
Dinda Terdiam.
Kata-kata Alden tentang menikah dan tatapan tajam itu seolah mengisyaratkan sebuah keseriusan.
Sementara bagi Dinda semuanya masih terasa gamang. Dinda harus duduk dan memikirkan ini semua matang-matang. Dia tidak ingin salah mengambil keputusan. Yang hingga kini dia yakini adalah dia tidak butuh pertanggungjawaban Alden.
Lagipula dia tidak akan hamil, karena Gaida dan Liora sudah mencekokinya dengan obat penggugur kandungan.
Dinda mundur perlahan, meraih pinggiran sofa di ruang tangah lalu mendudukkan tubuhnya di sofa itu.
Sementara Alden pun maju, bukan ikut duduk tapi dia berjongkok persis di hadapan Dinda.
Meraih kedua tangan Dinda untuk digenggamnya erat.
"Meskipun kamu tidak hamil karena malam itu, tapi aku ingin mempertanggungjawabkannya Din."
Dinda menggegleng pelan.
"Kenapa? lagi pula untuk mu aku memanglah wanita bayaran. Tentang malam itu Gaida memang membayar ku lebih."
"Tidak perlu membahasa nenek tua itu, lihat saja pada kita."
"Malam itu jadi penghubung diantara kita Din, aku tidak akan pernah bisa melupakannya seumur hidupku," timpal Alden lagi, sebelum Dinda sempat menjawab ucapannya yang pertama. Tantang rasa bersalah yang akan terus menghantui dan rasa candu yang akan selalu dia ingat.
"Ayo kita menikah, kita bisa belajar untuk saling mencintai. Kita sama-sama buka lembaran baru."
Alden terus meyakinkan Dinda, dia juga terus menggenggam kedua tangan wanita ini erat. Sangat ingin Dinda mengerti bahwa dia serius dengan semua ucapannya itu.
Sejak hari pertama setelah malam itu Alden sudah mengajukan pernikahan, sampai sekarang waktu terus berlalu keinginan Alden itu tetap teguh dia pegang.
Dinda pun menyadari akan hal itu.
"Bukankah kamu mencintai Liora?"
"Aku memang mencintai Liora, tapi kekecewaan ku juga besar terhadapnya."
"Jika aku mengecewakanmu apa kamu juga akan semudah ini berpaling?"
"Kenap kamu membahas wanita lain?"
"Hanya ingin memastikan saja."
"Apa yang mau kamu pastikan?"
__ADS_1
Dinda terdiam, saat Alden mencercanya dengan banyak pertanyaan seperti ini entah kenapa dia jadi bingung sendiri mau menjawab apa.
"Lebih baik pastikan perasaan mu sendiri," ucap Alden lagi, setelahnya dia bangkit dan mencium bibir Dinda dengan sangat lembut. Ciuman perlahan yang membuat Dinda hanyut, rasanya sangat berbeda dengan malam naas itu.
Kini Alden seolah menciumnya penuh cinta. Dinda bahkan tanpa sadar membuka mulut, menerima ciuman itu dengan kedua mata yang tertutup. Tubuh mereka pernah menyatu, maka sentuhan seperti ini rasanya sudah tidak asing lagi.
Dengan perlahan Alden pun melepaskan ciuman di antara mereka. ciuman yang sampai membuat salah seorang pelayan harus kembali masuk ke dapur dan pura-pura tidak tahu.
"Nanti, aku akan katakan pada mommy dan Daddy tentang pernikahan kita. Tunggu aku pulang," ucap Alden seraya menghapus sisa-sisa salivanya yang tertinggal dibibir bawah milik Dinda.
Stelah Dinda membalas ciumannya, dia cukup tahu jika wanita sudah membuka hatinya.
Alden tidak akan lagi mempertanyakannya tentang Dinda mau atau tidak menikah dengan dia. Karena pernikahan itu akan tetap terjadi.
Sementara Dinda yang kedua pipinya jadi merona tak mampu menjawab, bahkan tidak berani juga untuk menganggukkan kepalanya.
Entahlah, malam ini Dinda benar-benar merasa bodoh. Merasa Alden telah menghipnotisnya.
"Aku pergi dulu," pamit Alden, dia kembali mengecup sekilas bibir Dinda yang basah.
Hampir jam setengah 9 Alden pergi ke rumah utama keluarganya. Saat itu dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ingin segera sampai dan menyelesaikan semua masalah ini.
Dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Alden tiba di rumah itu. Dia langsung masuk dan menuju ruang kerja sang ayah, dimana ayah dan ibunya sudah menunggu.
Alden bersimpuh di hadapan Jia dan menundukkan kepalanya dalam.
Sementara melihat itu Jia langsung menjatuhkan air matanya. Lagi dan lagi dia menangis deras.
"Maafkan aku Mom, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya." Mohon Alden.
"Tentu saja, Kamu memang harus melakukan itu. Jangan buat mommy lebih kecewa lagi jika kamu lepas tanggung jawab. Nikahi Dinda secepatnya!" balas Jia, suaranya cukup tinggi diiringi dengan Isak tangis itu.
Sementara Alex hanya diam, dia bahkan tidak berani meski hanya sekedar menyentuh sang istri.
Jia tidak pernah marah, maka sekali marah seperti ini dia akan sangat mengerikan sekaligus terlihat memprihatinkan. Alex sebenarnya tak sanggup melihat tangis istrinya itu.
Tapi tentang ini semua memang tak bisa dia tutup sendiri, Jia memang harus tau.
Malam itu cukup lama Alden bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.
Alex terus diam dan Jia yang terus bicara. Tentang Alden dan semua tanggung jawab yang harus dia pukul.
Jia bahkan sampai membawa-bawa kematian, andai dia dan Alex mati lebih cepat maka Alden dan semua keluarganya harus saling menjaga, terlebih menjaga Aleia yang menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga ini.
__ADS_1
Jia meminta Alden untuk kembali ke rumah, kembali mengambil peran perusahaan mereka.
Menjadikan semua yang telah terjadi ini sebagai pelajaran berharga.
Mendengar semua ucapan sang istri, Alex sangat bangga. Dia ingin sekali memeluk Jia, namun baru mendekat Jia sudah menatapnya tajam.
"Sekarang pulanglah, tidak ada lagi yang ingin mommy katakan pada mu."
"Baik Mom, maafkan aku."
"Ya." Balas Jia singkat, meski tak mungkin untuk tidak memaafkan, namun tetap saja malam ini Jia belum bisa bersikap manis seperti selama ini.
Mungkin semuanya akan lebih baik ketika Alden dan Dinda sudah menikah, lalu memberi mereka cucu.
Hampir jam 12 malam Alden baru tiba di rumah Dinda. Dia membawa kunci rumah ini juga jadi bisa masuk kapanpun.
Lampu di ruang tamu sudah mati, hanya tinggal lampu di rumah tengah yang masih menyala.
Tapi Alden tidak langsung duduk disana, dia malah membuka pintu kamar Dinda dan melihat wanita itu sudah tertidur dengan posisi miring.
Alden menghampiri, duduk di tepi ranjang itu. Menatap lekat wajah cantik Dinda saat terlelap seperti ini. Hidungnya mancung, bahkan ada freckle
yang muncul disana, bintik-bintik cokelat kecil yang terbentuk abstrak.
"Dinda," panggil Alden, dia coba bangunkan wanita ini.
Dan panggilan pertama Alden itu mampu membuat Dinda menggeliat. Perlahan mengerjabkan matanya dan melihat Alden disana. Tapi Dinda tidak terkejut, dia malah kembali menutup matanya, sudah sangat mengantuk.
"Aku tidur disini ya?" pinta Alden, tapi Dinda tidak menyahuti. Lantas dengan perlahan Alden pun mulai naik, ikut masuk ke dalam selimut dan menarik Dinda untuk di peluknya erat.
Malam itu mereka tidur bersama lagi.
Tanpa disadari oleh Dinda, malam itu dia tertidur dengan bibirnya yang tersenyum kecil.
Bahkan tanpa sadar dia pun membalas pelukan Alden. Memeluk pria ini erat, seperti memeluk sebuah guling.
Sementara Alden yang menyadari semuanya hanya mampu tersenyum, dengan sedikit ragu dia mencuri sebuah ciuman di atas bibir Dinda.
Cup!
"Astaga! aku tidak boleh melakukan itu," ucapnya setelah sadar. Kemudian benar-benar tidur sambil memeluk sang wanita.
Calon istrinya.
__ADS_1