Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Draft


__ADS_3

" Besok bawa semua bukti-bukti yang kau kumpulkan. Barend harus segera menerima balasan yang setimpal atas apa yang ia lakukan pada perusahaan ku hingga mengalami kerugian. Sekecil apapun dampaknya pada kita. Aku akan membalasnya berkali lipat karena telah berani mengusik sesuatu yang tak harusnya ia sentuh." Alis tebal Agra saling bertaut, keningnya berkerut dalam. Ia menyampaikan rentetan perintah pada Alex melalui sambungan telepon.


Ia dan asisten Alex beserta tim audit esok pagi akan membahas temuan baru mengenai segala kecurangan yang telah Barend perbuat pada Wijaya Group. Kerjasama yang ia lakukan dengan Barend sewaktu Delia masih menjadi sekertaris pribadinya, justru memberikan peluang pada teman yang tak tahu di untung itu. Kalau sampai pria asing itu berkilah lagi meski ia membawa bukti kuat. Agra juga tak akan segan lagi melibas lalat pengganggu dengan sekali tepuk.


Pintu ruang kerja ia biarkan terbuka. Sambil sesekali ekor matanya melirik, mengawasi istrinya yang terlelap sepulang dari mansion, Agra bangkit dari duduknya, bergegas mendekati Delia yang pulas dalam tidurnya. Punggung tangan lelaki itu mengusap lembut pipi seputih susu milik istrinya. Sejauh ini hubungannya dengan Delia berjalan dengan baik, harapannya dalam hati, semoga ke depan semakin membawa dampak positif untuknya juga untuk Delia.


Perempuan itu meringkuk, memeluk perutnya sebagai bentuk perlindungan pada bayi-bayinya di dalam sana kala ia sedang tak terjaga. Kedua sudut bibir Agra terangkat, senyumnya mengembang sempurna melihat tingkah menggemaskan Delia meski dalam kondisi tertidur. Dan begitu lelaki itu selesai menyingkirkan anak rambut di kening istrinya yang menutupi sebagian wajah, sebelah tangannya menyusuri kaki telanj*ng Delia.


Suhu apartemen yang dingin membuat tubuh perempuan itu sedikit menggigil. Pergerakan tubuh yang tiba-tiba membuat selimut tebal yang semula melindunginya dari suhu rendah terlempar dan berakhir teronggok di pinggir ranjang, padahal sebelumnya Agra telah menyelimuti Delia hingga ke batas leher perempuan itu.


Kaki yang terasa dingin, reflek berpindah ke pangkuan Agra yang tengah terduduk di ranjang. Menggesek pelan di sana, mencoba mencari sumber kehangatan. "Hmmm!! Apa yang kamu lakukan Lia!" Agra mendorong pelan kaki Delia, memindahkannya ke posisi semula. Tapi… perempuan itu tanpa sadar mengembalikan kakinya pada pangkuan Agra dan menggeseknya lagi di sana hingga membuat sesuatu yang berharga milik Agra menegang.


"Berhentilah melakukannya kalau kamu tak ingin ku habisi." Ia menyelinap ke dalam selimut tebal yang ditariknya dan segera menutupkan pada tubuh istrinya sekaligus tubuhnya sendiri yang juga terasa dingin.


Satu kebiasaan Delia yang selalu Agra ingat. Menendang selimut saat sedang tidur.


Sambil memeluk Delia, sebelah tangan Agra meraih remote di atas nakas. Ia menekan tombol, menaikkan suhu kamar supaya tak terlalu dingin.


Hingga akhirnya keduanya benar-benar terlelap saling memeluk dalam suhu ruangan yang hangat.


*

__ADS_1


*


"Kita harus segera membekuk Barend beserta antek-anteknya tuan. Salah satu anak buahnya tertangkap oleh orang kita, tapi sampai saat ini informan itu belum juga bersedia membuka mulutnya. Bahkan dia menggigit lidahnya sendiri agar kemampuan bicaranya menghilang." Setelah rapat tertutup usai. Alex menjelaskan pada Agra, bahwa anak buah Barend telah beraksi, menyelinap ke perusahaan dengan menyamar menjadi petugas kebersihan. Entah apa tujuan Barend hingga berbuat nekat. Namun sebelum niat buruknya berhasil tercapai, orang Barend telah berhasil di lumpuhkan anak buah Agra yang tengah bertugas mengamankan area bawah perusahaan.


"Aku akan melihatnya sendiri." Agra menggeram menahan kesal. "Kita lihat, sejauh mana informan itu bertahan untuk tak membuka mulutnya saat aku datang?" Agra menggelap. Nada bicaranya berubah kejam.


Belakangan ini, Agra telah melonggarkan tingkat kewaspadaannya karena dirinya tengah berfokus pada istrinya yang tengah hamil muda. Tak disangka hal itu telah di manfaatkan oleh Barend. Kini saatnya ia membuat perhitungan besar kepada para musuh yang telah bersiap menyerangnya.


Kaki panjangnya melangkah lebar memasuki rumah kosong yang ia jadikan sebagai tempat pengeksekusi para musuh yang tertangkap. Dua algojo bertubuh tinggi dan kuat membukakan pintu, membungkuk menyambut Agra. Lelaki itu sendiri hanya menganggukkan kepala sekilas sebagai jawaban.


Mata elang Agra memicing, pandangannya mengitari beberapa tawanan yang sebelumnya telah tertangkap atas kasus yang berbeda. Hingga fokusnya terhenti pada satu tawanan yang telah terikat kedua tangannya dengan rantai berukuran besar.


Agra mendekat, menyisakan jarak sekitar tiga meter dari tiang penyangga rantai pengikat. "Ada satu hal yang kurasa dapat membuat mulutmu berbicara." Dengan kedua tangan berada di saku celana Agra berbicara santai.


Tetapi apa yang dianggap santai ternyata justru membuat tawanan baru itu melebarkan matanya. Dengan lidah terluka akibat ulahnya sendiri, lelaki itu susah payah mencoba untuk mengeluarkan suara.


"Ja…ngan sen…tuh put ri ku." Meski dengan kalimat terbata yang susah payah pria dalam kondisi mengenaskan itu ucapkan, Agra masih dapat menangkapnya dengan jelas.


"Apa motif atasanmu mengusik ketenangan ku?!!!" Masih dengan nada santai setengah menuntut, Agra menyampaikan. "Kau tahu… gadis kecilmu yang berharga itu, saat ini tengah berada dalam genggamanku. Dia yang begitu polos, harus menanggung dosa ayahnya dan berada dalam bahaya akibat apa yang ayahnya kerjakan hingga dapat mengancam jiwa anak kecil tanpa dosa."


"Cihhh!!! "Tawanan itu meludah kasar. "Ap…a ma…umu?!!" Ia memasang wajah waspada. Meski sia-sia lelaki itu tetap menarik-narik tangannya hingga menimbulkan bekas memerah nyaris berdarah di pergelangan tangan. Terlepas dari berapapun imbalan yang telah di janjikan Barend pada anak buahnya, Agra patut mengakui atas sikap loyalitas tawanan di hadapannya yang meski dalam kondisi bahaya pun tetap menjunjung tinggi kesetiaan pada sang majikan.

__ADS_1


Anak buah Barend tertawa menggelegar hingga memenuhi ruangan gelap dan pengap itu. "Asal anda tahu!! Bukan anda sasaran sebenarnya." Rahang Agra mengetat, dalam cahaya redup, samar-samar terlihat ekspresi membunuh mulai muncul. "Sayangnya bocah kecil yang menggemaskan itu telah berada dalam genggamanku! Dan kau!" Tunjuk nya pada lelaki di hadapannya. "Kau dan tuan mu itu tak akan pernah bisa melancarkan aksi busuk mu!" Meski nadanya pelan, tetapi terselip ancaman yang nyata.


"Jangan pernah sentuh putriku. Aku akan membunuhmu, kalau kau sampai menyakiti dia!!" Setelah tawa provokasinya, lelaki yang terluka parah itu terlihat mulai gusar. Agra telah menemukan titik terlemahnya dalam hidup. Putri kecilnya selama ini telah ia sembunyikan di pinggiran kota bersama sang ibu yang telah berusia renta, sekarang telah menjadi sandera pria tampan musuh atasannya. Ia sendiri tak mampu membayangkan bagaimana nasib putri kesayangannya sekarang di tangan para pria berbahaya yang telah menjadi targetnya atas perintah Barend. Resiko pekerjaannya adalah alasan utama mengapa ia mengungsikan gadis kecilnya setelah kepergian sang istri bersama lelaki lain. Sekuat tenaga ia berusaha melindungi orang-orang tersayangnya, saat dirinya dihadapkan pada tugas berbahaya, saat itu pula ia harus siap menerima segala resiko yang telah menanti.


Agra menyalakan sebatang rokok. Menghisapnya dalam, lalu ia hembuskan ke atas hingga asap putih membubung memenuhi ruangan remang dengan cahaya merah samar-samar. "Apa tujuan bos mu menargetkan ku?" Suasana berubah mencekam kala dua algojo berbadan kuat mencengkeram wajah tawanan yang matanya sudah terpejam sebab bahaya tengah mengintai. Laki-laki itu hampir kehilangan kesadaran setelah kepalanya mendadak di serang rasa sakit yang tiba-tiba muncul, efek pukulan yang ia terima sebelum dirinya di seret menuju markas gelap milik Agra.


Tidak ada yang menyadari tentang sisi tergelap Agra. Lelaki itu begitu rapi menyembunyikan identitasnya sebagai pimpinan gelap sebuah organisasi yang namanya harum di dunia mafia, termasuk kedua orang tuanya. "Apa tujuan Barend menyinggung kehidupan pribadiku?" Sekali lagi Agra melontarkan pertanyaan yang sama tepat di telinga laki-laki sekarat itu.


Belum sempat anak buah Barend menjawab, dering ponsel Agra yang di setel dengan volume keras, berbunyi ke seluruh ruangan gelap itu sebab keadaan yang sunyi. Lelaki itu fokus menatap layar ponsel yang berkedip tanda panggilan masuk.


"Tuan. Saya telah mengirimkan video sesuai permintaan anda melalui email." Segera Agra memutuskan sambungan telepon sepihak setelah mendengar pesan dari asisten Alex. Tangannya mengusap layar ponselnya mencari file yang dimaksud.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Dengan sikap dan ekspresi dingin Lelaki itu melemparkan ponselnya pada salah satu anak buahnya yang berada di samping tawanan untuk berjaga-jaga. Pria bertubuh kekar itu menangkapnya dengan sigap.


"Cari satu video dalam ponsel itu, putar dan tunjukan padanya. Supaya dia tahu bagaimana seharusnya bersikap." Anak buah Agra dengan gerakan cepat menghadapkan pada tawanan terikat yang meski sudah dalam keadaan tidak berdaya pun tetap berpegang teguh pada tugasnya sebagai seorang mata-mata yang dikirim Barend ke Wijaya Group.


Saat Pria penjaga di sampingnya menghadapkan ponsel yang menampilkan sebuah adegan di layarnya, saat itu juga matanya melebar tak percaya , Agra Wijaya di hadapannya telah menyekap dua orang paling ia Lindungi. "Ja…ngan sa kiti mereka tuan." Ucapnya terbata. " Tuan Barend bukan mengincar Anda. Tapi dia… Tapi dia mengincar sekertaris pribadi anda. Saya… saya di tugaskan. Untuk… untuk menculiknya." Sambungnya lirih sebelum kesadarannya perlahan mulai hilang.


"Brengsek!!" Rahangnya semakin mengetat. Meski saat ini Delia telah berada dalam kuasa dan perlindungannya… tetapi lelaki itu sadar, tetap saja ia merasa bahwa bahaya akan tetap ada. Berdasarkan keterangan dari informan, Agra akan mengambil tindakan untuk memperketat penjagaan kemanapun istrinya pergi. "Kalau sampai Barend menyentuhkan tangannya pada perempuanku. Akan ku habisi dia dengan tanganku sendiri." Agra keluar dari ruangan pengap itu setelah mendesis kan kalimat ancaman yang nyata hingga membuat tawanan yang terikat itu bergidik.


Anak buah Barend seketika di serang rasa cemas yang luar biasa setelah algojo Agra menyuntikkan sesuatu tepat di lehernya. Dalam kondisi yang terikat, laki-laki itu berteriak-teriak hingga mengucapkan kalimat-kalimat tak jelas sampai mengganggu tawanan lainnya yang juga berada di tempat itu dalam kondisi hampir sama seperti dirinya.

__ADS_1


......................


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.


__ADS_2