
Jia belum memberi tahu suaminya tentang kehamilan Dinda. Tiap kali dia ingin
mengatakan tentang hal itu, Jia selalu melihat suaminya yang seperti banyak pikiran.
Alex berulang kali memijat keningnya sendiri, juga berulang kali membuang nafasnya dengan kasar. Entah beban apa yang sedang ditanggung oleh sang suami, namun seolah itu berat sekali.
Jam setengah tujuh pagi mereka berdua masih berada di dalam kamar, belum keluar untuk sarapan bersama anak-anak mereka. Tapi masih pagi begini Jia kembali melihat wajah suaminya yang kalut.
"Dad," panggil Jia pelan, dia mendekatkan diri dan duduk di samping sang suami. Sama-sama duduk di tepi ranjang.
"Daddy ada masalah? tidak mau menceritakannya pada mommy?" tanya Jia pula dengan suaranya yang paling lembut.
Tapi Alex tidak menjawab apapun, hanya menatap istrinya lekat.
"Mom, bagaimana jika Dinda kita minta tinggal di rumah baru, rumah yang rencana kita pakai untuk pura-pura miskin waktu itu. Kita beri pelayan, kita beri penjagaan, dan minta dia bekerja di WO mu."
"Dad, kenapa begitu? kenapa Leia, tidak maksud mommy Dinda, kenapa Dinda tidak tinggal disini saja?"
"Daddy takut dia tidak nyaman tinggal disini Mom, memberinya kehidupan baru mungkin bisa mengobati semua luka yang dia dapat selama ini," jawab Alex, itulah yang ada di dalam pikirannya.
Bagaimana pun mereka telah menerima Dinda, namun Dinda akan selalu merasa tak pantas untuk tinggal di rumah ini. Dinda tidak akan pernah menemukan kenyamanan untuk dia sendiri.
"Bukan berarti kita lepas tangan Mom, kita akan sering berkunjung, dia tetap anak angkat kita, tapi berilah sedikit ruang untuk Dinda sendiri. Untuk kita saling mengenal lebih dekat."
"Tapi Dad, saat ini, saat ini sebenarnya Dinda, dia, dia sedang hamil," ucap Jia dengan ragu dan seketika membuat Alex sangat terkejut.
"Apa?" tanya Alex, berharap Jia akan kembali mengulang ucapannya, agar dia lebih yakin, agak dia tidak seperti salah dengar.
"Dinda hamil Dad, tapi dia belum menyadari itu."
"Astaga," ucap Alex seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Alden telah benar-benar memberinya ujian sebagai orang tua.
"Bagaimana Dad?" tanya Jia pula, hanya pada Alex lah dia menyerahkan semua keputusan.
Sedangkan Alex tidak langsung menjawab, dia kembali memikirkan bagaimana baiknya untuk semua orang, terutama Dinda.
Gadis malang itu tidak tahu jika mereka semua telah mengetahui kondisinya yang sudah tidak suci lagi. Bagi Alex, terus menutup rapat tentang hal ini akan membuat Dinda lebih baik.
__ADS_1
Biarlah gadis itu tahu dengan sendirinya perihal kehamilan itu. Atau tau dari orang lain tapi bukan Jia ataupun semua orang di rumah ini.
Alex hanya sedang berusaha membuat Dinda tetap memiliki harga diri di hadapan semua keluarga.
"Keputusan Daddy sudah bulat Mom, Dinda akan kita pindahkan ke rumah itu. Tapi mommy tengah saja, Daddy tidak akan biarkan dia sendirian. Kita awasi dia dari jauh, kita beri dia ruang untuk berdamai dengan masa lalunya. Ya?" tanya Alex pula.
Dan meski setengah hati, Jia pun akhirnya pun mengangguk setuju.
pagi itu setelah sarapan, Alex pun menyampaikan keputusannya pada semua orang.
Aleia, Arion dan Aaron sama terkejutnya dengan keputusan sang ayah. Juga merasa kecewa karena Dinda akhirnya pergi dari rumah ini.
Namun saat semua orang lain merasa kecewa, Dinda justru merasa lega. Begini jauh lebih baik daripada dia tetap tinggal di rumah ini. Meski semua orang memperlakukannya dengan baik, namun Dinda merasa telah kehilangan hidupnya sendiri. Berbeda ketika dia berada di luar.
"Terima kasih Om."
"Daddy sayang, panggil Daddy," ucap Alex dengan suaranya yang bergetar, nanti Dinda akan jadi menantunya. Bahkan kini Wanita itu telah mengandung cucunya. Sesungguhnya pun Alex tidak tega membuat keputusan ini. Tapi ini untuk kebaikan Dinda.
Biarlah Alden berusaha untuk mendapatkan maaf Dinda, baru setelahnya mereka bisa menikah. Begitu akan lebih baik, daripada pernikahan yang dipaksakan disaat semua orang masih menanggung luka dan beban masing-masing.
Dan mendengar Alex memintanya untuk memanggil Daddy, membuat Dinda kembali menangis haru.
"Dad, sebenarnya aku juga tidak ingin tinggal di rumah itu, aku ingin tinggal di rumah ku sendiri," ucap Dinda kemudian, dia baru memiliki kesempatan untuk bicara, mengutarakan apa yang dia inginkan.
"Tidak masalah Dinda, mommy dan Daddy akan mengantarmu pulang. Tapi satu yang tidak boleh kamu tolak, mommy dan Daddy akan menempatkan pelayan dan penjaga keamanan di rumah itu," jelas Alex pula.
Dan Dinda tak mampu lagi bagaimana caranya mengucapkan kata terima kasih.
"Dad, izinkan kami ikut juga," ucap Aleia, menginterupsi pembicaraan di antara mereka. Dia juga ingin ikut mengantar Dinda ke rumahnya, ingin tahu di mana Dinda tinggal setelah keluar dari rumah ini.
Arion dan Aaron juga sama, ingin memastikan bahwa Dinda tinggal di tempat yang aman.
"Baiklah, kita semua akan mengantar Dinda pulang ke rumahnya," putus kemudian.
Jam 9 pagi setelah Semuanya bersiap dan barang-barang Dinda telah selesai dikemas, mereka pun pergi menggunakan 3 mobil yang beriringan.
Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka semua tiba di rumah Dinda. Rumah sederhana yang sudah sangat dirindukan oleh sang pemilik. sejak lama Dinda ingin sekali kembali ke rumah ini, rumah yang selalu membuatnya teringat akan sang ibu.
__ADS_1
Terakhir Dinda tinggal Rumah ini sangat berantakan, entah kini bagaimana bentuknya. bahkan Dinda ingat betul Jika dia tidak mengunci pintu belakang, saat itu dia buru-buru kabur dan tidak memikirkan tentang rumah.
Gerbang kecilnya bahkan masih terkunci rapat, sementara dia tidak membawa kuncinya.
"Bagaimana ini?" tanya Aleia.
Dan Dinda akhirnya menjawab dengan ragu ...
"Em, kalian tunggu di sini saja aku akan melompat dan mengambil kuncinya."
Arion dan Aaron terkekeh, bagaimana bisa seorang wanita cantik seperti Dinda sampai harus naik pagar.
"Biar ku angkat tubuh mu," ucap Arion menawarkan diri, bukan hal sulit baginya untuk menggendong Dinda dan membantunya untuk naik.
"Tidak usah Rion, aku bisa kok," tolak Dinda.
Dia bahkan langsung menunjukkan keahliannya dalam menaiki pagar itu lalu melompat dan berhasil lewat. Arion dan Aaron kemudian menyusul, mereka berdua akan menemani Dinda masuk.
Tapi sayang ternyata semuanya telah berubah, pintu utama rumah ini sudah diganti dengan yang baru, juga pintu belakang yang sudah terkunci rapat.
Siapa yang mengganti ini semua? batin Dinda, mencoba menerka-nerka namun tetap tidak menemukan jawaban. Sampai akhirnya mereka bertiga kembali menghampiri pagar menemui Alex, Jia dan Aleia.
"Kenapa? kuncinya tidak ada?" tanya Aleia.
Namun belum sempat Dinda menjawab, sudah ada suara yang lebih dulu memotong pembicaraan di antara mereka.
"Ini kuncinya," ucap Alden.
Ha? tentu saja semua orang merasa sangat terkejut ketika melihat suara itu berasal dari Alden. Bukan heran kenapa Alden ada di sini, tapi sangat penasaran kenapa Alden sampai bisa mempunyai kunci rumah milik Dinda.
Sementara pria yang kini jadi pusat perhatian merasa tidak terganggu sedikitpun dengan semua tatapan penuh tanya itu, dia bahkan langsung mendekat dan menyerahkan kuncinya pada sang pemilik rumah.
"Ini kuncinya," ucap Alden sekali lagi dan Dinda langsung merampasnya dengan kasar.
Benar-benar sebuah interaksi yang membuat semua orang bertanya-tanya.
Jangan-jangan?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ha? mana kembang setaman dan vote setumpuk?