Tuan Muda Tampan Yang Kejam

Tuan Muda Tampan Yang Kejam
Jauhi Aku atau Aku akan Menjauh


__ADS_3

"Aku tidak boleh bodoh berdiam seperti ini saja. Aku harusnya pergi dan menjauh darinya juga. Aku tidak ingin dia mendekatiku hanya karena ingin kekuasaan Dominic jatuh di tangannya."


"Ya benar aku harus pergi aku tidak bisa diam saja. Tapi bagaimana caranya."


Vallen berdiri melihat sekeliling ruangan ini seperti di film horor yang menyeramkan untuk orang lain. Baginya ini tidak ada apa-apanya. Dia melihat kaca serpihan lalu mengambilnya dan mencoba memikirkan bagaimana membuat gembok itu terbuka.


Dia melihat kawat yang sudah berkarat lalu mencoba membukanya dan berhasil. Tidak lupa dengan senyum yang meremahkannya juga karena sangat mudah untuknya.


Tapi dia tidak bisa lari begitu saja karena banyak sekali pengawal yang berjaga disana, dia harus mengelabuhi orang-orang di depannya.


Dia melihat lubang yang terhubung oleh sofa kursi dan melihatnya adalah pekarangan hutan. Dia tersenyum seperti tidak masalah untuknya bermain - main.


Dia keluar dari sana tidak lupa membenarkan posisi kursinya agar masih tertutup lalu dia lari dengan pelan karena kakinya masih terluka jadi dia hati - hati.


"Untung saja aku memakai sepatu jadi mudah bagiku." Jawab Vallen segera berlari dirinya tidak membawa ponsel akan sangat kesulitan mengirim pesan untuk meminta bantuan.


"Mudah sekali Vallen, jangan pernah berharap apapun. Nikmati hidupmu dengan petualangannya yang menyenangkan ini." Jawabnya lalu melihat seperti orang sering melewati daerah ini.


"Sepertinya ada penghianat di Dominic uh tidak sabar mengungkapkannya." Jawab Vallen.


Karena tentu saja keluarga Dominic bukan keluarga sembarangan, siapa juga yang berani keluar masuk dengan wilayah seperti ini. Apalagi Vallen baru saja menemukan celah. Jadi kemungkinan ada orang yang berani bermain - main dengan mereka.


Vallen masih berjalan terlihat matahari sudah tenggelam kemungkinan ini malam, dirinya lapar belum makan tapi tidak masalah juga.


"Aku harus cepat sebelum malam tiba, akan sangat sulit mencari tapak jalan seperti ini." Vallen sedikit berlari dan melihat tiba-tiba ada suara motor lewat.


Dia segera bersembunyi dan motor itu menuju dimana dia berasal dia mengenali motor itu, tenyata motor Mosha anak sialan itu.


'Oh ternyata sialan itu yang sudah berani masuk keluar, lumayan cerdik juga tapi bodoh tetap.' batin Vallen masih berdiam hingga menunggu motor itu berhenti tidak besuara.


Dia terus berjalan dengan hati - hati karena bisa di lihat banyak sekali jebakan sekali besi tajam.


Dia akhirnya tiba di jalanan yang sangat sepi, dia melihat mobil lalu segera bersembunyi seperti dia mengenali mobil itu punya Albert sialan. Vallen tersenyum, ingin sekali memukul pria sialan itu.


Dia segera pergi tiba-tiba ada wanita  membawa mobil jeep menghampirinya lalu tersenyum dengannya. Vallen hanya biasa saja terus berjalan saja.


"Nona masuklah!" Jawab wanita itu Vallen seperti mengenali suaranya dan wanita itu tersenyum licik dengannya.


Vallen lalu masuk ke dalam mobil tersebut, dia melihat hanya wanita itu sendirian. Sepertinya usianya lebih tua darinya, tapi Vallen belum enggan berbicara juga.


"Siapa kau?" Tanya Vallen dengan penasaran.


"Oh aku? Jennifer Alexandria nona Eroise." Jawab wanita itu bernama Jeniffer.


"Kau mengenalku?" Tanya Vallen curiga dia wanita ini mengenalnya.


"Iya, kau nona Eroise yang nakal. Kau sedang apa dihutan belantar seperti ini." Tanya Jenni sinis.

__ADS_1


"Aku dikurung dengan Albert lalu aku pergi agar tidak ketahuan tapi malahan bertemu denganmu." Jawab malas Vallen.


"Oh ternyata anak itu membuat ulah denganmu, bahkan gadis cantik seperti ini tega dikurungnya. Tenang saja aku akan membuat dia kewalahan mencarimu." Jawab Jenni dengan senyuman memikirkan cara.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Vallen penasaran.


"Namaku Jenni nona, aku orang Dominic sendiri. Aku juga sudah termasuk berteman dengan Albert sejak kecil juga tapi dia sangat dingin tidak peduli dengan wanita. Hanya orang-orang yang sudah dikenalinya saja. Bibi Clara menganggapku seperti keluarga juga, jadi aku tidak akan berani macam - macam dengannya juga." Jelas Jenni sambil mengemudi mobilnya.


"Kau calon nyonya muda Dominic bukan?" Tanya Jenni langsung menohok ke Vallen.


"Tidak minat sama sekali." Jawab Vallen cepat karna dia memang tidak ada niatan menjadi calon nyonya dari keluarga Dominic sendiripun.


"Sayangnya kau tidak bisa lari darinya gadis nakal, Albert bahkan sudah didepanmu." Jawab Jennifer tersenyum paksa melihat Albert didepannya mobilnya.


Albert yang mendapatkan laporan kalau Vallen lari langsung bergerak cepat, dan mengatahui kalau Jennifer yang membawanya juga.


"Sialan kau menjebakku." Jawab Vallen dengan Jennifer.


"Maafkan aku nyonya Dominic." Jawab Jennifer tersenyum, melihat keberanian yang ada di Vallen sangat luar biasa sekali.


Apalagi Vallen masih muda, tapi kekuatan yang dia miliki luar biasa. Dia wanita yang berbahaya untuk orang yang menilainya gampang.


"Kau melakukan pekerjaan dengan baik Jennifer." Jawab Albert lalu membuka pintu mobil Vallen, dengan malas dan diam Vallen turun langsung Albert menarik tangan Vallen dengan paksa pastinya membawa ke dalam mobilnya.


"Vallen duduk dengan nafas kasarnya, dia mencoba untuk biasa saja dan berdiam."


Vallen lari menghampiri anak itu, anak itu ketakutan lalu kabur hingga terjadi aksi kabur- kaburan dari mereka.


"Kau melakukan apaa?" Tanya Vallen tajam dengan anak kecil itu yang tinggi badanya ke dada Vallen.


"Tidak ada urusannya denganmu wanita ******." Jawab anak itu mengabaikan Vallen.


"Kau dibayar dia berapa hingga mau membunuhnya?" Tanya Vallen geram sekali.


"Dia menipuku, jangan ikut campur pergilah." Jawab anak kecil itu mengeluarkan pisau kecil dihadapan Vallen.


"Kau dari dulu selalu menyebalkan gadis sialan." Jawabannya mencoba mencelakai Vallen dengan cepat dia mengambil pisau itu.


"Tentu saja aku menyebalkan, sudah ku katakan kau tidak boleh melakukan hal kejam itu." Jawab Vallen dengan sedikit keras suaranya.


"Kau banyak bicara wanita ******." Vallen yang sudah emosi sampai tidak sadar anak pria itu mengiris tangannya. Albert yang melihat segera memukul anak itu hingga tersungkur.


Vallen hanya mematung syok dia mengiris tangannya di nadinya pas hingga kehilangan kesadaran.


"Mike bawa bocah ini ketempat bisa. Jangan sampai dia kabur." Jawab Albert menggendong Vallen menuju mansionnya.


Dokter mulai memeriksa untung Vallen tidak kehabisan darah karena anak yang melakukan itu mempunyai keinginan untuk membunuh dengan cepat.

__ADS_1


Albert menatapnya datar, Vallen ini benar-benar menyusahkan menurutnya tapi bagaimana juga dia harus mengawasinya sendiri. Dia ke ruang kerja mengambil laptop dan beberapa dokumen dikerjakannta di depan Vallen sendiri agar tidak lari lagi.


"Tuan muda, sepertinya anak kecil yang dikatakan dokter benar. Dia mempunyai latar belakang sering menyisakan orang tidak bersalah dan melihat darah menjadi kebahagiaannya. Dia akan menyakiti orang yang sama dengan bermain di tangannya dekat dengan nadi." Jelas Mike setelah menyelidiki anak pria tadi.


"Kau cari orang yang sama dan beri dia uang yang banyak, agar membuatnya jera juga Mike." Jawab Albert dengan tajam.


"Baik tuan muda saya permisi lebih dulu, tuan John berpesan agar Anda tidak terlalu kasar dengan nona Eroise sebelum Anda menyesal tuan." Jawab Mike menyampaikan pesan dari John.


"Tidak butuh saran dari siapapun, aku bisa melakukanya sendiri." Jawab Albert masih sombong juga.


Mike lalu segera keluar, karena Albert masih dalam kondisi buruk. Tentu saja buruk, niatnya dia ingin membuat Vallen menurut merenungi kesalahan kalau sudah menyesal Albert akan kembali tapi faktanya dia kabur dan berakhir dengan orang tidak jelas yang sudah berani menyakitinya.


Albert menatap Vallen, kini dia jelas sakit tidak bohong seperti kemarin. Dia mendekati diri Vallen terlihat wajahnya cantik tapi sedikit pucat membuat Albert tersentuh.


Dia membuka ponselnya menelpon Jennifer untuk segera ke mansionnya tapi tidak diangkat lalu mengirim pesan.


Albert menuju ke tempat bawah tanah pelatihan khusus untuk pengawal lalu dia menemui Jennifer yang sudah menunggu disana.


"Sudah selesai tugasmu?" Tanya Albert dengan Jennifer.


"Seperti yang kau lihat, sangat mudah untukku. Dan juga mendapatkan kejutan gadis cantik sepertinya itu, darimana kau menemukan gadis nakal itu?" Tanya Jennifer menghembuskan asap vape didepan Albert.


"Rahasia, kau tidak perlu ikut campur." Jawab Albert seperti tidak suka jika miliknya di ketahui orang lain.


"Baiklah, aku akan mencaritau sendiri. Sangat mudah juga." Jawab Jennifer membuka ponselnya.


"Vallenrie Varonika, putri Eroise yang telah menghilang lalu dia kehilangan ingatannya selama 2 tahun dia telah pergi dari mansion karena Eroise takut Vallenrie diketahui oleh musuh. Dia ditemukan tepat pertama kali Albert William bertemu untuk pertama kalinya. Sekarang dia mengincar nona Eroise untuk dijadikan kekasih oh maaf salah dijadikan nyonya muda Dominic." Jawab Jennifer membaca informasi singkat tentang Vallen.


"Cihh kau memanfaatkan keadaan untuk mengambil kesempatan agar tahta kekuasaan segera di tanganmu."


"Jaga bicaramu Jenni, aku tidak mengambil kesempatan apapun. Dia akan menjadi nyonya muda Dominic tapi butuh waktu lama aku ingin menikah dengan cinta bukan dengan hal lain." Jawab Albert tidak suka pemikiran Jennifer.


"Oh lalu bagaimana dengan gadis kecil kau cari tuan muda." Bisik senyuman Jenni membuat Albert menatapnya tajam.


"Kalau kau bisa mencarinya, aku tidak akan dengan gadis nakal sepertinya." Jawab Albert lalu  berdiri meninggalkan Jenni.


"Apa jaminannya kalau aku menemukan dia?" Tawar Jenni dengan Albert.


"Pulau pribadiku untukmu." Jawab Albert segera meninggalkan Jennifer sendirian.


"Pulau Pribadi? Uh cukuplah tapi sangat sulit sepertinya mencari gadis itu. Aku harus memecahkan masalah ini. Tidak ada yang sulit untuk seorang Jennifer Alexandria sendiri bukan." Lalu Jennifer memutuskan untuk tinggal di mansion Albert kali ini.


"Gadis ini akan selalu begini terus aku harus mencari cara agar dia berubah tidak seperti preman pasar ini."


"Kau mengira aku preman pasar?" Suara tiba-tiba Vallen bangun tidak rela di bilang preman pasar.


"Tolong jauhi aku, aku tidak mau berurusan denganmu lagi." Jawab pelan Vallen karena tidak ingin dengan Albert lagi seketika membuat Albert diam saja tidak membalas omongan.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Baiklah aku yang akan menjauh saja tidak masalah." Jawab Vallen memejamkan matanya tubuhnya lemas sekali rasanya.


__ADS_2