Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 41 - Selamat Malam Leia


__ADS_3

"Kembali lah ke kamar mu Al, ini sudah jam 10 malam. Liora pasti menunggu mu," ucap Jia, dia juga sudah ingin memanggil sang suami yang ada di ruang kerja. Menghentikan aktivitas Alex dan mengajak suaminya itu untuk tidur.


"Mom ..." panggil Alden, namun terjeda, dia tatap kedua mata ibunya lekat. Tatapan teduh itu tak kuasa untuk dia hancurkan dengan kebenaran ini, bahwa dia lah pria yang telah merusak Dinda.


Harusnya Alden mengakui semuanya dulu pada sang ayah barulah mengatakan pada ibunya. Atau tetap menutup rapat tentang ini semua dan menikahi Dinda sebagai bentuk pertanggungjawaban.


"Kenapa sayang?" tanya Jia pula, tatapan Alden yang seperti itu, mirip sekali dengan tatapan suaminya ketika Alex sedang banyak masalah, lalu ingin bercerita namun ragu.


Pelan, Alden menggeleng. Sudah dia putuskan untuk tidak memberi tahu mommy nya.


"Malam ini aku tidak jadi menginap di rumah, aku akan mengajak Liora pulang."


"Kenapa?" tanya Jia sedikit terkejut.


"Ini adalah malam pertama kami, harusnya kami tidur di rumah."


"Oh, baiklah sayang," jawab Jia dengan tersenyum kecil.


Padahal bukan itu alasannya, dia tidak ingin Liora nanti melihat Dinda. Wanita licik itu pasti akan kembali berulah.


Setelah pamit pada sang ibu, Alden kembali ke dalam kamarnya. Masuk ke dalam sana dan melihat Liora yang sudah berbaring di atas ranjang hanya mengunakan dalaman saja. Menatap Alden penuh damba untuk memulai semuanya.


"Kamu lama sekali Al? aku sudah menunggu mu," ucap Liora dengan suaranya yang sensual. Namun bukannya berhasrat, Alden malah jijik melihat tingkah istri palsunya itu, seperti jalaang yang haus akan belaian.


"Pakai baju mu, kita pulang ke apartemen," ucap Alden dengan suaranya yang dingin, lengkap dengan tatapan tajam. Cerita tentang Dinda yang baru dia dengar membuat Alden semakin marah, semakin benci pada nenek dan cucu ini.


Ucapan Alden itu seketika membuat Liora mendelik. Dia sudah telanjjang dan Alden malah mengajaknya pulang.


Saking terkejutnya Liora bahkan belum sempat menyahuti, namun Alden sudah lebih dulu meninggalkan kamar ini. Kembali menempatkan dia sendirian di dalam kamar ini.


"Arght!! Sialan!" makinya dengan sangat geram.


Bukan hanya marah, namun harga dirinya pun seperti runtuh. Alden benar-benar membuatnya terlihat seperti Jalaang.


"Awas kamu Al! aku tidak akan pernah melayani kamu!!" geram Liora. Mau tidak mau dia kembali memakai bajunya dan segera meninggalkan tempat ternyamannya ini, menuju apartemen yang baginya seperti gubuk.

__ADS_1


Sepenjang perjalanan mereka pulang hanya ada diam diantara Alden dan Liora.


Alden masih terus berpikir bagaimana caranya dia bisa kembali bertemu dengan Dinda.


Dengan pikirannya yang kalut itu akhirnya mereka sampai di apartemen.


Namun saat Liora sudah turun dari atas motornya, Alden malah kembali memutar gas dan pergi dari basement.


"Al! Mau kemana kamu?!'"


"ALDEN!!" pekik Liora, namun Alden tetap melakukan motornya dan mengabaikan panggilan itu.


"ALDEN!!" Habis sudah kesabaran Liora, dia terduduk dan menangis di basement itu. Tangisnya meraung-raung meratapi nasibnya yang sesial ini. Semua mimpinya telah pupus, pernikahan tanpa pesta, apartemen yang sangat sempit dan malam pertama yang ditinggalkan.


Liora menangis dalam kesendiriannya malam ini. Sepi itu semakin membuatnya tersiksa.


Sementara Alden sungguh tak peduli dengan Liora. Rasanya siksaan apapun tak akan mampu menebus semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Liora, terlebih pada Dinda. Wanita yang sejatinya adalah korban dari keegoisan mereka.


Alden membelah jalanan kota malam itu, sampai akhirnya dia berhenti di pinggiran jalan. Dia menghubungi Derick.


Beberapa menit kemudian sang asisten pun datang menghampiri dia.


"Dinda ada di rumah kedua orang tua ku, hentikan semua pencarian. Dan ... hancurkan Nenek tua itu sekarang juga," Titah Alden.


"Baik Tuan," jawab Derick patuh.


Gaida adalah seorang pebisnis tas branded. Pelanggannya adalah dari kalangan atas. Bisnis yang akan diwariskan untuk sang anak.


Tas-tas itu memang semuanya Asli, namun Alden akan membuatnya jadi palsu dan mempermalukan Gaida. Kelicikan wanita itu akan Alden balas pula dengan cara licik.


Tak peduli jika akhirnya jadi peran antagonis, namun Alden akan tetap membalaskan semuanya. Gaida dan Liora telah mempermainkan hidupnya, maka Alden akan membalas hal setimpal.


Beberapa tas yang dalam pengiriman untuk sampai sampai di pelanggan akan Derick tukar dengan barang palsu.


Setelah bersepakat mereka pun berpisah. Tapi saat itu Alden tidak pulang ke apartemen.

__ADS_1


Dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Rumah mewah yang telah dia persiapkan untuk calon istri yang sesungguhnya.


Tapi kini yang terpikirkan oleh Alden hanyalah membawa Dinda pulang ke rumah ini.


Malam itu. Alden memang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun pikirannya terus tertuju pada Dinda.


"Benarkah Dinda lupa ingatkan?" gumam Alden. Dia sudah putuskan untuk kembali menemui Dinda esok hari, entah bagaimana pun caranya.


Sementara itu di rumah keluarga Carter. Semua orang tertidur dan tenggelam dalam mimpinya masing-masing. Tapi tidak dengan Dinda.


Pertemuannya dengan Alden tadi membuatnya takut. Membuatnya semakin dekat dengan Liora dan Gaida.


Meski tidak bertemu dengan wanita kejam itu, tiap kini Dinda tahu jika Alden telah menikah dengan Liora.


Entah kenapa dada Dinda sesak sekali ketika menyadari itu. Dia sudah katakan semuanya tentang Liora dan Gaida yang jahat. Namun akhirnya Alden tetap menikahi wanita itu.


Diantara diamnya Dinda menatapi langit-langit kamar ini, Ada air bening yang mengalir dari kedua sudut matanya.


Cinta benar-benar sudah membuat Alden buta. Dan harusnya Dinda sadar diri, dia hanyalah orang asing bagi pria itu.


Penderitaannya tak akan ada artinya apa-apa bagi Alden.


Tetap Liora lah yang akan dia pilih, yang akan Alden utamakan.


Begini lah yang ada dipikiran Dinda, dulu Alden pura-pura miskin, kemudian Gaida menjebak mereka bersama, karena tak ingin pisah dengan Liora jadi Alden utarakan jati dirinya yang merupakan keluarga Carter. Gaida akhirnya setuju dan terjadilah pernikahan itu.


Ya, seperti itu. batin Dinda seraya tersenyum getir.


Karena pada akhirnya dialah yang harus menanggung semua luka, sendirian.


Dinda hapus air matanya sendiri. Mencoba tenang dari kalutnya hati.


Dia lantas menatap Aleia yang yang tertidur nyenyak.


Percuma juga menceritakan semua pada keluarga ini. Alden adalah bagian dari mereka, yang ada malah aku yang akan terbuang. Batin Dinda.

__ADS_1


Dia sudah putuskan, besok akan pergi. Dinda akan pamit, Dinda akan katakan dia telah mengingat semua kenangan yang sempat lupa.


"Huh, selamat malam Leia, tidurlah. Besok kamu harus pergi sebagai Dinda," gumam Dinda lirih.


__ADS_2