Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 67 - Tidak Ingin Menunda


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Alden dan Dinda sampai di tempat tujuan. Rumah milik Alden pribadi.


Rumah yang memang telah dia persiapkan untuk ditinggali bersama dengan sang istri.


Rumah yang cukup luas dan megah. Dinda bahkan tak menyangka jika Alden akan membawanya kemari, dia kira setelah menikah Alden akan tetap hidup sederhana seperti selama ini.


"Selamat datang nyonya Alden, ini adalah rumah kita," ucap Alden, seraya membimbing langkah Dinda untuk segera masuk ke dalam rumah itu. Mulai masuk ke ruang tamu dan terus melangkah bersama. Sampai ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka berdua.


Mengingatkan Dinda pada saat dia pertama kali datang ke rumah utama keluarga Carter.


"Kita akan tinggal disini?" tanya Dinda dan Alden mengangguk. Mereka berdua berdiri di ruang tengah, dari sana semuanya terlihat jelas. Tangga menuju lantai 2, banyak pintu kamar di lantai 1 ini dan sebuah ruangan yang diyakininya meja makan beserta dapur. Dinda memindai tiap sudut rumahnya itu dari tempatnya berdiri.


"Seminggu lagi ayo kita ajak mama Julia untuk tinggal disini."


"Benarkah?" tanya Dinda, seraya mengalihkan tatapannya dari seisi rumah ini menuju kedua mata milik sang suami.


"Tentu saja."


Saking bahagianya, Dinda bahkan langsung berjinjit dan memeluk Alden erat. Menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.


Tapi Dinda langsung menjerit, saat Alden malah menggendongnya bridal style.


"Al!" pekik Dinda namun Alden tidak peduli, dia malah tersenyum dan membawa sang istri naik ke lantai 2.

__ADS_1


"Kita mau kemana?"


"Kamar kita," jawab Alden.


2 kata yang membuat Dinda langsung mengulum senyum. Sudah sangat dia tahu apa yang akan terjadi di dalam sana.


Dinda membuka pintu sebuah kamar dan Alden membawa mereka masuk ke dalam sana.


Kedua mata Dinda melebar saat dia melihat kamar ini telah dihias dengan banyak kelopak bunga mawar merah. Bahkan bertaburan di atas ranjang dengan sangat indah.


"Kamu menyiapkan ini semua Al?"


"Bukan sayang, aku hanya memberi perintah pada Derick."


Alden lantas membaringkan sang istri di atas ranjang itu, dan dia pun menindihnya. Semerbak aroma bunga mawar langsung memenuhi penciuman mereka berdua, seolah menambah hasrat untuk segera menyatu.


Sesaat keduanya hanya saling tatap, menciptakan sunyi yang penuh damba. Sama-sama memindai wajah satu sama lain, menikmati pahatan terindah. Mata, hidung dan bibir yang sama-sama membuat keduanya mendamba.


"Din."


"Apa?"


"Aku akan melakukannya pelan-pelan."

__ADS_1


"Iihh," kesal Dinda, dikira mau bicara serius malah membahas akan hal itu.


Alden terkekeh pelan, dia bangkit dan membawa Dinda untuk duduk lebih dulu. Dalam posisi seperti itu, Alden kemudian coba melepaskan baju sang istri.


Menarik resleting gaun istrinya yang ada di punggung.


"Al, aku malu."


"Mau lampu utama dimatikan?"


Dinda mengangguk. Alden kemudian mematikan lampu utama kamar itu dan menyisahkan lampu yang temaram. Kembali menghampiri sang istri dan coba melepaskan baju itu lagi.


"Al."


"Apa?"


"Biar aku sendiri."


"Tidak," tolak Alden dengan seringai dibibir, dia melepaskan baju istrinya secara perlahan. Menarik gaun itu dari pundak hingga turun kebawah. Membuat gundukan sang istri seketika terlihat samar-samar, namun tetap jelas dimatanya. Alden bahkan melepaskan bra itu dan membuat tubuh atas Dinda benar-benar polos.


Seketika tubuh Dinda merinding. Apalagi saat Alden menatapnya lekat penuh minat. Hanya ditatap seperti ini saja, kedua dadanya sudah menegang.


Dan Alden suka sekali melihat perubahan itu. Lantas tanpa menunda lagi Alden segera mencium bibir sang istri, memulai percintaan panas mereka di malam perttama.

__ADS_1


__ADS_2