Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 47 - Mengakui Semua Kesalahan


__ADS_3

Malam datang.


Alden sedang terduduk di kursi kerjanya yang ada di rumah. Dia tidak hanya diam, namun sedang mengawasi pergerakan Dinda melalui kamera CCTV. Dia menyadap CCTV yang ada di rumah utama keluarga Carter hingga bisa terhubung ke rumahnya sendiri.


Tak mudah memang untuk membobol keamanan rumah itu, Alden tak akan bisa melakukannya andai Aaron dan Arion tidak membantu.


Dua saudaranya itu bersikap seolah-olah membawa temannya berkunjung ke rumah, padahal sang teman adalah orang suruhan Alden. Arion dan Aaron tidak terlalu banyak bertanya, mereka menurut saja ketika sang kakak memberi perintah.


Dan kini Alden terus menatap lekat layar monitor itu. Meski banyak orang yang dia lihat di dalam sana namun tatapannya terus tertuju kepada Dinda.


Dilihatnya wanita itu yang tersenyum kecil. Senyum yang entah kenapa membuat hatinya makin teriris.


"Setelah aku menyelesaikan semua masalah ini, ayo kita menikah Din," ucap Alden, seolah bicara dengan Dinda. Seolah Dinda bisa mendengar ucapannya itu.


Ketakutan Dinda, hancurnya hidup Dinda, membuatnya ingin selalu memeluk wanita itu. Membuatnya selalu ingin memberikan perlindungan.


Tapi kini Alden belum bisa melakukannya, bahkan entah kapan dia bisa melakukan itu. karena sepertinya akan sangat sulit mendapatkan maaf dari Dinda. Wanita itu selalu berpikir sendiri semau dia, selalu memutuskan segala sesuatu berdasarkan pikirannya sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan Apa penjelasan Alden.


"Huh." Alden membuang nafasnya pelan.


Dan suara dering ponselnya langsung membuat Alden teralihkan dari layar CCTV itu.


Lalu melihat ada panggilan masuk dari sang asisten, Derick.


"Bagaimana?"


"Nyonya Julia baik-baik saja Tuan, saya juga sudah memerintahkan satu mata-mata untuk selalu melindungi beliau."


"Bagus, kembalilah ke kota A."


"Baik Tuan."


Alden memerintahkan Derick secara langsung untuk mendatangi kota S dan memastikan ibu Dinda baik-baik saja. Mengingat betapa liciknya Gaida, membuat Alden antisipasi lebih awal. Bukan hanya Dinda yang akan dia lindungi, tapi juga ibu dari wanita itu.

__ADS_1


Di rumah utama keluarga Carter. Setelah makan malam selesai, Dinda bertekad untuk mengungkapkan jati dirinya pada Alex dan Jia. Dia sudah tidak bisa menyimpan kebohongan ini semakin lama.


Tidak masalah jika dia harus keluar dari rumah ini, atau bahkan sampai kembali bertemu dengan Gaida dan Liora. Asalkan dia berhenti membohongi Alex dan Jia, kedua orang tua yang sudah sangat baik terhadapnya.


Aleia yang mengetahui rencana Dinda pun sengaja menarik Arion dan Aaron untuk pergi dari ruang tengah. Dia memberi waktu Dinda untuk menghadap mommy dan daddynya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lebih dulu, Dinda langsung turun dari duduknya di sofa dan ganti bersimpuh di atas lantai.


Melihat itu tentu saja Jia sangat terkejut, dia bahkan langsung menarik Leia untuk bangkit. Namun Dinda kukuh pada posisinya yang seperti ini.


"Leia, Apa yang kamu lakukan sayang? mommy tidak suka melihatmu seperti ini, bangunlah," ucap Jia, dengan suaranya yang terdengar penuh penekanan.


Namun Dinda menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku Tante, aku mengaku bersalah," jawab Dinda pula, makin membuat Jia merasa bingung.


Sementara Alex yang sudah mengetahui semuanya pun hanya terdiam, meski merasa iba namun tetap dia biarkan Dinda seperti itu. Alex tidak akan menghentikan kejujuran yang akan diutarakan oleh Dinda, dengan begitu mungkin perasaan wanita itu akan lebih lega. Karena itulah Alex memilih diam.


"Apa maksudmu Leia, ayo bangun."


"Apa maksudmu Leia?" tanya Jia lirih.


Dan saat itu juga Dinda menjelaskan semuanya tanpa ada yang dia tutup-tutupi. Tentang namanya Adinda Holscher, tentang saat itu dia berusaha kabur dari kejaran seseorang, bahkan dengan sengaja menabrakkan dirinya ke mobil Alex dan Jia. Juga tentang dia yang memanfaatkan kebaikan mereka.


Dinda berulang kali meminta maaf dan mengatakan akan segera pergi dari rumah ini. Dia juga berulang kali memohon agar Alex dan Jia memaafkan dia. Tidak ingin sampai membuatnya dipenjara.


"Aku mohon maafkan aku Tante, aku akan pergi malam ini juga," ucap Dinda setelah dia selesai menceritakan semuanya, kini bahkan air matanya sudah mengalir dengan deras. setelah mengatakan semua Dia memang merasa lega namun kini jadi takut mendapati hukuman dari kedua orang tua ini.


Jia bingung harus bagaimana, meski dalam hati kecilnya dia tetap menginginkan Dinda untuk tinggal di rumah ini tapi dia tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Jia lantas menoleh kebelakang dan melihat ke arah sang suami. Ingin Alex yang putuskan mau bagaimana.


"Malam ini tetap tinggal lah di rumah ini. Besok pagi kita bicarakan lagi bagaimana baiknya," ucap Alex.


Mendengar itu membuat Dinda jadi makin bersedih.

__ADS_1


Alex pun belum bisa memutuskan bagaimana baiknya, malam ini pikirannya sangat buntu.


"Bangkitlah sayang, mommy bersyukur kamu berani bicara jujur," ucap Jia pula, seraya menarik Dinda agar mau bangkit dari bersimpuhnya.


"Aku akan tidur bersama para pelayan Tante, aku tidak akan tidur di kamar Aleia."


"Jangan bicara seperti itu, kamu membuat mommy jadi seperti orang jahat sayang."


Dinda makin menangis, bahkan setelah dia akui semua kesalahannya. Jia tetap memperlakukannya seperti anak.


"Maafkan aku Tante."


"Panggil mommy sayang."


Dinda hanya menangis sesenggukan, tidak mampu menjawab.


Saat itu Aleia, Aaron dan Arion tidak benar-benar pergi meninggalkan ruang tengah. mereka bertiga ternyata mengintip dan mendengar semua pembicaraan itu.


"Sebenarnya Dinda lari dari kejaran siapa? kita harus bantu menangkap orang itu, kalau ternyata dia adalah orang yang memperkkosa Dinda maka kita harus penjarakan dia," gumam Arion yang merasa geram setelah mengetahui semuanya.


"Kamu benar Rion, lebih baik kita bicarakan juga ini dengan Daddy," sahut Aaron.


Sementara Aleia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan kedua saudaranya.


Tangis Dinda dan semua yang terjadi di ruang tengah itu juga tak lepas dari pengamatan Alden di rumahnya. Meski tidak mampu mendengar dan hanya melihat, namun Alden sangat yakin jika saat itu Dinda pasti telah mengakui semuanya pada ayah dan ibunya, mengatakan jika sebenarnya dia tidak lupa ingatan.


Merasa sangat cemas, malam itu Alden pun segera melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah utama keluarganya.


Namun ketika sudah sampai di depan gerbang rumah mewah itu Alden menghentikan laju mobilnya. Sadar Jika dia tidak bisa masuk ke dalam sana sebelum mendapatkan izin sang ayah.


2 jam Alden tetap diam disana. Hanya menatap ke arah kamar Aleia yang lampunya masih menyala. Kamar yang juga jadi tempat tidur Dinda.


Dan saat waktu sudah menunjukkan jam 11.00 malam, lampu di kamar itu akhirnya mati. Mengisyaratkan bahwa penghuninya telah tidur.

__ADS_1


Dinda. Batin Alden.


__ADS_2