Uncle Dokter, JODOHKU!!!

Uncle Dokter, JODOHKU!!!
UDJ 57


__ADS_3

"Shinta, temenin nonton yuk!" Ujar Elang, di sebrang sana.


"Duh gak bisa, ada pasien yang harus gue tangani!" Jujurnya.


"Shinta... saya tunggu di luar!"


"Baik dok!"


"Udah dulu ya Elang, gue ada pasien! Bye!" Ujar Shinta mematikan telfon itu secara sepihak,


Hah.... Helaan nafas panjang di hembuskan oleh Elang di sana, Apa diri nya benar-benar sedang sendiri saat ini.


Pikiran nya melayang tentang kata samar tunggu yang ada di sebrang sana, Elang yakini itu adalah suara laki-laki. Kenapa hatinya menjadi tak suka seperti ini.


Kakinya melangkah lunglai, sebaiknya dia membantu sang Mama di cafe saja bukan? Daripada tak melakukan apapun.


"Gak keluar? Tumben?" Celetuk Mama Nina pada putra semata wayang nya itu.


"Shinta sibuk ma!"


"Lah? Kan temen mu gak cuman shinta doang?"


"Tapi enakan sama Shinta Ma, kan dia sahabat deket Elang!"


"Sahabat deket? Ealah... Paling juga kamu cinta sama dia kan?" Goda Mama Nina.


"Ah Mama... Ya gak mungkinlah, kita hanya sahabatan doang Ma, gak lebih!" Kilah Elang menepis pernyataan itu.


"Ya sudah, ntar kalau Shinta punya pacar terus kamu sedih awas aja!


"Mama Ih! Kok do'ain anak nya yang jelek-jelek si!" Gerutu Elang.


"Dah, ini belikan Mama bahan pokok, semuanya udah nipis! ini uangnya, ini catatan nya!"


"Tapi Mama ikut kan?"


"Ya gak lah, yang jaga cafe ini siapa?"


"Masak Elang sendirian Ma?"


"Jangan protes, udah sana!"


...*******...


Troli di dorong dengan sebal, beberapa bahan pokok sudah pemuda itu beli sesuai dengan permintaan ibu negara, semuanya sudah selesai persis seperti yang ada dalam catatan.


"Shinta!" Lirih Elang, kala ia berjalan menenteng barang itu, dan melewati cafe nampak ada Shinta dan laki-laki yang lebih tua sedang bercanda ria, jangan lupakan gadis kecil yang bersama mereka tampak seperti keluarga bahagia.


Kok sakit gini ya? Kenapa Shinta bohong sama aku? Katanya ada pasien? Kenapa kesini! Lirihnya.


"Ma ini!" Ujar Elang, menyerahkan semua kantung belanjaan itu.


"Kenapa itu muka? Kusut banget?"


"Gakpapa ma!"


"Yakin gakpapa?"

__ADS_1


"Hem... Iya Ma... "


"Mama Nina!" Panggil Airin yang terus mendekat ke arah wanita itu.


"Eh Airin, Mama rindu!" Ujar Mama Nina, ah keduanya sedang berpelukan seperti teletubbies saja,


"Kesini dengan siapa Hem?" Tanya Mama Nina.


"Itu!" Ujar Airin menunjukkan suaminya yang sedang melangkah mendekat.


"Hai Elang! Kusut banget itu muka?" Celetuk Airin kala sorot matanya menatap Elang.


"Apa eh...?" Ucap Elang gelagapan.


"Muka lu! Kek kanebo!" cibir Airin.


"Kok pedes si lu Ay, ngomong nya!"


"Dih ay-ay an! Ayan!" Sindir Airin, harap sabar untuk Elang menghadapi bumil yang mode pedas dengan segala omongan nya.


Rasanya canggung kala Airin memanggil Nina Mama, lalu dirinya harus memanggil Nina apa? Tak mungkin Mama juga kan? karena Nina dan dirinya adalah teman seangkatan di sekolah dulu.


"Khusus lo gak boleh ikutan manggil Mama! Umur kita sama!" Ujar Mama Nina langsung menyorot pada teman nya.


"Dih! Gue juga gak mau manggil lu gitu!" Ujar Uncle Angga tak kalah sewot, Hah.. Dua orang yang usianya sudah dewasa, mengapa masih seperti ABG saja emosinya.


"Aduh! Apa si Baby!" Keluh Uncle Angga kala dirinya mendapatkan cubitan dari sang istri.


"Gak boleh galak-galak sama Mama Nina!" Bisiknya dengan sorot mata yang menajam.


...*********...


Biasanya Shinta yang selalu mengabarinya, mengajak pergi, entahlah gadis itu sekarang menjadi sangat sibuk dengan urusan nya.


"Dor!" Ujar Shinta mengagetkan pemuda itu.


"Shinta?"


"Lu kira siapa? Hantu?" Ujarnya mendengus kesal.


"Bagi minum ya! Haus ini!" Ujar Shinta langsung menyeruput minuman yang ada di meja.


"Mikirin siapa?" Tanya nya,


"Ha? Apa?"


"Dih kok jadi bloon gitu si? Ngapain coba? di cafe sendiri terus bengong, entar kesambet baru tau rasa lu!"


"Apaan sih!" Dengus Elang sebal.


"Bhahahaha... Itu muka biasa aja kali!"


"Bunda.... "Ujar Maura berlari ke arah Shinta


"Eh, Maura?" Ujar Shinta menangkap tubuh kecil dalam pelukan nya.


"Maafkan putri saya ya dokter Shinta!" Ujar Dokter Edo tak enak hati.

__ADS_1


"Eh dokter Edo, ah ya tak apa?"


"Bunda? Itu siapa?" Tanya Maura, tangan mungilnya menunjuk Elang yang ada di sebelahnya!


"Oh itu, namanya om Elang sayang!" Tutur Shinta menciumi pipi gembul Maura, ah menggemaskan sekali bocah ini.


Raut wajah Elang sudah tak bisa di definisi kan lagi, ingin sekali dirinya menerkam Edo. Maksudnya apa-apaan coba? Menyuruh anak nya memanggil Shinta dengan sebutan Bunda.


"Bunda pulang yuk! Maura punya banyak makanan itu... " Tunjuk nya pada kantong plastik yang ada di tangan Papanya, Dokter Edo.


"Eh Maura gak boleh gitu! Sini sayang, jangan ganggu Dokter Shinta ya!" Ujar dokter Edo memperingati putrinya.


"Tapi Pa?" Lirih nya dengan mata berkaca-kaca.


"Eh jangan nangis ya! Yok ke rumah kamu!" Ujar Shinta menggandeng tangan Maura untuk pergi.


"Kamu pulang sama aku!" Ucap Elang dingin, tangan kecil Maura di pisah dari Shinta, setelah nya Elang membawa Shinta untuk keluar restoran itu.


...********...


"Lepas ih! Kenapa tarik-tarik gini si?" Gerutu Shinta menghempas tangan Elang di pergelangan tangan nya.


"Lha kamu yang kenapa? Kenapa meski bohong si!" Dengus Elang yang tak kalah sebal.


"Emang aku bohong apaan?"


"Gak usah sok-sokan gak tau Shinta!"


"Eh emang apa?"


"Kalau lu gak bisa nemenin gue keluar? Kenapa lu keluar sama om itu!"


"Lha emang kenapa? Lu siapa gue?"


Deg!!!!


Sialan!!! Kenapa gue juga emosi gini! Gue kan bukan siapa-siapa nya dia!!!!!


"Maaf!" Ujarnya melembut.


"Ya udah, gue pergi ya ke rumah Maura! Bye!" Ujar Shinta berpamitan pada Elang.


"Jangan pergi!"


"Kenapa lagi si?"


"Gue suka sama lo!" Ujar Elang mantap.


...*********...


"Gue pulang dulu ya!"


"Hem! Hati-hati!" Ujar Shinta melambaikan tangan nya kala motor yang di kendarai pemuda itu pergi menghilang dari pandangan nya.


Tentang ungkapan tadi, lupakan. Rasanya Shinta masih tak percaya. Setelah berucap pun, Elang diam seketika dan menit selanjutnya hanya kata "Maaf, lupakan!" Sangat menjengkelkan bukan?


Kenapa Cinta serumit ini Tuhan....

__ADS_1


"


__ADS_2