
Romansa cinta keduanya begitu indah, Elang lebih sering mengantar kan Shinta untuk berangkat magang, pulang bersama menghabiskan waktu bersama layaknya pasangan muda mudi di mabuk asmara.
Ah ternyata manis sekali, rasanya cinta yang bersambut seperti ini.
Sesekali nonton berdua, terkadang menyelesaikan tugas akhir yang harus ia emban.
Untuk bumil, masih menyesuaikan dirinya dengan pekerjaan yang akan dirinya emban, hanya beberapa kali datang ke kantor itu pun di dampingi sang suami. Lebih banyak sang suami yang mengerjakan semua nya di ruangan itu.
Bumil ini hanya duduk mengamati dan sesekali memakan buah anggur yang akhir-akhir ini menjadi buah favorit nya.
Ah menyusahkan sekali harus mengemban tugas besar memimpin perusahaan, Airin ingin menjadi ibu rumah tangga saja.
Tok
Tok
Tok
"Ya maaf? Cari siapa?" Ujar Bu Rika, istri dari pak Surya.
"Apa benar ini rumah Tuan Sanjaya?"
"Ah ya? Anda siapa?"
"Perkenalkan saya Laura, apa bisa saya bertemu dengan Tuan Herman?" Ujar Laura tersenyum tulus.
"Silahkan masuk!" Ujar Bu Rika tersenyum ramah.
Tangis tergugu akhirnya tumpah ruah, orang yang ia cari dan di nanti telah berpulang ke pangkuan sang kuasa.
Dirinya terlalu egois dan kejam karena memisahkan anak dari sang ayah.
"Mama napa nangis? Kan Bunga mau ketemu Papa?" Ujarnya, gadis kecil ini masih bingung untuk menafsirkan bahwa orang yang dia cari tak mungkin bisa di temui, dan tak mungkin bisa di dekap kembali.
"Jan nangis Mama, kalau Papa ndak mau temu sama Bunga, Gak apa. Mama jangan nangis!" Ujarnya kembali terisak dan memeluk erat sang putri.
"Tinggal lah disini, karena sebelum Herman meninggal. Dia ingin kau dan putri nya ada bersama kami hidup dengan layak dan bahagia!" Ujar Pak Sanjaya.
"Hiks... Maafkan saya... Maaf!" Lirihnya kembali.
"Semua sudah terjadi, dan ini mungkin takdir terbaik yang Tuhan garis kan. Adik saya begitu mencintai anda hingga melakukan hal yang tak seharusnya. Jangan pernah membenci keluarga Airin, hiduplah dengan baik. Jadi ibu terbaik untuk Bunga. Hanya itu yang Herman sampaikan sebelum dia meninggal."
Tega? Kata yang cocok untuk di sandang Laura, gadis ini tergugu. Bagaimana mungkin orang yang telah di sakiti sedemikian rupa bahkan di akhir hayatnya masih memikirkan dirinya dan sang putri meski berbagai penolakan telah di layangkan oleh nya. Dengan tak tau dirinya dia pergi.
...**********...
Langkah nya begitu gontai duduk di pusaran "Herman Sanjaya" buket bunga di bawa dengan pelan dan begitu sakit. Pemandangan nya lurus kedepan.
__ADS_1
"Kenapa kau meninggalkan ku hem? Aku bahkan sudah kembali, sadar bahwa hanya kau laki-laki terbaik yang Tuhan takdirkan! Apa begini caramu menghukum ku!" Ujarnya lagi. mengusap dengan lembut batu nisan, penuh kasih sayang hingga tak terasa air matanya menetes tanpa di minta.
"Aku janji akan menjaga putri kita seperti yang kau inginkan, menjadi ibu yang baik untuk nya! Maaf!" Ujarnya lagi.
Bughhh!
Tubuh lemah Laura tak sengaja menabrak seseorang kala ia ingin beranjak pergi keluar dari pemakaman umum.
"Nyonya tak apa?" Tanya seseorang di ujung sana, bola mata berotasi melihat hingga gelengan kepala di layangkan lalu pergi menjauh. Acuh.
...**********...
"Baby bangun!" Ujar Uncle Angga pada istrinya,
"Aughh..... Berhenti mencium ku! Kau bau!" Ujar Airin menepis kasar bibir sang suami yang terus mencumbunya, agar bangun. Tidak untuk mengajaknya berolahraga pagi itu.
Apa dia kata? Bau? Gue aja udah mandi gini! Ganteng gini! Dih ini bini gue harus di suntik vitamin biar hidungnya waras! Gerutu Uncle Angga.
"Baby! Lihatlah! Bahkan aku sudah mandi dan sudah bersiap ke rumah sakit!" Protes Uncle Angga, manik mata kecil itu perlahan terbuka menatap sang suami dari atas sampai bawah, ah memang benar suaminya telah siap dengan pakaian kerja dan jas putih kebanggan nya.
"Buka bajumu!" Ujar Airin memerintah.
"Apa tapi.... Kenapa?"
"Buka bajumu Baby!!!"
"Kemarilah!" Ujar Airin menepuk ranjang di sebelahnya, kala dada Uncle Angga sudah tak memakai kemeja. Terpampang nyata perut kotak milik suami tuanya yang begitu tampan.
"Baby, aku.... "
"Ya sudah sana berangkat, biarin dedek ileran!"
"Astaga Baby! Berhenti berujar seperti itu! No ya! Enak saja bibit Unggul Angga junior ileran!" Ujar Uncle Angga naik, tidur di sebelah sang istri.
"Nah seperti ini!" Ujar Airin mendekap kearah Dada uncle Angga, mencium harum nya tubuh suami.
Dih! Tadi bilang gue bau. Sekarang cium-cium gini! Geli Ihhhhhh!!!!!
"Baby, tapi aku harus berangkat ke rumah sakit?"
"Aku tidak mengizinkan mu!"
"Tapi ada beberapa berkas yang harus ku selesai kan?"
"Besok saja! Aku ingin kau di rumah hari ini!"
"Bagaimana jika kau ikut saja hem?" Usaha Uncle Angga masih mengajak istrinya bernegosiasi.
__ADS_1
"Katanya orang kaya, libur sehari saja gak bisa! Patut di pertanyaan kekayaan nya seperti apa!" Sindiran Airin begitu menohok, ah bumil ini memang tengah mode pedas kala berbicara dengan siapa saja. Mungkin bawaan si bayi.
Uncle Angga gak bisa membayangkan? Apa nanti bibit unggulnya akan begitu merepotkan setelah lahir? Dengan pertanyaan yang harus segera di penuhi dan tak boleh di bantah seperti istri kecilnya saat ini? Entahlah hanya Tuhan yang tau untuk saat ini.
"Oke kau menang ratuku! Aku akan menemanimu seharian disini! Apa yang kau inginkan!" Mengalah saja, itu adalah tindakan yang lebih baik.
"Memakan mu!" Ujar Airin.
"Baby Kau.... "
"Dedek yang mau bukan aku!" Ujar Airin, bibirnya sudah di dekatkan dan terkulur mencium.
Sudah di bertemu, saling menikmati setiap sentuhan satu sama lain.
Turuti saja Uncle Angga, lumayan ini rezeki dan akan mendapatkan banyak pahala.
"Hati-hati!" Ujar Airin memperingati.
"Baiklah! Aku tau!? Aku mencintaimu!" Ucap Uncle Angga menyatukan dengan kecupan singkat.
Keduanya berolahraga pagi itu, dengan indah. Uncle Angga masih saja perkasa mampu membuat Airin melayang dan selalu melayang nikmat.
Hingga keduanya terkulai lemas, tak banyak waktu untuk Uncle Angga mainkan, mengingat ia juga harus memperhitungkan bahwa sang istri tengah mengandung dan tak boleh kelelahan.
"Jangan pergi!" Ujar Airin mendekap dengan mata terpejam.
"Tidurlah! Aku kan menemani mu Baby!"
"Hem, Baby?"
"Iya kenapa?"
"Bagaimana kalau aku memanggilmu Daddy?" Tanya Airin nampak malu-malu.
"Apapun, aku menyukai semua nama panggilan darimu sayang!"
"Oke Daddy! Mommy mencintaimu!" Ujar Airin mencium bibir sang suami, dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang milih Daddy Angga. Ah masih saja malu-malu bahkan biduk rumah tangganya sudah berjalan hampir 1 tahun
"Daddy juga mencintai Mommy!" Ujar Daddy Angga kembali terlelap mengarungi mimpi.
🍒
Happy Reading guys! ❤❤❤❤
Kita ganti ya.
Daddy Angga dan Mommy Airin.
__ADS_1