Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 64 - Wedding Day


__ADS_3

Selama ini Dinda merasa tidak pernah beruntung tentang hidupnya. Bahkan tentang wajahnya yang cantik pun dia membencinya, karena wajah itu mirip sekali dengan wajah milik sang ayah.


Kulitnya yang putih, kedua manik mata berwarna coklat, dan bahkan bintik-bintik coklat di area hidungnya pun selalu mengingatkannya pada sang ayah.


Dia membenci kecantikannya itu, pernah terbesit dalam benaknya ketika remaja bahwa dia akan gunakan kecantikan ini untuk menjerat seorang tuan muda.


Dia akan memanfaatkan kecantikannya sendiri untuk menikah dengan pria kaya dan hidup enak.


Seiring berjalannya waktu Dinda melupakan tentang keinginannya itu. Namun ternyata dia pun mengalaminya juga.


Menggoda Alden tuan muda keluarga Carter dan bahkan hari ini mereka akan menikah.


Tapi tak pernah terbayangkan oleh Dinda jika pernikahan itu akan semewah ini.


Dia menatap dirinya sendiri di dalam pantulan cermin, melihat tubuhnya yang telah dibalut gaun pengantin berwarna putih. Menjuntai panjang dengan begitu indahnya.


Hari ini Dinda cantik sekali.

__ADS_1


"Sayang, sudah waktunya keluar," ucap Jia, dia mendorong kursi roda milik Julia dan masuk ke ruangan sang pengantin wanita. Kemudian disusul pula oleh Alex dan keluarga yang lain.


Hanya Alden yang tidak disana, karena pria itu akan menunggumu di tempat pengucapan janji suci.


"Daddy akan mendampingi mu sayang, ayo," ucap Alex, dia menyerahkan lengan kanannya, meminta Dinda untuk memeluk itu. Alex akan menggantikan posisi ayah Dinda untuk mengantarkan wanita cantik ini menuju pelaminan.


Dinda merasa sangat haru, rasanya dia ingin menangis. Namun urung ketika Aleia datang memeluknya.


"Jangan menangis, kamu mau terlihat jelek di hari pernikahan mu?" ucap Aleia, sebuah ucapan yang membuat Dinda gagal menangis dan jadi tertawa pelan.


Namun sebelum Dinda memeluk lengan Alex dan berjalan menuju pelaminan, Dinda lebih dulu membungkuk dan memeluk ibunya erat. Mereka saling berpelukkan, saling memeluk erat. Saat itu air mata tak lagi bisa dibendung.


"Sudah-sudah sekarang keluarlah, Alden sudah menunggu mu," putus Julia, tak ingin rasa haru ini membuat mereka lupa, bahwa pria bernama Alden itu sudah menunggu dengan setia. Julia bahkan mendorong tubuh Dinda agar melepas pelukannya.


Sedangkan Aleia bergerak cepat untuk menghapus air mata Dinda dan memastikan pengantin wanita ini tetap cantik.


Dan setelah semua rasa haru itu, akhirnya mereka semua keluar dari ruangan pengantin wanita. Dinda dan Alex berjalan di depan sementara yang lain mengiringi dibelakang.

__ADS_1


Berjalan melewati ribuan kelopak bunga mawar putih.


Di ujung sana Alden menunggu dengan tatapan terpana, melihat calon istrinya yang sangat cantik.


Dinda semakin dekat dan Alden mengulurkan tangannya, Dinda menyambut itu membuat keduanya saling menggenggam erat.


Sebuah pemandangan sederhana namun mampu membuat seluruh tamu undangan tersenyum, tersipu seolah merasakan gelegar cinta diantara keduanya.


Dan setelah para keluarga turun dari atas pelaminan, Alden dan Dinda pun segera mengucapkan janji suci, janji saling menjaga dan saling mencintai sampai maut memisahkan mereka.


Keduanya mengucapkan janji suci itu beriringan, sampai akhirnya berhenti di ujung kalimat.


Belum ada instruksi apapun, Alden sudah lebih dulu menahan tengkuk Dinda dan mencium bibir istrinya.


Sontak saja semua para tamu undangan jadi riuh, bahkan sampai ada pula yang memberikan tepuk tangan.


Tapi dari semua keributan itu, hanya Aleia yang tak mampu melihat apa yang terjadi. Karena Rayden, Arion dan Aaron kompak menutup matanya rapat-rapat.

__ADS_1


"Iiss!! aku mau lihat!"


"Tidak!" jawab ketiga saudaranya kompak.


__ADS_2