
Agra memeluk istrinya erat. Matanya sulit terpejam sebab sedang memikirkan sesuatu yang ganjil, mengusik hati dan jiwanya.
Semalaman ini asisten Alex terus mencoba menghubunginya, dan Agra baru menyadari jika ponselnya terus menyala dan bergetar setelah ia terbangun dari tidur lelapnya bersama sang istri, mereka melakukan panggilan telepon selama hampir satu jam membahas siapa dalang di balik insiden penembakan di basemen apartemen miliknya. Seseorang yang terlihat mencurigakan saat kejadian telah mereka amankan, namun sampai saat ini laki laki dengan tato di punggungnya itu tak juga mau membuka mulutnya untuk memberitahu siapa orang yang telah menyuruhnya melakukan penembakan waktu itu.
Agra sendiri tak dapat menahan emosinya kala ia menemui salah satu dari orang suruhan yang berniat akan mencelakai istrinya di malam setelah istrinya pulang dari rumah sakit.
" Habisi dia!! Percuma dia hidup kalau mulut nya tak mau bicara… habisi dia dan cari anggota keluarganya!!" Desisnya murka.
"Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya jika orang terdekatnya mati secara mengenaskan dan dia tak mampu berbuat apapun!" Ujarnya pada para pengawal yang berjajar rapi mengelilingi laki-laki itu.
"Tu… tunggu tuuan… jangan sakiti keluarga saya! Sa…ya janji akan mengatakan siapa o…rang yang… te lah membayar saya untuk mence la kai istri an da." Rintih nya menahan sakit disekujur tubuhnya yang dipenuhi luka akibat pukulan dari para algojo terlatih Agra.
" Cepat katakan, bajing*n! Jangan membuang-buang waktuku yang berharga. Atau kau mau aku melakukan sesuatu yang lebih menyakitkan dari apa yang kau rasa saat ini pada anak dan istrimu, hah?" Tangan nya yang kokoh dan kuat mencengkeram wajah laki-laki itu hingga buku jarinya memutih.
"Ampuuun tuaan…ampuni saya… orang itu adalah tuan Barend tuan, Dia membayar saya untuk menculik istri anda. " Tolong jangan sakiti keluarga saya tuan…" Dengan tubuh penuh luka, juga wajah babak belur serta darah mengalir dari hidung dan pelipisnya, laki-laki yang tak berdaya itu mencoba meraih sepatu yang dikenakan Agra, namun naas sebelum ia dapat melakukannya Agra dengan wajah dinginnya menendang hingga laki-laki itu terhempas keras kearah tiang penyangga yang sebelumnya digunakan untuk menggantung dan menyiksa pembunuh bayaran itu. Agra menggelap. Dengan ekspresi yang sulit di tebak ia berjalan mendekati laki-laki malang yang bertemu langsung dengan orang paling berbahaya saat ini. "Kau dan tuan mu itu! sudah salah telah berurusan dengan ku!!" Agra berucap lambat lambat, namun mampu membuat laki-laki itu tak sanggup lagi menjawab bahkan berbuat apapun, apalagi berniat melarikan diri. Itu mustahil terjadi.
Dari sekian banyak perempuan, mengapa hanya pada Delia istrinya, Barend tertarik? Yaa… Agra sudah memiliki firasat tentang itu sejak pertemuan pertamanya dengan teman lamanya tempo hari yang harus melibatkan sang istri sebab memang pertemuan mereka murni membahas masalah pekerjaan, dari sana Agra jelas melihat setiap Delia menjelaskan tentang poin-poin penting pada meeting yang sedang mereka bahas Barend terus saja memperhatikan istrinya dengan tatapan penuh arti.
...****************...
__ADS_1
Delia,
Pagi ini aku menjalani aktifitas seperti biasa. Mas Agra selalu saja memaksa ku untuk ikut mandi bersamanya, sudah tentu jika hal itu akan membuat aktivitas mandi yang hanya membutuhkan beberapa menit menjadi satu jam lamanya, bahkan lebih. Huh… seperti tak pernah habis stamina lelaki itu.
Entah mengapa ada yang tak biasa di tubuhku pagi ini. Aku merasa tidak enak badan, perutku memang terasa lapar, tapi pada saat pak Li menghidangkan semua makanan yang harusnya bercita rasa lezat itu, kini semuanya terlihat biasa saja dimata ku. Aku berjalan meninggalkan mas Agra yang sedang melahap makanannya, mama yang sedang sibuk melayani papa pun menghentikan aktivitasnya. " Lia mau kemana, sayang?" panggil mama sebab heran melihatku meninggalkan meja makan.
" Emm… itu ma Lia mau ambil roti… mau sarapan pakai roti saja ma…" Jawabku kemudian berjalan kembali menuju meja makan.
"Kenapa sayang? Biasanya kamu jarang sarapan pakai roti? Apa masakannya tidak enak?" Cecar mas Agra yang menatapku dengan heran.
"Emm… bukan mas, aku sendiri juga tidak tahu, perutku rasanya mual melihat semua makanan ini, aku hanya ingin makan ini ." Tunjuk ku pada roti yang sudah ku olesi dengan selai coklat favoritku
"Tidak mas… aku nggak papa. Nanti aku ke kantor ya mas."
"Kamu dirumah saja istirahat, lihat wajahmu pucat sekali." Hatiku menghangat merasakan begitu aku beruntung diperlakukan manis oleh mas Agra juga mama dan papa mertua yang tulus menyayangiku bagai anak sendiri. " Begitu meeting selesai siang nanti, aku akan menjemputmu, sekalian kita pulang ke apartemen sayang." Ah mas Agra tahu nggak sih sebenarnya kalau jantung ku ini serasa mau lepas setiap ia memperlakukan ku lembut begini. Maafkan aku Tuhan, telah serakah meminta lebih dari ini. Meminta pernyataan cinta suami hamba langsung dari mulutnya sendiri. Karena sejatinya perempuan itu butuh pernyataan bukan hanya perlakuan.
"Lia apa kamu telat datang bulan nak?"
Deg…
__ADS_1
Aku terlupa akan hal itu,… ya. Ya seharusnya minggu ini aku sudah harus datang bulan. Ku buka aplikasi kalender menstruasi ku pada ponsel yang ku letakkan di atas meja kecil dekat meja makan…
Dan… benar saja, aku sudah telat tiga hari dari jadwal menstruasi ku bulan ini. Aku percaya karena memang aplikasi yang ku pakai ini lumayan akurat, juga didukung dengan siklus ku yang tepat dan tak pernah bergeser barang sehari.
" Iya ma… Lia telat tiga hari ma, Lia terlupa akan hal ini." Jelas ku pada mama yang disambut tangis bahagia mama Rani.
Bukan aku tak mengerti akan hal ini. Hanya saja aku merasa tidak yakin jika aku akan menjadi ibu secepat ini di usia ku yang masih muda. Ada rasa yang tak mampu ku ungkapkan. Rasa bahagia juga bercampur rasa takut, apakah aku akan menjadi orang tua yang baik untuk anakku nanti? Mudah mudahan saja aku bisa mengemban amanah yang telah Tuhan titipkan padaku jika memang benar diperut ku tumbuh bayi mungil buah cintaku dengan mas Agra.
"Mama kenapa menangis?" Mas Agra bertanya khawatir, sebab mama menghambur ke pelukan papa. " Pa… akhirnya kita akan punya cucu pa…" Papa tertawa bahagia menenangkan mama. " Ma kog sudah yakin jika menantu kita sedang mengandung? Dokter saja belum memeriksanya kan?" Ucap papa penuh kesabaran.
"Sayang, apa benar kamu hamil?" Mas Agra menggenggam tanganku erat, menarik ku dalam dekapannya, ia memelukku erat seperti ingin meluapkan segala rasa yang membuncah dalam dada nya. " Jika benar di dalam rahimmu telah tumbuh buah cinta kita, aku berjanji… Aku berjanji akan selalu melindungi kalian sekuat tenagaku."
" Aku belum tahu mas. Jika mama tidak menanyakan tentang periode datang bulan ku yang terlambat pun aku pasti akan benar benar terlupa akan hal ini."
"Benar Lia, firasat mama mengatakan saat ini kamu tengah berbadan dua, nak. Jaga kesehatan mu ya sayang jangan terlalu capek. Oh ya… Agra jangan lupa menghubungi Leo ya untuk segera memeriksa Delia supaya kita semua tahu kondisi yang sebenarnya."
"Tidak ma… Agra tak akan rela istri Agra di sentuh oleh pria lain. Aku akan memanggil dokter Yunita setelah ini." Mas Agra terus memandang ku lembut, tanganku digenggamnya erat.
"Kamu makan nasi ya, aku suapin?" Tawar mas Agra yang ku jawab dengan gelengan kepala. "Nggak mau mas… aku mau makan ini saja." Tunjuk ku lagi pada roti selai coklat yang baru ku makan sesuap.
__ADS_1
Mas Agra mengusap lembut rambut ku, lalu berdiri menjauhi meja makan dan mengambil ponsel nya yang juga ia letakkan di meja kecil bersama ponsel ku. Ku dengar ia sedang menghubungi dokter Yunita, dokter pribadi mama untuk segera datang ke mansion memeriksa kondisi ku. ??