Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 52 - Terdengar Seperti Solusi


__ADS_3

Beberapa hari ini Alden terus mengawasi Dinda dari jarak aman, dia sudah persis seperti seorang penguntit. Kemanapun Dinda pergi dari rumah dia akan selalu ikuti, entah pergi bekerja ataupun pergi ke minimarket untuk memberi kebutuhan sehari-harinya.


Alex bahkan hanya mampu geleng-geleng kepala sendiri melihat kelakuan sang anak. Alex tahu semua tingkah Alden dari anak buahnya yang bertugas menjaga Dinda, penjaga bayangan yang tidak akan disadari oleh semua orang.


Diam-diam Alex pun mengawasi kasus hukum Gaida, semakin hancur wanita itu makan akan semakin brutal pula kemarahannya. Maka dia semakin memperketat penjagaan Dinda.


Alden pun melakukan hal yang sama dengan sang ayah, kedua orang itu melindungi Dinda dengan caranya masing-masing.


Sore ini Alden tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menegur Dinda. Saat wanita itu baru saja turun dari bus dan berjalan masuk ke dalam gang rumahnya, Alden pun turun dari dalam mobil dan mengejar wanita itu.


Apa alasannya kali ini?


"Din, mommy Jia memintaku memberikan ini padamu," ucap Alden secara langsung, ketika bertemu dengan Dinda dia dilarang basa basi, harus mengatakan langsung apa tujuannya agar Dinda merasa tak terusik.


Alden mengulurkan sebuah paper bag dan Dinda menerimanya dengan kasar. Tanpa banyak kata dia bahkan langsung melihat isinya. Beberapa obat-obatan jenis Vitamin dan suplemen makanan. Semalam mommy Jia memang menelponnya untuk mengkonsumsi 2 jenis obat ini. Obat yang sebenarnya diperuntukkan untuk ibu hamil. Tapi baik Dinda ataupun Alden tidak ada yang mengetahuinya, bagi mereka ini hanya obat biasa.


Dan tanpa mengucapkan kata terima kasih, Dinda pun kembali melangkah, meninggalkan Alden begitu saja.


Pria ini sejenak membuang nafasnya pelan, ternyata sangat sulit mendapatkan maaf dari wanita itu. Ternyata tak mudah untuk membuat hubungan mereka jadi lebih baik.


Tapi Alden selalu tak pantang menyerah, dia pun ikut melangkah dan berjalan tepat di samping Dinda. Jangan berjalan di belakang, karena Dinda akan merasa diikuti, jadi Alden pilih langsung berjalan di samping wanita ini.


Mereka hanya saling diam. Dinda pun rasanya sudah malas berdebat, sudah hampir 2 Minggu ini Alden selalu mengikuti dia, bukannya tidak tahu tapi Dinda tidak ingin banyak bicara dengan pria ini.


Terus seperti ini sampai akhirnya mereka hampir tiba di rumah. Namun seketika Alden menyentuh lengan Dinda dan menghentikan langkah wanita ini. Sebuah pergerakan yang membuat Dinda berontak, tapi Alden malah semakin berani membekap mulut Dinda, lalu menariknya untuk bersembunyi di balik tembok pagar rumah orang lain.


"Sstt diamlah, ada orang-orang nenek Gaida di depan rumah mu," bisik Alden, seketika Dinda pun mendelik. Tak peduli dengan tubuhnya yang terhimpit oleh Alden dan tembok, Dinda pun sedikit mengintip ke arah rumahnya dan melihat sebuah mobil terparkir disana. Lengkap dengan 2 orang pria berbadan besar yang seolah mengawasi rumahnya.

__ADS_1


Saat itu Ramsey pun keluar, terlihat ada pembicaraan diantara mereka, entah apa yang dibicarakan, Dinda tidak bisa menebaknya.


Tapi saat itu Ramsey menjelaskan jika rumah ini bukan lagi ditempati oleh Dinda, melainkan Leia. Alex lah yang secara langsung memerintahkan Ramsey untuk menjawab seperti itu.


Dan melihat itu semua tentu saja membuat Dinda kembali merasa takut, dia kira Gaida tidak akan mencarinya lagi. Dia kira setelah Alden dan Liora menikah nenek tua itu akan melupakan dia.


Kejamnya Gaida dan Liora hingga kini masih begitu membekas diingatan Dinda. Gaida telah menipunya untuk datang ke hotel malam itu, lalu mencekokinya dengan obat penggugur kandungan, lagi dan lagi.


Saat itu tubuh Dinda kembali bergetar ketakutan, namun Alden dengan segera memeluknya erat.


"Tentang lah, aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti mu lagi," ucap Alden lirih dan entah kenapa Dinda merasa tenang sekali dibuatnya.


Dinda ingat betul jika beberapa saat lalu dia mengalami mual, namun ketika dalam dekapan Alden begini mual itu seketika menghilang.


"Kenapa nenek Gaida masih mencari ku Al? bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia mau? Liora menikah dengan orang kaya dan itu adalah kamu," tanya Dinda tak kalah lirih. Dia hanya diam saja, berontak pun hanya akan mencuri perhatian orang-orang itu.


"Bukankah sudah berulang kali aku bilang padamu, aku tidak menikah dengan Liora."


"Itu hanya pernikahan palsu."


"Mana ada pernikahan palsu!"


"Sstt, diamlah, dua orang itu sepertinya akan berjalan kemari."


Mendengar itu Dinda langsung membalas pelukan Alden erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria ini. Alden yang hanya menggunakan kemaja putih panjangnya. Dinda bahkan sampai bisa menghirup aroma tubuh Alden.


"Dinda."

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


"Cium aku, mereka tidak akan menegur kita kalau kita berciuman."


Tanpa banyak kata Dinda pun menuruti ucapan Alden, dia mendongak dan sedikit berjinjit untuk menjangkau bibir pria ini. Dan Alden pun menyambut itu, mencium bibir Dinda dengan sangat lembut. Disaat ciuman itu berlangsung, kedua anak buah Gaida melewati mereka.


Sontak saja keduanya terkejut, geleng-geleng kepala melihat sepasang kekasih mesyum ini. Kedua pria itu bahkan langsung memutuskan untuk tidak jadi berkeliling dan menyudahi saja pencarian hari ini.


Namun disaat kedua orang itu sudah pergi, Alden masih belum melepaskan ciumannya pada bibir Dinda. Dan sentuhan lembut yang diberikan oleh Alden seolah menghapus perlakuan kasar malam itu, membuat Dinda jadi semakin nyaman.


Cukup lama berpaut dan akhirnya terlepas saat keduanya sama-sama kehabisan nafas. Alden masih mendekap tubuh Dinda dan nafas mereka sama-sama memburu.


"Apa mereka sudah pergi?" tanya Dinda, dia ingin kembali mengintip namun dengan cepat Alden menahan wajah wanita ini.


"Jangan lihat dulu, mobil mereka akan segera lewat."


Dan saat ada suara deru mobil melintasi mereka, Alden pun dengan segera menyembunyikan wajah mereka dengan mencium pipi Dinda.


Deg! jantung Dinda mulai merasa tak tenang, kini bukan lagi rasa takut yang dia rasa, tapi berdebar.


"Mereka sudah pergi," ucap Dinda dengan kedua tangan yang sedikit mendorong tubuh Alden untuk membuat dekapannya terlepas.


Alden menuruti itu, pada Dinda dia tidak akan pernah lagi jadi pria pemaksa.


"Aku yakin mereka akan kembali datang atau malah mengawasi rumahmu dari jauh," ucap Alden, entah kenapa dia jadi ingin menakut-nakuti Dinda. Meski sebenarnya telah banyak orang yang menjaga mereka.


Saat itu Dinda hanya diam saja, terlena dengan pikirannya sendiri yang diselimuti ketakutan karena Gaida.

__ADS_1


"Ku rasa beberapa hari ini aku harus tinggal di rumah mu. Kita bisa pergi dan pulang kerja bersama-sama,"


"Iya kan?" tanya Alden pula dan entah kenapa ucapan tak masuk akal itu malah terdengar seperti solusi bagi Dinda.


__ADS_2