
Dan benar saja. Albert tiba-tiba meminta Mike untuk mencari Vallen secepat mungkin, dia sudah membawa Vallen masuk di keluarga Dominic jadi kemungkinan yang ditakuti Albert akan mengincar Vallen.
Vallen dari kejauhan melihat Albert yang seperti orang mencarinya bahkan membuat Vallen menikmati cake yang dimakannya dan minum yang diberikan tadi.
Vallen mulai merasakan aura mematikan di dalam ruangan ini sepertinya memang sengaja akan terjadi sesuatu namun Vallen tersenyum licik saat seseorang menatapnya.
Bahkan orang tersebut juga menatap Vallen dengan liciknya. Ingin sekali Vallen menghajar pria itu dengan cepat tapi dirinya harus menjaga imagenya disini. Tidak mungkin sifat gelandangannya keluar. Apalagi baju yang dia kenakan juga sangat terbuka dia bisa merasakan dinginnya suhu didalam ruangan ini.
'Pesta apa ini, bodoh sekali Paul Sean itu. Dia mengira aku akan takut apa dengan semua orang melihat dan menatapku seperti itu. Ini sangat menyenangkan bodoh.'
'Sepertinya Oliver memang menyukai Albert ku kira tadi Albert bersedia berdansa dengannya ternyata salah.'
"Boleh saya duduk denganmu?" Suara pria mengagetkan Vallen meminta izin duduk dengannya.
Vallen melihat malas wajah pria menyebalkan ini, begitupun dengan pria tua bersamanya. Tapi Vallen dengan senyuman yang aneh seperti biasa mengizinkan mereka duduk.
"Duduklah, kebetulan aku sendiri jadi tidak masalah untuku." Jawab Vallen masih menikmati cake yang dia makan.
"Kau cukup berani nona, siapa namamu?" Mosha tersenyum memperhatikan Vallen yang sangat cantik sekali.
'Bajiangan ini berani sekali menggodaku awas saja aku akan memberi pelajaran untukmu.' batin Vallen tersenyum ke Mosha.
"Vallenrie, penjaga toko kue di sebrang lampu lalu lintas." Jawab asal Vallen membuat Mosha ingin tertawa namun dia menahannya dan membuat Bart bingung apa wanita ini sedang membodohi nya.
"Kau bercanda nona?" Tanya Bart langsung karena sangat penasaran.
"Kalau tidak percaya kau bisa menghubungi mereka langsung bertanya atas nama Vallen." Jawab Vallen tenang sekali.
"Hubungi toko kue di sebrang lalu lintas." Jawab Mosha menyuruh Aaron langsung mencari data informasi teryata benar.
"Benar tuan, dia penjaga toko kue di sebrang lalu lintas. Bahkan mereka juga mengatakan kalau dirinya tidak masuk kerja karena pergi ke pesta temannya." Jawab Aaron menampilkan bukti nyata sekali.
Vallen seketika tersenyum dan tertawa berpikir mereka ini sangat bodoh atau bagaimana dasar orang tua pikirnya.
"Anda baru bisa percaya kalau ada bukti ya? Padahal berbohong itu tidak baik bukan begitu tuan?" Tanya Vallen dengan Aaron.
"Kau memiliki mental cukup kuat nona." Jawab Mosha.
__ADS_1
"Bagaimana berdansa denganku, untuk lagi ini?" Tanya Mosha menyalurkan tangannya dan Vallen melihat Albert sedang memperhatikan lalu menerima tangan Mosha.
"Untuk penjaga kue tidak masalah jika harus berdansa denganmu." Jawab Vallen mulai berdiri dan mengikuti Mosha ke area karpet dansa.
Mereka menjadi sorotan, bahkah Albert ingin sekali memukul wajah Mosha. Sedangkan Clara dan Jason menahan senyumnya karena Vallen cukup berani menghadapi Bart Barnes langsung bahkan sangat berani mengambil resiko yang akan terjadi kedepannya.
Mereka berdansa sesuai lagu dan irama terlihat jelas kesalnya Oliver karena Mosha juga bisa tertarik dengan wanita ****** itu.
"Aku ingin sekali melihatmu dengan dekat nona Eroise." Jawab Mosha pelan tidak ada yang mendengar karena suara musik sangat bermain juga.
"Aku tidak suka di panggil Eroise sialan." Jawab Vallen tidak suka.
"Hari ini kau cantik Vallen, bahkan aku ingin sekali tertawa saat melihatmu membuat Oliver kesal."
"Wanita itu hanya bergantung pada Paul saja, dia tidak memiliki keberanian sepertiku dan tidak akan bisa juga sih. Tapi dia telalu bermimpi sangat tinggi hingga menyandingkan aku dengan dirinya. Karna sudah pasti jawabannya sangat jauh bukan." Jawab Vallen berputar saat Mosha mengangkat tangannya.
"Tentu saja, kau sangat berani. Bagaimana harimu dengan Albert?" Tanya langsung Mosha tersenyum penuh maksud dengan sengaja Vallen langsung menginjakkan kakinya Mosha.
Sangat sakit? Tentu karena Vallen memakai heeals kaca Mosha hanya bisa berdiamnya.
"Tidak akan terjadi nona, terimakasih untuk satu lagunya." Mosha mengakhiri dansanya lalu memberi kecupan singkat di tangan Vallen.
Dengan sengaja Vallen mengusapnya dan menatap tajam Mosha yang terseyum penuh kemenangan.
Mosha dan Vallen sepupuan, karena ibu mereka bersaudara. Tapi Albert tidak mengetahui kalau mereka bersaudara karena ini adalah rahasia yang tidak ada yang tau. Bahkan Eroise sudah menutupnya sangat rapat. Kalaupun Albert menyelidiki juga pasti jawabannya tidak mengenalnya bukan.
"Kau bahkan menerima dansa dari pria lain." Jawab Albert tampak kecewa saat memperhatikan Vallen berdansa dengan Mosha.
"Kau yang pergi dengan Oliver aku tidak masalah." Jawab Vallen lalu duduk di bangku yang sudah disiapkan oleh Mike untuknya.
"Kau membuatku kesal." Jawab Albert melihat kebawah Vallen melepaskan sepatunya dan terlihat merah bagian kaki Vallen tentu saja sakit bukan.
Memang Vallen bisa menggunakan heels dengan mudah dan menurutnya juga gampang tapi karna dia tidak terbiasa ya pasti kakinya merah dan lecet.
Bahkan Albert tersentuh jiwanya, dia tau kalau Vallen pertama kalinya kesini namun sudah banyak orang bicara yang tidak masuk akal dengannya. Tapi Vallen menerimanya dengan enjoy.
"Kau tidak sakit hati mereka membicarakanku yang tidak tidak." Jawab Vallen menatap Albert seperti meminta dukungan.
__ADS_1
"Kau sakit hati?" Tanya balik Albert.
"Hmm tidak aku sudah biasa, bahkan aku juga hampir menjadi ******."
Vallen mengingat saat itu ada orang yang menawarkan pekerjaan dia mengira orang itu tulus ingin membantunya namun ternyata salah dia malahan menjebak Vallen dengan pria kaya raya yang menyuruh untuk melayani pria tua mabok.
Vallen yang sudah dikunci di dalam kabar langsung menghajar pria tua yang tepar hingga dia memukulnya dengan vas bunga. Berhubung kamar hotel saat itu kedap suara dia lari dari balkon lantai 13 sangat tinggi tapi dia berhasil lari.
"Kau masih mengingat wajahnya?" Tanya Albert.
"Tidak aku lupa, mungkin sudah mati aku tidak tahu." Jawab Vallen.
"Boy, jaga wanitamu. Sebentar lagi." perkataan Jason dan Clara juga sudah mempersiapkan diri, sedangkan Vallen mendengar mengenakannya sepatunya dan bersiap juga.
Mike dan Crist yang berpura-pura menjadi pelayan pesta juga bersiap didekat Vallen.
Dan benar saja selang beberapa detik suara tembakan keluar begitu saja, bahkan tamu-tamu mereka berlari ke sana kemari. Vallen melihat arah itu dan tersenyum.
'Sangat bodoh.' batin Vallen lalu Albert menarik tangan Vallen.
"Ayo kita pergi...." Jawab Albert langsung menarik Vallen.
Tiba-tiba lampu gantung bergoyang saat Clara siangan, Vallen berlari mendorong Clara.
Pyarrrrrrr.... Lampu gantung jatuh dan pecah begitu saja. Clara sangat syok saat Vallen mendorongnya terlihat kaki Vallen terdapat luka memang kejadian ini sengaja mengarah ke Dominic.
Jason dan Albert membantu mereka namun dengan cepat Vallen menyuruh mereka untuk diam saja.
"Berhenti disana." jawab Vallen segera meminta Crist melemparkan pistol.
Dan Vallen menembak point untuk menghancurkan apa yang seharusnya dihancurkan. Vallen menembak orang diatas yang sudah menarik tali lampu tadi.
Dorrrrrr dorrrr....
Orang itu santai sepertinta posisinya kan aman namun salah, dia tertembak di tangan Vallen dan dia jatuh dari lantai atas dan tubuhnya mengeluarkan darah.
.
__ADS_1