
3 wanita, 1 pria tampak melangkah tergesa-gesa memasuki rumah sakit.
"Bagaimana Pa!" Tanya Shinta ingin mengetahui perkembangan kondisi Airin terkini.
"Masih sama sayang! Nona Airin masih kritis!" Lirih nya.
"Airin!" Shinta langsung terduduk lesu si bawah, kakinya gemetar tak berdaya ini kali pertama melihat sahabat nya harus terbaring sakit dengan semua selang yang menopang kehidupan nya.
"Airin!" Tubuhnya dengan sigap menopang tubuh Mamanya, kala sang Mama juga akan luruh ke lantai, melihat bagaimana kondisi Airin yang cukup memprihatinkan.
"Ma tenang ya! Airin pasti kuat!" Ucap Elang sekuat tenaga untuk kuat, menahan agar air matanya tak menetes dan membuat sang Mama dan orang di sekitarnya menjadi semakin sedih dan terpuruk.
"Shinta sayang duduk dulu yuk!" Ucap Mama Rina menuntun putri kesayangannya untuk duduk.
"Yang sabar ya! Airin pasti kuat! Dia pasti bisa melewati ini semuanya!" Sosok ibu yang begitu peduli dengan perasaan putrinya, mengusap lembut punggung sang putri yang masih terisak.
"Sabar ya! Sinta harus doain Airin ya!" Lirihnya lagi.
"Pa! Ganti baju mu dahulu, bersihkan. aku sudah menyiapkan disini!" Ucap Mama Rani pada suaminya.
"Tapi ma..."
"Mama ada disini, dan Mama akan menjaga Airin pa!" Ucapnya meyakinkan.
"Baiklah titip Airin ya Ma!" Meriah paper bag yang diberikan oleh sang istri.
...****...
Kelopak matanya tampak menghitam, semalaman matanya tak bisa terpejam dengan sempurna, perasaannya tak karuan mengingat keselamatan Airin.
Handphone pipih nya sudah puluhan kali menelfon Elang namun pemuda ini enggan untuk mengangkat.
Sialan! Bocah ingusan itu kemana! Kenapa tak mengangkat telfon ku! tanyanya mengumpat kesal.
Kakinya melangkah keluar, entahlah ia harus berjuang lebih dulu mencari Airin,
"Kenapa kau ke rumah ku!" Ucap Uncle Angga sengit pada Clara yang tampak tak tau malu bertamu sepagi ini di rumah sang dokter.
"Kenapa kau tak datang ke cafe waktu itu! Kau tak mau lagi mengetahui informasi Identitas petinggi Dirgantara!" Tanyanya sebal.
"Airin lebih penting bagiku!"
"Hahahaha.... Penting! Karena wajahnya mirip dengan mantan tunangan mu, dimasa lalu!" Tawa sindiran remeh itu di layangkan oleh Clara.
"Apa maksudmu!"
"Kau terlalu licik untuk itu dokter!"
"Aku tak mengerti maksudmu!"
__ADS_1
"Senja! Kau masih mencintai wanita yang bahkan sudah menjadi istri orang lain! Dan perempuan itu sudah Mati!!!! Mati!!!!"
"Kau tau dari mana semua itu!"
"Sangat mudah untuk aku mengetahui semua tentang mu!" Remeh nya.
"Awas jika kau memberitahu Airin tentang ini! Ku peringatkan jangan ikut campur urusan ku!"
"Kau mengancam ku?"
"Ya aku mengancam mu! Jangan berani datang dan mengusik hidupku lagi!"
"Kau gila! Airin dan Senja berbeda! tapi kau mencintai Airin karena bayang-bayang Senja!"
"Apa urusan mu! Ya memang aku mencintai Airin dalam bayang-bayang Senja! Dan apa peduli mu!"
"Melaporkan pikiran gila mu pada Airin!"
"Katakan saja! Airin tak mungkin percaya padamu!" Sindirnya.
"Terimakasih! Ini bukti yang cukup untukku!" Ucapnya Clara mematikan perekam suara di handphone miliknya.
"Kembalikan! Kau menjebak ku!"
"Kau pikir sendiri cara mengelak dan menjelaskan ini semua!" Ucap nya berlalu pergi.
...****...
"Ma.... " Panggil Pak Surya pada sang istri.
"Kau.... tau dimana aku disini?" Ucapnya gugup kalau sang istri terus melangkah mendekatinya.
"Kau salah Pa! Kau salah mendidik nya!"
"Tapi dia adikku Ma! Hanya dia yang ku punya di dunia ini! Almarhum Ayah dan Bunda menitipkan nya padaku!"
"Aku tau! tapi tak semua tindakan kejahatan nya kau benar kan Pa! bukan begini caranya melindungi!"
"Tapi...
"Aku lebih senang hidup sederhana dengan mu Pa! tak seperti ini, semua hasil yang kau dapatkan dengan cara merampas semuanya yang bukan hak mu karena adikmu ini yang menyuruh!"
"Ma aku... "
"Apa yang kau dapatkan? Ikhlaskan adikmu untuk menebus semua tindakan yang telah di lakukan nya Pa!" Entah sudah berapa kali, Mama Rika, selaku istri dari Pak Surya menasehati suaminya ini.
Cinta memang membutakan seseorang? Menjaga boleh tapi tak berarti membenarkan semua tindakan nya, keluarga adalah hal yang berharga, tapi jika ada kekeliruan hendaknya kita menasehati, bukan menelan mentah semuanya lalu mengikutinya.
...*****...
__ADS_1
"Bagaimana Airin?" Tanyanya khawatir pada Elang, tak lama setelah pertemuan nya yang tak sengaja dengan Clara akhirnya Elang memberitahu keberadaan Airin.
"Masih kritis!" Ucapnya lirih dengan gelengan kepala.
"Apa!" Ucap nya kaget langsung terduduk lemas.
"Kita tak becus menjaga putrinya Angga! Senja pasti kecewa dengan kita!" Celetuk Mama Nina masih terisak.
"Apa maksudmu?"
"Dialah yang selama ini kita cari!" Tunjuk nya pada ruang inap Airin yang masih belum bisa di kunjungi oleh siapa pun.
"Jadi? Airin?"
"Ya, Baby Ay!"
Kepingin memori, dimana ia semena-mena terhadap Airin, menolong dengan pamrih dan membuatnya terlibat pada kontrak perjanjian gila itu.
Senja... Aku bodoh! Lagi-lagi bodoh! Maafkan aku! Tangan ku telah menyakiti anak mu Senja, putri kesayangan mu! Maafkan aku!
Akhirnya air mata itu luruh ke lantai tanpa di minta.
Pakaian steril ia kenakan di seluruh tubuhnya, kaki Angga melangkah masuk kedalam ruang inap itu, dengan begitu gontai, ia akhirnya sampai di samping ranjang Airin.
Semua terpasang di tubuhnya, tangan dingin wajah pucat. diraihnya tangan itu dan sesekali menciumnya penuh sesal.
Bangun Airin! Bangun! lihatlah aku mencium tangan mu! Kau harus marah dan memukul ku! kau harus mengatai ku Uncle mesum Airin! Bangun Airin! Lirihnya begitu sakit kala mata indah yang terbiasa menyapa nya dengan senyum dan mengatainya tertutup sempurna.
Tit.....
Tit....
Tit....
Bunyi monitor detak jantung tiba-tiba menjadi satu garis lurus, tangan nya langsung menekan tombol panggilan darurat agar beberapa dokter juga ikut dalam pemeriksaan ini.
Airin!!! Bangun Airin!!! Ucapnya terus memacu detak jantung milik Airin.
Tingkatkan! Ucapnya
Bangun Airin!!! Ayo bangun!!! Kau harus memaki ku Airin! Ucapnya lagi terus memacu alat detak jantung di tangan nya.
🎶
Happy Reading.
Mau tanya? Crazy UP itu berapa part sih? hehehehe🤣
Mohon maaf jika tak sesuai ekspektasi nya😊
__ADS_1