
Gaida menghadapi persidangannya seorang diri, karena saat itu Liora lebih pilih meninggalkan dia entah ke mana.
Dalam keadaan seperti ini Gaida merasa sangat terpuruk. Begitu banyak tuduhan yang terarah padanya, sekuat apapun dia berteriak membantah tapi semua bukti sudah jelas-jelas membuatnya jadi seorang tersangka.
3 jam persidangan itu berlangsung dan membuat posisi Gaida jadi semakin tersudut. pengacaranya bahkan kewalahan untuk tetap memperpanjang persidangan ini agar tidak segera dilakukan putusan. Dia masih terus berusaha mencari celah untuk membebaskan kliennya.
Wajah Gaida terlihat sangat frustasi ketika keluar dari ruang persidangan itu. minggu depan adalah sidang putusan tentang semua kasusnya, namun saat ini Gaida sudah sangat yakin jika dia akan dipenjara.
Tidak, Aku tidak mau menghabiskan masa tuaku di dalam penjara. Masa tua ku harusnya berkeliling dunia menikmati hidup. Batin Gaida dengan gusar, dia bahkan terus menggelengkan kepalanya pelan. Tidak peduli jika gerakan kepalanya itu mencuri perhatian beberapa orang. Di antara mereka semua jelas menilai jika Gaida saat ini tengah frustasi.
Sampai di rumah dia mencari Liora, namun sang cucu tidak ditemukan di manapun.
"Arght!!" pekik Gaida, di saat dia butuh seseorang untuk menjadi pelepas kegundahannya, namun Liora malah pergi entah kemana.
Gaida benar-benar bingung, bagaimana lagi caranya dia keluar dari situasi yang pelik ini.
"Aku tidak mau dipenjara, aku harus bisa kabur. Ya, aku harus melarikan diri. Aku bisa bersembunyi dimana pun," gumamnya dengan sangat cemas, bahkan saat mengatakan itu dia berulang kali melihat ke kiri dan ke kanan, seolah tidak ingin ada satu orang pun yang menyadari niatnya untuk melarikan diri.
Tanpa pikir panjang, Gaida langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengemas baju, semua perhiasan dan barang-barang mewah yang dia punya dalam satu koper besar.
"Aku tidak boleh meninggalkannya sedikitpun," gumam Gaida lagi, suaranya terdengar begitu tidak tenang. Seolah diburu oleh seorang pembbunuh.
Tanpa pikir panjang, Gaida segera pergi meninggalkan rumah itu dia memerintahkan pada sopirnya untuk mengantar dia ke bandara. Padahal saat ini status Gaida adalah tahanan kota dia dilarang untuk pergi kemanapun.
__ADS_1
Gaida melakukan pembelian tiket, memilih penerbangan tercepat.
Namun ketika waktunya telah tiba untuk pergi, tubuhnya pun tiba-tiba dicekal oleh dua orang pria yang tidak dikenalnya.
"Lepas! Siapa kalian berani menyentuhku?!!" bentak Gaida, bicara dengan suaranya yang tinggi dan matanya mendelik.
Mereka berdua adalah anak buah Alden yang diperintahkan untuk terus mengawasi Gaida. Mereka sengaja membiarkan Gaida melakukan pembelian tiket sebagai barang bukti bahwa wanita tua ini akan melarikan diri dari kota.
Dan setelah semua bukti terkumpul mereka segera mencekal tubuh Gaida.
Bahkan salah satu diantara mereka langsung menelepon kantor polisi tempat kasus Gaida di proses.
"Tidak!! Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu nelpon kantor polisi? sebenarnya siapa kamu? Siapa KALIAN!!" pekiknya dengan amarah yang semakin membuncah. Gaida terus meronta coba untuk melepaskan diri dari cekalahan pria ini.
"Anda tidak akan pernah bisa kabur Nyonya dan maaf sepertinya anda akan dipenjara lebih cepat," ucap salah satu pria itu, lengkap dengan bibir yang tersenyum menyeringai.
Senyum yang membuat tubuh Gaida seketika gemetar. ketakutan itu mulai menguasai seluruh dirinya.
"Tidak," balas Gaida dengan suaranya yang lirih.
"TIDAK!!" pekiknya kemudian.
Tapi bagaimanapun dia menolak semua yang terjadi saat ini, nyatanya tidak bisa merubah apapun yang telah terjadi.
__ADS_1
Tubuhnya tetap dicekal dan membuatnya tidak bisa kabur. terus seperti itu sampai dia melihat beberapa orang menggunakan seragam datang menghampiri.
Merek adalah orang-orang dari kepolisian.
Tidak.
"LEPAS!!"
"LEPASKAN AKU!!"
Tapi bukannya dilepaskan, malah kedua tangan Gaida mulai di borgol.
Sementara itu di tempat lain, Alden melihat penangkapan Gaida itu melalui teleponnya. Melalui foto-foto yang dikirimkan oleh anak buahnya.
Melihat itu Alden pun tersenyum miring, senyum smirk yang membuatnya seolah seperti pria kejam.
"Ada apa Al?" tanya Dinda, dia masuk ke dalam mobil setelah beberapa saat lalu membeli minuman di minimarket, sementara Alden menunggunya di dalam mobil.
Dinda cukup heran, saat melihat Alden menatap lengkap pada ponselnya.
"Tidak ada apa-apa sayang," balas Alden, seraya menghapus foto-foto itu dan kembali menyimpan ponselnya di saku celana.
Setelah itu dia mengelus puncak kepala Dinda dengan sayang, kemudian kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
__ADS_1