Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 50 - Pria Yang Paling Dia Benci


__ADS_3

Kasus tentang Liora dan Gaida sudah di urus oleh pengacara Alden. Pengacara itu terus berkoordinasi dengan Derick untuk semua urusan.


Hingga kini Derick pun masih menjabat sebagai pemimpin di salah satu kantor cabang Carter Kingdom.


Sementara Alden hanya bertugas mengambil keputusan-keputusan penting. Sisanya dia hanya sibuk sendiri untuk mendapatkan maaf dari Dinda dan memulai semuanya dari awal.


Setelah merenggut harta paling berharga bagi Dinda, Alden tidak bisa tenang. Terlebih bayangan tentang malam itu terus berputar di kepalanya.


Alden ingin bertanggung jawab, bukan hanya demi mengurangi rasa bersalahnya, namun juga demi Dinda. Demi mereka, sama-sama belajar dari kesalahan masa lalu dan memulai semuanya dari awal.


Alden percaya, tentang cinta bisa mereka tumbuhkan bersama.


Setelah mengambil ponsel milik Dinda di dalam kamarnya, Alden kembali mengemudikan mobilnya seorang diri menuju rumah sang calon istri.


Tapi Alden kembali murung, saat melihat mobil-mobil milik keluarganya masih berjejer rapi seperti saat dia tinggalkan tadi.


"Mungkin mereka akan pergi setelah makan siang," gumam Alden, dengan tatapan yang terus mengunci rumah bercat putih itu.


Meyakini akan hal itu Alden pun mudur perlahan, mencari tempat parkir yang paling aman. Disana dia kembali menunggu, sampai akhirnya jam setengah 2 tiba dan Alden lihat mobil-mobil milik keluarganya mulai keluar dari rumah milik Dinda.


Sudut bibir Alden tersenyum, setelah diyakini mobil semua keluarganya menjauh dia pun keluar dari tempat persembunyian dan mendatangi rumah Dinda. Memarkirkan mobilnya di halaman rumah ini.


Dengan langkah lebar Alden menuju pintu rumah itu dan mengetuknya.


Sedangkan Dinda yang berpikir jika itu adalah mommy Jia atau pun Aleia dengan tergesa membukanya, takut jika ada sesuatu yang tertinggal.


Namun alangkah terkejutnya Dinda ketika dia lihat malah Alden yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Wajahnya yang ceria sontak saja berubah jadi masam.


"Aku hanya mau mengantar ponsel mu," ucap Alden langsung, sebelum Dinda memarahinya ataupun sebelum Dinda buru-buru kembali menutup pintu rumah ini.


Dan mendengar ponsel itu ada pada Alden, tentu saja Dinda terkejut. Alden lancang sekali dengan semua barang-barangnya. Pertama tentang rumah ini dan kedua tentang ponselnya.


Bukannya senang rumahnya sudah direnovasi tapi Dinda malah merasa kesal, rasanya akan lebih baik jika rumah ini hancur daripada harus dibenahi oleh Alden.


"Buang saja, aku sudah tidak butuh!"


"Tapi ibumu masih sering mengirim pesan ke nomor itu."

__ADS_1


"Apa kamu membalasnya?!"


Alden mengangguk.


"Lancang sekali!"


"Maaf."


"Mana ponselnya?!" tuntut Dinda seraya mengulurkan tangan ingin mengambil ponsel miliknya.


"Ada di mobil ku," jawab Alden berkilah, padahal ponsel itu ada di saku celananya.


Dan Dinda yang mendengar itu kesal sekali, terlihat jelas jika Alden mengulur-ulur waktu diantara mereka.


"Buang saja ponselnya!" geram Dinda, tiap kali dia lihat Alden, kenangan tentang malam itu kembali berputar dengan jelas, bagaimana Alden memperlakukannya seperti binataang.


Brak! Dinda bahkan langsung menutup pintunya kuat. Sementara Alden hanya bergeming.


Dinda benar, malam itu sebenarnya dia masih bisa meminta Dinda untuk lari, meminta Dinda untuk menjauh dari dia. Namun amarah dan hasrat yang sudah membuncah membuat Alden lebih memilih menarik wanita itu ke atas ranjang.


Disaat pintu sudah tertutup, Alden mengeluarkan ponsel Dinda di saku celananya.


Pintu itu kembali terbuka, tapi bukan Dinda yang membukanya, melainkan seorang pelayan.


"Berikan ponsel ini pada Dinda," ucap Alden dan pelayan itu menganggukkan kepalanya patuh.


"Baik Tuan."


Dan setelah Alden pergi pelayan itu pun kembali menutup pintu. Dia langsung menyerahkan ponsel itu pada sang pemilik.


Mau tidak mau Dinda pun menerima ponsel itu. Karena sebenarnya dia pun masih butuh.


Di dalam kamarnya Dinda membuka ponsel ini. Melihat isinya yang masih sama saja. Hanya Alden mengganti wallpaper ponsel itu jadi fotonya bersama sang ibu. Seingat Dinda dulu dia tidak memasang wallpaper ini. Dulu hanya polos saja.


"Dia benar-benar lancang," geram Dinda, Alden pasti sudah membuka semua isi ponselnya termasuk galeri.


Ingat ucapan Alden tentang sang ibu yang mengirim pesan, membuat Dinda jadi langsung membuka pesan di ponsel itu. Dan benar saja, dibagikan paling atas ada nama ibunya.

__ADS_1


Din, ponsel mu sudah ketemu sayang?


Iya Ma, aku menjatuhkannya di jalanan. Tapi sepertinya tidak bisa dipakai telepon, hanya pesan saja.


Tidak apa-apa sayang, yang penting mama tau kabar mu.


Din, banyak sekali kamu kirim uang sayang. Lebih baik untuk melunasi hutangmu.


Mama tenang saja, hutangku juga sudah ku cicil. Ini ada bonus lebih, karena itulah aku kirim untuk mama.


Membaca semua pesan itu, Dinda langsung mengepalkan salah satu tangannya kuat. Alden sudah terlalu lancang mencampuri hidupnya.


Masih merasa kesal seperti itu, tiba-tiba perhatian Dinda kembali tertuju pada ponselnya saat merasakan ponsel itu bergetar.


Ada panggilan masuk dari pria yang paling dia benci, Alden.


Dengan perasaan geram yang semakin membuncah, Dinda pun menjawab panggilan itu.


"Berhenti menggangu ku Al, aku tidak butuh belas kasihan mu. Dan tenang saja, perlahan aku juga akan menjauh dari keluarga mu! jadi stop, jangan lagi lancang mencampuri urusanku," ucap Dinda langsung, dan Alden sudah sangat kebal dengan semua penolakan Dinda.


"Coba hidupkan lampu kamar mu, terakhir ku tinggal itu masih mati," jawab Alden, malah membahas tentang hal yang lainnya. Membuat Dinda jadi semakin geram. Dinda langsung saja memutus panggilan telepon diantara mereka. Lalu menatap lampu kamarnya di atas langit-langit.


Apa iya mati? Batin Dinda. rasanya kesel sekali jika harus menuruti ucapan pria menyebalkan itu. Tapi saat malam menjelang pasti akan terasa gelap sekali jika lampunya mati.


Lantas dengan perasaan kesal itu, Dinda bangkit dari duduknya ditepi ranjang dan menuju saklar lampu di dekat pintu.


Dinda menekannya dengan mata yang terus menatap lampu.


Tik! Lampu itu ternyata benar-benar tidak menyala.


Dinda mengulanginya beberapa kali namun tetap tidak hidup.


"Astaga, jadi benar rusak." gumamnya, rasa kesal tadi kini berubah cemas. Kalau tidur sendirian, Dinda tidak akan berani jika lampunya mati.


Belum sempat memikirkan bagaimana solusinya, Dinda kembali merasa jika ponselnya di tangan bergetar, ternyata ada panggilan masuk lagi dari Alden.


Dinda pun menjawab panggilan itu, berniat menyalahkan Alden atas ini semua. Menuduh Alden yang sengaja merusak lampunya.

__ADS_1


"Kamu kan yang sudah merusak lampu kamarku? kenapa? biar apa? biar aku meminta bantuan mu? Cih, aku tidak akan sudi!"


"Tangganya ada di gudang, lampu yang baru ada di laci meja nakas mu, minta penjaga keamanan untuk menggantinya." Setelah mengatakan itu Alden mengulum senyum, menahan diri agar tidak tertawa.


__ADS_2