Uncle Dokter, JODOHKU!!!

Uncle Dokter, JODOHKU!!!
UDJ-30


__ADS_3

Airin!!! Bangun Airin!!! Ucapnya terus memacu detak jantung milik Airin.


Tingkatkan! Ucapnya


Bangun Airin!!! Ayo bangun!!! Kau harus memaki ku Airin! Ucapnya lagi terus memacu alat detak jantung di tangan nya.


Baru kali ini tangan nya bergetar, meski ini resiko yang ia tanggung sebagai seorang dokter bahwa ia adalah saksi di mana seorang pasien menghembuskan nafas terakhir nya. Meski dirinya sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien.


"Dokter! Sudah! Pasien tidak bisa di selamat kan!" Ucapnya menepuk pundak dokter Angga.


"Diam brengs*k!! Dia tak boleh mati!" Ucapnya menggebu, tangan nya kembali menempelkan alat itu di dada Airin!


tit.....


Tak ada perubahan apapun, garisnya nampak lurus di layar monitor.


Airin bangun!!! airin bangun!! kau masih berhutang banyak padaku!!! bangun airin!!? Ayo umpati aku! airin!!! kau harus bangun! Teriaknya menggebu,


"Dokter!" Salah satu rekan nya nampak kembali menepuk pundak Dokter Angga.


"Sekali ini!!!" Ucapnya lirih tanpa melepaskan pandangan matanya ke arah Airin.


Deg!


Satu kali alat itu di tempelkan dan di tarik, Tuhan menunjukkan keajaiban nya, garis yang semula lurus kini mulai menunjukkan kehidupan.


"Dia sudah melewati masa kritis nya Dokter Angga! Anda hebat!" Ucap salah satu rekan dokternya.


Tangan nya lemah, hingga tubuhnya merosot ke lantai, pertama kalinya ia tak menginginkan orang di atas itu untuk pergi! Apapun yang terjadi Airin nya harus hidup.


Buliran kristal membasahi sudut matanya, baru kali ini Jantungnya tercekat, rasanya sangat mendebarkan, dunia nya runtuh kala Airin di nyatakan pergi! Hingga sujud di berikan olehnya kalau sang pemilik semesta mengembalikan apa yang ia inginkan.


๐ŸŽถ


Langkah kakinya begitu tergesa-gesa, masuk ke ruangan yang bertuliskan Direktur!


"Tuan apa yang anda lakukan!" Tanya Pak Surya kala mendapati Tuan Dony duduk di meja kerja petinggi Surya Grup dengan gagahnya.


Lembaran kertas di lembar di hadapan Pak Surya! Yang mana menunjukkan bahwa ia tak memiliki saham apapun atau kekuasaan apapun di perusahaan itu.


"Tuan..."


"Semua bukti sudah ku dapatkan! Bagaimana kau dengan liciknya dan segala rencana mu! Silahkan angkat kaki dari perusahaan ini! Kau jelas tau ini bukan? perusahaan ini bukan milikmu! Dan selamat bertemu di persidangan! Kau dan adikmu tuan Surya!" Ucapnya dengan senyum licik.


"Tuan.. tapi... saya mohon maafkan saya tuan.... saya... "


"Pergilah! Polisi sudah menunggu mu dibawah!" Ucapnya dengan datar dengan kibasan tangan,

__ADS_1


Teriaknya pilu atas semua kebodohan yang di lakukan nya. Dan benar saja, polisi sudah menunggunya di bawah dan hari ini Surya Sanjaya di tahan dan mendekam dalam penjara.


๐ŸŽถ


Netra pucat itu mengerjapkan matanya, terasa sangat berdenyut kepala nya, rasa sakit masih terasa kuat di perut miliknya.


Klise kejadian itu berputar indah dalam otaknya, kejadian penculikan, dimana dirinya di sekap dan di hujani tusukan di perut.


Tampaknya tangan sebelahnya terasa sangat berat untuk di gerakan, lirikan nya beralih pada seseorang yang tengah terduduk memegang erat tangan nya dengan kedua jemari itu.


"Uncle!" Gerakan lemah suara lirih ia layangkan, membuat pemuda dewasa itu terjangkit dan langsung tersadar dari tidur yang beberapa jam menghampiri nya.


"Sebentar!" Lirihnya dengan suara lembut berusaha mengusir kantuk nya dan memeriksa tubuh Airin.


"Minumlah!" Ucapnya menyodorkan minum pada Airin kala telah selesai memeriksa.


"Terimakasih!" Ucapnya tersenyum.


"Jangan bergerak dulu, luka mu belum 100% kering." Ucapnya memperingati. Terkesan masih dingin dan kaku.


Entahlah, dia tak tau harus bagaimana? rasanya Arghhh!!! Hingga ia memutuskan untuk duduk kembali diam sambil memegangi tangan Airin, matanya tak henti-hentinya menatap gadis kecil itu.


Ada rasa sesal yang menghinggapi dirinya, kala mengingat perlakuan kasar nya pada putri wanita yang amat di cintai nya.


"Uncle? Kenapa kau menatap ku seperti itu!"


"Uncle! aku baik-baik saja terimakasih!" Ucapnya tersenyum.


"Hiks.... hiks... Jangan tinggalkan aku!" Ucapnya langsung memeluk Airin, tangisnya tersedu di bahu gadis itu.


"Uncle!" Panggil nya kala tangis itu sudah mereda.


"Maaf!" Ucapnya menyeka air matanya dengan kasar.


"Aku tak apa, jangan menangis! Dan terimakasih!" Ucap Airin tersenyum.


"Mau makan?" Tanyanya yang di balas anggukan lemah oleh Airin, memang perutnya sangat lapar. Dengan telaten Angga menyuapi Airin dengan bubur.


Pintu dibuka dengan lembut, Elang datang dengan sang Mama Nina yang tampak berkaca-kaca.


"Airin!" Ucap Mama Nina langsung menghambur memeluk Airin, untung saja ia sudah menyelesaikan makan.


"Tante, Airin tak apa! Tante jangan menangis!" Ucap Airin dengan lembut mengusap punggung belakang Mama Nina,


"Hiks... hiks... maafkan Mama Airin..." Lirih Mama Nina yang semakin menangis.


Sorot mata yang mengisyaratkan "Kenapa?" Di tujukan Airin pada Elang yang tak jauh dari jangkauan nya!

__ADS_1


"Mama!" Panggil Elang dengan lembut, membuat wanita itu perlahan menoleh kearah sang putra, "Sudah, Airin masih sakit! Jangan memeluknya terlalu erat!" Ucapnya lirih.


"Airin, ah maafkan Mama!"


"Mama?" Pekik Airin bingung.


"Ya mulai sekarang kau putri ku, jadi kau harus memanggil ku dengan Mama!"


"Hey! Dia pacarku Nina!" Ucap Angga tak terima.


"Dia putriku! Dia cocok jadi keponakan mu! Bukan pacarmu pria tua!"


"Nina, mengapa kau menjengkelkan!" Ucap Angga tajam.


"Uncle! Mama bawakan pakaian untukmu! Ini!" Ucap Elang menengahi perdebatan kedua orang dewasa itu,


"Mandi! Kau bau!" Celetuk Nina kala sahabat SMA nya itu tak kunjung meraih paper bag yang di sodorkan sang putra.


"Kau... " Ucap Angga langsung menerima kasar paper bag itu, "Jaga terlalu banyak bergerak, luka mu masih belum kering!" Peringatan Uncle Angga pada Airin sebelum dia melangkah masuk kedalam kamar mandi.


"Baby Ay!" Lirih Mama Nina mengusap lembut pipi Airin dan duduk di bangku ranjang rumah sakit itu.


"Tante? bagaimana?"


"Papa mu Riko Dirgantara, Mommy Mu Senja?"


"Bagaimana Tante tau?"


"Jangan panggil tante Airin, mulai sekarang kau harus memanggil ku Mama!"


"Tapi.... "


"Dulu Mommy mu adalah sahabat terbaik tante Airin, maaf tante baru mengetahui setelah beberapa bulan kematian kedua orang tuamu! Kau masih ingat dengan Baby El? Teman masa kecilmu dulu?" Tanya Mama Nina pada Airin, yang di balas anggukan lemah.


"Dunia terlalu sempit Airin, Baby El sekarang sudah besar dan dia selalu menjagaku semenjak SMA!" Lirik Tante Nina menatap kearah sang putra yang berdiri tak jauh dari Mamanya.


"Jadi tante? Elang?"


"Ya Airin! Dan mulai sekarang, kau akan menjadi putri tante! Maaf telah memperkerjakan mu Airin, Jika mommy mu masih hidup mungkin dia akan memarahi tante, karena memperkerjakan putri kesayangan nya! sekarang Mama Nina akan menanggung semua biaya hidup dan pendidikan mu, kau adalah anak ku, sama seperti Elang!"


"Mama Terimakasih!" Ucap Airin Berkaca-kaca. merentangkan kedua tangannya seolah meminta Mama Nina untuk memeluk nya kembali.


๐ŸŽถ


Hihihi.... Maafin Author ya yang gak UP kemarin ๐Ÿ˜‚


Ibu Negara agak rewel dengan segala tingkah titah sang Ratu๐Ÿคฃ Jadi begitu lah.

__ADS_1


__ADS_2