
Setelah perdebatan hebat yang dilakukan Vallen dan Albert, akhirnya Albert mengalah dan marah dia membiarkan Vallen pulang.
Vallen diantar dengan orang mansion Albert tapi Vallen meminta uang lebih dulu dengannya dan memberikaneri banyak uang tapi Vallen hanya mengambil secukupnya.
"Pak berhenti di toko sebrang itu ya, toko bunga pak." Jawab Vallen senyum ingin membeli bunga, kalau ditanya untuk apa bunganya?
"Baik nona, sudah tiba silakan nona." Jawab supir ingin turun membuka pintu tapi dengan cepat Vallen menolaknya.
"Eh pak biar saya sendiri saja yang turun, bapak tunggu sebentar ya saya gak lama kok." Jawab Vallen segera turun memilih bunga yang menurutnya bagus dan cantik.
"Jadi Anda dekat dengan keluarga Dominic?" Tanya wanita muda dengan orang didepannya. Vallen tidak peduli tapi mendengarkannya juga.
"Iya dekat bahkan perusahaan kami sedang kerja sama dengan tuan muda Dominic juga lho." Jawab wanita seksi tersebut, namanya Rosa Talisa.
"Wah pasti sangat hebat bukan, seorang model bisa bekerja sama dengan keluarga mereka." Jawab wanita muda seperti temannya.
"Tentu saja, ini saya mau menjenguk nyonya Dominic yang kabarnya sakit." Jawab Rosa membawa rangkaian bunga.
"Semoga nyonya Dominic suka ya, kasih parfume yang banyak biar tambah wangi hehe." tawa mereka pecah dan Rosa segera masuk ke dalam mobil Vallen hanya menggelengkan kepalanya saja.
'Belum tau aja Albert kalau tau, dia terlalu membuat cerita yang bagus seperti di film dan juga di novel.'
'Tunggu jadi bibi Clara mengenal wanita itu dong, namanya tadi siapa ya.Bodoh deh, aku kesini cari bunga bukan ikut mikir lebih baik pulang saja.'
"Saya hanya ini saja, dan kasih juga bunga tabur mawarnya juga." Jawab Vallen kepada pegawai bunga tersebut.
"Ini nona terimakasih sudah datang kemari, semoga nona puas dan jangan lupa mampir kembali lagi." Senyum ramah penjual bunga tersebut, Vallen hanya menatapnya datar dan kembali ke mobilnya lagi.
"Kita ke mansion saya ya pak." Jawab Vallen setelah membeli bunga dia ingin pergi ke kuburan ibunya.
Ibunya di makamkan di tempat turun temurun dari keluarga Eroise banyak sekali asal usulnya, bahkan beberapa nenek enyang dan saudaranya juga tiada.
Hanya tinggal ada beberapa saja, tapi berbeda negara pastinya. Karena tidak ingin bersama apalagi menguasai serta berebut kuasa. Jadi mereka memilih untuk berpisah namun masih damai sejahtera.
"Terimakasih ya pak, ini ada sedikit lebihan buat bapak. Bisa beli makan juga." Jawab Vallen lalu masuk ke dalam mansion.
"Terimakasih nona muda Anda baik sekali terimakasih."
***
"Nyonya di depan ada putri Halton, bernama nona Rosa Talisa." Jawab pengawal yang sudah melaporkan kalau ada tamu ingin bertemu dengannya.
"Sedang apa dia kemari?" Tanya Clara yang menikmati pijatan dengan pelayan.
"Ingin bertemu dengan anda nyonya." Jawab pengawal itu.
"Suruh masuk saja, priksa jangan sampai ada kecurigaan juga." Jawab Clara.
__ADS_1
Rosa Talisa modeling kelas atas yang cantik, dulu Clara ingin dirinya dengan Albert tapi setelah mengetahui latar belakang jadi tidak akan terjadi.
Rosa dengan langkah takut mengikuti pengawal tersebut, terlihat Clara yang sedang meredam kakinya juga.
"Selamat sore nyonya Clara." Jawab Rosa mencoba akrab dengan Clara.
"Ya? Ingin bertemu denganku, Dominic tidak menerima tamu sebelum membuatnya janji Rosa." Jawab Clara cuek tidak suka.
"Saya hanya ingin memberi bunga dan menjenguk nyonya, kabarnya nyonya sakit karna pesta beberapa waktu lalu." Jelas Rosa karena dirinya tidak datang yang datang hanya ayahnya.
"Bawa kembali bunganya, dan pergi aku tidak ingin suamiku pergi sudah membawa tamu tidak diundang sepertimu. Pergilah!" Jawab Clara menatap sinis wanita di depannya.
"Eh... Uhmm baiklah nyonya saya akan pergi, selamat beristirahat nyonya." Jawab Rosa lalu segera pergi kembali pulang.
'Mansionnya sangat megah sekali, aku harus mengambil hari tuan muda Dominic agar bisa menjadi nyonya muda Dominic. Mereka sangat kaya sekali. Aku tidak sabar mansion ini juga menjadi milikku.'
'Benar kata Papa, kalau keluarga Dominic sangat berkuasa sekali. Untuk kesempatan kerja sama aku akan mencari perhatian yang lebih dengan tuan muda Dominic agar lebih dekat lagi.'
Rosa seperti gelap uang, apalagi melihat kemewahan mansion milik Dominic itu. Mansion Dominic ada tiga tempat yang pertama untuk John kakeknya lalu untuk Clara dan Jason juga tapi mereka memiliki mansion lain juga. Begitu juga dengan Albert yang ada di tengah mansion milik mereka.
Albert jarang kembali ke mansion Dominic karena dia kurang suka bergabung dengan mereka. Jadi dia tidak bisa menolak dan harus menurut juga.
***
"Dimana ayah?" Tanya Vallen dengan Cassie yang menyambutnya.
"Ayah....." Lirih Vallen lemas memeluk ayahnya.
"Anak ayah sudah pulang, ada apa sayang? Kau membeli bunga?" Tanya Gabriel melihat Vallen membawa bunga.
"Iya ayah, princess membelinya tadi. Ayah princess ingin bertemu dengan ibu, mau ayah mengantarkannya?" Vallen meminta izin karena tempat itu dijaga ketat bahkan di kunci oleh Gabriel sendiri.
"Iya sayang, ayo kita kesana. Crist kita ke pemakanan sekarang, yang lain bersiaplah." Jawab Gabriel tegas lalu Vallen hanya mengikuti kemauan ayahnya juga. Dia ingin bertemu dengan Ibunya.
Tiba di pemakaman, makam yang cantik dan terawat keluarga Eroise sangat rapi. Bahkan bukan seperti makan ini lebih ke taman yang indah menurut Vallen.
Tertulis batu nisan Yasmine Eroise, Vallen mengusap nisan ibunya. Dia memberi bunga taburan yang banyak dan cantik pastinya. Dia juga membeli buka berbeda yang dia suka, karna Vallen yakin apa yang dia suka ibunya akan ikut menyukainya.
"Ibu, ini Vallen. Maaf ibu aku baru bisa kemari sekarang, sekarang aku masih menjadi princess ayah ibu. Oh ya, aku minta maaf karena ibu harus berjuang menaruh nyawa yang berharga untukku. Maafkan aku bu, yah... " Jawab Vallen meneteskan air matanya melihat Gabriel yang disampingnya dengan tersenyum.
"Ibu tau tidak, ayah Gabriel ini orang hebat bahkan sangat hebat. Ngomong - ngomong ibu bertemu dimana sih? Biar Vallen juga dapat pria seperti ayah Gabriel ini hehe.. " Vallen bercandai dirinya dengan tanpa balasan karena menurut Vallen sekarang hidupnya sulit sekali daripada dulu.
"Sudah ya ibu, Vallen pulang dulu. Ibu yang bahagia disana, Vallen sayang sama ibu. Miss you mom." Jawab Vallen mencium batu nisan Yasmine dan kembali ke mansion karena hari mulai petang.
"Jadi princess meminta Albert untuk menjauhi princess?" Tanya Gabriel terkejut dengan keputusan yang putrinya ambil.
"Iya ayah, Vallen gak mau dijadikan topeng untuk dekat dengan Albert agar dia segera mendapatkan tahta kekuasaan Dominic secara penuh."
__ADS_1
Menurut Vallen, Albert hanya memanfaatkan situasinya saja dia terlihat tidak memiliki perasaan dengan Vallen. Walaupun begitu Vallen juga wanita, gampang perasa tentunya jadi kemungkinan dia baper lebih dulu daripada Albert sendiri.
"Baiklah sayang, apapun keputusan princess ayah akan dukung terus. Kebahagiaan putri ayah nomor satu dari hal apapun sayang." Jawab Gabriel memeluk putrinya kini.
"Tangan kamu kenapa princess?" Tanya Gabriel karena bekas goresan nadi yang kering.
"Luka kecil ayah, Vallen sering ngalami ini bahkan kemarin Vallen lengah hingga tidak sadarkan diri sampai malu banget rasanya yah." adu Vallen malu dengan Albert baru begini sudah pingsan.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Gabriel tajam dan tegas membuat Vallen tersenyum lucu.
"Anak kecil yang sedang sakit mental ayah, dia memang suka melihat orang lain bedarah ataupun terluka. Vallen dulu sempat ingin membunuhnya tapi kasihan ayah, jadi Vallen biarkan eh kemarin bertemu sialan dasar." Kesal Vallen saat mengingat kejadian kemarin.
"Yang nolong Albert?" Tanya Gabriel langsung.
"Iya ayah, Albert yang nolongin. Dia juga membalas perbuatan anak itu dengan mengirim orang yang sama gangguan mental juga tapi pastinya yang lebih kuat. Terus berakhir bagaimana Vallen juga tidak tau."
"Memang kamu ingin mengetahui sayang?" Tanya Gabriel menggoda putrinya.
"Tidak, Vallen lebih dulu meminta dia menjauhi Vallen atau aku sendiri yang akan jauh darinya juga tidak masalah ayah."
"Kamu ini sangat suka melihat orang kesal." Tawa Gabriel pecah.
Vallen meminta hal itu antara bercanda tau benar namun memang benar alasannya. Tapi dia yang penting sekarang sudah jauh dari mereka. Dia hanya di jadikan topeng untuk mengambil kekuasaan yang ada.
***
Albert masih mengerjakan pekerjaan yang sangat banyak di ruang kerjanya, hingga John datang ke mansion kalau John sudah datang artinya sangat penting.
"Boy sibuk sekali bahkan kakek datangpun kau tidak menyapanya." Jawab John tersenyum melihat cucunya yang bekerja keras sekali.
"Boy tau kakek, ada apa?" Tanya Albert tetep fokus dengan layar komputernya.
"Kenapa kau selalu kasar dengan putri Eroise boy? Kalau kau tidak suka dengannya, jangan dekati dia lagi mulai sekarang." Perintah John sangat sulit untuk Albert tiba-tiba menatap John meminta penjelasan.
"Kakek dengar kau ingin dekat denganya hanya karena kami menyuruhmu untuk menikah bukan? Bukan berarti kau memanfaatkan dirinya seperti itu boy. Bagaimana juga wanita itu memiliki perasaan." Jawab John mulai menasehati cucunya.
"Boy memang tidak suka dengannya, boy akan menjauhinya juga." Jawab boy singkat.
"Kau benar ingin menjauhi dirinya?" Tanya John memastikan omongan Albert sendiri.
"Iya kakek memang kenapa. Apa keistimewaan dirinya kek? Hanya karena dia putri Eroise? Atau apa? Oh atau Gabriel merupakan pasukan khusus yang mangabdi untuk kakek dulu?" Jawab Albert meremehkan John.
"Jangan membawa yang sudah terjadi boy, bahkan aku tidak pernah mengajarimu seperti itu." Jawab John dengan tajam.
"Boy tidak mau dengannya, boy ingin dengan gadis kecil yang boy cari bukan gadis nakal seperti dirinya." Jawab Albert lalu John mulai pergi dari hadapan cucunya.
'Kakek tunggu penyesalan kamu boy, bahkan aku sudah berusaha menemukan gadis yang kau cari kini malah kau kasari.' John tersenyum dia segera kembali ke mansion lagi karena harus beristirahat saat sudah malam.
__ADS_1
"Tidak mom, kakek selalu saja ingin dengan gadis itu. Sebenarnya siapa gadis itu? Terlalu maksa sekali berurusannya."