu dan mereka tetap dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Agra sembari mengusap lembut perut istrinya.


"Kalau begitu, aku minta satu hal padamu mas!" Delia menggenggam erat kedua tangan Agra. Membawanya dalam dekapan. "Apapun itu asal kamu bahagia." Tatapan Agra melembut memperhatikan Delia, baru menyadari perempuan yang ia nikahi beberapa bulan belakangan kini menjelma menjadi sosok cantik luar biasa.


"Aku mau kamu berjanji, dalam kondisi apapun untuk selalu menjaga diri agar tak terluka…" Kalimatnya terhenti saat kecupan hangat mendarat di keningnya.


"Aku tahu apa yang saat ini kamu pikirkan."


"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa seperti apapun perjalanan cinta kita. Tak peduli seburuk apa aku memperlakukanmu di waktu dulu, yang terpenting saat ini hati dan otakku telah dikuasai oleh dirimu Delia."


"Dan aku tak meminta untuk kamu mempercayai apapun yang aku ucapkan saat ini padamu mengingat sekasar apa dulu aku padamu. Aku hanya berharap kamu yakin padaku, kalau aku tak akan pernah mengkhianati janji suci ku saat aku meminangmu dulu."


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.

__ADS_1


__ADS_2