
Dalam satu hari undangan pernikahan Alden dan Dinda telah berhasil di cetak. Hari kedua undangan itu disebar untuk seluruh kolega, rekan, kerabat dan semua teman dekat keluarga Carter.
Nenek Sofia mengakhiri liburan keliling dunianya dan kembali ke kota A.
Souvernir barang mewah pun telah dipersiapkan untuk para tamu.
Acara itu dihandel dengan baik oleh tim wedding organizer milik Jia, di awasi langsung oleh Jia dan Aleia.
Sementara sang calon pengantin hanya diminta untuk memilih gaun, melakukan photo prewedding dan memilih cincin pernikahan mereka.
Semuanya memang buru-buru, tapi tetap saja berjalan dengan baik.
Kabar itu jelas terdengar oleh Liora dan Gaida. Disaat Gaida sangat marah dan kesal, saat itu juga Liora sudah berkubang dalam keputusasaan.
"Liora! mau kemana kamu?!" pekik Gaida, saat dia harus ke pengadilan mengikuti sidang, Liora malah pergi entah kemana, tidak mendampingi dia.
Tapi gadis yang dipanggil itu hanya diam, tidak pula menoleh dan hanya terus berjalan keluar rumah.
Masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
Hatinya hancur, sangat hancur. Diantara semua rasa yang menyiksa itu dia mengemudikan mobilnya tanpa tujuan. Perhatiannya yang gamang tiba-tiba teralihkan ketika dia melihat mobil Alden ada tepat di hadapannya.
Liora mendelik, nomor mobil itu sudah dia ingat dengan jelas.
Dia yakin jika di dalam sana ada Alden. Menyadari itu Liora putuskan untuk terus mengikuti kemana mobil itu pergi.
Cukup lama di perjalanan sampai akhirnya mobil itu berhenti di salah satu toko bunga ternama di kota ini, Haura Florist.
Alden turun, kedua mata Liora makin mendelik saat melihat Alden tidak sendiri. Pria yang masih sangat dia harapkan itu datang bersama Dinda, wanita bayaran sialan.
Alden dan Dinda datang kesana untuk membeli bunga yang akan mereka bawa ke makam nenek Alden, nenek dari sang ibu, Jia.
15 menit menunggu di dalam mobilnya, akhirnya Liora lihat Alden dan Dinda keluar dari toko bunga itu. Namun sebelum mereka sempat masuk ke dalam mobil, Liora lebih dulu menghampiri keduanya.
Deg! melihat Liora disini membuat Dinda sangat terkejut. Sepersekian detik bahkan jantungnya seperti berheti berdetak. Seirama dengan langkah kakinya yang terhenti.
__ADS_1
Dinda melepaskan pelukannya pada lengan Alden, entah kenapa diposisi ini dia merasa telah merebut Alden dari Liora.
Sementara Liora hanya tersenyum miris, menatap Alden dan Dinda yang kini bersama.
"Kamu benar-benar akan menikahinya Al?" tanya Liora dengan suaranya yang lirih, merasa paling tersakiti, terhianati.
Sementara Alden tak ada sedikitpun niat untuk menjawab, untuk menjelaskan pada wanita ini.
"Kamu benar-benar wanita sialan, kamu mendapatkan uang dari nenek lalu mengambil Alden dari ku."
"Jaga ucapan mu Liora." Alden yang membalas, sementara Dinda entah kenapa hatinya jadi tak tenang, memang ada perasaan bersalah yang bersarang di hatinya, tentang Liora dan Alden yang terpisah.
Tapi ingat semua yang terjadi, saat Gaida dan Liora memperlakukannya seperti binantang, rasa bersalah itu seketika hilang, diganti dengan dendam yang harus dia balaskan.
Perlahan, Dinda mengangkat wajahnya, membalas tatapan Liora tak kalah tajam.
"Tentu saja aku harus merebut Alden dari mu, kamu tau kenapa? karena uang Alden lebih banyak daripada uang pemberian nenek mu," balas Dinda, dia bahkan kembali memeluk lengan Alden dengan mesra. Kembali mencium bibir Alden persis dihadapan Liora.
Seperti saat mereka bertemu pertama kali.
Tapi kali ini Alden tidak mendorong Dinda, Alden malah membalas ciuman itu dengan lidahnya.
Badjingan!! umpatnya di dalam hati, lalu pergi lebih dulu. Suara Liora menutup pintu mobilnya begitu keras. Membuat Alden dan Dinda tersadar dari hasrat yang mulai menggebu.
Tanpa memperdulikan Liora, mereka akhirnya melepaskan ciuman itu.
"Kamu benar-benar liar," goda Alden dan Dinda langsung memukul dadanya.
Tak ada marah, tak ada lagi pembahasan tentang Liora. Diam-diam Dinda pun sedang menguji Alden melalui ciuman itu.
Andai Alden masih mencintai Liora pasti pria itu akan menolak ciumannya, atau bahkan kembali mendorongnya seperti dulu.
Tapi ternyata tidak, ternyata Alden memeluknya erat seraya memperdalam ciuman mereka.
Begitu saja Dinda sudah tahu semua jawabannya, tanpa perlu bertanya lagi dan memperpanjang urusan.
Setelahnya mereka masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke pemakaman. Meletakkan bunga segar di dua pusara itu.
__ADS_1
"Mereka meninggal bersama?" tanya Dinda, seraya menatap dua malam nenek Alden.
"Iya, dalam kecelakaan."
"Maaf," ucap Dinda lagi, sungguh dia tidak ada niat untuk membuat Alden kembali mengenang tentang masa lalunya yang menyakitkan.
"Tidak apa-apa, aku belum pernah bertemu dengan beliau, saat aku belum lahir mereka sudah meninggal. Tapi mommy dan Daddy selalu menceritakan kisah mereka."
Dinda hanya diam, mendengarkan semua cerita Alden. Suasana di pemakaman itu sepi, pagi itu hanya mereka berdua yang berkunjung disana.
Alden cerita banyak hal tentang keluarga Carter, lalu gantian Dinda pula yang menceritakan tentang keluarganya.
Tentang sang ayah, semuanya tak ada yang dia tutup-tutupi.
"Di hari pernikahan kita nanti, tidakkah kamu ingin ayah mu datang?" tanya Alden.
Tapi Dinda tidak langsung menjawab, dia malah mengelus gundukan pusara itu dengan perlahan.
Dalam hati kecilnya dia memang menginginkan sang ayah untuk datang, menginginkan ayah dan ibunya mendampingi. Ada di harinya yang paling istimewa.
Tapi Dinda sadar, hal itu tak akan mungkin terjadi. Dinda pun tidak ingin kembali menyakiti ibunya. Tentang sang ayah memang hanya membuat mereka bersedih, seolah tak ada lagi sedikitpun kenangan indah yang mereka punya.
Pelan, Dinda menggeleng.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Dialah yang memutuskan untuk pergi meninggalkan kami, jadi aku tidak akan pernah memintanya kembali," timpal Dinda kemudian, lengkap dengan senyumnya yang getir.
Alden membelai wajah cantik itu, mengelus pipi Dinda dengan sayang.
Sebenarnya Alden bisa mengupayakan ayah Dinda untuk mengetahui tentang pernikahan mereka. Tapi Alden tidak ingin tindakannya itu malah melukai Dinda dan calon ibu mertuanya.
Jadi Alden hanya akan mendukung apapun keputusan Dinda.
"Ayo kita pulang," ajak Alden dan Dinda mengangguk.
Mereka berjalan beriringan, bergandengan tangan keluar dari area pemakaman.
__ADS_1
Dinda tidak tahu bagaimana caranya dia dan ibunya bisa memaafkan sang ayah, mungkin dengan kematian pria itu, baru mereka berdua bisa memaafkan.