
Menggunakan motornya, jam 9 pagi itu Alden mendatangi rumah Liora. Dia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan datang dengan membawa surat nikah mereka. Liora hanya perlu menandatangani ini agar surat itu resmi.
Resmi di mata mereka saja, karena sesungguhnya surat-surat itu tidak pernah tercatat di catatan sipil.
Tapi Alden yakin, Liora yang sangat malas dengan pernikahan ini tidak akan menaruh curiga, wanita itu hanya akan tanda tangan dengan wajahnya yang kesal. Karena ini keinginan Liora bukan lagi tentang pernikahan mereka, melainkan tentang pesta.
Setelah menekan Bell, pintu rumah mewah itu pun terbuka. Seorang pelayan mempersilahkan Alden masuk. Dan pria ini langsung berlagak seorang jadi Tuan Rumah.
Alden tidak duduk di ruang tengah, melainkan langsung menuju ruang tengah.
"Panggil Liora," ucap Alden pada sang pelayan. Dan pelayan itu pun mengangguk patuh. Sementara Alden langsung duduk disana.
Sekitar 5 menit kemudian Liora turun, dia datang bersama dengan sang nenek. Liora dan Gaida hanya menatap tak suka pada kedatangan Alden itu.
Sedangkan Alden yang melihat kedatangan mereka berdua langsung tersenyum lebar, langsung bangkit dan memeluk Liora erat.
"Istriku," ucap Alden. Namun Liora dengan cepat mendorong pria ini. Bau keringat di tubuh Alden benar-benar membuatnya mual.
"Lepas! sejak kapan aku jadi istri mu!" kesal Liora, namun dengan segera Gaida mencubit lengan sang cucu. Sudah mereka sepakati bersama bahwa sekarang mereka harus mengalah. Karena setelah menikah mereka yakin semuanya tidak akan sekacau ini. Tidak mungkin Alex dan Jia tega melihat hidup Liora menderita, dan secepatnya kedua orang tua itu akan menarik Liora dan Alden untuk tinggal di mansion.
Diingatkan kembali soal itu membuat Liora semakin kesal. Dengan sangat terpaksa dia duduk di samping Alden.
"Surat-surat pernikahan kita telah jadi sayang, tanda tangan lah disini dan kita resmi jadi suami dan istri," ucap Alden, bicara seolah penuh cinta.
Benar seperti dugaan Alden, Liora tidak bertanya apapun dan langsung menandatangani surat itu dengan kesal.
"Nek, aku akan mengajak Liora untuk pindah ke apartemen ku hari ini juga, sekarang dia sudah jadi istri ku dan nanti malam mommy juga sudah menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan pernikahan kami," terang Alden. Sebuah ucapan yang sedikit membuat Liora dan Gaida merasa senang.
Liora bahkan langsung membayangkan dia yang akan terlihat memelas tinggal di apartemen sempit itu, lalu Jia dengan suka cita memintanya untuk tinggal di Mansion.
"Baiklah Al, bawalah Liora pergi, dia adalah istrimu," jawab Gaida pula, muka ada senyum yang terlihat dibibirnya.
__ADS_1
Kali ini mungkin Gaida tidak mendapatkan apa-apa, harta dan juga kehormatan itu belum dia raih. Tapi tunggu saja, sebentar lagi Gaida yakin akan mendapatkan keduanya.
"Tapi aku tidak mau pergi menggunakan motormu, aku akan membawa mobil sekaligus koper baju-baju ku."
"Sayang, tidak bisa seperti itu. Kamu tau sendiri aku tidak menyewa basement mobil, aku hanya menyewa basement untuk motor. Kalau kamu membawa mobil, nanti mobilmu parkir diluar, disana itu rawan pencuri," terang Alden apa adanya.
"Kita naik motor ku saja ya, koper cukup bawa 1 aja, nanti akan ku letakkan di depan," bujuk Alden lagi.
Disebelah sana Gaida menganggukkan kepalanya. Memberi isyarat Liora agar setuju saja dengan ide Alden itu.
Akhirnya mau tidak mau pun Liora harus mengangguk pula.
Keduanya pergi menuju apartemen, tapi sebelum itu Alden kembali mengantarkan berkas ke catatan sipil. Liora menunggu diluar, sementara di catatan sipil sana sudah ada Derick yang menunggu untuk mengambil berkas palsu itu.
Pura-pura menyelesaikan semua prosedur, akhirnya Alden barulah mengajak sang istri pulang. Perjalanan itu jadi semakin lama dan membuat Liora kesal.
Nona muda ini bahkan sudah merasa kepanasan, ada peluh yang membanjiri keningnya.
"Tau begini tadi pakai mobilku dulu! bukannya malah berjemur dijalanan!" kesal Liora.
"Sudahlah, ayo masuk," balas Alden yang malas mendengar ocehan wanita ini.
Sampai di unit apartemen mereka, Keadaan tak nyaman itu kembali Liora rasa. Apalagi saat melihat baju kotor Alden berserak dimana-mana, bahkan ada yang menumpuk di ujung sofa.
"Kamu jorok sekali sih Al, kalau malas mencuci setidaknya laundry!"
"Uruslah denganmu bagaimana baiknya, sekarang itu kan tanggung jawab mu sebagai istriku."
"Enak saja! aku menikah bukan untuk jadi pembantu!"
"Aku lelah sekali Lio, aku akan tidur dulu. Itu kamar kita, susunlah bajumu di dalam lemari." Balas Alden, dia bahkan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tengah apartemen itu. Benar-benar tidur hingga mendengkur. karena sebenarnya semalam tadi dia memang tidak tidur, ikut bersama Derick untuk kembali menyisir kota mencari Dinda. Alden terus mencari agar tak membuatnya mati atas rasa bersalah ini.
__ADS_1
Sementara Liora hanya bisa meratapi nasibnya yang hina ini. Menatap nanar Alden yang sudah tertidur di sofa.
Dengan terpaksa dia langkahkan kakinya pelan seraya menyeret koper baju miliknya. dia datangi kamar Alden yang sama berantakannya seperti ruangan yang lain.
"Huh." Liora membuang nafasnya berat, seolah banyak sekali beban yang sedang dia tanggung di punggungnya.
Liora tidak tahu, jika Alden tidak sempat membereskan apartemennya karena sibuk mencari Dinda.
"Sialan, mana Sudi aku membereskan ini semua," gerutu Liora. Dia putuskan untuk menghubungi pihak apartemen dan meminta pelayanan cleaning servis. 2 petugas datang dan membersihkan seluruh ruangan. Dari ruang tamu, dapur hingga kamar.
3 jam semuanya telah bersih, Liora baru bisa memindahkan baju-bajunya di dalam lemari.
"Iiis, sempit sekali! sepertinya aku juga harus membeli lemari baru!" gerutu Liora, tak habis-habis dia menggerutu. Rasanya pun kesal jika harus mengeluarkan uangnya terus seperti ini. Sementara suaminya malah tidur seolah tanpa rasa berdosa.
Belum selesai dia memindahkan baju itu, tiba-tiba kedua tangannya berhenti bergerak ketika mendengar suara Alden memanggil namanya ..
"Lio, aku lapar, masak lah atau belikan aku sesuatu," ucap Alden, dia berdiri di ambang pintu dengan mulut yang masih menguap.
Liora tak habis pikir jika Alden akan semenjijikkan ini. Kini di matanya Alden sungguh tidak berharga.
"Enak saja, beli sendiri, kan bisa pesan sih."
"Aku tidak punya uang, pakai uang mu dulu."
"Astaga Al, kamu pikir aku apa? kamu selalu saja berkata pakai uangku dulu!"
"Cepatlah, aku akan menunggu di ruang tengah."
Belum sempat Liora menjawab, Alden sudah lebih dulu pergi. Meninggalkan Liora yang kembali diselimuti oleh amarah.
"Arght!!"
__ADS_1