
Alden mundur perlahan, meski sebenarnya dia sangat ingin memeluk tubuh Dinda yang ringkih. Namun ketakutan yang terlihat jelas pada Dinda membuatnya tak berkutik.
Pria ini sadar satu hal, malam itu mungkin baginya biasa saja, namun tidak bagi Dinda. Terlebih setelahnya Dinda kembali dicekoki obat penggugur kandungan oleh Liora dan Gaida. Jelas saja semuanya jadi kenangan yang paling menakutkan, hingga membuatnya mengalami depresi dan trauma.
"Aku akan pergi, tapi aku mohon Dinda, tetaplah berada di rumah ini. Percayalah padaku Din, aku tidak benar-benar menikah dengan Liora, tapi aku sedang membalas apa yang telah mereka lakukan pada kita dan tentang ibumu, aku berjanji akan menjaganya," ucap Alden lirih, namun panjang lebar, karena sebenarnya dia ingin membicarakan ini semua dengan Dinda. Tapi sepertinya kondisi wanita itu tidak memungkinkan untuk mereka bicara.
Bahkan saat ini Alden masih terus melihat Dinda yang menggelengkan kepalanya, seolah menolak semua yang dia ucapkan dan hanya percaya dengan apa yang dia lihat dan dialaminya.
Dengan masih menatap Dinda, Alden pun membuka pintu kamar itu dan keluar. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat Aleia berdiri tepat di depan pintu kamar itu.
Deg! jantung Alden seperti tersengat, namun Aleia baru saja datang, dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana dan juga heran sekaligus kaget kenapa Alden keluar dari dalam kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan? jangan ganggu Leia!" ucap Aleia dengan suaranya yang meninggi.
Namun Alden hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.
Aleia kemudian melewati begitu saja tubuh Alden, lalu masuk ke dalam kamar. Sebelum pergi bekerja dia ingin memeriksa keadaan Leia, karena itulah dia kembali naik ke atas sini.
Tapi ketika sudah berada di dalam kamar, Aleia tidak melihat Leia, dia hanya mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Mendengar itu, gadis cantik ini cukup tahu jika Leia pasti berada di sana.
Dan saat Aleia kembali berbalik, dia tak lagi melihat Alden di depan pintu kamarnya.
"Alden itu kenapa sih?" gumam Aleia, merasa sikap Alden telihat aneh, cenderung mencurigakan. Otaknya yang nakal bahkan berpikir jika Alden itu sebenarnya tertarik pada Leia.
"Hii, sudah punya istri masa seperti itu," gumam Leia, dia bergidik ngeri. Jadi semakin ingin menjaga Leia dari pria-pria hidung belang seperti itu.
Sementara itu Dinda di dalam kamar mandi dengan segera membasuh wajahnya, coba menghilangkan tanda-tanda tangisnya barusan. Saat Alden keluar dia sempat mendengar suara Aleia, mendengar suara itu dia buru-buru berlari ke dalam kamar mandi. Tidak ingin Aleia melihat kondisinya yang berantakan.
"Tenang Dinda, tenanglah, Huuh."
"Tenang," gumamnya seraya menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Menatap wajahnya yang sudah basah oleh air. Kedua matanya yang terlihat merah tak bisa hilang begitu saja.
__ADS_1
Tidak ingin Aleia menunggu lama akhirnya Dinda keluar juga dari sana. Saat itu tatapannya bahkan langsung bertemu dengan Aleia.
"Kamu kenapa?" tanya Aleia cemas, wajah Dinda yang sembab masih mampu dia lihat.
"Aku-aku tadi muntah," jawab Dinda bohong, hanya itu alasan yang terbesit di kepalanya.
"Astaga, berbaring lah, biar aku oles perutmu menggunakan minyak kayu putih. Mommy juga sudah memanggil dokter yang menangani kamu kemarin," terang Aleia. Dokter yang menangani Dinda selama ini adalah dokter Sabrina.
Dinda pun mengangguk, satu kebohongan selalu saja jadi panjang seperti ini. bahkan sampai dokter Sabrina pun ikut datang, padahal dia tidak benar-benar sakit.
Maafkan aku Aleia. Batin Dinda. Dia hanya bisa mengucapkan kata maaf di dalam hati, tidak tahu entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut dan tiap hari kebohongnya selalu bertambah.
Di luar sana Alden kembali turun ke lantai 1 dan menemui kedua orang tuanya. Alden tak sanggup untuk membendung masalah ini sendirian. Jadi dia putuskan untuk mengakui semuanya pada ayah dan ibunya.
"Mom, Dad, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Alden dengan suaranya yang bergetar.
"Bicara apa sayang?" sahut Jia, bicaranya yang lembut selalu membuat siapapun yang mendengarnya jadi tenang.
"Baiklah Dad," jawab Jia patuh pada perintah sang suami. Adanya perintah ini dia pun tahu jika Alex tidak ingin mendengar pembicaraannya dengan Alden. Jia tidak merasa keberatan akan hal itu, karena dia yakin, nanti Alex sendirilah yang akan menceritakan kepadanya tentang apa yang ingin diutarakan oleh sang anak.
Disaat Jia naik ke lantai 2, Alex pun memimpin langkah menuju ruangannya, sedangkan Alden mengikuti langkah sang ayah.
Alex sungguh tidak ingin Jia mengetahui masalah Alden. Dia takut Jia akan sangat bersedih.
Sampai di ruangannya, Alex duduk di kursi kerja. Sementara Alden mengunci pintu itu rapat.
Kemudian dia menghadap sang ayah.
Bukan duduk di kursi, melainkan langsung bersimpuh di depan meja itu.
"Maafkan aku Dad," ucap Alden.
__ADS_1
Tapi Alex tetap bergeming, tidak pula meminta anaknya untuk bangkit. Dia telah tahu semuanya, bahkan dia tahu jika Leia adalah Dinda.
"Aku mengenal Leia Dad, dia adalah Adinda dan akulah yang telah membuatnya seperti itu," ucap Alden, kedua matanya sudah merah, namun tak ada air mata yang jatuh. Hanya dadanya yang merasa semakin sesak.
"Apa yang telah kamu lakukan padanya?"
"Aku memperkkosa dia Dad."
Saat itu juga Alex bangkit, dengan langkah lebar dia menghampiri sang anak dan melayangkan sebuah tamparan keras di wajah anaknya itu.
Plak!! satu tamparan keras Alex berhasil membuat Alden terhuyung, namun dia masih bisa tetap bersimpuh di depan sang ayah. Dia terima tamparan ini, bahkan jika sang ayah akan menghajarnya pun dia terima.
Alden sadar dia telah bodoh, dia mudah diperdaya.
"Daddy benar-benar kecewa padamu Al. Inilah hasil yang kamu dapat setelah keluar dari rumah."
Alden menunduk, tak bisa membantah.
"Sekarang pergilah dari rumah ini, tutup rapat-rapat aib mu itu, jangan sampai mommy dan saudara-saudara mu tahu," titah Alex, suaranya tak kalah bergetar. Dia pun bingung harus bagaimana. Alex tidak ingin semuanya jadi terluka karena hal ini. Tentang istrinya dan anak-anaknya yang lain.
"Leia akan ada dalam perlindungan Daddy, urus saja Liora dan Gaida," ucap Alex pula.
Setelahnya dia segera keluar lebih dulu dari ruangan itu dan menutup pintunya dengan keras.
Brak!
Sementara Alden masih bersimpuh. Di ruang sepi ini nafasnya terdengar memburu.
Maafkan aku Din, maafkan aku Mom, maafkan aku Dad, maafkan aku Aleia, maafkan aku Ray, maafkan aku Ar, maafkan aku Ron. Maafkan aku.
Maafkan aku.
__ADS_1