
Alden menyentuh Dinda dengan sangat lembut, sentuhan paling memabukkan yang pernah Dinda rasa.
Seluruh tubuhnya seolah dalam kendali Alden. Setelah meremaas kedua dadanya secara bergilir, tangan itu turun menyentuh inti tubuhnya yang sudah basah.
Dinda hanya bisa menggeliat merasakan nikmat yang tak terkira. Hanya satu kata yang berhasil keluar dari mulutnya, yaitu kata Ahh.
Malam panas itumasih terus berlangsung, tiap hentakan yang Alden berikan pada istrinya berasal dari cinta yang semakin lama semakin tumbuh lebat.
Awalnya Dinda memang hanya bisa menerima, namun ditengah permainan dia pun akhirnya membalas, ikut menggerakkan tubuhnya dan menari di atas tubuh sang suami, memberikan desahaan yang lebih dalam.
Sampai akhirnya mereka sama-sama tiba dipuncak kenikmatan dan saling menjerit tertahan.
Diantara nafas yang masih memburu itu dan penyatuan yang paling dalam itu, keduanya saling memeluk erat.
Pagi datang.
Dinda membuka matanya lebih dulu dan melihat keadaan sekitar. Melihat sang suami yang masih terlelap di sampingnya.
Kepingan-kepingan kenangan tentang semalam kembali berputar dengan jelas di ingatannya. Namun kini bukan ada tangis, melainkan senyum malu-malu. Dinda mengulum senyumnya, bahkan berulang kali menggigit bibir bawahnya pelan.
Tak menyangka jika mereka akan melewati malam seperti itu. Malam pertama setelah menikah.
Ah ya ampun, kembali membayangkannya benar-benar membuat Dinda malu. Saking malunya dia bahkan sampai menutup wajahnya sendiri menggunakan kedua tangan. Dan alangkah terkejutnya Dinda saat dia membuka wajah sang suami pun sudah menatapnya lekat.
"Astaga," kaget Dinda, dia bahkan langsung menutup wajah Alden menggunakan kedua tangannya.
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Dinda dengan suara yang cukup tinggi.
"Kenapa?" tanya Alden, bibirnya sudah mulai tersenyum.
"Aku belum pakai baju."
"Tidak usah pakai baju, bagaimana kalau kita mandi bersama."
__ADS_1
"Al!!" Dinda semekin menutup wajah suaminya, namun Alden malah mengangkat tubuh sang istri sampai menindih dia.
Dinda tersentak, posisi ini membuat kedua dadanya bisa makin jelas Alden lihat, menggantung di depan wajah sang suami.
"Al, lepas!"
"Lepas dulu tangan mu dari wajah ku."
"Tidak mau."
"Ya sudah, aku akan tidur lagi dengan posisi seperti ini."
"Al!"
Alden diam, dia bahkan benar-benar memejamkan kedua matanya lagi.
"Al, turunkan aku!"
"Tapi langsung turunkan aku."
"Iya."
"Janji."
"Hem."
"Awas kalau bohong."
Alden hanya tersenyum lebar. Dengan perlahan Dinda melepaskan kedua tangannya dari wajah sang suami. Membuka pelan-pelan namun masih menangkupnya, menahan mata Alden agar tidak melihat ke bagian dadanya.
Dan benar seperti apa yang diucapkan oleh Alden, setelah Dinda membuka wajahnya Alden langsung menurunkan sang istri, namun kini giliran dia yang menindihnya.
Menatap lekat-lekat wajah sang istri dengan pencahayaan yang jelas, sinar matahari pagi itu membuat suasana jadi semakin hangat.
__ADS_1
"Jangan berpikir untuk menghindar."
"Kenapa?"
"Karena aku belum puas."
"Al!! jangan jadi mesyum begini!!"
Alden tertawa, namun tetap menggerakkan tangannya untuk meraba apapun yang dia mau, menyentuh kedua dada yang sudah penuh dengan tanda merah.
"Din."
"Apa lagi?!"
"Kita buang selimutnya ya?"
"Kenapa?"
"Aku mau melihat seluruh tubuh mu dengan jelas."
"Mesyum mesyum mesyum!!!" Dinda memukuli lengan sang suami, lengan yang sudah mengapitnya hingga tak bisa kabur.
Tapi untuk hal ini Alden tidak pernah mau mendengar Dinda, dia tetap melakukan apapun sesuai fantasinya.
Membuang selimut itu ke lantai dan menyusahkan tubuh mereka yang sama-sama polos.
Alden kemudian bangkit, menatapi setiap lekuk tubuh istrinya dengan jelas.
"Al!" kesal Dinda, dia mengapit kedua kakinya sendiri dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Benar-benar malu.
Sementara Alden hanya terus tersenyum dan menatapnya penuh damba.
"Iya iya sudah, ayo sekarang mandi."
__ADS_1