
Mosha kini mengamati mobil yang sedang beriringan sudah pasti itu keluar dari kediaman Dominic.
Langsung Mosha menghalangi mobil tersebut. Terlihat Crist waspada dan Gabriel juga waspada kalau Vallen manatap malas dengan pria bermotor tersebut.
'Aku pernah melihatnya, oh siapa ya?' tanya Vallen dengan dirinya saat di depannya bukan orang asing.
Tiba-tiba semua pengawal Eroise menyerangnya. Dia sendiri dan tentu saja menang kini Crist dan Gabriel berdiam diri. Vallen ingin turun namun tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Gabriel.
"Jangan Princess." jawab Gabriel,
Mosha masuk ke dalam mobil duduk dengan Crist.
"Apa kabar paman?" tanya Mosha dengan Gabriel yang masih menatap tajam dirinya.
"Setelah kau musnahkan anak buahku, sekarang kau berani masuk tanpa izin lebih dulu." jawab Crist yang geram dengn tingkah bocah ini.
"Ayolah Crist aku hanya ingin bertemu dengan gadis kecil ini." jawab Mosha melihat Vallen.
"Kau siapa?" tanya Vallen dengan geram.
"Paman aku pinjam putrimu sebentar." Mosha menarik paksa tangan Vallen terlihat Vallen memberontak.
Namun Gabriel dan Crist membiarkan saja. Mereka hanya menatap datar dirinya. Ada hubungan apa Mosha dengan Eroise?
"Tuan bagaimana kalau Mosha mencelakai nona?" tanya khawatir Crist walaupun sebenarnya Gabriel juga khawatir namun dia percaya Mosha tidak akan kenapa - kenapa.
"Ih lepas sakit tau tanganku. Lihat merah. Luka tadi saja belum sembuh!" Kesal Vallen saat melihat tangannya bertambah merah, apalagi tadi Albert menariknya sangat paksa.
"Kembalikan putriku jangan lupa." jawaban Gabriel segera meninggalkan Vallen bersama Mosha.
"Ayah... kenapa aku ditinggal disini." gerutu Vallen kesal melihat Mosha tersenyum aneh sekali.
"Tanganmu luka? Perasaan tadi aku menariknya tidak terlalu kencang." jawab Mosha dengan polos.
"Bajingan sialan ini, bugh...." Vallen memberi pukulan di perutnya dan lari menuju ke depan.
Mosha tersenyum ternyata pukulan yang diberikan gadis kecil sangat keras sekali.
'Siapa yang mengajarinya sangat hebat.' Mosha ikut belari menuju tempat Vallen juga.
Terlihat Vallen sangat cepat sekali belari, untung saja ini hutan jadi tidak panas. Nafas Vallen ngos-ngosan karena sudah lama dirinya tidak lari seperti ini.
"Tuan itu gadis tadi, kenapa dia lari seperti itu... " Mike yang menghentikan mobil mendadak.
Terlihat Mosha mengendarai motor dan menarik paksa Vallen.
"Ikut denganku princess, cepatlah buang tenaga saja kau lari sejauh itu. Ayoo... " Mosha menarik paksa Vallen.
"Tidak mau ihh tanganku sakit jangan menariknya terus." kesal Vallen seketika Mosha melepaskan tangannya dan Vallen terjatuh.
__ADS_1
"Bajiangan ini benar-benar sialan." jawab Vallen sudah sangat emosi.
"Katanya tadi suruh lepas." jawba polos Mosha.
Dorrrr....
Tembakan yang diberikan Albert, peluru menancap di pohon sempurna. Mosha mengetahui kalau dia Albert Dominic. Pria yang sering ayahnya ceritakan.
'Duh pria itu lagi, kenapa hidupku seperti ini. Lebih baik aku hidup di kolong jembatan daripada seperti ini membuat ku tambah susah saja.'
"Ada pahlawan kesiangan sepertinya." jawab Mosha menatap tajam Albert.
Albert juga menatap tajam Mosha memberi tatapan permusuhan dengannya. Vallen mencari kesempatan dia memuluk kaki Mosha.
"Sialan! Awas kau ya Vallen." jawab Vallen segera belari menuju ke arah Albert.
Albert mengerutkan dahinya kenapa gadis ini belari ke ayahnya. Vallen merebut pistol dan menembakkannya ke Mosha.
Mosha langsung menghindari tembakan itu, dan menembak pistol Vallen hingga jatuh.
"Vallen.... kau gadis nakal." jawab geram Mosha langsung menggendong Vallen dengan paksa.
"Tidakk lepaskan aku sialan." Vallen memberontak dan Albert menyerang Mosha.
Kini mereka bertarung dan Mosha sengaja melemahkan dirinya karena tidak ingin membuat Vallen curiga begitu juga Albert.
Vallen terlihat meringis namun dia tahan membuat Mosha tersenyum.
'Sepertinya memang tertarik dengan Vallen dirimu, oh lucu sekali.' jawab Mosha segera meninggalkan mereka.
Vallen duduk di dalam mobil Albert sudah ada Mike mengemudi kini menuju tempat eksekusi.
"Tempat eksekusi, tidak lama." jawab Albert datar menatap tajam jalanan.
Seketika tubuh Vallen merinding, apa dirinya akan di potong di cincang seperti daging. Kepala Vallen terasa pusing sekali. Dulu pernah dia melihat ayahnya menyiksa orang hingga dirinya pingsan saat melihat diam - diam.
Dan itu membuat Gabriel murka dan memarahi semua orang karena tidak menjaga Vallen dengan baik.
"Aw...." Vallen memegangi kepalanya yang sakit.
Albert menoleh menatap gadis disampingnya seperti kesakitan sekali. Albert tidak peduli hingga akhirnya Vallen pingsan.
"Jangan berpura-pura tidak lucu." jawab dingin Albert.
"Tuan muda sepertinya gadis ini memang pingsan." jawab Mike saat tidak ada mencurigakan.
"Bawa ke mansion cepat." jawab Albert segera membenarkan posisi Vallen bersandar di lengannya.
20 menit kemudian sudah tiba di mansion Albert seperti biasa pengawal menyebutnya sangat rapi dan tegas.
__ADS_1
Albert keluar dari mobil, segera membopong Vallen yang masih pingsan. Hal itu membuat semua orang mansion bertanya siapa gadis yang tuan muda bawa.
"Mike panggil dokter cepat." jawab Albert sembari meletakkan tubuh Vallen di kasur kamar tamu.
Dokter pria datang dan memeriksa, mengatakan Vallen hanya kelelahan saja dan belum memakan apapun. Maka tidak ada energi yang diserap untuk tubuhnya.
"Jangan memandang seperti itu, jika kau ingin lebih terus bekerja disini." suara tajam Albert saat dokter pria memandangi Vallen dengan terpesona.
"Ampuni saya tuan muda, kalau begitu saya permisi." dokter segera pergi takut dirinya akan di serang oleh Albert langsung.
'Benar kata nyonya besar, kalau tuan memang tertarik dengan gadis ini.'
"Apa yang kau pikiran Mike." jawab sengat Albert saat mengetahui Mike melamun.
"Tidak ada tuan muda."
"Siapkan makanan untuknya, makanan yang bergizi Mike." jawab Albert singkat menyuruh Mike.
Albert memandangi wajah Vallen, sangat cantik sekali. Bahkan jauh berbeda saat pertama bertemu dengannya. Dia terlihat kotor bau, dan juga berantakan.
Ternyata salah, saat dirinya berpakaian bersih. Albert tidak bisa bohong, kalau dia benar-benar sangat cantik. Albert yang awalnya ingin menyiksa ke tempat eksekusi namun malahan pingsan.
'Aku tidak boleh jatuh hati dengannya, dia hanya wanita tidak benar.' jawab Albert segera meninggalkan Vallen sendirian karena jika bersama Vallen Albert akan terus menatao dirinya.
Albert melihat semua pengawal dan pelayan berbisik - bisik tentang gadis yang baru saja di bawa. Dan itu membuat Albert geram.
"Apa yang kalian bicarakan, dan kenapa bersantai ria seperti ini."
"Ampuni saya tuan, saya tidak akan mengulangi lagi." Jawab salah satu pelayan dan mulai kembali bekerja.
Albert geram sekali dengan semua orang bahwa mengatakan Albert jatuh hati dengan wanita itu. Dirinya bahkan terlihat biasa saja tidak peduli.
'Dia tidak ada apa-apa dengan gadis kecil yang aku cari selama ini.'
Albert terus bersih keras agar menemukan gadis kecilnya yang sering menjumpainya saat pulang sekolah.
'Aku harus lebih berusaha lagi untuk mencari gadis itu, walaupun aku sendiri tidak mengetahui namanya juga.' jawab Albert dengan dirinya sendiri.
"Maaf tuan muda, gadis yang tuan muda bawa sudah sadar mencoba melarikan diri lewat pintu baklon sekarang sudah ada didepan mansion ditahan dengan pada penjaga didepan." jawab gugup pelayan saat melihat gadis itu ternyata tidak ada.
"Pergilah." Albert segera keluar dari ruang kerjanya dan melihat gadis itu mengahajar pengawal yang mencoba menyentuhnya.
Mike juga menatap datar dan tajam, karena dia hanya ingin tau kemampuan gadis itu ternyata cukup kuat. Padahal baru saja sadarkan diri.
Seorang pengawal memukul Vallen dengan besi dan terkena tangannya Vallen karena Vallen menahannya agar tidak terkena kepalanya.
Dan detik itu juga Albert langsung menembak orang yang sudah memukul besi dengan Vallen.
Vallen melihat tangannya hampir putus, kini berwarna biru keunguan. Sudah pasti jawabannya sakit, Vallen tidak bisa menahan diri lagi dan meneteskan air matanya karena sakit sekali rasanya.
__ADS_1