
Alden dan Dinda sudah tertidur nyenyak. Mereka saling menghangatkan dalam pelukan itu. Dinda seperti berada di alam mimpi, tidur berselimut awan yang lembut.
Mereka berdua bahkan sampai tidak menyadari jika malam ini hujan turun.
Alden pun tidak menyadari juga jika sedari tadi ada seseorang yang selalu mengikuti dia.
Tidak berhasil menemukan Dinda, jadi Liora putuskan untuk mengukuti Alden diam-diam. Tak pernah dia duga jika malam ini Liora melihat dengan mata kepalanya sendiri Alden masuk ke dalam rumah wanita bayaran itu.
Liora mengepalkan mencengkram kuat setir kemudinya, menatap penuh amarah pada rumah yang lampunya sudah terlihat mati.
Otaknya yang mulai tak waras berpikir bahwa Alden dan Dinda kembali menghabiskan malam bersama. Saling menghangatkan di tengah hujan seperti ini.
"Wanita kurang ajar, ternyata kamu benar-benar berniat merebut Alden dariku," geram Liora. Wanita ini tidak terima jika mengetahui Alden dengan wanita lain, lebih tidak terima lagi ketika wanita itu adalah Dinda.
Wanita yang baginya adalah wanita yang paling hina.
"Nenek harus tau ini, nenek harus tau bahwa wanita itu ada dirumahnya. Bahkan mengundang Alden untuk datang kesini."
"Sialan! SIAL!!" pekik Liora, suara jeritnya hanya terdengar di dalam mobil ini.
Kemarahannya seolah tak lagi bisa dibendung, dia bahkan menyesal kenapa hanya melenyapkan janin wanita itu, harusnya dia lenyapkan Dinda sekaligus.
Dengan amarahnya yang semakin menggunung, Liora meninggalkan tempat itu, dia mengemudikan mobilnya dengan brutal, bahkan sampai meninggalkan bekas gesekan ban di jalanan.
Dini hari itu juga Liora melaporkan semua yang dia lihat malam ini pada sang nenek.
Mendengar cerita itu tentu saja membuat Gaida murka, dia menganggap Dinda sangat tidak tahu diri. Bagiamana bisa perempuan hina seperti dia bermimpi untuk bersama dengan Alden.
Pria yang sejatinya adalah keluarga Carter.
"Nek, aku tidak mau lagi berbelas kasih dengan wanita sialan itu, buat dia pergi jauh dari Alden Nek. Pasti dia yang sudah membuat Alden semakin membenci aku," pinta Liora, bicara diantara tangisnya yang terus mengalir.
Kini dia benar-benar merasa seperti sedang dikhianati oleh Alden. Rasanya sakit sekali ketika melihat pria itu memasuki rumah wanita lain.
"Tenanglah sayang, biar nenek yang pikirkan caranya," balas Gaida pula. Dia tidak akan langsung menghilangkan Dinda. Tapi akan kembali memanfaatkannya.
Malam pun berlalu.
Pagi datang membawa hawa yang sangat dingin, sisa-sisa hujan semalam.
__ADS_1
Dinda mulai menggeliat, mulai terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Namun alangkah terkejutnya dia saat merasakan tubuhnya di dekap oleh seseorang.
Sontak saja Dinda membuka kedua matanya lebar-lebar, sampai dia bisa melihat Alden dengan sedang tidur disampingnya.
"Alden!!" pekik Dinda dengan kekesalan yang luar biasa, bagaimana bisa pria ini dengan lancangnya tidur di ranjang yang sama dengan Dia.
Suara teriakan itu langsung membuat Alden bangun, tapi dia tidak terkejut sedikitpun. Karena Alden sudah mengira bahwa ini semua akan terjadi.
"Kenapa kamu tidur disini?!" tuntut Dinda, dia sudah duduk dan menatap Alden dengan tatapan yang paling tajam. Sementara Alden masih berusaha bangkit, meski sebenarnya belum ingin bangun.
"Jangan lancang kamu ya! pergi sekarang juga!!"
"Mommy dan Daddy mengizinkan kita menikah."
"Bangunlah!! jangan asal bicara seenak jidatmu saja!!"
"Hari ini ayo kita ke kota S dan menemui ibu mu, aku akan meminta pada beliau untuk menikahi mu."
"Hahaha, dasar gila! keluar!! aku tidak mau dengar omong kosong mu."
"Kamu tidak percaya?"
"Keluar!!"
"Keluar!!"
Tapi Alden tidak mau dengar, masih duduk di atas ranjang, Alden pun menjangkau ponselnya di atas nakas. Pagi itu juga dia langsung menghubungi sang ibu. .
Jia mengangkatnya dengan cepat, saat itu juga Alden mengatakan bahwa Dinda tidak percaya dan ingin langsung mendengar dari ibunya.
Alden menyerahkan ponsel itu pada Dinda.
Gadis ini sontak saja tergugu, sangat ragu untuk menerima panggilan itu.
Namun saat samar-samar dia dengar mommy Jia memanggilnya, Akhirnya Dinda menerima uluran ponsel itu dan meletakkannya di telinga.
"Mom," panggil Dinda lirih.
__ADS_1
"Maafkan mommy sayang, maafkan mommy, maafkan mommy karena memiliki anak seperti Alden. Maafkan mommy sayang, maafkan Alden," ucap Jia langsung, mengucapkan kata maaf sebanyak yang bisa dia bisa.
Mendengar itu langsung luruh begitu saja air mata Dinda. Sesak di dadanya seolah naik ke tenggorakan sampai membuatnya sakit, membuat Dinda kesulitan untuk bicara.
Dia hanya mampu menangis tersedu, seraya terus mendengarkan Jia bicara. Tentang maaf yang tak sudah-sudah Jia sebutkan, tentang pertanggungjawaban yang akan keluarga mereka berikan.
"Mommy mohon sayang, menikahlah dengan Alden, jadilah menantu mommy," pinta Jia, mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.
Dan setelah Dinda menurunkan ponsel itu dari telinganya, Alden dengan segera menghapus semua air mata yang membasahi wajah wanita cantik ini.
"Bagun tidur harusnya cuci muka dengan air, bukan dengan air mata," ucap Alden, dia tersenyum kecil, ingin Dinda juga ikut tersenyum dan menyudahi semua kesedihan.
"Kamu dengar sendiri kan, mommy dan Daddy juga ingin kita menikah. Jadi aku mohon, jangan ragu lagi dan terima aku," pinta Alden sungguh-sungguh, meski dia harus mengucek matanya sesekali agar bisa menatap Dinda dengan jelas.
"Tapi aku tidak hamil Al, aku juga sadar jika aku salah, aku tidak ingin mengikatmu dengan hal itu."
"Apa kamu ingin hamil? bagaimana jika ku buat hamil?"
"Aku serius Al!"
"Aku juga serius, hamil atau tidak itu bukan masalahnya, yang jadi masalah adalah kamu yang sudah mengambil perjaka ku, dan begitupun sebaliknya, aku yang sudah mengambil kesucian mu. Jadi ayo kita saling bertanggung jawab." Balas Alden pula, lagi-lagi dia tersenyum kecil, sungguh tak ingin melihat Dinda kembali menangis.
"Hari ini kita ke kota S, kita temui ibumu, kita ajak dia untuk kembali kesini, menyaksikan pernikahan kita, lalu setelahnya kita ajak untuk tinggal bersama. Bagaimana? kamu suka kan tawaran ku?"
Mendengar itu Dinda tertawa pelan, tertawa diantara wajahnya yang sudah sembab dengan air mata.
Tawaran Alden benar-benar menggiurkan baginya.
"Aku akan jadi CEO setelah menikah dengan mu, apa masih kurang menarik tawaran ku?" goda Alden lagi dan makin keras pula tawa yang Dinda berikan.
Saat tertawa seperti itu, Dinda terlihat sangat cantik.
Cantik sekali.
Bahkan Alden sampai tak ingin berkedip, tak ingin hilang kesempatan 1 detik pun atas pemandangan yang paling indah ini.
"Bagaimana? maukah kamu menikah dengan ku?"
Dinda mengulum senyumnya. Tentang pertanyaan itu selalu saja membuatnya ragu. Selalu saja membuatnya takut untuk menjawab.
__ADS_1
Yang bisa Dinda lakukan hanya satu, mengikis jarak diantara mereka dan memeluk Alden erat.
Itulah jawabannya.