Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 56 - Keinginan Anak Kita


__ADS_3

Sudah berbaikan, membuat hubungan Alden dan Dinda jadi sedikit canggung.


Dua pelayan di rumah itu bahkan sangat terkejut saat pagi-pagi mereka tidak melihat Alden tidur di sofa, malah keluar dari dalam kamar Dinda.


Tapi untunglah Alden masih mandi di kamar mandi belakang, tidak mandi di kamar Dinda juga.


Tapi setelah mandi, dua pelayan itu memantau Alden kembali masuk ke dalam kamar sang Nona.


"Din, pinjam sisir," ucap Alden dengan kepala yang melongok. Percayalah, ini hanya alasan saja. Saat itu Dinda juga baru mandi, Dinda menggulung rambut panjangnya menggunakan handuk kecil, beberapa rambutnya yang menjuntai masih terlihat basah.


Dinda pun mengambil sisir di meja rias, berniat menyerahkannya pada Alden, tapi pria itu malah masuk tanpa menutup pintu itu lagi, menciptakan kesan aman bagi sang wanita.


"Di luar tidak ada kaca," ucap Alden lagi, ketika dia sudah berdiri tepat di hadapan Dinda, bahkan menatap lekat kedua manik mata milik Dinda yang begitu indah, berwarna coklat.


Dan tatapan dalam itu sontak saja membuat jantung Dinda berdebar, berdegup dengan kencang.


Buru-buru Dinda memutus tatapan diantara mereka, pura-pura sibuk dengan rambutnya yang basah.


"Ini sisirnya," ucap Dinda pula.


"Biar ku keringkan rambut mu lebih dulu."


"Tidak perlu."


Alden menarik Dinda untuk duduk di kursi meja rias, lalu mengambil handuk di kepala wanita itu hingga rambut basahnya terurai.


"Aku bisa sendiri Al."


"Tapi aku ingin membantu mu Dinda."


"Mana ada bantuan mengeringkan rambut, itu terlalu sepele. Aku tidak butuh bantuan untuk hal itu."


"Lalu kamu butuh apa?"


Dinda tidak menjawab, mendadak wajahnya berubah merah, menahan gejolak yang mendera di perutnya.


Dinda merasa sangat mual.


"Kamu kenapa?" tanya Alden, dia mulai cemas.


Tapi Dinda tak mampu menjawab, andai membuka mulut rasanya dia akan muntah sekarang juga.


Jadi daripada menjawab pertanyaan itu, Dinda langsung saja berlari menuju kamar mandi.


Dan Alden yang semakin cemas pun mengikuti langkah Dinda.


Huwek! muntah Dinda, tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.


Hanya rasa mual yang luar biasa, Alden pun berdiri di samping wanita ini, memegangi rambut Dinda yang panjang agar tidak jatuh, dia juga memijat tengkuk Dinda dengan lembut.


"Kamu kenapa?" tanya Alden, saat Dinda sepertinya tak lagi ingin muntah.


"Aku mual sekali."

__ADS_1


"Mual?"


"Iya, sepertinya masuk angin."


Dinda berkumur dan membasuh wajahnya di westafel, Alden pun mengambil handuk kecil disana dan membantu Dinda mengeringkan wajahnya yang basah.


Dari jarak sedekat ini membuat Dinda bisa menatap wajah Alden dengan jelas, tiap inci wajah pria ini bisa dia amati. Mulai dari dua matanya yang tegas, hidung hingga bibir.


Entah kenapa Dinda butuh waktu lama untuk menatap bibir itu, seolah ingin menciumnya dalam.


Hasrat aneh yang Dinda rasakan. Bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuat mual Dinda jadi menghilang.


Kini Dinda ingin mencium bibir itu, sangat ingin, tapi dia tak kuasa untuk melakukannya lebih dulu, apalagi meminta.


Tapi hasrat dalam dirinya tak bisa dipendam, andai dia tidak mendapatkan ciuman itu rasanya Dinda bisa mati.


"Al."


"Apa?"


"Boleh aku minta bantuan mu?"


"Katakan."


"Cium aku."


"Apa itu sebuah bantuan?"


Dinda mengangguk.


Tanpa menjawab lagi Alden langsung menahan tengkuk Dinda menyatukan bibir mereka. Ciuman dalam Alden berikan, bahkan kini Dinda membalas tak kalah dalam.


Ciuman perlahan itu lambat laun berubah jadi ciuman yang menuntut lebih. Alden bahkan berulang kali mengelus punggung Dinda dengan lembut.


Dan semakin berani menyentuh tubuh Dinda saat merasakan wanita ini memainkan lidahnya di dalam ciuman mereka.


Jika seperti ini terus Alden takut tak bisa berhenti, dia takut kembali menyentuh Dinda seperti malam itu. Tapi Dinda tak ada sedikitpun tanda-tanda akan melepaskan ciuman mereka.


Dinda jadi sangat agresif, Alden tentu senang-senang ssja, tapi dia juga jadi sedikit bingung.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Dinda?


Kenapa setelah mual seperti itu wanitanya jadi liar seperti ini?


"Din, jika seperti ini terus aku tidak akan bisa berhenti," ucap Alden dengan suaranya yang berat, setelah dia berhasil melepaskan ciuman diantara mereka.


Nafas keduanya sama-sama memburu, Sama-Sama panas menyapu wajah keduanya yang dingin.


"Aku juga tidak bisa berhenti Al, bagaimana ini?" tanya Dinda pula, lengkap dengan tatapannya yang seolah memohon. Sangat ingin disentuh.


Tapi Dinda sabar sadar jika mereka belum menikah, entahlah, kini dia benar-benar bingung, antara hasrat dan akan sehatnya mulai beradu.


Satu yang pasti, dia sangat menginginkan Alden.

__ADS_1


Rasa itu seperti bukan kehendaknya, seolah ada bagian dari dalam dirinya yang menginginkan akan hal itu.


Alden lantas mengangkat tubuh Dinda, mendudukkan di atas meja westafel. Dia mengukir jarak, berada di antara kedua kaki Dinda yang terbuka.


Alden membelai lembut wajah wanitanya, wajah merah merona yang sangat cantik. Tangannya terus turun dan menarik gaun rumahan Dinda hingga jatuh ke lengan sang wanita ini. Memperlihatkan bagian tubuh Dinda yang begitu indah.


"Kamu ingin melakukannya?"


Dinda mengangguk.


"Tidak akan menyesal? tidak akan marah pada ku?"


Kali ini Dinda menggeleng, "Tidak," jawabnya kemudian dengan suaranya yang lirih.


Namun sebelum Alden memulai semuanya, dia mengambil sesuatu di dalam saku celananya, sebuah kotak kecil berwarna biru tua.


Alden membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan sebuah cincin berlian yang sangat indah, Dinda bahkan sampai terkesima melihatnya.


"Aku akan benar-benar menikah mu Din, percayalah, aku bukan pria hidung belang," ucap Alden, dia tak ingin Dinda menganggapnya hanya sebagai pria mesyum. Apalagi mereka berencana untuk melakukan penyatuan yang kedua.


Dinda hanya terkekeh pelan, membuatkan Alden memasang cincin itu di jari manisnya.


Dinda tak mampu berkata-kata lagi. Dia terlalu bahagia.


"Kamu adalah wanita ku," ucap Alden.


Setelahnya dia mengukir jarak, Kembali mencium bibir Dinda dan memulai percintaan kedua mereka.


Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari dalam kamar mandi dan semakin canggung.


Dinda baru menyadari semuanya dan sangat malu. Apalagi saat ingat ketika dia mendesah panjang memanggil nama Alden.


Astaga, kenapa aku mendadak gila! gerutu Dinda di dalam hatinya.


"Dinda."


Deg! jantung Dinda seperti tersengat ketika mendengar Alden memanggilnya seperti itu.


"Ingat jangan marah."


"Iyaa," jawab Dinda dengan bibir mencebik.


"Kamu mau tau sesuatu?"


"Apa?"


Alden kembali memeluk tubuh Dinda erat, kembali mengecup bibir Dinda dengan mesra dan menyelipkan rambut Dinda ke belakang telinga.


"Kamu tidak perlu malu tentang apa yang terjadi di dalam kamar mandi tadi, aku tahu itu bukan keinginan mu."


Kedua mata Dinda melebar, tidak paham maksud ucapan Alden.


"Sepertinya itu keinginan Anak kita," ucap Alden seraya mengelus perut Dinda dengan sayang.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2