
Wanita muda nanti cantik ini begitu anggun melangkah, dengan jas putih yang ia kenakan di tubuh mungilnya.
Sempurna, sebentar lagi ia akan mendapatkan gelar seorang dokter, hanya tinggal step terakhir ini saja yang harus ia lewati, yaitu magang di rumah sakit.
Derap langkah kaki nya menyusuri lorong rumah sakit, tujuan nya adalah ruangan pimpinan utama rumah sakit Yudistira, Dokter Angga.
Rumah sakit ini cukup terkenal dan beberapa kali mendapatkan gelar rumah sakit terbaik, oleh karena itu Shinta memilih nya untuk tempat magang. Tak susah bukan? Sahabat nya Airin menjadi nyonya di rumah sakit ini. Ah senang nya. Tinggal magang tanpa kendala.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
"Permisi dok! Saya Shinta, Saya perwakilan dari Universitas yang meminta izin untuk mengajukan permohonan magang di sini!" Ujar Shinta menyerahkan berkas yang di bawanya.
"Cie eleh! Formal banget itu mulut! Biasanya aja ngegas mulu sama gue!" Ujar Airin yang muncul dengan membawa teh hangat untuk keduanya, ada cemilan kue yang tersaji di atas piring.
"Baby! Kau ini!" Peringati suaminya.
"Sudah pak, biarkan saja. Istri bapak memang seperti itu, suka sekali menggoda saya. Mungkin karena sayang banget sama saya pak!"
"Dih kepedean, gak mungkin gue sayang sama lu! Gue sayang nya sama suami gue lah! Lu gak liat ini perut jadi kembung gini karena ulah nya!"
"Airin ih lu kok mesum gitu!" Celetuk Shinta,
Uncle Angga hanya mampu tersenyum tipis, menelan ludahnya, Ah istri kecilnya ini kenapa? Nampaknya begitu sensitif dan jawaban nya selalu, Argh... ya begitu.
"Shinta, nanti kamu bawa berkas yang sudah saya tanda tangani ini menemui dokter Edo ya! Nanti dia yang akan menjadi penanggung jawab kamu selama magang disini!" Ujar Uncle Angga menyerahkan dokumen itu ke Shinta.
"Baek-baek ya lu, Dokter Edo ganteng! Awas lu naksir dia! Ntar elang di kemana in? Jangan suka ngulang kisah gue ya! Ikut-ikutan nikah sama yang lebih dewasa ntar jadi sugar baby nya!"
"Baik Pak terimakasih." Ujar Shinta menerima berkas itu. "Keponakan Aunty, jangan ikutan pedes ya kalau ngomong kayak Mommy? Dah dulu bumil, Terimakasih." Ujar Shinta memberi kiss bye pada sahabat nya.
"Dih.... Geli..... "
"Sayang.... "
"Kenapa?" Dengus Airin langsung sewot.
Lha ini kenapa? Kok gue juga kena amukan dia? salah gue apa?
__ADS_1
"Tak baik seperti tadi! Walau dia sahabat baik mu tapi kita sedang berada di lingkungan pekerjaan!"
"Hehehe! Ups Sorry."
"Hah, Baiklah jangan di ulangi lagi!"
"Siap sayang!" Ujar Airin mengecup mesra pipi suaminya.
"Jangan menggodaku Baby! Turun, masih ada yang harus aku kerjakan!" Peringat Uncle Angga kala istrinya dengan tak tau malu duduk di pangkuan Uncle Angga bak bayi koala.
"Dedek yang mau!"
"Hem... Baiklah oke, jangan bergerak ke sana kemari, tunggu sebentar aku akan menyelesaikan tugas ku dulu!"
"Ya gak janji, habis adeknya gak mau diem!"
"Hah.... Kau mau apa baby!"
"Ingin beli steak, yang ada taburan keju mozarella dengan bumbu lada hitam!" Ucap Airin langsung membayangkan perpaduan semua itu dalam mulutnya.
"Oke, kau akan mendapatkan nya. Tapi tunggu sebentar, 15 menit oke?"
"Hem, baiklah!! Aku mencintaimu!"
...**********...
Baiklah turuti saja dari pada kata pedas nan julid keluar dari bibir bumil muda ini.
Toh Uncle Angga punya banyak uang untuk menuruti semua yang di inginkan istrinya.
Bugh!
"Sayang kau tak apa?" Khawatir Uncle Angga kala ada bocah kecil menabrak tubuh istrinya.
"Tak apa!" Ucap Airin menenangkan.
"Adik manis tak apa?" Tanya Airin jongkok, mensejajarkan tinggi badan nya dengan anak kecil itu.
"Tak apa tante, maaf!" Lirihnya begitu imut.
"Ah ya, tak apa. Mama Papa mu dimana?" Tanya Airin dengan lembut.
"Maura!" Panggil Papa Edo.
__ADS_1
"Jadi ini anak lu?" Tanya Angga langsung menyipit.
"Hehehe iya, sorry bro!"
"Lu ngapain ada di sini juga!" Sinis Airin kala melihat Shinta juga mengekor di belakang dokter Edo.
"Baby! Sabar!" Ujar Uncle Angga menenangkan istrinya yang tampak sinis dan menajam.
"Itu mata ati-ati bumil, takut ngeglinding!" Ketus Shinta yang mendapat pelototan tajam.
...********...
Meja makan itu tampak tak bersahabat kali ini, hanya si kecil Maura yang tampak asyik mengunyah dan sesekali berceloteh ria, memanggil Shinta dengan sebutan Bunda.
Bumil sudah menunjukkan taring nya, meminta penjelasan sedetail mungkin.
"Jadi itu gini, waktu gue nyerahin berkas ke meja kerja dokter Edo, nah ini anak muncul dari pintu terus nyelonong masuk aja. Terus manggil gue Bunda. Nah gue kan gadis yang baik dan budiman, penyayang anak kecil juga. Yaudah!"
"Terus kenapa sampai jalan-jalan kesini!"
"Lha itu bocah yang ngajakin."
"Baby Sabar! Jangan marah-marah, kasihan adek nya!" Ucap Uncle Angga lagi.
"Huh... Habis itu punya sahabat... "
"Lha emang gue salah apa sama lo bumil?" celetuk Shinta langsung memotong.
"Ya salah pokoknya!"
"Idih...."
"Adik ipar, maafkan saya. Shinta tak salah, putri saya Maura yang mengira dia bundanya mungkin kangen sama Bunda nya yang sudah meninggal dan mengajak Shinta untuk bermain kesini?"
"kakak ipar-kakak ipar! Enak aja siapa yang lu panggil gitu!" Dengus Uncle Angga.
"Lha kan lu yang lebih tua dari gue! ya jadi gue manggil bini lu apa dong? Kakak ipar kan?"
"Cih ga sudi punya kakak kayak lu!"
"Ini kenapa bumil sama suaminya sinis bener si?" Celetuk Shinta.
"Uncle Angga, jangan marah-marah ya. Dan bumil harus makan banyak ya!" Ucap Shinta tersenyum.
__ADS_1
...*****...
...Happy Reading...