
Gaida kira Alden tidak akan punya kekuatan untuk melawan. Karena itulah dia berani melakukan segala cara untuk menghancurkan pria itu. Pada Alden dia tunjukkan semua sisinya yang buruk, sangat bertolak belakang dengan citranya yang selama ini dikenal oleh semua orang.
Pengusaha wanita sukses, dermawan, baik hati bak malaikat. Bahkan sering mengadakan acara sosial yang makin mendulang tinggi namanya.
Namun satu ucapan Alden, tentang melaporkan dia ke kepolisian sudah mampu membuat dunia Gaida itu seolah runtuh.
"Apa maksudmu?!" tuntut wanita tua itu.
Saat itu juga Alden membuang tangan Gaida yang sedari tadi dia pegang. Tubuh wanita tua ini sempat terhuyung, namun masih mampu berdiri dengan tegap, juga Liora yang langsung memegangi neneknya.
"Berhentilah bersikap bodoh Nyonya Gaida, aku tidak akan pastikan kamu masuk penjara dan Liora hidup dalam kemiskinan."
"JAGA BICARAMU!!" Gertak Gaida, dia benci sekali diperlakukan seperti ini. Semetara Liora sudah tak mampu berkata-kata, sudah merasa teramat sakit dihatinya.
"Tunggu saja," ucap Alden dengan seringai iblis yang dia tunjukkan. Melihat itu tubuh Gaida bergetar, sedangkan Liora hanya mampu menatap nanar pada pria ini.
Tanpa banyak kata lagi Alden segera pergi dari sana. Namun Gaida yang belum merasa puas dan ingin menghalangi Alden untuk memperpanjang urusan ini pun segera mengejar pemuda itu.
"Alden! jangan pergi kamu!!"
"ALDEN!"
Tangan Kiri Alden berhasil Gaida raih, namun dengan cepat Alden menepisnya. Seolah tak Sudi nenek tua ini meyentuh tubuhnya.
"Al! jaga sikapmu dengan Nenek, dia hanya ingin mengajakmu bicara," ucap Liora, sedari tadi dia diam, tapi melihat sang nenek diperlakukan kasar seperti ini membuatnya tak lagi bisa diam.
"Tidak perlu memperpanjang masalah ini Al, lagipula aku sudah meminta maaf padamu." terang Gaida pula.
Namun Alden sungguh tak berniat untuk menjawa pertanyaan itu.
Dengan segera Alden kembali meninggalkan nenek dan cucu ini, kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya yang sudah terparkir di depan teras rumah ini.
Melihat mobil mewah itu Liora dan Gaida semakin menganga dibuatnya. Untuk membeli mobil semewah itu bahkan mereka harus menabung beberapa bulan, atau mengajukan pinjaman pada Bank.
Melihat mobil itu kini mendadak Liora tak ingin pisah, kini dia ingin kembali bersama Alden.
"AL!" Pekik Liora, dia melepaskan pelukannya pada sang nenek dan mengejar sang kekasih.
__ADS_1
"ALDEN!!" Pekik Liora lagi seraya memukul berulang kaca mobil milik pria ini.
"Buka pintunya Al, aku mohon, kita bicarakan ini baik-baik Al, aku masih sangat mencintai mu."
Tapi sungguh, Alden tak peduli akan hal itu. Tanpa belas kasih dia bahkan langsung menekan pedal gas dan segera melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, tubuh Liora bahkan langsung terpelanting ke jalanan itu. Sedikit membuat luka di telapak tangannya.
"ALDEN!!" Liora menangis, kini tangisnya makin menjadi-jadi, semuanya jadi kacau seperti ini.
Gaida coba bantu sang cucu untuk bangkit, namun Liora yang sudah diselimuti amarah menepis tangan sang nenek.
"Ini semua salah nenek, Nenek terlalu ikut campur dalam urusan ku!!" pekiknya seraya bangkit sendiri.
"Nenek melakukan ini semua demi kebaikan mu Liora!!"
"Kebaikan apa?! Nenek membuat seorang pria yang selama ini bertekuk lutut padaku kini jadi membenciku!!" geram Liora, andai waktu bisa diputar dia tidak akan ikut rencana sang nenek.
Andai waktu bisa diputar, dia akan terus bersandiwara jadi gadis baiknya Alden.
"Ini semua salah nenek!!" pekik Liora diantara tangis yang semakin menjadi-jadi, tak puas-puas dia terus mengalahkan Gaida.
Ancaman Alden mampu membuatnya merasa takut. Apalagi saat melihat Alden datang ke rumah ini membawa mobil mewahnya. Mengartikan bahwa kemiskinan yang selama ini ditunjukkan hanyalah sandiwara pria itu. Sedangkan aslinya Alden tetaplah keluarga Carter dengan segala kekayaan yang dia punya.
Dengan semua uang itu Alden bisa melakukan apapun, termasuk memperkarakan dia.
Gaida menggeleng, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Wanita tua ini lantas ingin segera menghubungi Sanny sang asisten untuk segera menyiapkan pengacara, untuk menjaga dirinya.
Namun belum sempat dia berhasil menghubungi, tiba-tiba ponselnya lebih dulu berdering. Panggilan masuk dari Sanny.
Melihat itu Gaida tersenyum, merasa Sanny memang paling bisa diandalkan.
Tanpa berpikir lama, Gaida segera menjawab panggilan telepon itu.
"Maafkan saya Nyonya, dengan terpaksa saya harus menyampaikan ini."
"Apa maksudmu Sanny? ku pikir kamu akan memberiku kabar baik."
__ADS_1
"Maaf Nyonya, tapi ini kabar buruk."
"Katakan."
"Semua pelanggan VIP mengajukan tuntutan pada toko tas kita, mereka mengatakan kita menjual tas palsu."
"APA?! Tuduhan macam apa itu!! Jelas-jelas semua tas kita Asli bodoh!!" pekik Gaida, laporan Sanny semakin menyulut amarahnya. bagaimana bisa tuduhan tidak berdasarkan itu tertuju padanya. Padahal selama ini dia menjual tas-tas asli, modal yang dikeluarkan untuk itu semua tidaklah sedikit.
Dan mendengar kabar ini tentu saja membuat Gaida sangat marah, bahkan dia berniat ingin menuntut balik, merasa nama baiknya telah dicemarkan.
"Enak saja menuduhku sembarangan, siapkan pengacara dan tuntut balik mereka!"
"Maaf Nyonya, daripada menuntut balik sebaiknya Anda meminta maaf dan mengganti tas-tas itu dengan yang asli."
"Jangan gila kamu! mereka itu sudah menipu kita, tas yang mereka dapatkan itu asli!! Lalu demi mendapatkan keuntungan lebih mereka membuat berita bohong ini!!"
"Saya sudah memeriksa barang bukti Nyonya dan barang itu memang palsu."
"Apa kamu juga menunduh ku menjual barang palsu?!!" Geram Gaida. Bicara dengan sang asisten semakin membuatnya marah. Bukan solusi yang diberikan Sanny, tapi membuatnya miskin secara mendadak.
"Siapkan pengacara sekarang juga! Apa kamu mengerti?!"
"Baik Nyonya," jawab Sanny pasrah. Dia yakin jika kasus ini diperpanjang malah akan membuat citra toko mereka jadi semakin buruk. Tidak akan ada lagi yang percaya dengan keaslian produk yang mereka jual.
Bisnis yang tengah diambang kebangkrutan.
"Arght!!" geram Gaida setelah panggilan teleponnya dengan Sanny putus.
Saking marahnya dia bahkan membanting ponselnya sendiri sampai terpelanting entah kemana.
"Kurang ajar!! awas kalian semua, akan aku balas satu per satu," geram Gaida. dia tidak sedikitpun terpikirkan jika ini semua adalah ulah Alden. Dalam benaknya ini semua asli ulah para pelanggan sekaligus teman-temannya di grup sosialita.
Gaida kira mereka semua memang sengaja ingin membuat bisnisnya hancur, iri karena sejauh ini dia telah berhasil.
"Orang-orang seperti kalian tidak akan bisa membuatku hancur," ucap Gaida dengan percaya diri. Dia bahkan tertawa pelan, meremehkan semua orang.
Para pelayan yang melihat sikap sang nyonya pun hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Gaida malah terlihat seperti orang gila, setelah beberapa menit lalu dia marah-marah dan kini tertawa sendirian.
__ADS_1