
Delia
Ia terlihat sedikit bimbang ketika kakinya melangkah memasuki mobil seorang lelaki yang tak dikenalnya. Sejurus kemudian ia menepis pikiran buruk yang berkelebat dalam bayangan, bahwa orang asing itu terlihat bersahabat dan baik dari segi penampilanya, ia pikir tak ada salahnya karena jam sudah terlalu mepet.
Baiklah…
Lalu ia memutuskan untuk menerima tawaran laki-laki yang memperkenalkan dirinya tanpa ia minta tadi.
Yaa…
Tadi dia bilang ia seorang dokter, jadi mana mungkin akan berbuat buruk disaat krusialnya… pikirnya dalam diam.
"Terimakasih tuan sudah memberi saya tumpangan." Ucapnya tulus, ketika telah sampai di area parkiran kampus.
"Ah jangan sungkan, dengan senang hati saya dapat membantu gadis cantik sepertimu…" Ucapnya tersenyum penuh arti.
"Baik kalau begitu saya permisi masuk ke kelas dulu tuan. Sekali lagi terimakasih atas tumpangan yang anda berikan."
" Tak perlu berbicara formal seperti itu. Kau bisa memanggilku Leo saja."
"Baik Leo saya permisi."
"Tunggu… bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"
Delia tak langsung menjawab, ia mengerutkan kening tanda tak setuju. Saat bibirnya akan berucap Leo dengan segera memberi sebuah alasan yang dapat diterima olehnya.
"Jangan berburuk sangka dulu. Aku hanya ingin menjalin pertemanan denganmu saja tak lebih, dan bukankah ini adalah permintaan yang sederhana atas tumpangan yang kuberikan tadi?" Tanyanya dengan diselipi nada bercanda.
Ia melirik jam dipergelangan tangannya. Dan Lima menit lagi kelas akan dimulai.
"Baiklah…baiklah berikan ponselmu padaku, aku akan memasukkan nomorku." Dengan tergesa ia menyerahkan ponsel Leo, kemudian memberi hormat setelah itu pergi menuju kelasnya dengan setengah berlari sambil sesekali menatap jam di tangannya.
Kini Delia tengah duduk dibangkunya bersamaan dengan masuknya dosen killer. Hampir saja ia mendapat hukuman jika tak berlari menuju kelas tadi.
Sesi kuis pagi ini ia lalui dengan lancar tanpa hambatan seperti biasa. Tak terasa perutnya menagih untuk diisi sebab tak sempat sarapan.
"Aahh… Akhirnya selesai juga kelasnya." Ucapnya dengan meregangkan tubuh yang terasa kaku akibat berkejaran dengan waktu tadi pagi.
"Key…"
"Iya Del… Ada apa?"
"Ke kantin yuukk…! Lapar nihh… nggak sempat sarapan tadi…" Tangannya tak henti mengelus perut yang terasa melilit dan perih karena asam lambungnya yang mulai naik.
"Siaappp… yuk yuk, aku juga laparr banget nih. Hmm… pasti enak banget nih makan soto babat favoritku." Keisya melangkah mendahului Delia yang sedang sibuk memasukkan buku materi miliknya.
"Mau pesan apa kamu Del?" Tanya Keisya saat melihat Delia tak kunjung memesan makanan.
__ADS_1
"Hmm… apa yaa? Sop sayur dengan nasi setengah porsi saja kei."
"Okey… aku pesenin dulu ya. Kamu tunggu sebentar."
"Siap… makasih keisya hehe… tau aja kalau aku lagi mager."
"Ehhh… tapi Del, beneran ini saja pesananmu nggak mau tambah lauk gitu biar kenyang?"
"Nggak usah key itu saja… lagi kepingin sayur sayuran ini… minumnya aku ambil di kulkas aja deh."
Saat asyik membaca novel favoritnya dalam aplikasi kesayangan sembari menunggu pesanannya dibawakan Keisya, Delia dikejutkan dengan dering ponsel yang berbunyi di dalam mini slingbag nya.
Bos Galak Calling…
"Ya hallo tuan."
"Dimana kau?"
"Saya sedang di kantin tuan… sa…"
"Cepat ke parkiran. Kita pulang sekarang."
Ia mendesah pelan, merasa kesal dengan sikap Agra yang selalu memutuskan panggilan sepihak dengannya selama ini. Padahal pembicaraan mereka belum benar-benar berakhir.
Katanya disuruh manggil sayang kemarin… ehhh sekarang malah sikapnya balik kasar lagi. Jadi sebel lagi kan. Ungkapnya dalam hati.
"Dasar plin-plan!" Gumam-gumam sendiri.
"Key… " Panggilnya lirih pada Keisya.
"Ehh iya Del, masih antre nih… tunggu sebentar ya."Ucap Keisya dengan senyum lebarnya.
"Emmhh… Key, aku nggak jadi pesan yaa maaf… aku sudah ditunggu diparkiran. Mau pulang duluan yaa." Terangnya pada Keisya
"Ehh iya Del its okey… lagian juga belum dipesan makanannya. Ehh tapi muka kamu kelihatan pucat banget itu kan tadi katanya belum sarapan… gimana coba?" Tanya keisya khawatir.
"Emhh tenang Key aku masih ada roti gandum di tas, lumayan buat ganjel.Yaudah aku duluan ya Key, bye bye." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan area kantin berjalan melewati lorong menuju parkiran kampus sesuai arahan Agra yang sedang menunggunya.
"Bye Del… see you." Ucapnya melambaikan tangan dan melanjutkan memesan makanan yang tertunda tadi.
...----------------...
Lelaki itu berdiri bersandar pada pintu mobil mewah dengan angkuhnya… tidak perduli dengan kehadiran orang-orang yang berlalu lalang mengawasinya. Bahkan dengan sikap acuh tak acuhnya, justru membuatnya terlihat semakin garang bagi beberapa mahasiswi yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan memuja. Hingga mereka sengaja berjalan mondar mandir tanpa alasan yang jelas di area parkiran guna menggoda pria tampan yang begitu mempesona. Siapa tahu lelaki itu akan tergoda dan menjadikan salah satu diantara mereka sebagai kekasihnya nanti. Begitu bisik-bisiknya.
Delia dengan wajah pucatnya berjalan pelan menghampiri suaminya, perutnya terasa begitu semakin melilit lantaran tak kunjung menerima asupan sedari pagi. Tak urung pandangannya semakin berkunang-kunang dan disaat ia berniat menyapa Agra disaat itu juga dentaman dikepalanya terasa semakin menyerang hingga akhirnya perempuan cantik bertubuh ramping itu jatuh tak sadarkan diri dalam dekapan suaminya.
__ADS_1
"Del…Del… Bangun Del!!" Terdengar sayup-sayup suara Agra yang terakhir Delia ingat sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
Lelaki itu melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sebelumnya ia tak pernah peduli dengan perempuan yang ada disekitarnya. Agra akan dengan angkuhnya meninggalkan ****** yang sengaja ia pilih untuk memuaskan naf*u ragawinya sebagai lelaki normal lalu meninggalkannya begitu saja tanpa peduli rengekan manja yang terus membuatnya semakin jengah menghadapi perempuan seperti itu. Padahal kesemua perempuan yang pernah ia gauli adalah kalangan atas yang memiliki rupa ragawi mempesona dan juga menawan. Tetapi… tetapi dengan perempuan polos ini mengapa sikapnya berbeda? Ia tak sampai hati memerintah anak buahnya untuk mengambil tanggung jawab pada istrinya, padahal dirinya sendiri ada disamping Delia. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia akan meninggalkan tanpa perasaan dan tak sudi berurusan dengan apapun yang akan membebaninya kelak dikemudian hari.
Perempuan ini memang telah sah menjadi istrinya.
Tetapi sikap arogan dan angkuhnya telah mendominasi kedalam hati dan otaknya. Sehingga apa yang tertanam dalam pikirannya secara otomatis memerintahkan untuk berlaku sinis dan seolah tak peduli pada Delia. Harusnya seperti itu, tetapi… saat pandangannya mengamati wajah sendu Delia dengan mata yang terpejam rapat terkulai lemah disampingnya… seketika hatinya menghangat, dan dilanda kekhawatiran akan kondisi Delia saat ini.
Ia memerintahkan asisten Alex membuka jalur khusus untuknya guna memudahkan mengevakuasi Delia menuju IGD melalui sambungan telepon karena asisten Alex sedang memimpin rapat dengan staffsus untuk membahas masalah keamanan yang saat ini ternoda kredibilitasnya akibat insiden pagi tadi.
Dengan tanpa membuang waktu, Agra segera meraup tubuh Delia yang lemah tak berdaya kedalam dekapannya, meletakkannya dengan hati hati diatas brangkar yang telah disiapkan oleh petugas rumah sakit, di depan pintu khusus sesuai perintah dan arahan yang telah ia sampaikan pada asisten Alex melalui sambungan telepon tadi selama perjalanannya menuju rumah sakit, yang langsung ditindaklanjuti oleh asistennya yang sangat setia itu. Sehingga Agra tak perlu berlama-lama menunggu proses berbelit yang bisa saja memancing emosinya yang mudah tersulut dan akan membuat Delia menunggu lama untuk mendapat penanganan.
...****************...
Ketika kesadarannya mulai kembali, Delia merasakan tangannya yang ngilu akibat terpasang selang infus. matanya sibuk mengamati setiap sudut kamar dengan kening berkerut. Ia mendengar sayup-sayup suara orang yang sedang berbicara di luar ruangan, sembari mengingat ingat apa yang menyebabkan dirinya berada di ruang perawatan saat ini.
Lalu ia mencoba untuk turun dari atas ranjang pasien yang lebar itu dan lebih terlihat seperti tempat tidur mewah yang sama dengan miliknya di asrama dulu. Ia mencoba menggapai tiang infus supaya tak terlepas dari tangannya, kemudian melangkah lemah menuju pintu guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga dirinya berakhir di kamar perawatan.
Saat sudah sampai diambang pintu, saat itu juga seseorang membuka pintu dari luar sehingga refleks ia mundur beberapa langkah supaya tak terdorong karenanya.
" Apa yang kau lakukan, Delia…?! Suara barithon itu memecah keheningan ruangan luas yang begitu terasa dingin bagi Delia karena tak memakai alas kaki.
Sebelum perempuan itu menjawab, indera penciumannya menangkap aroma dari makanan lezat yang langsung membuat fokusnya teralihkan atas perbincangannya dengan Agra.
" Aku… Lapar tuan, perutku terasa lapar, belum makan dari pagi jadi aku ingin membeli makanan sebentar." ucapnya lirih dan hampir tak terdengar oleh Agra, Sesaat kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu yang setengah terbuka.
" Permisi tuan, mohon izin masuk untuk mengantar makan malam pasien." Agra mengangguk dan bergeser memberi jalan perawat yang mendorong trolley makanan menuju ke samping ranjang pasien.
" Nona Delia… setelah menyelesaikan makan malam anda harus meminum obat yang sudah kami siapkan disamping hidangan, setelahnya dokter akan visit untuk kontrol rutin kondisi anda. Apakah ada lagi yang bisa saya bantu nona?"
" Tidak suster… terima kasih atas bantuannya."
"Baik nona… kalau begitu saya permisi dan untuk kondisi anda saat ini sebaiknya untuk istirahat dan tidak banyak bergerak dulu supaya mempercepat proses penyembuhan." Perawat wanita bertubuh bongsor itu berucap dengan ramah pada Delia dan berlalu meninggalkan ruang perawatan setelah menyapa hormat Agra.
"Habiskan makanmu dan segera minum obat agar kau tak menyusahkanku." Perempuan cantik itu tertegun mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Agra. Ada sesuatu yang mencoba mencengkeram hatinya hingga terasa air matanya seakan tak dapat dibendung lagi. Apakah bagi lelaki itu dirinya tak ada harganya sama sekali, sampai-sampai ia mampu mengucapkan kata-kata yang begitu menyakiti hatinya? Ia menunduk tak sanggup menatap Agra dengan sikap intimidasi terhadapnya, memilih berjalan melewati Agra yang menatapnya tajam dan tak bergeming. Delia sering menerima perlakuan kasar Agra saat bekerja. Tetapi entah mengapa kali ini sikap kasar Agra terasa begitu menyakitkan bagi dirinya, dan bukankah setelah percintaan mereka Agra memintanya untuk memanggil sayang. Ataukah itu hanya sebatas rasa bahagia sementara karena telah melakukan intim dengannya?
Bersambung…
...****************...
cerita hanya fiktif belaka
apabila terdapat kesamaan nama tokoh dan unsur cerita
semata mata karena ketidaksengajaan belaka.
__ADS_1
jadwal up suka suka yaa guys. because nyambi jadi the power of emak-emak😂
SELAMAT MEMBACA...