
Jennifer mencoba mencari informasi dia menyuruh orang detektif hebat pun sudah ada 3 hari juga belum menemukan infomasi tentang gadis kecil yang dia cari.
"Sialan, sebenarnya gadis itu orang atau setan sih kok susah banget di carinya. Mana gambarnya gak jelas lagi. Udah 15 tahun juga yang lalu pantes aja Albert kesusahan mencarinya. Awas aja kalau sudah ketemu aku akan memukulnya karena benar-benar menyusahkan." Jawab Jeniffer emosi dia duduk didepan mobilnya berhenti di tengah hutan di malam hari dengan menyalahkan lampu mobilnya sebagai penerangan.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat berisik berhenti didepan Jennifer dia tersenyum aneh seperti biasanya. Tidak ada yang tau senyuman itu, karena Vallen juga memiliki senyum yang sama dengannya.
"Apa sih lo." Jawab Jennifer tidak suka dengan Mosha.
Mosha dan Jennifer sudah saling kenal, yang pastinya mereka dulu sempat dekat tapi belum jadian karena ada tugas untuk Mosha yang cukup lama jadi dia menjauhi Jennifer untuk tidak menyeretnya lebih jauh lagi.
Tapi yang terjadi mereka sekarang sebagai musuh yang sama-sama kuat. Mereka tidak akur sama sekali, bahkan seperti orang asing yang tidak pernah bertemu juga membuat Jennifer muak dengannya.
"Tugas apa yang diberikan Albert untukmu Jenni, siapa tau aku bisa membantunya." Jawab Mosha tersenyum duduk di atas motornya.
'Mosha kan tau semuanya, kenapa aku tidak memberitahunya juga ya. Siapa tau dia mengetahui sesuatu.' Pikir Jennifer mencoba memanfaatkan Mosha.
"Albert sialan itu menyuruhku mencari gadis kecil 15 tahun lalu, bahkan kini orang-orang yang biasa melakukan dengan mudah kini terlihat sulit sekali. Bahkan bibi Clara juga ikut turun karena Albert terus tidak bisa menemukannya." Jawab Jennifer mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan Mosha.
"Ada informasinya?" Tanya Mosha merasa ini tugas mudah kenapa semuanya tidak bisa.
Jennifer melemparkan berkas yang dia bawa, Mosha menangkapnya dan membuka berkas itu. Terlihat foto dengan jelas orang yang dia kenal dia juga membaca sekolah yang dulu tapi tidak ada namanya. Mosha tersenyum karena ini tugas mudah dia baru saja melihat detik ini juga sudah tau.
"Oh ini." Jawab Mosha tersenyum membuat Jennifer gila.
Mosha dalam keadaan apapun senyum aneh bahkan sangat merinding bagi orang yang tidak mengetahuinya. Jennifer memutar mata malas pasti Mosha akan banyak bicara sampah dia turun dari mobil mengambil berkas dari tangan Mosha dengan kasar.
"Siapa dia bisa kau jelaskan?" Tanya Mosha penasaran.
"Yang pasti dia ini akan dijadikan istri untuknya oleh Albert, karena gadis nakal dari nona Eroise Albert tidak menyukainya dan kemarin dia berbuat kasar dengannya sehingga membuat gadis itu meminta untuk menjauhi Albert. Padahal dia cantik lho ah sayang sekali Albert bodoh malah mencari gadis sialan ini." Jawab Jennifer kesal lalu masuk ke dalam mobil malajukan mobilnya dengan cepat.
'Jadi Vallen benar-benar wanita yang dicari oleh Albert sendiri, ah lucu sekali. Bahkan dia memperlakukan Vallen seperti sampah dan mencari gadis lalu padahal sudah ada didepan mata. Seperti film yang romantis akan menunggu penyesalan dari prianya. Tidak sabar mendengar maaf dari mulut Albert pasti sangat lucu sekali haha.'
Mosha tersenyum puas tidak sabar menunggu fakta yang sangat ditunggu olehnya juga. Dia melihat sekitarnya ternyata ada yang mengikutinya juga kemungkinan dia akan memberi tahu informasi dengan Bart Barnes.
Mosha segera mengejar orang itu lalu dia menabraknya dengan motornya dan Mosha turun tersenyum memukulnya dan menancapkan pisau di perutnya lalu orang itu lemah dan pingsan.
Segara Albert menyuruh orang untuk membereskan orang didepannya, karena dia malas untuk mengotori tangannya tinggal menunggu sebenar orang itu datang membawa mobil lalu menyeretnya ke dalam.
"Kau tau aku tidak ingin kotor bukan? Aku akan mengirim imbalan nanti setelah kau sudah selesai membereskannya." Jawab Mosha lalu mulai mengendarai motornya untuk kembali.
__ADS_1
***
Vallen belum bisa tidur dia menghabiskan waktunya untuk latihan fisik karena dia bosan dengan berdiam diri saja. Setelah mendapat izin dari Gabriel Vallen berlatih dia memulai hal baru yang belum dia ketahui juga.
Vallen di balkon kamarnya menatap bintang di langit dan dia mengingat saat dia pulang bekerja dia pasti melihat bintang yang diatasnya untuk menemani dia di malam harinya.
Gabriel ingin bertemu dengan putrinya seperti dia butuh waktu sendiri, jadi dia memilih untuk keluar lagi dan tidak jadi menemuinya.
Crist melihat hal itu merasakan juga sejak kepulangan Vallen dari ziarah ibunya sangat berbeda sekali bahkan dia seperti princess yang ada di mansion ini sesungguhnya.
"Tuan apa yang terjadi dengan nona sendiri, sejak pulang dari makan kemarin dia banyak berdiam tuan. Saya khawatir dengan nona dan saya sudah menyelidiki sebelum terjadi dia bertengkar dengan tuan muda William tuan." Jawab Crist dengan Gabriel.
"Vallen meminta Albert untuk menjauhinya Crist, dia ingin hidup tanpa ada paksaan seperti itu. Karena Vallen mengira dirinya hanya dijadikan manfaat untuk mengambil kesempatan Albert yang segera menempati kepemimpinan seorang pewaris Dominic." Jawab Gabriel mulai mengerti perasaan putrinya.
"Bersama tanpa ada perasaan sangat sulit Crist, tidak bisa akan tentram hatinya karena perbedaan hati dan pikiran yang berbeda. Aku tidak ingin membuat putriku tertekan lagi." Jawab Gabriel lagi.
"Lalu bagaimana dengan permintaan tuan John lalu, yang ingin menjadikan nona sebagai cucunya juga." Jawab Crist ingin mendengar pendapat dari Gabriel sendiri.
"Aku kembali lagi dengan putriku, aku tidak bisa menentukan pilihan hidup princess. Biarlah dia menjalani hidupnya yang dia mau, kalaupun dia bosan di mansion ingin pergi biarkan Crist dampingi dengan dirimu untuk menjaganya." Jawab Gabriel mulai ingat membebaskan Vallen.
"Baik tuan muda saya akan mendampingi nona dan saya pastikan akan aman tuan. " Jawab Crist dengan siap.
"Baik tuan Gabriel, selamat beristirahat." Jawab Crist mulai meninggalkan Gabriel lalu menungu untuk berkeliling mansion lebih dulu memastikan keadaan aman.
Crist sebelum istrahat selalu mengecek keadaan mansion lebih dulu, walaupun selalu aman tapi tetap saja dia harus memastikannya sendiri.
Dia melihat nona muda Vallenrie sedang menikmati cake di piring duduk bersantai membaca buku juga. Sekarang Crist tidak mengkhawatirkan Vallen karena dia juga butuh ruang gerak.
***
Albert yang masih menuju jalanan pulang, dirinya sehari tidak fokus bekerja mengarahkan dengan perkataan Vallen yang dia dijadikan manfaat untuk mengambil kesempatan saja.
Flashback
"Aku tidak mau tau, intinya kau harus jauh dariku. Kalau kau tidak bisa melakukannya, biar aku yang melakukannya sendiri. Aku tidak mau ikut campur lagi dengan urusanmu lagi." Jawab Vallen sangat emosi.
"Tidak bisa, aku harus mengatakan berapa kali. Kau sudah masuk di Dominic jangan anggap kau akan tetap hidup kalau kau pergi dari Dominic juga." Jawab Albert penuh penegasan.
"Siapa kau berani berbicara denganku seperti itu? Kau pikir hanya. Kau yang punya hidup ha? Aku juga punya hidup bahkan kau harusnya bersyukur bisa lebih baik darimu, tapi kenapa kau malah tidak punya otak seperti ini yang terlalu mementingkan dirimu sendiri tanpa orang lain sekalipun." Jawab Vallen dengan penuh emosi bahkan air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1
"Terserah kau bicara apa, yang pasti kau harus denganku apapun caranya karna namamu sudah dicatat di keluargaku."
"Kau belum pantas jadi pemimpin Albert, bahkan kau bicara juga tanpa berfikir hanya omong kosong saja yang kau ucapkan sampah." Jawab emosi Vallen sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Kau pikir dengan namaku sudah masuk di keluargamu terus kau bisa mengambil kesempatan ini dengan memanfaatkan situasi yang ada begitu? Mau bermain belum jauh. Pergi aku tidak mau melihatmu lagi. Dan akan kupastikan ini terakhirnya aku melihatmu sialan." Jawab emosi Vallen lalu menghapus air matanya dengan kasar dan keluar dari kamar menutup pintu dengan kasar.
"Apa yang aku lakukan arhggggg... " Emosi Albert juga memuncak dia dituduh dengan memanfaatkan situasi.
"Padahal aku benar-benar suka dengan dia tapi kenapa malahan jadi seperti ini." Tanya dirinya kecewa.
"Memang paling benar dengan gadis kecilku, dimana dirinya." Dan Vallen tidak sengaja mendengar nama itu justru membuatnya semakin emosi dengan gadis kecil yang Albert maksud.
'Dia sudah mempunyai gadis kecil yang sedang dia cari, tapi kenapa keadaan terus memaksaku agar bersamanya. Aku tidak bisa bersama dengannya jika aku dengan jiwanya tapi pikiran dan hatinya bersama gadis yang dia cari.
Akan sangat menyakitkan kalau aku mengetahui, ini adalah kali pertama aku merasa patah hati dasar sialan Albert ini. Ingin sekali aku menghajar dirinya sialan.'
Vallen merasa dirinya sedang suka tapi tak terbalaskan. Apalagi yang di alami ini, membuatnya rumit sendiri dia bangkit melihat mansion sepi. Dia ingin keluar untuk mencari angin malam, dia bersiap menggunakan jaket dan celana panjang dia menggunakan sepatu juga lalu mengikat rambutnya serta memaki topi sudah seperti preman huh.
"Aku aku mencari hal baru kali ini, uh dengan siapa aku pergi? Oh Crist pasti bisa aku tidak mau membuat beban ayah bertambah jika bepergian sendiri."
***
"Memang nona sudah baikan?" Tanya Crist saat Vallen mengajaknya ke luar.
"Sudah Crist ayolah sebelum malam, aku tidak mau pulang pagi ih." Jawab cemberut Vallen sudah seperti anak kecil saja.
"Baik nona kita akan pergi sekarang juga." Jawab Crist mulai mengambil mobil dan Vallen hanya menunggu saja.
"Jangan bawa pengawal Crist, apa kau tidak bisa mengatasi sendiri. Kau mengkhawatirkan orang yang salah Crist." Jawab kesal Vallen karena mereka selalu mengutamakan keselamatannya padahal Vallen sangat mudah menghadapi mereka.
"Baik nona maafkan saya, mari masuk. Kalian semua tetap di mansion." Jawab Crist.
Mobil mereka segera berlaju kecepatan tinggi, Vallen melihat jalanan yang gelap yang sunyi juga dia ingin pergi membeli beberapa makanan yang ada tapi belum ada yang di minat sekalipun.
Dan dia ingin ke toko cake yang terkenal disana bahkan sangat menggoda sekali dari luar cake yang terpapanh jelas di matanya.
"Crist kita tunggu hingga ada yang baru matang ya, aku ingin yang masih hangat sepertinya enak sekali." Jawab Vallen.
"Baik nona saya akan memesannya, nona tunggu disini dulu." Jawab Crist meninggalkan Vallen yang duduk disana memesan cake dengan pelayan juga.
__ADS_1
'Sepertinya aku harus menulis hobi baruku, menyukai cake yang lezat ini. Sangat pas bahkan manisnya asli dari buah.'