Wanita Bayaran Dan CEO

Wanita Bayaran Dan CEO
WB&CEO Bab 65 - Selamatkan Hidupku


__ADS_3

Saat ciuman itu terlepas Dinda baru sadar jika saat ini dia tengah berada di atas pelaminan, berada di hadapan ratusan para tamu undangan.


Deg! seketika Dinda sangat terkejut dia merasakan malu yang luar biasa. Bahkan saat saat Alden menciumnya tadi Dinda pun balas melumattnya.


Ya, ampun aku malu sekali. Batin Dinda. dia hanya mampu tersenyum kikuk dan membalas tatapan para tamu undangan, melihat semua orang yang terus tersenyum ke arah dia dan Alden.


Hari itu pesta pernikahan Alden dan Dinda digelar sangat mewah. Meski Liora dan Gaida tidak menghadiri acara pernikahan itu namun mereka tidak kehilangan kabar sedikitpun.


Bahkan saat Alden dan Dinda mengucapkan janji suci Liora bisa melihatnya melalui siaran langsung yang dibuat Aleia melalui media sosialnya.


Di dalam kamarnya yang sepi, Liora menatap nanar acara pernikahan mewah itu.


Harusnya aku yang berdiri disana, harusnya aku yang yang jadi pengantin Alden.


Selalu itu yang Liora ucapkan di dalam hatinya. Sementara mulutnya tetap setia terkunci rapat. Dadanya teramat sakit, merasa sangat sesak. Seolah penyesalan ini akan dia rasakan seumur hidupnya.

__ADS_1


'Bagaimana? bagaimana caranya agar aku bisa melupakan ini semua?" gumam Liora, dia tak sanggup menanggung ini sendirian. Rasanya malah ingin mati saja.


Hari yang paling indah bagi Dinda dan Alden, jadi hari yang paling buruk bagi Liora.


Menjelang malam acara pernikahan itu telah usai. Semua tamu undangan berangsur pulang satu per satu meninggalkan Ballroom terbesar di Five Season Hotel.


Sementara seluruh keluarga sang pengantin kini sudah berada di dalam kamar hotel presidential suite. Kamar hotel yang menyerupai apartemen. Banyak kamar dan tersedia fasilitas lengkap, ruang tamu, ruang tengah bahkan dapur dan meja makan lebar.


Kamar ini hanya untuk keluarga berkumpul, sementara sang pengantin tidak menyewa kamar di hotel ini. Mereka akan langsung pulang ke rumah milik Alden.


"Nomor baru," ucap Aleia, seraya menyerahkan ponselnya pada Dinda.


"Tidak usah diangkat kalau begitu."


"Jawab saja, Bagaimana jika keadaan pangeran penting." Alden ikut bicara.

__ADS_1


Dan mendengar itu Dinda mencebikkan bibirnya, sebenarnya dia sangat malas menjawab panggilan telepon dari nomor baru. Namun karena Alden bicara seperti itu maka dengan terpaksa dia pun mengangkatnya. Menekan tanda hijau di atas ponselnya yang terus bergetar.


"Halo," jawab Dinda, namun seketika kedua matanya melebar saat dia mendengar suara isak tangis di ujung sana. Tangis seorang wanita yang entah siapa. Namun dari suaranya itu terdengar tangis yang sangat pilu.


"Dinda, ini aku Liora."


Deg! Mendengar nama itu Dinda langsung bangkit dari duduknya dan mengangkat panggilan telepon itu sedikit menjauh dari semua orang. Alden bahkan sampai menatap heran pada sikap sang istri. Jadi bertanya-tanya sebenarnya dari siapa panggilan telepon itu?


"Kenapa menelpon ku?" tanya Dinda dengan suaranya yang terdengar dingin, meski sudah berusaha untuk tidak merasa bersalah dengan semua yang terjadi namun tetap saja hati kecilnya tetap merasa bersalah pada Liora.


Membuatnya jadi tak bisa acuh pada wanita itu.


"Kamu sudah menikah dengan Alden, selamanya Aku juga tidak akan pernah bisa merebut dia darimu. Juga tidak bisa menghapus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian. Tapi aku mohon Din, aku mohon, kali ini saja, selamatkan hidupku." pinta Liora dengan lirih.


Dia tidak ingin menikah dengan Aston, dia butuh perusahaan untuk tetap bertahan hidup. Dan hanya memohon pada Dinda lah yang bisa dia lakukan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2