Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 59 - Isyarat Batin


__ADS_3

"Apa kamu hamil sayang?" ulang Julia, bertanya pada sang anak, Dinda.


Seketika itu juga Dinda tersentak, nyatanya bagaimana pun usaha dia untuk menutupi ini semua, sang ibu tetap mengetahui semuanya.


Kali ini Dinda tak lagi bisa bohong, sudah cukup selama ini dia jadi pembohong.


Tidak ingin Alden disalahkan atas semuanya, lantas Dinda menjelaskan apa yang sudah lakukan selama ini.


Bahkan bercerita tentang dia yang jadi Wanita Bayaran.


Ya, lebih baik begini, Julia tahu semuanya dari Dinda, bukan dari orang lain.


Saat itu Julia duduk di kursi rodanya, sementara Dinda langsung bersimpuh di hadapan sang ibu. Memohon maaf sebanyak-banyaknya karena hingga kini belum jadi anak yang baik, anak yang bisa dibanggakan oleh sang ibu.


Sampai detik ini, Dinda masihlah si pembuat ulah.


"Tidak sayang, mama lah yang harusnya meminta maaf padamu. Maafkan Mama sayang, karena ketidakmampuan Mama kamu sampai menjalani hidup yang berat seperti ini," balas Julia, dia menarik Dinda dan dipeluknya erat.


Merek saling memeluk, saling menangis. Jika beberapa saat lalu Dinda yang terus mengucapkan kata maaf, maka kini Julia tak henti mengucapkan kalimat itu.


"Cukup Ma, berhenti mengatakan kata maaf, berhenti juga terus membela pria badjingan itu," jawab Dinda, saat sang ibu menyebutkan tentang ayahnya.


Karena Julia tak bisa jadi istri yang sempurna, maka pria itu meninggalkan mereka.


Dinda menghapus air mata sang ibu, sementara Julia menghapus air mata anaknya.


Terbiasa tinggal hanya berdua membuat mereka begitu dekat, saling memberi kekuatan satu sama lain.


"Mama lihat Alden adalah pria yang baik, dia juga terlihat sangat menyayangi kamu Nak," ucap Julia, dengan bibir yang mulai bisa tersenyum kecil.


Mendengar ucapan itu dan melihat senyum yang terukir di bibir ibunya, Dinda pun ikut tersenyum pula.


"Sebenarnya, aku juga menyayangi dia Ma."


"Astaga, anak mama sudah benar-benar jatuh cinta."


Mereka berdua tertawa pelan. hari itu juga Alden dan Dinda mengajak Julia kembali ke kota A. Tidak henti-hentinya Dinda mengucapkan terima kasih pada sang tante.


Alden bahkan berjanji kelak akan mengirimkan seseorang menjemput Jasmin dan keluarganya datang ke kota A ketika dia dan Dinda menikah.


Suasana disana begitu hangat.

__ADS_1


Jam 9 malam Mereka semua tiba di kota A. Malam itu Julia tidur di kamar Dinda karena kamarnya sudah dipakai oleh 2 pelayan.


Sementara Alden langsung pamit pulang, merasa tak enak hati jika ikut masuk ke dalam rumah itu.


Sadar bahwa dia dan Dinda belum menikah. 🤣


Saat ini Dinda dan Julia sudah berada di kamar, sudah sama-sama berbaring di atas ranjang dan bersiap untuk tidur.


"Sayang."


"Iya Ma, kenapa? mama butuh apa? mau minum?"


"Tidak sayang, mama ingin bertanya sesuatu."


"Apa Ma?"


"Apa Alden itu anak orang kaya?"


"Orang tuanya memang kaya, tapi Alden sepertinya lebih memilih untuk hidup sederhana."


"Benarkah?"


"Iya, tapi karena dia tahu aku sangat mencintai uang, setelah menikah dia akan kembali ke keluarganya," balas Dinda lagi, dengan sedikit tawa yang keluar dari mulutnya.


"Tidak Ma, aku hanya bercanda saja."


"Ya sudah, sekarang ayo kita tidur."


"Iya." Balas Dinda patuh, mereka mulai memejamkan mata dan coba tidur. diantara kedua mata Dinda yang terpejam, bibirnya pun mengukir senyum tipis. sedang membayangkan wajah Alden yang kini jauh darinya.


Malam berlalu.


Dan pagi pun datang.


Dinda kira, Alden akan membawa dia dan ibunya untuk berkunjung ke rumah utama keluarga Carter.


Tapi ternyata tidak.


Ternyata pagi itu tepat di jam 9 pagi, seluruh keluarga Carter datang ke rumah Dinda. Bahkan lengkap ada Rayden pula.


Alex dan Jia sudah menjelaskan semua pada anak-anaknya, tentang Alden dan Liora juga tentang Alden dan Dinda.

__ADS_1


Mereka tentu terkejut, sempat pula merasa kecewa. Tidak menyangka jika pria yang selama ini mereka benci karena sudah merusak Dinda ternyata adalah saudara mereka sendiri. Namun ketika menyadari jika ini semua adalah garis takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan, akhirnya mereka hanya bisa menerima. Apalagi saat tahu jika Dinda pun telah mengandung anaknya Alden.


Maka kesedihan itu mereka ubah jadi bahagia, jadi tak sabar untuk menyambut sang keponakan.


Dinda dan Julia tentu saja terkejut, Julia bahkan sangat kaget ketika melihat banyak mobil mewah berjejer rapi di halaman rumahnya.


Tap pernah terbayangkan sedikitpun dalam benaknya, dia akan memiliki besan dari kalangan atas. Tentang Carter Kingdom bahkan Julia pernah mendengarnya.


Sebuah perusahaan properti terbesar di kota ini.


Julia makin tak menyangka jika keluarga itu begitu baik, begitu merangkul dia dan Dinda.


Saat Alex memperkenalkan seluruh keluarganya, Julia bahkan sampai meneteskan air matanya, dia sangat terharu.


Ketika statusnya yang hanya orang biasa begitu dihormati seperti ini.


Pertemuan kedua keluarga itu untuk menentukan hari pernikahan Alden dan Dinda.


Tidak butuh waktu lama, pernikahan mewah itu akan di gelar 2 Minggu lagi.


Selesai pembicaraan penting, para anak-anak pergi keluar. Duduk di teras bersama-sama, sementara Alex, Jia dan Julia tetap duduk di dalam.


"Dinda, benar kamu mau menikah dengan Alden?" tanya Rayden, tadi mereka sudah berkenalan.


"Kenapa memangnya?" malah Aleia yang menjawab.


"Harusnya menikah dengan kak Rayden saja, karena dia yang paling tampan di dunia ini," ledek Aaron pada sang kakak Rayden.


Sontak saja semua orang tertawa.


"Dinda harus menikah dengan ku, kalian tahu kenapa?" kini Alden yang mengajukan pertanyaan.


"Kenapa?" sahut Rayden.


"Karena sekarang Dinda sudah mengandung anakku."


"Oh," balas semua orang, tidak heran sedikitpun.


Alden dan Dinda bahkan sampai bingung, mereka berdua saling pandang.


Apa mereka sudah tahu? tanya Dinda pada Alden, memalui isyarat batin.

__ADS_1


Sepertinya begitu. Balas Alden pula.


__ADS_2