Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 45 - Terbuang


__ADS_3

Karena sudah terlalu banyak berbohong membuat Dinda Jadi tidak bisa merasa tenang. Kadang dia takut kebohongannya akan terbongkar, kadang takut membuat keluarga ini marah dan kecewa. Meski rumah ini begitu nyaman namun dia tidak bisa merasakan kenyamanan itu.


Dinda selalu cemas, diselimuti rasa takutnya sendiri.


Berulangkali yang dia inginkan adalah segera keluar dari rumah ini. Entah kemana, tapi yang jelas setelah Alden dan Liora menikah, bukankah Liora dan Gaida tidak akan mencarinya lagi? selalu itu yang dipikirkan oleh Dinda.


"Leia, kenapa kamu beluk tidur?" tanya Aleia, setelah makan siang bersama Jia memerintahkan kedua anaknya perempuannya untuk istirahat di dalam kamar.


Aleia dan Leia sudah sama-sama berbaring di atas ranjang. Sejujurnya Aleia pun sudah mengantuk, namun dia tidak bisa tidur karena Leia selalu bergerak tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.


"Maaf Aleia, apa aku mengganggumu?"


"Iya, karena itu tenanglah, kalau ada yang mengganggu pikiranmu coba ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantu," jawab Aleia.


Sesaat Dinda hanya diam, sampai akhirnya terbesit dalam pikirannya untuk memberitahu Aleia lebih dulu sebelum mengatakan pada semua orang tentang siapa dia sebenarnya.


"Aleia."


"Hem, kenapa? kamu tidak mau bercerita dengan ku? kamu bisa mati kalau memendamnya sendiri, inilah gunanya saudara, saling berbagi suka dan duka," balas Aleia panjang lebar, diantara nyawanya yang setengah sadar. Karena dia benar-benar sudah mengantuk.


"Mana bisa aku cerita, kalau kamu saja sudah mau tidur."


"Ya ampun, kamu benar-benar menganggu ku. Kalau begitu ayo duduk." Ajak Aleia pula, dengan malas-malasan dia pun akhrinya duduk, diikuti pula oleh Dinda.


"Sekarang katakan."


"Maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Sebenarnya, selama ini aku tidak lupa ingatan."


"What?!"


"Dengarkan aku dulu."


"Kamu membohongi mommy dan Daddy!" balas Aleia dengan suaranya yang mulai meninggi.


"Karena itulah aku minta maaf, aku akan secepatnya keluar dari rumah ini."


"Bukan itu masalahnya, tapi kenapa kamu membohongi mommy dan daddy!"


"Aku punya alasan."


"Kenapa?"


"Hidupku terlalu rumit, saat itu aku berlari dari kejaran seseorang, lalu sengaja menabrakan diri ke mobil ayah mu. Dan saat aku tahu ayah dan ibumu sangat baik, aku memanfaatkannya untuk berlindung. Maafkan aku Aleia, maafkan aku."

__ADS_1


Mendengar itu Aleia sadar satu hal, pasti saat itu Leia tengah kabur dari pria yang sudah memperkkosanya.


"Jadi siapa nama mu sebenarnya?"


"Dinda."


"Dinda siapa?"


"Adinda Holscher."


"Dimana ibu mu?"


"Tinggal di kota S bersama Tante ku."


"Apa kamu akan mengakui semuanya pada mommy dan Daddy."


Dinda mengangguk.


"Lalu bagaimana jika orang yang mengerjar mu itu kembali datang?"


"Aku akan menghadapinya dengan lebih berani."


Aleia tidak bertanya lagi, dia langsung memeluk erat tubuh Dinda. Kejujuran ini malah semakin membuatnya merasa iba.


"Tetaplah disini, kamu bisa bekerja di kantor mommy Jia. Hubungi ibumu dengan ponselku."


"Marah sedikit, marah ku akan hilang setelah kamu berkata jujur pada Mommy."


"Aku akan mengatakannya nanti malam."


"Iya."


Dinda akhirnya memberanikan diri untuk membalas pelukan itu. Sesaat keduanya saling memeluk erat, lalu saling melepaskan dan benar-benar tidur siang.


Setelah mengakui semuanya pada Aleia, membuat Dinda sedikit merasa lega.


Sementara itu di tempat lain, Alden yang sudah tahu jika Liora pulang ke rumah Gaida pun langsung mendatangi rumah mewah itu.


Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun Alden langsung masuk ke dalam rumah tanpa izin.


"Liora!" panggilnya dengan suara tinggi. Liora dan Gaida yang sedang duduk di ruang tengah pun langsung mendengar panggilan itu.


Keduanya merasa geram dan bangkit ingin segera menghampiri. Tak ingin Alden semakin dalam masuk ke rumah ini. Mereka tak ingin pria miskin itu mengotori rumah mereka.


"Liora!"


"Berhenti memanggilku seperti itu! Dasar pria miskin!!" geram Liora, dia langsung bicara seperti itu ketika sudah berdiri di hadapan Alden, jarak mereka hanya sekitar Lima langkah. Apa yang telah dilakukan oleh Alden padanya benar-benar tak bisa Liora maafkan.

__ADS_1


Liora ingin jadi ratu, bukan babu.


"Kenapa kamu pulang ke rumah ini tanpa memberi tahu ku?!"


"Jangan membentakku! mulai hari ini juga aku ingin kita berpisah! pengacara nenek sudah mengurus semuanya untuk pembatalan pernikahan kita!!" balas Liora, Gaida yang mendengar perdebatan itu hanya berdecih, menatap remeh.


Hanya nama saja yang mengunakan Carter, namun Alden tetap pria miskin yang jadi benalu di keluarga mereka.


"Kamu ingin berpisah?"


"Iya!"


"Baiklah, kalau begitu dengar ini baik-baik. Hubungan kita sudah berakhir, jadi jangan pernah datang lagi padaku."


"Cih! aku juga tidak sudi melihat mu lagi."


"Ku pegang kata-kata mu."


Belum sempat Liora membalas ucapan Alden, tiba-tiba pengacara Gaida pun datang ke sini. Membawa kabar setelah dia dari catatan sipil.


"Katakan, apa yang kamu dapatkan," Titah Gaida dengan sombongnya, ingin Alden benar-benar merasa terbuang. Ingin pria ini sadar diri bahwa mereka telah membuangnya.


"Maaf Nyonya, tidak ada pernikahan atas nama Nona Liora dan Tuan Alden, pernikahan mereka tidak pernah terdaftar sakalipun," jelas pengacara itu apa adanya, dan sontak saja membuat Liora dan Gaida tercengang.


"Apa maksudmu?!" tanya Liora pula.


Namun kemudian tatapan Gaida dan Liora teralihkan pada suara decih yang keluar dari mulut Alden. Menyadari itu mereka berdua tahu, jika ini semua pasti ulah pria itu.


"Apa maksudnya ini Al?" tuntut Liora.


"Apa kamu kira aku akan menikahi mu? kamu terlalu percaya diri Lio."


"Apa maksudmu Al?" tanya Liora sekali lagi, kini tak ada lagi suara tinggi yang keluar dari mulutnya, kini suaranya terdengar begitu lirih.


"Jangan katakan kamu hanya mempermainkan aku? Jangan katakan jika sebenarnya pernikahan itu tidak pernah ada," ucap Liora, meski dia sangat membenci Alden setelah semua yang terjadi, namun sungguh tentang hal ini semakin membuat hatinya sakit.


Seolah Alden tak puas jika hanya melihatnya terpuruk, sampai dengan tega Alden menghujamnya dengan kenyataan pahit ini.


"Kamu benar Lio, sebenarnya kita tidak pernah menikah. Surat yang kamu tanda tangani itu adalah palsu."


"Kenapa?"


"Kenapa? karena kamu memang tidak pantas menjadi istriku."


Liora bergeming, namun Gaida yang sangat marah mendengar itu pun dengan segera melayangkan tangannya hendak menampar Alden. Namun dengan cepat Alden menepis tangan itu, bahkan tak segan mencelanya kuat.


"Nenek Gaida yang terhormat, bersiap-siaplah, aku sudah melaporkan kasus kita pada kepolisian. Tentang obat perrangsang yang kamu tabur di dalam minuman ku."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2