Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 35 - Terlalu Baik


__ADS_3

Setelah Alden dan Liora pergi. Alex dan Jia masih duduk di ruang tengah. Jia melihat wajah sang suami yang terlihat termenung, seolah banyak sekali pikiran.


"Dad," panggil Jia seraya menyentuh lengan sang suami dengan lembut. Panggilan itu mampu membuat Alex tersadar, namun pikirannya malah jadi semakin kacau. Ditatapnya wajah sang istri yang begitu teduh, di sudut mata Jia mulai ada keriput yang muncul, namun keriput itu tak sedikitpun mengurangi wajah cantik istrinya.


Alex pun membuang nafasnya pelan, mencoba tenang diantara hatinya yang bergemuruh.


Siang tadi dia bertemu dengan sang sahabat, Daniel Lincoln dan mendapatkan kabar yang sangat buruk. Tentang kesalahan yang telah dilakukan oleh sang anak, Alden.


Tapi Daniel mengatakan jika saat ini Alden pun tengah dalam keadaan terpuruk, antara membalaskan dendamnya pada Liora dan Gaida serta mencari gadis malang itu, gadis bernama Adinda Holscher.


Liora bukan hanya berpura-pura tidak mengetahui identitas Alden, tapi wanita itu dan neneknya jug sudah menjebak Alden. Merusak hidup Alden dan seorang gadis yang malang.


Karena itulah sepanjang pertemuannya dengan Liora, Alex sedikitpun tak menunjukan minat. Bahkan sekuat tenaga menahan diri agar amarahnya tidak pecah.


Ada Jia yang selalu ingin dia jaga hatinya.


"Apa ada yang menganggu pikiran Daddy? dari tadi mommy lihat Daddy diam saja, bahkan tidak menyapa Liora," ucap Jia, seraya menatap dalam kedua netra sang suami. Dari tatapan mata itu Jia tahu, suaminya dalam keadaan yang tak baik-baik saja.


Tapi Alex tidak menjawab, dia malah memeluk Jia erat. Berulang kali menciumi puncak kepala sang istri dengan sayang.


"Tidak ada apa-apa Mom, hanya ada sedikit Maslaah di perusahaan."


"Kan ada Rayden Dad, Daddy tidak perlu memikirkannya terlalu keras."


"Mommy benar, ada Rayden, huh, Daddy saja yang terlalu berlebihan berpikir."


"Daddy ke kamar saja dulu, mommy akan lihat keadaan Leia."


"Daddy akan ikut Mom."


"Baiklah," jawab Jia, kini senyum dibibirnya mulai kembali terukir. Bahagia ketika melihat sang suami tidak murung lagi.


Mereka berdua lantas mendatangi kamar Aleia. di sana ternyata masih ada Arion dan Aaron.

__ADS_1


Melihat Leia, membuat hati Alex terasa terpukul. Dadanya seketika terasa sesak sekali, Dia beranggapan bagaimana jika gadis yang telah dirusak anaknya mengalami nasib semalang gadis ini. Atau bagaimana jika anak kandungnya sendiri Aleia yang mengalami peristiwa naas itu.


Tanpa diketahui oleh semua orang sudut mata Alex mengeluarkan satu tetes air bening, namun dengan cepat dia hapus air mata itu sebelum ada keluarganya yang menyadari.


"Kata Aleia, Leia sudah mulai bicara, coba sapa Tante," ucap Jia seraya duduk di tepi ranjang, tatapan dan suaranya bsslalu bisa menenangkan.


Hal itu tentu saja membuat Dinda jadi merasa sangat bersalah karena telah membohongi semua orang. Tentang amnesia yang sebenarnya tidak pernah dia alami.


"Tan-tante," jawab Dinda ragu-ragu.


Satu jawaban yang membuat semua orang tersenyum. Hanya Alex yang menatapnya penuh iba.


Dia beranggapan bahwa Tuhan mempertemukan mereka karena kesalahan yang telah dilakukan oleh sang anak. Mereka harus menebus dosa Alden dengan cara merawat Leia.


"Ya Tuhan, Tante bersyukur sekali mendengar suara kamu sayang," balas Jia, dia sudah sangat takut jika hal buruk yang dialami oleh Leia akan membuatnya trauma, sampai tidak bisa berinteraksi dengan orang lain.


Namun malam ini Leia bicara dan membuat Jia merasa sangat lega.


"Ini sudah larut malam, Arion dan Aaron kembalilah ke kamar kalian masing-masing."


"Kalian juga tidur ya, selamat malam," ucap Jia lagi, bicara pada Aleia dan Leia. Saat itu Jia keluar seraya membawa nampan berisi piring kotor milik kedua gadis ini.


Melihat itu dengan cepat Dinda turun dari atas ranjang dan merebut nampan itu.


"Biar aku saja Tante," ucapnya cepat, sungguh merasa tak enak hati.


"Tidak perlu sayang, biar Tante yang bawa keluar, nanti diluar akan Tante berikan pada pelayan," jelas Jia. Dia tersenyum lebar, melihat Leia membuatnya jadi ingat tentang dirinya sendiri, yang tak enak hati tiap kali ibu mertuanya membereskan apapun. Kini sang ibu mertua sedang tidak tinggal di rumah, keliling dunia menikmati masa tuanya.


"Ba-baiklah Tante."


Selepas Jia dan Alex keluar, Dinda pun kembali naik ke atas ranjang dan menghampiri Aleia.


"Leia, apa kamu belum ingat siapa nama mu?" tanya Aleia langsung ketika Leia sudah duduk disampingnya. Mereka berdua belum berbaring.

__ADS_1


Deg! ditanya seperti itu sontak saja Dinda merasa sangat terkejut. rasanya Dia pun sudah tak sanggup untuk terus berbohong seperti ini.


"Aleia," panggil Dinda ragu, meski lidahnya terasa sangat kelu untuk bicara namun dia tetap ingin mengutarakan kebenaran ini.


"Aku- aku..., maafkan aku," ucap Dinda akhirnya.


"Maaf aku tidak ingat apapun," timpal Dinda lagi seraya mengusap wajahnya kasar merasa sangat bersalah dengan apa yang dia ucapkan. Namun ketika ingin bicara jujur tiba-tiba wajah Liora dan Gaida terbayang.


Bahkan para penjahat berbadan kekar itupun dia ingat dengan jelas wajahnya, seringai liciknya saat ingin menangkap dia.


Dinda takut sekali, sangat takut dan tak terbayang bagaimana jadinya andai dia tertangkap.


"Leia, maafkan aku, tenanglah," ucap Aleia seraya memeluk Leia erat, jadi merasa bersalah karena telah bertanya seperti itu dan membuat Leia jadi bersedih seperti ini.


"Aku tau aku sudah merepotkan kalian, tapi aku mohon Aleia, Jagan usir aku dari rumah ini. Aku tidak tau mau pergi kemana? mulai besok aku akan pelayan di rumah ini, tapi izinkan aku tetap tinggal."


"Leia, maafkan aku, jangan bicara begitu," balas Aleia pula, dia semakin mememuk erat Leia.


"Maafkan aku," ucap Aleia lagi.


Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf Aleia, maafkan aku, maafkan aku. Kalian terlalu baik untuk aku manfaatkan seperti ini. Batin Dinda.


Menyimpan banyak dusta dalam hidupnya sendiri, membuat Dinda merasa tidak tenang, dia selalu diselimuti rasa takut.


Hari berlalu.


Pagi itu Aleia harus pergi bekerja di kantor Wedding Organizer milik sang ibu. Arion dan Aaron pun harus pergi ke kuliah. Sementara Alex memiliki urusan diluar, di rumah ini hanya tinggal Jia dan Dinda.


Hanya berdua saja, Jia pun berniat untuk membawa Leia keliling rumah. Apalagi semalam Alex dan Jia sudah sepakat untuk terus merawat Leia sampai sembuh, jadi sampai batas waktu yang tidak ditentukan lainnya akan tetap tinggal di rumah ini.


Jadi Leia pun harus tahu tiap ruangan yang ada.


Dari dapur, Jia membawa Leia untuk menuju taman yang ada di samping ruang tengah, dinding kaca itu Jia buka lebar-lebar dan memperlihatkan pemandangan yang begitu asri.

__ADS_1


Dinda pun tersenyum lebar, seraya terus menelisik ruang tengah ini, sampai dia melihat sebuah foto keluarga yang terpampang jelas di atas sana.


Deg!


__ADS_2