Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 38 - Rasa Bersalah


__ADS_3

Bagaimanapun Liora dan Gaida berusaha untuk membuat pesta itu ada, namun tetap saja Alden tidak bisa menurutinya.


Pria itu bahkan menunjukkan buku rekeningnya yang hanya menyimpan sedikit uang. Jangankan untuk membuat pesta, uang itu bahkan tak cukup untuk membayar sewa apartemen Alden selama 1 bulan.


Liora frustasi, rencana terakhirnya adalah mengancam Alden akan mengakhiri hubungan mereka andai keinginannya tidak dituruti.


Pagi-pagi sekali Liora mendatangi apartemen sang kekasih dan masuk begitu saja karena dia sudah menghafal passwordnya.


Dan alangkah terkejutnya Liora saat dia melihat keadaan di dalam apartemen ini, sangat berantakan dan tercium aroma tak sedap yang sangat menyengat. Liora bahkan sampai terbatuk saking tidak nyamannya.


"Ya Tuhan, apa seperti ini Alden yang sesungguhnya? jorok sekali," gerutunya, Liora bahkan berjalan dengan jijik masuk lebih dalam.


"Al!" panggil Liora ketika dia sudah masuk dan berada di ruang tengah.


"Alden!"


Tak lama kemudian Alden keluar dari dalam kamarnya, rambutnya basah mengisyaratkan jika pria itu baru saja selesai mandi.


Jia seperti itu Alden memang sangat tampan, namun tanpa uang tidak akan ada artinya apa-apa di mata Liora.


"Al, ini sudah satu Minggu semenjak kita menemui nenek dan kedua orang tua mu. Mau bagaimana pernikahan kita?!" tuntut Liora langsung, bahkan tanpa ada basa basi lebih dulu diantara mereka.


"Bagaimana apanya? aku sudah mendaftarkan berkas-berkas kita berdua, mungkin 3 hari lagi berkas itu selesai diproses dan kita resmi jadi sepasang suami dan istri," jelas Alden santai, dia bahkan tetap melangkahkan kakinya menuju dapur dan melewati Liora begitu saja.


Dan jawaban Alden itu tentu saja membuat Liora tercengang, bagaimana bisa tanpa persetujuannya Alden mengurus semua surat-surat. Padahal sudah sering dia katakan tidak akan ada pernikahan tanpa pesta.


"Tidak! apa maksudmu?! Tanpa pernikahan itu Aku tidak ingin menikah Al! Tidak!" bentak Liora pula, dia mengikuti Alden hingga sampai di dapur, melihat pria itu meneguk air minum dari dalam botolnya langsung, setelah itu kembali memasukkan ke dalam lemari pendingin. Sangat jorok.


Liora bahkan berulang kali menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika pria yang selama ini dia puja akan jadi seperti ini. benar-benar terlihat seperti benalu yang akan membuat hidupnya susah.


"Sayang, berhentilah marah-marah, sebentar lagi kita akan jadi suami dan istri," sahut Alden pula setelah puas minum. Dia bahkan mendekati sang kekasih dengan tatapan yang dibuatnya penuh damba.


namun Liora sungguh jijik melihat tatapan itu.


"Tidak! sudah berulang kali aku katakan tidak akan ada pernikahan tanpa pesta!"


"Mau bagaimana lagi Aku sudah mendaftarkan berkas kita, saat ini kita Hanya tinggal menunggu dan semuanya dikerjakan oleh catatan sipil. Saat surat itu keluar aku akan menjemputmu di rumah nenek Gaida, kita akan tinggal berdua disini."

__ADS_1


"Tidak! kamu menjebak ku Al! aku tidak mau pernikahan yang seperti ini."


"Liora sayang, jangan bicara seperti itu, bukan kah kamu mencintai ku? bukankah kamu menerima ku apa adanya?"


Liora menggeleng, dia benar-benar frustasi dihadapkan pada situasi ini.


"Tidak, kamu gila Al, kamu gila!!" pekik Liora lalu segera berlari keluar dari apartemen itu. Dan saat mendengar pintu tertutup dengan rapat, Alden pun tersenyum miring.


Pernikahan diantara mereka akan tetap terjadi meski hanya palsu. 3 hari lagi Alden akan menjemput Liora dan menunjukkan surat pemikahan mereka.


"Ini belum seberapa Lio, aku akan buat hidupmu lebih menderita daripada ini," batin Alden. Tiap dia lihat Liora, Alden jadi semakin teringat akan Dinda. Tentang gadis yang tak kunjung ia temukan hingga kini.


Sementara itu di luar sana, Liora berjalan cepat dengan wajah yang gusar. Dia terus menggeleng, menolak mendengar apa yang diucapkan oleh Alden tentang pernikahan mereka.


"Tidak, aku tidak Sudi menikah dengan Alden saat dia masih miskin. Tidak, aku tidak mau," gumamnya seraya terus mempercepat langkah.


"Harusnya ku biarkan saja Alden bersama wanita bayaran itu! Arght!! menyebalkan!" geramnya pula.


Ketakutan Liora itu tidak dia pendam sendiri, saat tiba di rumah Liora pun langsung menceritakan semuanya pada sang nenek.


"Nek, Aku tidak mau menikah dengan Alden di caranya seperti ini,"rengek Liora, dia mulai menangis.


"Tenanglah Lio coba kita pikirkan dulu baik-baik, sabarlah dulu."


"Kurang sabar aku Nek? aku tidak bisa lagi menahannya, aku ingin mencampakkan Alden."


"Jangan! tidak apa kamu menikah saja, nenek yakin setelah menikah ibunya Jia tak akan tega melihat hidup mu menderita. Dia pasti akan membawamu pulang ke mansion mewah itu," terang Gaida. Sebuah penjelasan yang membuat Liora seperti menemukan harapan baru.


"Benarkah seperti itu Nek?"


"Iya sayang, nenek yakin seperti itu. Jadi sabarlah dulu, tidak apa pernikahan tanpa pesta. Kita rahasiakan saja lebih dulu pernikahan ini. Nenek juga tidak ingin menanggung malu."


Liora mengangguk, dia pun setuju.


Dan waktu berlalu.


3 hari yang di ucapkan oleh Alden akhirnya pun tiba. Berkas-Berkas itu sudah ada ditangannya dan terlihat seperti asli.

__ADS_1


Kabar tentang pernikahan itupun terdengar pula oleh Alex dan Jia. Meski tanpa pesta namun Jia ingin mengadakan makan malam keluarga.


"Nanti malam ajaklah Liora datang ke rumah ini sayang, mama akan buatkan makan malam yang indah untuk kalian," terang Jia antusias dalam sambungan telepon yang terhubung diantara mereka, lain halnya dengan Alex yang tak menanggapi apapun. Karena dia pun tahu pernikahan itu bukanlah pernikahan sungguhan.


"Baik Mom, sebelum jam 7 aku dan Liora akan tiba di rumah."


"Baguslah, mommy juga akan mengenalkan mu pada seseorang."


"Siapa?"


"Anak angkat mommy dan Daddy, ceritanya panjang. Tapi nanti akan mommy akan ceritakan semuanya pada mu," jelas Jia pula. Jika dulu kondisi Leia masih memprihatinkan karena itulah dia tidak menceritakan pada Alden ataupun Rayden, mengingat kedua anaknya itu pundak tinggal di rumah.


Namun kini kondisi Leia sudah sangat membaik, bahkan beberapa hari lalu Leia mulai ikut bekerja bersama Aleia di kantor WO.


"Apa dia perempuan?" tanya Alden, dia ingat sekali jika mommy nya ingin mempunyai anak perempuan lagi, tapi yang keluar malah Arion dan Aron.


"Tentu saja."


"Siapa namanya?"


"Leia, Leia Carter."


"Kenapa seperti Aleia?"


"Biar mereka seperti anak kembar."


Alden terkekeh.


"Apa usianya sama dengan Aleia."


"Tidak sayang, sepertinya sama seperti Arion dan Aaron."


"Berarti dia lebih cantik."


"Hus, kalau Aleia dengar nanti dia marah."


Tawa Alden semakin keras saja, dia hanya bisa tertawa saat sedang bicara dengan sang ibu. Karena setelahnya dia akan kembali berkubang dalam rasa bersalah pada Dinda.

__ADS_1


__ADS_2