
Di dalam ruangan, pria tua bernama Bart Barnes marah dengan asistennya karena langkahnya sudah di ketahui oleh Albert anak bau kencur itu.
"Dia memang cerdik, bahkan melebihi Jason sekalipun. Memang aku harus lebih berhati-hati membuat anak itu tunduk padaku sekalipun."
"Tidak masalah juga dia tertangkap, karna juga dia memang bodoh lagipula kapalnya sudah terbakar walaupun itu tidak akan membuat dia apa - apa sekalipun."
"Aku seperti harus merancang ulang rencanaku untuk kedepannya."
Bart Barnes musuh sudah lama, dia juga mempunyai putra namanya Mosha Barnes. Mosha sangat tidak tertarik dengan pekerjaan yang Ayahnya lakukan.
Bahkan Mosha sendiripun sering menghilang, seperti melakukan misi yang dibayar sangat mahal sekali. Bahkan untuk bergabung di keluarga sendiri yang juga Mafia dia tetap tidak tertarik.
Mosha hanya kembali jika dia tidak ada pekerjaan dan menemui ayahnya sendiri. Mosha memiliki sifat yang tidak bisa ditebak. Sama seperti senyumnya Mosha selalu aneh seperti ada sesuatu.
Kini dia berjalan ke ruangan ayahnya yang sudah menunggu sejak tadi, namun dia sangat malas untuk menemuinya.
"Ayah... Ada apa memanggilku?" tanya Mosha dengan polos melihat ayahnya..
"Aku sudah menyuruhmu sejak 1 jam yang lalu untuk segera kemari, kenapa baru sekarang kau kemari?" jawab Bart dengan tajam menatap putranya.
"Maafkan aku ayah, tadi aku ada keperluan sebentar." jawab Mosha.
"Kau pasti tau, apa yang sudah terjadi di pelabuhan bukan? Tidak mungkin kau sampai tidak mengetahuinya."
"Aku tidak tahu ayah, memang apa yang terjadi." jawab bohong Mosha jelas saja dia tau.
Namun Mosha seperti orang bodoh, dan anak tidak berguna bagi Bart karna memang tidak punya rasa jiwa kepimpinan untuk memimpin Barnes dengan kuat.
"Jangan pura-pura bodoh Mosha, kau bahkan punya rencana yang jauh lebih licik dariku." jawab Bart mulai berdiri dari kursi kebanggaannya.
Mosha menatap ayahnya dengan senyum yang manis. Mencoba mencari celah agar Ayahnya terus percaya dengannya saat ini.
"Sudah lah ayah, aku memang tidak mengetahui apapun di pelabuhan. Jika ayah tidak ingin memberitahuku aku juga tidak masalah, aku bisa mencaritahu sendiri ayah."
Bart sudah terlihat mengepalkan tangannya dan menatap tajam Mosha bahkan ingin sekali dirinya membunuh anak tidak tau diri ini segera.
__ADS_1
Mosha juga merasakan intimidasi dari Bart namun dia tidak takut dan tetap berwajah datar.
"Ayah kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku pergi sekarang." jawab Mosha segera kembali ke kamarnya.
"Ada tugas untukmu Mosha." jawab Bart dengan dingin.
"Apa ayah, katakan saja." jawab Mosha.
"Hancurkan keluarga Dominic sampai menjadi debu, saat keluarga Dominic hancur. Maka kekuasaan Barnes akan menjadi lebih luas dan besar." jawab Bart dingin.
"Tidak semudah yang ayah pikirkan. Tapi tidak masalah aku akan mencobanya ayah. Aku pergi dulu, jangan lupa istrahat ayah." jawab Mosha dengan senyum liciknya segera pergi ke kamar.
Bahkan pengawal di mansion Barnes juga selalu menatap dingin Mosha, seperti orang asing. Tapi tidak diperdulikan oleh Mosha sekalipun.
'Dasar pria tua tidak tau diri, sebenarnya aku sudah malas berpura-pura manis didepannya. Namun tidak masalah juga, tidak penting. Pada akhirnya juga sama dia akan mati segera juga.'
***
Vallen kini berada di depan balkon kamarnya, luka di lengannya sudah cukup baik. Karena Gabriel memberi obat yang sangat ampuh sekali.
Dia menatap suasana mansion yang tenang kali ini, bahkan dia mengingat kalau di jalan dia pasti sekarang sedang mencari kerja.
'Ngomong - ngomong ayah dimana ya, kok belum menemuiku. Atau aku susul saja ya.'
Vallen segera mencari ayahnya, kata pengawal ayahnya berada di gazebo belakang mansion. Vallen sangat malas sekali berjalan sekitar 500 meter.
Dia melihat kesana kemari, tidak ada kendaraan karena di belakang udara sangat segar sekali. Banyak pohon rindang namun terawat.
Akhirnya Vallen mengalah dan jalan kaki menuju ayahnya. Ayahnya sedang berbicara dengan pengawal khusus yang sudah menjadi pilihan keluarga Eroise.
Pengawal memberi kode, bahwa Vallen datang kemari segera membubarkan mereka semua. Dan mulai kembali bekerja lagi.
"Princess kenapa kau tidak memanggil pelayan saja untuk membawakan payung. Lihat kau berkeringat." jawab Gabriel langsung menyekat keringat di wajah Vallen.
"Tidak apa ayah, ayah kenapa pengawal tadi di kumpulkan? Apa ada masalah?" tanya Vallen serius.
__ADS_1
"Tidak ada princess hanya saja, ayah menyuruh untuk mereka waspada. Kau tau keluarga Dominic bukan?" tanya Gabriel kepada putrinya.
"Hmm siapa dia ayah, apa dia ketua kekuasaan Mafia di London saat ini?" jawab Vallen yang sangat sering. mendengar Dominic.
"Benar Princess sekarang kekuasaannya itu sudah jatuh kepada putra tunggalnya. Serta pewaris utama."
Gabriel mulai bercerita, bagaimana juga dia harus mengatakan yang terjadi dengan Vallen agar dirinya bisa berjaga diri.
" Memang ada masalah apa ayah jika putranya menjadi pewaris?" tanya Vallen.
"Putranya itu sangat kejam princess, bahkan lebih kejam dari Jason Dominic. Ayah juga belum bertemu dengannya, karna waktu sempat ada acara pertemuan dengan para pemimpin kekuasaan namun ayah kurang sehat jadi ayah tidak bisa hadir."
"Menurut laporan yang Ayah dapat, putranya lebih cerdik dan juga cerdas dari Jason. Bahkan Jason sendiri sudah memutuskan semua waris kepada putranya itu."
"Princess kau harus berhati-hati dengan keluarga Dominic, memang keluarga Eroise tidak punya sedikit masalah dengan mereka. Namun mereka juga sangat berbahaya. Ayah tidak ingin kau terluka princess."
"Ayah kalau boleh tau siapa nama putra waris itu?" tanya Vallen penasaran.
"Namanya Albert Wiliaam Dominic, dia masih muda namun jiwa dan tubuhnya tidak bisa di sepelekan bahkan dia jauh lebih kuat dari Ayahnya sendiripun."
Vallen tetap saja tidak mengerti, namun setidaknya dia bisa berjaga diri dari kata Dominic itu.
"Ayah aku bosan di mansion ini, boleh aku keluar ayah?" tanya Vallen dengan hati-hati merayu ayahnya.
"Kau baru sembuh princess, kenapa kau tidak pernah senang berada di mansion ini humm?" tanya Gabriel karena memang sejak dulu Vallen gampang bosan.
"Suka ayah, tapi aku hanya bosan. Aku ingin keluar humm sepertinya makan di restoran mahal juga boleh. Bagaimana kalau dengan Ayah perginya. Itu tidak buruk, ayah masih terlihat keren dan belum terlalu tua juga." jawab Vallen memperhatikan wajah ayahnya bukannya makin tua tapi makin segar bugar.
"Nanti ayah pikirkan dulu, apa ayah sibuk atau tidak!" jawab Gabriel ingin menggoda putrinya.
Segera Vallen melepas tangan Gabriel karena sama saja, ayahnya memang selalu sibuk jadi kemungkinan tidak ada harapan untuk keluar.
"Haha seperti kau marah, kau lucu sekali princess. Baiklah bersiap telebih dulu kita akan pergi jika kau sudah siap." jawab Gabriel mengacak-acak rambut putrinya.
"Sungguh ayah? wah terimakasih banyak ayah." jawab Vallen.
__ADS_1
"Ayah aku ingin bertanya apa itu boleh?"
Vallen memikirkan sejak malam tadi. Dirinya menghilang, apa tidak ada pihak lain yang mencoba mencarinya atau bahkan di incar juga.