
Satu hari sebelum pernikahan mereka tiba, Alden mengajak Dinda untuk mendatangi suatu tempat.
Dinda tidak tahu kemana Alden akan membawanya pergi, dia hanya diminta untuk berdandan cantik malam ini.
Dinda pun menurut.
Alden menjemput dia di rumahnya saat waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Dan setelah berpamitan dengan Julia akhirnya mereka berdua pun pergi.
Kini keduanya masih berada di dalam mobil, masih berada di halaman rumah Dinda.
Alden mengambil sesuatu dari dashboard mobil. Membuat Dinda jadi menatap sang kekasih dengan tatapan yang lekat.
"Apa itu?" tanya Dinda. Dilihatnya Alden mengeluarkan sebuah kain.
"Sapu tangan."
"Untuk apa?"
"Menutup mata mu."
"Untuk apa ditutup-tutup?"
"Karena aku ingin memberimu sebuah kejutan."
Dinda mencebik, makin mencebik saat dia lihat Alden yang tersenyum mencurigakan.
Tapi dia menurut saat Alden menariknya mendekat dan menutup matanya menggunakan sapu tangan berwarna biru tua itu.
Alden memang tidak suka memakai jas, dia selalu menggunakan pakaian biasa-biasa saja, jadi untuk barang seperti itu dia simpan di mobilnya.
"Jangan macam-macam ya." ucap Dinda saat matanya sudah tertutup dengan sempurna. Dia tidak lagi bisa melihat apa yang akan Alden lakukan padanya.
"Macam-macam bagaimana? seperti ini?" Alden malah mencium bibir Dinda, melumaatnya pelan. Sementara Dinda yang gelagapan langsung mendorong tubuh Alden.
"Al!" pekik Dinda dan Alden malah terkekeh pelan.
"Maaf, sekarang ayo kita pergi."
"Kemana sih?"
"Ikut saja."
__ADS_1
Sepanjang perjalanan itu Alden hanya mengemudikan mobilnya menggunakan satu tangan, sementara tangan kirinya dengan setia menggenggam erat tangan kanan Dinda. Dia tidak membiarkan Dinda dalam kegelapan itu sendirian.
Meski matanya tertutup rapat dan tapi Alden tidak ingin Dinda merasa sedang sendirian.
Beberapa menit kemudian mobil pun berhenti, Dinda sungguh tidak tahu dimana ini.
Semuanya hanya gelap.
"Tunggu ya, aku akan turun lebih dulu."
"Jangan tinggalkan aku."
"Tidak akan."
Alden turun, menutup pintunya pelan. Lalu sedikit berlari menuju arah pintu sang calon istri. Alden membuka pintu itu dan membimbing Dinda untuk keluar.
Memeluk pinggang Dinda dan menuntunnya untuk berjalan.
"Stop, angkat kakimu sedikit, di depan ada tangga."
Dinda tersenyum, jadi merasa lucu sendiri. Entah apa yang akan Alden tunjukkan kepadanya, tapi semuanya terasa seperti dipersulit.
"Kenapa penutup matanya tidak dibuka saja sih? jadi kita bisa sampai dengan cepat." tanya Dinda lagi, yang masih saja penasaran kenapa matanya harus ditutup.
"Kalau penutup matanya dibuka itu namanya bukan kejutan," balas Alden.
"Awas saja kalau aku tidak terkejut," tantang Dinda dan Alden hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Apa ini lift?" tanya Dinda, saat mereka telah berhenti dan menunggu beberapa saat.
Memang benar saat itu mereka ada di lift, tapi Alden tidak mau memberitahunya begitu saja.
"Mungkin iya mungkin juga tidak," jawab Alden ambigu.
Sebuah jawaban yang membuat Dinda mencubit perutnya cukup kuat.
"AW!" keluh Alden.
"Sakit sayang," rengekya lagi tapi Dinda tidak peduli.
"Kapok!" balas Dinda ketus.
__ADS_1
Setelah lift itu terbuka mereka kembali berjalan. Pelan-pelan sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.
"Kita sudah sampai, aku akan buka penutup mata mu," ucap Alden dengan suaranya yang terdengar lebih serius daripada tadi.
Dan mendengar suara itu, mendadak Dinda tergugu, jadi merasa takut apa yang akan Alden tunjukkan padanya.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan Al?" tanya Dinda, dia menahan tangan Alden yang hendak membuka penutup matanya.
"Pemikiran macam apa itu, kamu adalah hidupku Dinda, tidak mungkin aku meninggalkan hidupku sendiri."
"Gombal."
"Jangan menyebalkan, aku akan mencium mu lagi."
"Buka dulu tutup mata ku."
"Setelah itu berciuman, ya?"
"Iiss."
"Iya tidak?"
"Iyaaa." kesal Dinda.
Perlahan Alden membuka penutup mata itu dan membuat Dinda kembali bisa melihat.
Deg! seketika jantung Dinda seperti berhenti berdetak.
Tempat ini adalah tempat dimana Alden telah mengambil kesuciannya malam itu.
Alden sengaja membawa Dinda kesini, untuk merubah semua kenangan pahit itu menjadi kenangan manis bagi mereka berdua.
"Aku mencintai mu Din, sangat," ucap Alden, bicara pelan seraya mengikis jarak dan mendekap tubuh Dinda erat.
Tubuh yang dilihatnya sedikit bergetar ketika melihat ranjang itu. Ranjang panas yang dulu penuh luka.
"Kenapa membawaku kesini Al?"
"Karena disini anak kita ada, iya kan?" tanya Alden, dia menyentuh dagu Dinda dan mengangkat wajah wanita ini agar membalas tatapannya.
"Ayo kita ubah kenangan buruk itu jadi kenangan yang sangat manis," ucap Alden lagi, dan setelahnya dia mengecup bibir Dinda dengan lembut.
__ADS_1
Kecupan yang lambat laun jadi ciuman yang dalam dan menuntut.