Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Rujak...?


__ADS_3

Agra,


Aku membantu istriku untuk buang air kecil yang akan di gunakan untuk mengecek alat tes kehamilan yang baru saja di berikan oleh dokter Yunita sehabis memeriksa kondisi nya, ku perhatikan raut wajahnya semakin memucat semenjak dinyatakan jika memang menurut pemeriksaan dokter Yunita ia tengah mengandung. Dokter Yunita juga berpesan jika nanti hasil yang muncul dari alat tipis nan kecil serupa potongan kertas itu adalah dua garis, aku di minta untuk segera memeriksakan istriku ke dokter ahli kandungan guna mendapatkan hasil lebih akurat.


Dan benar saja, istriku hamil. Hasil yang keluar dari alat itu adalah dua garis berwarna kebiruan. Dengan gerakan cepat aku memerintahkan Alex untuk segera menjemput kami, karena aku tak sabar untuk mengetahui hasil yang lebih jelas lagi.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit milik keluargaku, karena memang aku memilih dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit papa ini.


Seorang perawat perempuan mendorong kursi roda ke hadapan ku, dan dengan cekatan perawat itu berniat membantu memapah Delia meski aku telah lebih dulu mengangkat istriku dalam gendongan dan mendudukkan nya di atas kursi roda di dihadapan ku. Karena sudah pasti aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada perempuan yang tengah mengandung calon anakku, sebab ku lihat wajahnya semakin bertambah pucat saja.


" Saya bantu mendorongnya tuan." Tawar perawat itu yang ku tolak dengan tegas.


"Tidak… tunjukkan saja dimana ruang praktek dokter Stella!" Perintahku tanpa menatapnya, kemudian dengan sedikit terburu perawat itu menuntunku menuju ruangan tertutup yang terdapat papan akrilik menggantung bertuliskan dr. Stella Sp.Og.


Begitu aku dan Delia memasuki ruangan bernuansa putih dan beraroma obat-obatan khas rumah sakit itu, dokter Stella menyambut ku ramah.


" Tuan Agra… nona Delia silahkan, silahkan masuk. Silahkan duduk tuan." Sambutnya ramah pada kami. "Jadi, apa yang dikeluhkan nona saat ini? Apakah mual?" Tanyanya serius menatap istriku lalu beralih menatapku.


"Tadi hanya sempat sarapan roti dok, dan sempat muntah jadi mungkin sekarang perutnya kosong." Jelas ku memberi keterangan tentang kondisi istri ku yang mendadak lemah pagi tadi.


"Baik tuan… saya akan meresepkan obat anti mual dan penguat kandungan setelah ini, nanti anda bisa menebusnya di apotek rumah sakit. Mari sekarang nona pindah ke ranjang, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Aku mengangkat tubuh lemah istriku dari kursi roda dan membaringkannya di atas ranjang pasien. Seorang asisten dokter membantu membuka dress yang di kenakan istriku hingga mencapai bagian tubuh atas sampai perut ratanya terpampang jelas. "Ehh … kenapa di buka?" Sergahku dengan nada khawatir. "Cepat tutup kembali!" Ucapku dengan nada tegas.


"Maaf tuan… tapi saya harus mengoleskan gel ini untuk memudahkan pemeriksaan dan pengecekkan kondisi rahim istri anda." Aku menatapnya tajam karena tak yakin.


"Benar tuan ini memang rangkaian yang menjadi bagian dari proses pemeriksaan kehamilan melalui mesin USG(UltraSonoGrafi), tenang saja tuan, anda bisa mempercayakan semua kepada saya selaku penanggungjawab serta kepala dokter Spesialis Obgyn di daerah sini. Saya berani menjaminnya." dokter Stella mencoba meyakinkan ku.


Dan akhirnya aku mengangguk setuju. ku perhatikan dengan perlahan asisten dokter Stella mengoleskan gel bening di atas perut putih istriku hingga merata, lalu dokter setengah baya itu mengarahkan sebuah alat pada perut bagian bawah Delia dan menekannya.


"Nyonya dan tuan, silahkan perhatikan layar didepan." Perintah dokter Stella sambil menatap layar kecil lain di samping ranjang pasien.


Dokter Stella menjelaskan dan menunjuk menggunakan lampu laser tampilan layar seukuran 24 in yang ku tatap dengan seksama.


"Wah… kamu tampaknya kuat ya sayang. Nah… tuan titik berwarna hitam ini adalah calon janin, sebentar kita cek lagi yang lain yah."

__ADS_1


Aku mengamati dengan jeli dan teliti setiap gambar yang di tunjuk , tak ingin melewatkan keterangan apapun yang dijelaskan secara terperinci oleh dokter Stella.


"Sebentar sebentar… ini sepertinya…." Ucap dokter Stella menggantung, ketika menggeser alat USG ke bagian perut istriku yang lain.


Sungguh membuat rasa penasaranku semakin bertambah saja. Geram ku gusar.


"Sepertinya kenapa dok?" Sahutku tak sabar menunggu penjelasan lebih rinci.


"Wah… ini ada temennya nih…." Jelas dokter Stella dengan antusias.


Ku lihat dilayar menampakkan dua titik hitam setelah alat itu bergeser sedikit.


"Maksudnya apa ya dok…?" Tanya Delia lembut. Dengan tanganku terus saja menggenggam erat jemarinya .


Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Aku benar-benar bahagia dengan kehamilan istriku yang tak ku sangka sangka ini, Seperti halnya mama dan papa yang begitu bahagia dan antusias menyambut kehamilan istri ku, begitupun aku yang akan selalu berusaha ada di samping nya. Aku mencintaimu istri cantikku.


"Selamat nyonya Delia, saat ini anda tengah mengandung bayi kembar dua."


Ia menatapku penuh haru, mencoba menyalurkan rasa bahagia yang membuncah dalam dada.


Aku menariknya dalam pelukanku. Semakin larut dalam kebahagian yang telah istriku berikan. "Terima kasih sayang. Maafkan aku… maafkan aku selama ini sering membuatmu sedih… aku… aku sangat mencintaimu, aku berjanji akan selalu menjaga kalian." Tak sanggup lagi aku menahan perasaan yang mengharu biru memenuhi rongga dalam dadaku. Aku merengkuhnya, dan ku belai lembut puncak kepalanya.


Dokter Stella dan asisten nya menatap takjub, semua orang dirumah sakit ini tentu mengerti bagaimana sifat ku jika mereka tak sengaja berpapasan denganku, ketika sesekali aku berkunjung guna memeriksa kinerja rumah sakit ini saat papa berhalangan hadir. Perubahan sikapku tentu saja ku tujukan hanya pada istriku saja, dan tidak untuk yang lain.


"Mas aku jalan saja ya… aku masih kuat kog." Pinta Delia memelas padaku.


"Tidak sayang… kalau kamu gak mau naik kursi roda aku yang akan menggendong mu nanti. Bagaimana?" Ku perhatikan bibirnya mengerucut ketika tak ku izinkan niatnya berjalan sendiri mengingat kondisinya yang masih lemah, menurutku.


"Tapi mas, aku masih bisa jalan sendiri, lihat nih aku berdiri ya…" Ia menunjukkan bahwa dirinya sanggup untuk berjalan sendiri dengan bangkit dari kursi roda dan sedikit menghentakkan kaki guna meyakinkanku.


"Mas… please aku mau jalan sendiri. Aku bisa dan aku kuat mas, jadi jangan khawatir ya."


"Jangan ya sayang…. aku takut kamu kenapa kenapa nanti. Coba perhatikan wajahmu semakin memucat saja. Ayo aku gendong." Ia menggeleng kuat, kekeh tak mau memakai kursi roda ataupun ku gendong.

__ADS_1


"Ayo mas kita tebus obatnya sama-sama." Ucapnya padaku, dengan yakin ia manarik dan menggandeng tangan ku untuk segera bergegas menuju apotek rumah sakit dan menebus resep obat dari dokter Stella.


Setelah istriku mengucapkan terima kasih pada dokter Stella, Alex masuk untuk mengambil hasil dari pemeriksaan dan foto USG yang akan ku tunjukkan pada mama dan papa setelah kami sampai di mansion nanti.


"Mas…Aku mau rujak." Celetuknya tiba tiba ketika kami bergandengan tangan di lorong menuju apotek rumah sakit yang terlihat lengang. "Makanan apa itu, aku belum pernah mendengarnya sayang?" Tanyaku penasaran. Karena memang aku benar-benar belum pernah memakan makanan aneh yang di sebut istri ku barusan, sebab selama ini aktivitas ku menuntut agar aku selalu menjaga pola makan dan menghindar dari makanan pemicu penyakit berat juga supaya selalu berpenampilan prima dalam setiap situasi. Memang berbagai jenis makanan yang banyak di jual bebas di luaran sana ketika di makan satu kali tak akan menimbulkan efek apapun pada tubuh seseorang. Tetapi jika makanan tersebut di konsumsi dalam jangka lama dan di lakukan secara berulang, siapa yang berani menjamin kondisi tubuh seseorang yang mengonsumsi nya bisa tetap sehat saat makanan itu banyak terdapat bahan berbahaya juga berpengawet. Tentu tak ada bukan? Karena semua itu adalah bentuk tanggungjawab juga pilihan kita pada tubuh sendiri. Mau sehat? Ataupun mau sakit! Selain takdir, itu semua adalah pilihan. Catat!


" Ish… masa gak tahu si mas… itu loh yang potongan macam macam buah lalu di siram pakai saus gula merah… pokoknya rasanya tuh asem, manis, pedes gitu. Yang jelas seger banget rasanya. Masa si kamu gak tau mas? Habis ini kita beli rujak ya mas, please…" Bibirnya mengerucut maksimal. Lucu banget sih kalau lagi merajuk begini.


"Lex!"


"Iya tuan." Alex maju mendekat untuk mendengar lebih jelas.


"Kamu tahu rujak itu makanan apa?" Tanyaku serius.


"Tentu tahu tuan… rujak itu buah buahan yang disiram pakai saus. Kemungkinan rasanya ada pedas dan asamnya." Jelasnya dengan sungguh sungguh.


"Huh kog kamu tahu, sementara aku gak kamu beri tahu!"


"Maaf… tapi anda tidak bertanya tuan." Sahutnya lagi.


"Saya tahu karena waktu itu di minta nyonya besar membelinya di pedagang kaki lima di pinggir jalan dekat pasar tuan." Lanjutnya menjelaskan tanpa ku minta.


"Hah? Mama makan makanan aneh itu?" Delia melirikku dengan senyum tertahan.


"Iya tuan… beliau bilang rujaknya higienis karena sudah langganan sejak lama, saat jalan jalan dengan tuan besar pasti beliau selalu mampir untuk membelinya.


"Ya sudah… karena mama pun pernah membelinya pastilah higienis makanan itu. Jadi ku izinkan untuk membelinya." Ucapku lembut pada istriku."Biar nanti Alex yang beli yah…" sahutku lagi.


"Nggak mau… aku maunya kamu yang beliin mas…"


"Baiklah…iya nanti kita mampir beli rujak yang kamu mau." Tak tega juga aku melihat wajahnya yang merajuk penuh harap. Sepertinya memang ia begitu menginginkan makanan yang namanya sangatlah aneh itu menurutku.


"Yeeeyyy… makasih sayang… makasih sudah mau mengabulkan permintaanku ini ya." Ia berteriak kegirangan menghambur ke pelukanku. Sebegitu bahagianya kah ia mendapatkan keinginan yang sangat sederhana bagiku. Rujak, yah… rujak. Hemm tidak apa. Toh sepadan dengan kecupan yang kudapatkan di pipi ku darinya. Sungguh di luar dugaan, inisiatif yang selalu ku nantikan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2