
Deg!
Alangkah terkejutnya Dinda saat dia lihat pria itu diambang pintu. Seketika tubuhnya gemetar, langkah kakinya yang maju pun seketika terhenti, bahkan berangsur mundur. Kedua matanya membola. Kenangan buruk yang selama ini menghantui Dinda seolah kembali berputar dengan jelas. Bagaimana Gaida dan Liora memperlakukannya seperti binataang dan bagaimana kejamnya Alden merusak hidupnya.
Tubuh Dinda melemah, seketika itu juga dia kehilangan semua kekuatannya untuk bertahan
Sesaat mereka hanya saling tatap, sama-sama terkejut dan kalut dalam pikirannya masing-masing.
Kenapa Alden disini?
Kenapa Dinda disini?
Bagaimana bisa?
Sampai akhirnya Alden yang lebih dulu bergerak untuk mengambil sikap.
Dia masuk dan mengunci pintu itu rapat. Bunyi suara kunci pintu itu terdengar begitu jelas di telinga Dinda. Membuat wanita ini sontak mundur sampai tubuhnya terbentur pinggiran ranjang.
Tenang Dinda tenang, jangan takut. Kenapa? kenapa? tidak tidak, aku tidak boleh panik, tenang lah. Batin Dinda, sungguh gusar. Meski tahu malam itu Alden terpengaruh oleh obat, namun tetap saja melihat Alden membuatnya jijik, membuatnya takut. Dinda ingin berlari namun sudah tak punya tenaga.
Ingin berteriak namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Satu yang dia yakini, Alden yang dia kenal ternyata adalah Alden yang selama ini selalu disebut oleh semua orang. Pria yang dia kira miskin selama ini ternyata adalah bagian dari keluarga kaya raya ini.
Tentang bagaimana bisa seperti itu tak terlalu Dinda pikirkan, yang sekarang mengganggu pikirannya adalah bagaimana dia bisa menjawab andai Alden bertanya kenapa dia bisa ada di sini? Di rumah keluarganya.
Deg! jantung Dinda makin tak tenang saat Alden sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Dinda," panggil Alden lirih, ditatapnya lekat wajah wanita ini, menyakinkan dirinya sendiri bahwa benar ini Dinda.
Namun saat itu Dinda malah menggeleng, tak ingin mengingat dia.
Benar, di rumah ini aku adalah Leia. Bukan Dinda. Batin Dinda pula, mulai menemukan cara untuk keluar dari situasi rumit ini.
"Tidak, aku bukan Dinda, namaku adalah Leia!"
"Jangan pernah membohongi aku." Alden maju, mencekal pergelangan tangan Dinda dan genggamnya erat.
"Lepas!"
"Katakan dengan cepat, apa kamu berlari kesini demi menghindari Liora dan Gaida?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan! lepaskan aku!"
"Aku hampir gila mencari mu Dinda, apa KAMU TAHU!"
"Lepas! aku tidak mengenal mu!!" bantah Dinda, namun dia menangis.
Dan saat itu juga Alden menarik Dinda untuk masuk ke dalam pelukannya.
Tapi bukan ketenangan yang Dinda dapatkan, melainkan rasa jijik yang menjalari tubunya.
Dinda mendorong tubuh Alden kuat hingga pelukan itu terlepas, hingga dia memiliki kesempatan ke arah pintu dan membukanya dengan cepat.
Untunglah saat dia berhasil keluar dari kamar itu, Dinda langsung bertemu Aleia dia luar sana.
"Aleia!"
"Hei ada apa?" sahut Aleia ikut cemas, apalagi saat Leia memeluk tubuhnya erat lengkap dengan tangis terisak, seolah merasa takut luar biasa.
Namun belum sempat Dinda menjawab, Aleia sudah lebih dulu melihat Alden keluar dari dalam kamarnya.
Melihat itu Aleia cukup tahu jika Dinda pasti takut dengan pria dingin itu.
Leia. Batin Alden. Mendengar nama itu seketika Alden teringat ucapan sang ibu pagi tadi, saat mereka bertukar cerita dalam sambungan telepon.
Tentang Leia yang jadi anak angkat di keluarga ini, telah diputuskan oleh ayah dan ibunya.
Tapi bagaimana bisa? batin Alden lagi, tapi dia tak bisa dibohongi, wanita itu adalah Dinda.
"Apa maksudmu Leia? dia bukan Leia, dia adalah_"
"Al!" potong Alex dengan cepat, Entah sejak kapan dia datang dan langsung memotong pembicaraan sang anak.
Malam ini dia sudah kesal melihat Liora ada di rumah ini. Dia tidak ingin semakin kesal melihat ada keributan.
"Jaga sikapmu." ucap Alex pula, lengkap dengan suaranya yang dingin dan tatapan tajam seperti elang. Dinda baru saja pulih dan mulai bisa berinteraksi dengan semua orang, Alex tidak ingin Alden membuatnya kembali takut.
"Dad."
"Urus saja istri mu."
Alden terdiam, namun tatapannya langsung beralih menatap Dinda di dalam pelukan sang adik.
__ADS_1
Tidak, aku tidak akan tinggal diam Din. Batin Alden.
Alden diminta pergi oleh Alex, dan setelah Alden pergi Alex meminta Aleia untuk membawa Leia masuk ke dalam kamarnya. Tidak usah ikut makan malam dibawah, Alex bahkan langsung memerintahkan seorang pelayan untuk membawa makan malam kedua gadis itu ke dalam kamarnya.
Sementara yang lainnya tetap melanjutkan acara makan malam ini yang tertunda.
Liora tidak jadi memakai baju milik Aleia, malam itu akhirnya Liora memakai baju milik Jia.
Setelah makan malam, Alden mengatakan pada semua orang jika malam ini dia dan Liora akan menginap disini. Mendengar itu tentu saja Liora merasa senang, setidaknya di malam pertama dia dan Alden tidak dihabiskan di apartemen kecil itu.
Jika di mansion mewah ini, Liora rela memberikan seluruh tubuhnya untuk sang suami.
Namun setelah makan malam dan Liora kembali ke dalam kamarnya, Alden malah meninggalkan dia. Entah kemana, pria itu pergi tanpa sepatah kata pun. Hanya menutup pintu dengan keras.
Alden menemui sang ibu dan menuntut penjelasan tentang Dinda, bukan, tapi tapi tentang Leia.
"Bagaimana bisa wanita itu jadi anak angkatnya mommy dan Daddy?" tanya Alden, saat ini dia dan sang ibu duduk berdua di ruang tengah. Sementara yang lain telah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
"Leia adalah gadis yang tak sengaja mommy dan Daddy tabrak sayang, dia lupa ingatkan, lalu mommy dan Daddy memutuskannya untuk membawa dia pulang."
"Tabrak? mommy dan Daddy mengalami kecelakaan? di jalan Marina Street?"
"Bagaimana kamu bisa tahu? kamu dan Rayden belum mommy ceritakan tentang hal itu?"
Tapi Alden tidak menjawab, dia mengusap wajahnya kasar. Leia memang benar Dinda.
"Apa benar dia lupa ingatan Mom?"
"Iya sayang, malang sekali nasib dia. Mommy harap kamu bisa memperlakukannya dengan baik."
"Malang?"
"Sebelum kecelakaan itu dia mengalami pemerkossaan."
Deg!
"Trauma dan benturan di kepalanya membuat dia lupa sebagian ingatannya. Kata dokter ini hanya sementara, berarti bahwa Leia benar-benar ingin melupakan kejadian buruk itu. Karena itulah mommy juga takut, haruskan dia ingat masa lalunya atau tidak." Terang Jia pula, itulah yang selalu membuatnya takut selama ini. Jia pun bingung harus bagaimana, apalagi setelah Leia mengatakan jika dia ingat tentang ibunya.
Jia menceritakan semuanya pada Alden, tidak ada sedikitpun yang ditutupi. Hal itu karena Alden bukanlah orang asing, bagian dari keluarga ini. Anak yang sangat dia sayangi. Jia yakin Alden akan mengerti perasaanya dan memperlakukan Leia dengan baik.
Namun mendengar cerita itu, bukannya membuat Alden mengerti tentang perasaan sang ibu, namun semakin membuatnya terpuruk dalam rasa bersalahnya sendiri.
__ADS_1